• Hormatilah Pernikahan Dalam Tuhan
  • 1 Korintus 7:10-11
  • Johor
  • 2026-10-11
  • Pdt. Edi Sugianto
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
hormatilah_pernikahan_dalam_Tuhan

Shalom, 

Di dalam pernikahan Kristen, Tuhan tidak menghendaki perceraian antara suami istri; kalaupun terjadi perceraian (hidup), batasannya jelas, yakni: harus tetap hidup tanpa pasangan alias tidak menikah lagi atau berdamai kembali (rujuk) dengan pasangannya (1Kor. 7:10-11). Jadi, kita dapat menghormati pernikahan dalam Tuhan dengan cara tidak menceraikannya.

Apa yang dimaksud pernikahan di dalam Tuhan? Pernikahan yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan. Sejak awal Tuhan sudah merencanakan dan menciptakan pernikahan bagi kehidupan umat-Nya (Kej. 1 – 2). Ia menghendaki pernikahan dengan pasangan yang sepadan, setara, seiman dalam kepercayaan, saling melengkapi, menjadi satu daging sampai maut memisahkan. Pernikahan dalam Tuhan bersifat monogami (satu pasang) heteroseksual (dengan lawan jenis) menghasilkan keturunan Ilahi dan bertujuan memuliakan Tuhan. Hubungan suami istri menggambarkan relasi intim Kristus dengan jemaat (Ef. 5:32).

Kita harus menghormati pernikahan di dalam Tuhan, sebab apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia (Mat. 19:4-9) dan Tuhan membenci perceraian (Mal. 2:14-16). Namun, munculnya perintah untuk tidak bercerai dalam 1 Korintus 7:10-11 menunjukkan bahwa ada potensi pernikahan Kristen bercerai. Perceraian terjadi karena kekerasan hati manusia yang menyebabkan ketidaksetiaan dan pelanggaran akan janji kudus  di hadapan Tuhan.

Faktanya data perceraian dari Badan Pusat Statistik Indonesia meningkat dari tahun ke tahun termasuk perceraian orang Kristen. Perceraian terjadi berdasarkan keputusan pengadilan setelah kedua belah pihak tidak dapat didamaikan. Alasan untuk bercerai juga bermacam-macam faktor, antara lain: perselingkuhan, tukang mabuk, drug addict, judi, ditinggalkan satu pihak, narapidana, poligami, kdrt, badan cacat/sakit, perselisihan dan pertengkaran terus menerus, kawin paksa, murtad/pindah agama, ekonomi, dst. Singkatnya, perceraian terjadi bukan sekadar perihal seksual tetapi banyak faktor yang memicu. 

Tak dapat disangkal, pernikahan orang Kristen juga tidak lepas dari tantangan permasalahan tersebut. Faktor apa saja yang memicu terjadinya perceraian? Berdasarkan konteks sebelum dan sesudah 1 Korintus 7:10-11, maka didapati faktor yang dapat memicu perceraian, sbb:

  • Tidak saling memenuhi kewajibannya (ay. 1-9). Suami dan istri memiliki kewajibannya masing-masing; jika hal tersebut tidak dipenuhi akan berpotensi menyebabkan percabulan dan konflik yang dapat memicu terjadinya perceraian. Perlu adanya kesadaran peran, menguasai hawa nafsu, memenuhi kewajiban dalam segala aspek kehidupan, tidak terlalu banyak menuntut, menghargai pasangan, ada komunikasi yang baik.
  • Beda keyakinan dan tidak seiman (ay. 12-16). Konflik terjadi karena keyakinan, nilai hidup, cara hidup dan cara mengambil keputusan yang berbeda. Itu sebabnya pernikahan beda iman tidak dikehendaki oleh Tuhan. Namun mengapa di Korintus ada pasangan yang tidak percaya? Mereka sudah menikah sebelum percaya kepada Tuhan. Ketika Firman Tuhan diberitakan, salah satu dari pasangan itu akhirnya percaya kepada Tuhan. Oleh sebab itu Firman Tuhan menegaskan agar tidak menceraikan pasangan yang tidak beriman, minta pertolongan kepada-Nya supaya pasangan dapat dimenangkan oleh Tuhan walau ada harga yang harus dibayar. 

Memang pernikahan menyatukan perbedaan dari dua pribadi yang beda: seks/jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), latar belakang, status sosial, kondisi ekonomi, pendidikan, kepribadian dll. Contoh: laki-laki lebih menggunakan pikiran yang logis dan fokus pada satu hal sedangkan perempuan lebih memakai perasaan dan multi-tasking dll. Di belakang pernikahan juga ada keluarga yang sedikit banyak ikut campur tangan di dalamnya. Apalagi jika ditambah dengan beda iman yang makin memperbanyak perbedaan menimbulkan konflik yang dapat berujung pada perceraian. 

Apa pun perbedaan yang terjadi dalam kehidupan suami istri, ini tidak dapat dijadikan alasan untuk bercerai ketika ada konflik. Masalah ini harus diselesaikan bersama dengan kepala dingin berkomunikasi mengutarakan permasalahannya. Terkadang masalah terletak pada ketidakterbukaan – suami/istri tidak dapat membaca hati dan pikiran pasangan – dan ini memicu emosi. Semua harus terbuka tidak perlu ditutup-tutupi dan dikomunikasikan dengan baik agar tidak menimbulkan kecurigaan; sebaliknya ada pengertian satu sama lain. Boleh beda pandangan dan pendapat tetapi ujung-ujungnya harus ada kesatuan hati. Suami istri harus menghormati pernikahan dalam Tuhan dengan cara tidak menceraikan pasangan apa pun alasannya. 

Kalau begitu bagaimana cara menjaga pernikahan supaya tetap utuh bahkan semakin menyatu? Pegang dan lakukan Firman Tuhan. Karena Tuhan membenci perceraian, masing-masing harus berusaha mempertahankan mahligai perkawinan walau tidak mudah. Tetap setia mengasihi pasangan dan saling mengampuni kesalahan serta belajar saling memahami!

Kesatuan dalam nikah harus senantiasa diusahakan dengan cara adanya persetujuan bersama (ay. 5). Apa yang akan dilakukan suami/istri harus sepengetahuan dan persetujuan dari pasangannya. 

Juga berkomunikasi dengan Tuhan dalam doa untuk menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya dan mengerti apa yang Tuhan inginkan dalam pernikahan. Komunikasi diperlukan untuk menciptakan pengertian dan terjadinya perubahan. Kalau masih belum ada kesepakatan antara suami dan istri, tunggu dahulu sambil berdoa kepada Tuhan.

Bagi yang belum menikah atau mau menikah, persiapkan pernikahan dengan baik dan jangan salah pilih. Sebelum menikah, masih ada banyak pilihan tetapi setelah menikah, mata harus melihat kepada pasangannya tidak boleh melirik kiri kanan memilih yang lain lagi. Juga, jangan pernah menjadi orang ketiga yang merusak pernikahan sah suami istri!

Ada pesan khusus bagi orang tua atau mertua, biarkan anak-anak menjalani kehidupan nikah dan keluarga secara mandiri. Jangan banyak intervensi terhadap kehidupan nikah mereka karena prinsip pernikahan ialah laki-laki akan meninggalkan orang tuanya dan bersatu dengan istrinya (Kej. 2:24)! Orang tua harus tahu batasannya, kalau mereka butuh sesuatu, mereka akan datang kepada orang tua. Demikian pula suami/istri jangan suka mengadu ke orang tua, selesaikan dahulu dengan pasangannya. Orang tua tetap mendoakan nikah dan rumah tangga anak-anaknya supaya tetap berdiri teguh sampai akhir hidup.  

Ingat, pernikahan diciptakan oleh Allah untuk menggenapi rencana-Nya bagi kemuliaan Tuhan. Harus diakui tidaklah mudah menjalani kehidupan nikah dan rumah tangga karena banyaknya faktor perbedaan yang harus disatukan. Namun perbedaan-perbedaan ini bukan menjadi alasan untuk bercerai tetapi menjadi pembelajaran untuk makin mengenal bagaimana menyelesaikan konflik sehingga nikah suami istri makin menyatu dalam Tuhan. 

Memang Allah pernah mengusir Adam-Hawa keluar dari Taman Eden; Ia juga “menceraikan” umat-Nya, tetapi sesungguhnya Ia tidak pernah meninggalkan mereka. Karena kasih-Nya, Ia harus bayar harga dengan menyerahkan Putra tunggal-Nya mati disalib menebus manusia yang berdosa untuk diangkat kembali menjadi mempelai-Nya. Jelas Allah telah membuktikan kasih setia-Nya untuk menjadi teladan dan semangat bagi suami istri agar menghormati pernikahan dan tetap setia sampai akhir. Amin. 

  • Video Youtube Ibadah: