• Setia Dalam Panggilan Allah
  • 1 Korintus 7;17-24
  • Johor
  • 2026-10-25
  • Pdm. Eko Wahyudiono
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
setia_dalam-panggilan-Allah

Shalom,

Perlu diketahui, kita masing-masing memiliki latar belakang berbeda, juga mempunyai waktu dan status sosial berbeda saat dipanggil menjadi pengikut Kristus. Ada pula yang berlatar belakang non-Kristen saat menerima panggilan Tuhan. Apa pun latar belakang panggilan Tuhan, Firman menuliskan, “Tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu Ia dipanggil Allah.”  (ay. 17,20,24) Ayat ini bukan berarti ketika dipanggil Allah dalam keadaan berdosa lalu selanjutnya tetap berbuat dosa, bukan demikian. Yang dimaksud dengan kalimat tersebut ialah:

  • Tanda-tanda lahiriah sebelum dipanggil mengenal Kristus seperti sunat atau tidak bersunat bukanlah hal penting; yang penting ialah menaati hukum-hukum Allah (ay. 18-19). 
  • Status sosial juga tidak bermasalah. Misal: seorang hamba/budak mengalami panggilan dan percaya kepada Tuhan walaupun status sosialnya sebagai budak pun tidak masalah, dengan catatan kalau Tuhan memberikan kesempatan untuk bebas dari perbudakan pergunakan kesempatan itu. Secara lahiriah, dia menjadi budak manusia tetapi secara rohani dia adalah hamba Allah dan bebas merdeka dari dosa. Di era modern sekarang, status hamba/karyawan suatu perusahaan atau ART sebelum mengenal Tuhan tidak masalah ketika percaya kepada Tuhan Jadi kondisi tanda lahiriah sunat / tidak bersunat, status sosial hamba atau orang merdeka saat dipanggil Tuhan itu tidak penting, Yang terpenting saat dipanggil Tuhan adalah tetap setia di dalam panggilan dengan menaati hukum-hukum Allah. 

Rasul Paulus mengajarkan hal-hal di atas untuk mengantisipasi kemungkinan adanya ajaran yang membingungkan dan membuat gaduh/kekacauan seperti yang terjadi pada jemaat Antiokhia. Apa yang terjadi di Antiokhia? Petobat yang baru percaya Kristus bingung dengan ajaran yang mengharuskan disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa agar dapat diselamatkan. Namun Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka (Kis. 15:1-2,5). Mengapa? Orang yang bersunat saja (orang Yahudi) tidak menjamin mampu memikul kuk (ay. 15).

Memang di masa Perjanjian Lama sebelum Kristus datang, sunat diperintahkan oleh Allah sebagai tanda perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Namun setelah Kristus lahir ke dunia dan mati untuk menebus dosa, sunat sudah tidak diharuskan lagi. Namun orang-orang Farisi yang percaya kepada Yesus masih terikat dengan latar belakang Judaisme sehingga menganggap kalau mau menerima keselamatan harus melalui jalur tradisi orang Israel yakni disunat. Padahal keselamatan benar-benar adalah kasih karunia karena iman kepada Kristus Yesus. 

Kalau begitu bagaimana kita dapat setia dalam panggilan Allah? 

  •    Menaati hukum Allah.

Rasul Paulus ingin meluruskan pemikiran jemaat Korintus bawa status lahiriah – sunat/tidak bersunat atau status sosial (hamba) – tidak serta merta membuat seseorang lebih rohani dan lebih dekat kepada Tuhan. Faktanya, banyak orang memakai nama bernuansa Kristen tetapi hidupnya tetap berkecimpung di dalam dosa. Buktinya: memakai nama Gayus tetapi koruptor.

Paulus menegaskan kunci untuk tetap setia di dalam panggilan sampai akhir menutup mata ialah taat/tunduk kepada hukum Allah.

Apa yang dimaksud dengan taat kepada hukum? Menjalankan apa yang Tuhan perintahkan, mematuhi apa yang dituntut, menjauhkan diri dari apa yang dilarang. Di dalam ketaatan ada kesetiaan dan kasih. Kalau ketaatan dilakukan tanpa kasih dan kesetiaan, sikap ini mengandung keterpaksaan lalu suatu kali kelak akan terasa jenuh dan lelah. Sikap semacam ini menimbulkan ketidaktaatan tersembunyi dan di fase tertentu akan muncul merealisasikan apa yang menjadi ketidaktaatannya. 

Kita harus menaati semua hukum Allah. Beratkah menaati hukum Allah itu? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari renungkan penjelasan berikut ini, Kita awali dari Perjanjian Lama ketika bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dan dalam perjalanan di padang gurun menuju Kanaan Allah memberikan hukum di Gunung Sinai yang menjadi pembeda antara umat Allah dan bukan umat Allah. Hukum itu tertuang pada dua loh batu berisikan 10 hukum disebut hukum Taurat. 10 hukum ini dijabarkan menjadi ± 932 pasal kemudian diperinci secara detail menjadi ribuan aturan yang berkaitan dengan hukum sosial, hukum seremonial, hukum sipil, hukum keseharian hidup dll. yang harus ditaati oleh orang Israel.

Setelah Kristus lahir, hukum itu diringkas menjadi dua hukum yaitu: (1) mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, segenap kekuatan, segenap akal budi dan (2) mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (Mat. 22:37-40). Dua hukum ini disimpulkan menjadi hukum kasih. Jadi seberat dan sebanyak apa pun aturan/hukumnya, kalau dikerjakan berdasarkan kasih maka semua menjadi tidak berat. Kalau kita mengasihi Allah seperti orang yang sedang jatuh cinta, kita tidak akan merasa berat untuk mematuhi perintah-Nya (1 Yoh. 5:3). Contoh: Yakub di rumah Laban jatuh cinta kepada Rahel dan rela bekerja selama tujuh tahun untuk mendapatkannya. Rasa cinta memberikan kekuatan untuk mampu melakukannya.  

Mengapa kita sulit menaati dan melakukan perintah Allah? Karena ego dan keakuan kita. Contoh: orang melakukan korupsi karena ego dan serakah; suami/istri selingkuh karena egonya tidak terpuaskan dst. Singkatnya, untuk setia pada panggilan Allah, kita tidak akan sulit menaati hukum-hukum-Nya bila kita dipenuhi kasih.

  •    Memuliakan Tuhan dengan tubuh kita yang telah lunas dibeli (ay. 23).

Perlu diketahui hidup kita bukanlah milik kita sendiri karena telah dibeli dan dibayar lunas. Oleh sebab itu kita patut memuliakan Tuhan dengan tubuh kita. 

Introspeksi: sudahkah (hidup) kita memuliakan Nama Tuhan melalui pelayanan-pelayanan yang dipercayakan oleh-Nya? Kita dapat memuliakan Dia kalau kita menyadari bahwa hidup ini milik Tuhan yang telah dibeli dengan darah-Nya yang tak ternilai sehingga kita tidak bisa semau-maunya menggunakan hidup ini menuruti ego kita.  

Kesetiaan kita memuliakan Tuhan terbukti saat kita tinggal di dalam Kristus dan berproses menjadi manusia baru. Kesetiaan itu akan teruji dan terbukti di akhir kehidupan kita. Oleh sebab itu jangan bangga dan sombong kalau saat ini kita setia beribadah dan aktif dalam pelayanan karena kesetiaan diukur dan dibuktikan di titik akhir kehidupan kita. Tuhan (bukan manusia) yang memvalidasi dan mengakui kesetiaan kita dalam keseharian hidup kita. Kesetiaan memuliakan Tuhan dalam panggilan sebagai orang Kristen terlihat ketika kita berproses menjadi manusia baru. 

Karena tinggal di dalam Kristus, kita harus selaras dengan Tuhan menjadi ciptaan baru (2 Kor. 5:17). Tentu untuk mengenakan sesuatu yang baru, yang lama harus ditanggalkan. Namun banyak orang Kristen merasa menderita menjalani kehidupan baru karena tidak mau meninggalkan hidup lamanya. Ilustrasi; baju kerja yang dipakai seharian berbau keringat tidak sedap lalu ke gereja tanpa mandi mengenakan hem berlengan panjang tanpa menanggalkan baju kerjanya. Tentu terasa panas dan tidak nyaman memakai baju rangkap ke gereja dan akan malah cepat berkeringat. Demikian pula orang Kristen sering tidak merasakan kenyamanan mengikut Tuhan karena tetap memelihara dosa sehingga sulit untuk memuliakan Tuhan. Menanggalkan kehidupan lama secara simbolis bagaikan orang yang disunat secara lahiriah (menanggalkan kulit khatan) tetapi sunat rohani dikerjakan oleh Kristus dengan menanggalkan segala dosa untuk mengenakan manusia baru (Kol. 2:11).

Marilah kita setia dalam panggilan Tuhan tanpa memandang latar belakang dan status lahiriah kita sebab yang terpenting ialah menaati hukum-hukum Allah. Juga kita setia dalam pelayanan karena sadar bahwa hidup kita bukan milik kita lagi; oleh karena itu kita harus memuliakan Tuhan dengan terus berproses menjadi ciptaan baru di dalam Kristus hingga ditemukan kita tetap setia dalam panggilan sampai akhir hayat kita. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: