Shalom,
Perlu diketahui “komitmen” adalah suatu perjanjian atau keterikatan untuk melakukan sesuatu (dalam konteks pernikahan) antara pihak suami, pihak istri, dan anak sebagai hasil dari buah nikah.
Komitmen pernikahan kudus orang Kristen merupakan janji setia antara pria dan wanita yang akan masuk di dalam kehidupan nikah untuk saling mengasihi dalam kondisi apa pun – sehat/sakit, suka/duka, kaya/miskin – sampai kematian memisahkan.
Seperti diketahui Korintus sebagai kota perdagangan dengan lingkungan sosial luas ternyata penuh pula dengan masalah moral seksual. Jemaat Kristen saat itu hidup di tengah kehidupan budaya yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Bukankah kita sekarang juga hidup di antara orang-orang yang hidup sembrono tidak mengindahkan kekudusan nikah? Biarlah Tuhan lewat Firman-Nya melindungi (nikah) anak-anak Tuhan dari godaan amoral yang tak terbendung ini.
Perhatikan, pernikahan adalah sebuah lembaga yang didirikan oleh Allah sendiri, Pencipta, Perancang, Inisiator dan Arsitek dari nikah (Kej. 2:18,22-24). Laki-laki dan perempuan disatukan dalam nikah dan menjadi satu daging; untuk itu dibutuhkan saling memahami, menghargai, mengasihi, rela berkurban dan menjalankan tanggung jawab bagi pribadi-pribadi yang dipercaya masuk dalam kehidupan nikah. Firman Allah telah menentukan struktur nikah di dalam keluarga (Ef. 5:21-33, 6:1-4) sesuai dengan tatanan yang dihendaki-Nya.
Kalau begitu bagaimana mengimplimentasikan komitmen nikah dalam kehidupan suami-istri?
- Memenuhi tanggung jawab dengan kasih (ay. 3).
Baik suami maupun istri bertanggung jawab untuk terciptanya kebahagiaan dalam nikah. Untuk itu masing-masing harus berupaya memiliki relasi kuat tidak sebatas hanya dalam kehidupan seksual sebab banyak kehancuran nikah dimulai dari relasi suami-istri yang tidak berjalan baik.
Pernikahan tidak dibangun dengan pola menuntut pasangan melakukan kewajibannya lebih dahulu tetapi hubungan timbal balik dengan saling memerhatikan (Flp. 2:4), saling memberi serta saling menerima dan semua ini dilakukan atas dasar kasih. Bukankah lebih berbahagia memberi daripada menerima (Kis. 20:35)?
- Masing-masing menyerahkan diri kepada pasangan hidupnya (ay. 4).
Baik suami maupun istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri tetapi pasangan hidupnya, artinya saling menyerahkan diri kepada pasangan hidupnya.
Bagaimana menyerahkan diri kepada suami/istrinya sendiri? Dengan melepaskan ego dan kepentingan masing-masing (Flp. 2:3-4). Jujur, ego sering menjadi sumber permasalahan dalam kehidupan nikah. Masing-masing merasa telah berjasa melakukan sesuatu demi kelangsungan hidup nikah. Misal: suami telah bekerja keras untuk menghidupi keluarga, istri mengatakan tanpanya kehidupan nikah dan keluarga akan kacau karena tidak ada yang mengatur rumah tangga. Sebenarnya rumus pernikahan yang benar agar suami dan istri tetap satu ialah masing-masing ego suami/istri diturunkan setengah agar tetap satu demi menjaga keutuhan nikah yang sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan. Waspada, kalau ego lebih dominan daripada kasih, relasi suami-istri dan anak lambat laun akan hancur. Misal: istri beralasan termasuk makhluk yang lemah kemudian menuntut lebih banyak perhatian dan kasih dari suami. Demikian pula suami beralasan kerja banting tulang untuk keluarga berakibat kehadirannya tidak dirasakan oleh keluarga. Baik suami maupun istri harus hadir tidak hanya fisik tetapi juga emosionalnya dalam keluarga.
- Tidak saling menjauhi (ay. 5).
Jelas kehidupan nikah bukan sekadar berstatus suami-istri tetapi dibutuhkan relasi kedekatan yang terhubung terus menerus/berkesinambungan untuk dapat menjadi satu daging (Kej. 2:24).
Selain terhubung dengan Tuhan, Pencipta nikah, suami-istri harus senantiasa ada koneksi terhubung bukan cuma tinggal dan tidur bersama di dalam satu rumah serta membesarkan anak bersama. Suami-istri tidak boleh saling menjauhi berarti harus ada ketemuan, kedekatan fisik dan emosi yang sehat dalam berkeluarga.
Saling menjauhi boleh terjadi tetapi atas persetujuan bersama, artinya ada komunikasi yang diputuskan bersama. Juga bersifat sementara waktu, kalau ada masalah, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Firman Allah mengingatkan apabila marah jangan sampai berbuat dosa dan membiarkan amarah tidak padam sebelum matahari terbenam (Ef. 4:26).
Aplikasi: ketika komunikasi bermasalah sehingga terjadi perselisihan pendapat yang tajam, suami-istri perlu mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri. Namun harus diusahakan agar kembali terhubung, jangan dibiarkan berlarut-larut hingga kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kemurahan Allah hanya gara-gara masing-masing mempertahankan egonya.
Disebutkan pula “supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa”. Kenyataannya, sering kali kedekatan dengan Tuhan dijadikan alasan untuk mengabaikan pasangan. Misal: suami berjam-jam sibuk mengonseling jemaat yang membutuhkan nasihat hingga melupakan istri yang ditinggal kepanasan di parkiran.
Tak dapat disangkal tidak ada kehidupan nikah yang sempurna, setiap pasangan suami istri pasti pernah mengalami konflik betapapun harmonis dan romantisnya relasi mereka. Namun yang penting, apa pun masalahnya, suami-istri harus kembali hidup bersama menjalani relasi yang baik dengan saling mengampuni dan tidak menaruh dendam (Kol. 3:13). Jangan biarkan masalah berlarut-larut dan memberi kesempatan Iblis mengintervensi untuk memisahkan relasi suami-istri yang sedang bermasalah!
Aplikasi: ketika istri marah dibalas dengan kemarahan suami sehingga tidak ada jalan tengah; jangan mengambil jalan sendiri yang malah memperuncing keadaan. Libatkan Tuhan, Mediator sejati, untuk menyelesaikan masalah yang ada. Masing-masing belajar menurunkan ego dan berdoa agar mampu mengampuni sehingga terjadi perdamaian.
Juga “supaya Iblis jangan menggodai kamu” merupakan peringatan agar kita tidak meremehkan konflik yang dapat menyebabkan keretakan di dalam keluarga oleh karena Iblis berkesempatan menggoda kita. Waspada, Iblis siap mengincar kehidupan nikah dan keluarga kita untuk menghancurkannya melalui pelbagai cara antara lain: pergaulan seks bebas, percabulan dll. bahkan masalah sepele dapat menjadi keributan besar bila suami-istri salah memahaminya.
Marilah suami-istri maupun mereka yang mau masuk nikah serius berkomitmen dalam janji nikah yang telah ditetapkan Tuhan dengan memenuhi tanggung jawab dalam kasih, melepaskan ego masing-masing dan tidak saling menjauhi tetapi terus terhubung satu sama lain juga terhubung dengan Tuhan, Pencipta nikah, agar terlindung dari godaan Iblis yang mau memorak-porandakan keharmonisan dan kebahagiaan nikah yang dijanjikan oleh-Nya. Amin.