• Hormatilah Pernikahan Dalam Tuhan
  • 1 Korintus 7:10-11
  • Lemah Putro
  • 2026-10-11
  • Pdt. Jannen Pangaribuan
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
hormatilah-pernikahan-dalam-Tuhan

Shalom,

Pasangan suami-istri baru yang mengambil keputusan memasuki pernikahan kudus pasti mendambakan hidup bahagia dan langgeng membina rumah tangga hingga maut memisahkan. Namun faktanya tidaklah mudah mewujudkan impian yang indah itu sebab gencarnya tantangan, rintangan, cobaan dan ujian menyerang mereka hingga tidak jarang istri menangis dan suami putus asa. Mereka hilang kendali dan tidak mengerti harus berbuat apa untuk mempertahankan pernikahannya supaya tetap teguh di hadapan Tuhan. 

Karena banyaknya permasalahan dalam kehidupan nikah dan rumah tangga, terbitlah banyak buku yang menuliskan tentang nasihat bagaimana mencapai pernikahan yang berbahagia, langgeng, harmonis dst. Ada begitu banyak nasihat, tip dan kunci pernikahan bahagia tetapi Firman Tuhan hanya memberikan satu nasihat yakni, “Kepada orang-orang yang telah kawin aku tidak, bukan aku, tetapi Tuhan perintahkan supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.” 

Ada banyak cara seseorang bertemu dengan pasangan hidupnya – dijodohkan atau berkenalan sendiri dan merasa ada chemistry kemudian hubungan dilanjutkan hingga ke pelaminan. Namun penting diperhatikan, begitu menjadi pasangan suami-istri, masing-masing harus menutup dan mengunci pintu hati untuk tidak memberi kesempatan  orang lain masuk mengganggu kesatuan pasutri ini. 

Kalau begitu bagaimana suami/istri dapat menjunjung tinggi serta menghormati pernikahannya di tengah gempuran badai dan tantangan yang berusaha menghancurkan?

  •    Adanya kesetaraan/ kesederajatan antara suami dan istri di hadapan Tuhan. Artinya, suami tidak lebih dari istri juga istri    tidak lebih dari suami di hadapan Tuhan. 

Misi perjalanan Paulus di dalam memberitakan Injil menyasar rumah-rumah ibadah orang-orang Yahudi juga diikuti orang-orang Yunani yang kemudian percaya kepada Tuhan (Kis. 18:1-4, 8). Budaya dan ajaran rabi Yahudi menegaskan suami (bukan istri) memiliki hak untuk memutuskan perceraian karena perbuatan tidak senonoh (Ul. 24:1). Bahkan ada pemahaman ekstrem di mana suami dapat menceraikan istri kapan pun hanya karena alasan sepele dan ini sangat berbahaya. 

Bila kita perhatikan lebih cermat, ketidaklaziman terjadi saat itu. Apa itu? Pihak istri (bukan suami) tidak boleh menceraikan suaminya. Rasul Paulus dalam pimpinan Roh Kudus mengangkat serta menempatkan derajat perempuan menjadi sama dengan derajat laki-laki agar tidak ditindas maupun dieksploitasi semau gue.

Kebenaran Firman Tuhan menegaskan perempuan sederajat dengan laki-laki (1 Kor. 11:11). Tidak ada laki-laki atau perempuan karena semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (Gal. 3:28). Memang tetap beda peran tetapi ada kesetaraan gender dalam rancangan nikah pertama yaitu diciptakan serupa dengan gambar dan rupa Allah (Kej. 1:27). Itu sebabnya istri harus menghormati suami juga suami menghormati istri sepenuh hati karena memandang nikah rancangan Tuhan untuk memancarkan kemuliaan-Nya. 

Aplikasi: hendaknya suami-istri saling menghargai sebagai pewaris kehidupan. Paling sedikit ada perubahan sikap dan tindakan dalam memperlakukan pasangan hidupnya, tidak lagi bossy dan intimidatif. 

  •    Komitmen nikah (Kristen) pada kesatuan yang kudus. 

Pernikahan Kristen berkomitmen pada kesatuan kudus yang berlaku seumur hidup mencontoh teladan kesatuan Trinitas yang mahakudus di mana Bapa, Putra dan Roh Kudus ada dalam satu kesatuan yang begitu erat tidak pernah berselisih paham sekalipun peran-Nya berbeda.

Pernikahan adalah rancangan Tuhan, Pencipta nikah, dan suami-istri harus berkomitmen mempertahankan kesatuan hingga maut memisahkan. Pernikahan tidak boleh bongkar pasang karena suami-istri berjanji di hadapan Tuhan untuk setia sampai akhir. Tentu hal ini tidak mudah tetapi semua itu berproses, masing-masing belajar untuk saling memahami karena beda karakter dan latar belakang. Mungkin suami/istri dapat menahan diri dan bersikap baik terhadap orang luar tetapi topeng kepura-puraan tidak dapat disembunyikan di hadapan pasangan yang hidup dalam satu atap. Di sanalah terlihat sifat dan perilaku sebenarnya manusia yang sudah jatuh di dalam dosa. 

Bersyukur bila suami-istri belajar mengikuti teladan Kristus dan menghidupi Firman-Nya apa pun tantangan dan harganya. Mereka berdua tidak boleh lagi melihat belakang tetapi memandang ke depan ke satu tujuan dalam kesatuan yang kudus sebab Allah sangat membenci perceraian (ay. 10-11; Mal. 2:14-16). Di sini Allah menampilkan diri yang Esa (bhs. Ibr. echad) juga TUHAN itu Esa (echad – Ul. 6:4) dan laki-laki bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu (echad) daging (Kej. 2:22-24). Kata “Echad” = satu konsep kesatuan

Pembelajaran: mencontoh Bapa, Putra dan Roh Kudus yang adalah Esa – satu kesatuan yang tidak pernah terceraikan – maka suami-istri juga harus hidup dalam satu kesatuan sebab apa yang sudah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan manusia (Mrk. 10:9). Ini merupakan ketetapan dari Tuhan, Sang Pencipta nikah.

  •    Janji pemulihan dalam kehidupan nikah dan rumah tangga. 

Kasih Tuhan terus bekerja mengejar setiap pribadi baik yang masih melajang maupun yang sudah menikah untuk menyertai dan membela. Kasih-Nya yang tercurah di kayu salib harus menjadi alasan/dasar di dalam hidup nikah dan rumah tangga sehingga hati terbuka mau memaafkan dan menerima satu dengan yang lain.

Kenyataannya, dari tahun ke tahun angka perceraian makin meningkat tajam. Masalah ini tidak dapat disikapi hanya dengan hitam putih tetapi akar permasalahan yang begitu dalam harus diselesaikan dan tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada Pencipta nikah. 

Namun sayang, manusia memilih beda. Mereka memilih bercerai dengan banyak alasan (KDRT, selingkuh, tidak ada kecocokan, pemalas, dll.) padahal alasan utamanya ialah masing-masing keras hati dan memikirkan ego sendiri sehingga lupa pernah saling mengasihi. Masalah nikah dan rumah tangga harus ditangani dengan bijak dan datanglah kepada Orang yang tepat itulah Tuhan yang menciptakan nikah. Ilustrasi: suami istri bagaikan mengarungi bahtera kehidupan di tengah lautan dunia yang sewaktu-waktu diterpa oleh gelombang masalah besar bahkan badai dan tofan dahsyat yang dapat menjungkirbalikkan perahu tersebut. Tetaplah bertahan di dalam perahu rumah tangga tersebut sebab keluar mencebur ke laut tidak menyelesaikan masalah dan bukan jalan ke luar yang baik.

Jelas Firman Tuhan memerintahkan orang yang bercerai harus hidup tanpa suami (ay. 11). Apa tujuannya tidak menikah lagi? Memanfaatkan waktu untuk berdoa (ay. 5) menata hati agar kemungkinan dapat diperdamaikan dengan suami dan kembali hidup bersama (ay. 11). 

Introspeksi: beratkah beban persoalan dalam hidup nikah Anda? Dan goyahkah dasar pernikahan Anda? Jangan mengandalkan kekuatan diri sendiri tetapi datanglah kepada Tuhan, Pencipta nikah, dan beri kesempatan karya Kristus bekerja mendamaikan Anda dan pasangan hidup Anda! Ia sanggup memperbarui, mempersatukan dan memulihkan hidup nikah kalian (2 Kor. 5:17-21).

Marilah kita menghormati pernikahan dalam Tuhan dengan cara mendudukkan laki-laki dan perempuan setara (tidak merendahkan) karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, berkomitmen untuk hidup nikah dalam kekudusan dengan saling memaafkan dan mau menerima kekurangan pasangan juga memegang janji pemulihan untuk mempersatukan kembali hubungan nikah yang retak karena Allah membenci perceraian tetapi menginginkan pernikahan yang sesuai dengan rancangan-Nya. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: