Shalom,
Surat 1 Korintus dipenuhi dengan nasihat hingga teguran keras oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, diawali dengan teguran mengenai perpecahan dalam jemaat, pengultusan individu, percabulan, dan nasihat dalam pernikahan.
Bila kita perhatikan lebih cermat, 1 Korintus 7 cukup unik; setelah berbicara banyak tentang pernikahan, khusus ayat 17-24 Paulus berhenti sejenak tidak bicara mengenai pernikahan tetapi mengajak kita kembali merenungkan panggilan Allah atas hidup kita.
Perhatikan, Allah yang memanggil kita kepada persekutuan dengan anak-Nya, Yesus Kristus, Tuhan kita adalah setia. Apa tujuan Allah memanggil kita? Untuk menyelamatkan kita. Karena Ia yang memanggil kita adalah setia, sudah sepatutnya kita juga setia di dalam panggilan-Nya.
Apa bentuk kesetiaan Allah kepada kita? Ia menjaga, memelihara, melindungi, menyertai, memberkati juga menegur dan menasihati untuk mendidik kita hidup kudus dengan tujuan agar kita tidak bercacat pada hari Tuhan Yesus Kristus (1 Kor. 1:8-9). Oleh sebab itu jangan kita salah paham terhadap teguran Firman-Nya yang keras.
Berkaitan dengan tema “Setia Dalam Panggilan Allah”, apa hakikat panggilan Allah yang harus kita hidupi dengan setia?
- Karunia (ay. 17-18, 21).
“Hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah.”
Ternyata keadaan lahiriah orang percaya tidak perlu dirubah demi mendapatkan perkenanan Tuhan yang lebih besar sebab hidupnya berada di dalam pengetahuan, kedaulatan, dan pemeliharaan Tuhan. Juga dikatakan “seperti waktu ia dipanggil Allah” artinya Allah tahu persis keadaan lahiriah (suku, harta, kedudukan, kepandaian, penampilan, ekonomi dll.) saat kita dipanggil oleh-Nya dan Ia memanggil kita bukan karena alasan-alasan tersebut. Ia memanggil seseorang dalam kondisi apa adanya – yang bersunat (orang Yahudi) tidak perlu meniadakan tanda sunat; sebaliknya, yang tidak bersunat (non-Yahudi) tidak perlu disunat (ay. 19). Dengan kata lain, sunat bukan syarat tambahan untuk beroleh keselamatan melalui panggilan Allah. Berbicara mengenai sunat, maka kita teringat kepada Abraham. Allah memanggil Abraham keluar dari negeri dan sanak saudaranya tanpa syarat harus disunat lebih dahulu (Kej. 12:1). Baru setelah itu Allah mengadakan perjanjian sunat dengan Abraham (Kej. 17) bukan sebagai syarat untuk dipanggil Allah. Demikian pula bangsa Israel dipilih Allah bukan karena banyaknya jumlah mereka tetapi semata-mata oleh karena kasih karunia Allah (Ul. 7:7-8). Jadi kita dipanggil karena kasih karunia bukan berdasarkan keturunan, kedudukan sosial maupun prestasi dan kelayakan.
Konsep karunia ini konsisten tetapi bangsa Yahudi tampaknya salah paham dan menjadi bangga memiliki status keturunan Abraham (Yoh. 8:33, 39) yang bersunat. Mereka sombong menjadi bangsa pilihan kemudian memandang rendah bangsa-bangsa lain (non-Yahudi). Mereka menganggap status sunat dan keturunan Abrahan menjadi nilai plus yang menyebabkan mereka dipanggil oleh Allah bahkan sunat dijadikan salah satu syarat untuk menerima keselamatan (Kis. 15:1). Padahal Rasul Petrus menegaskan bahwa keselamatan hanya karena kasih karunia Tuhan Yesus Kristus (Kis. 15:11). Itu sebabnya bersunat atau tidak bersunat tidaklah penting (1 Kor. 7:19a) untuk meraih keselamatan.
Selain sunat, Rasul Paulus juga menyinggung status hamba/budak waktu dipanggil (ay. 21). Terbukti status sosial juga tidak memengaruhi keselamatan. Kasih karunia Allah cukup untuk menyelamatkan manusia, sekalipun status seseorang hanya sebagai hamba/budak/doulos (yang tidak mempunyai hak). Namun ini bukan berarti mereka harus menyerah pada nasib sebab Paulus mendorong untuk mempergunakan kesempatan jika mereka mendapat kesempatan untuk dibebaskan (ay. 21). Jelas status sosial apa pun – pengusaha/karyawan, pimpinan/bawahan, pendidikan tinggi/rendah, menikah/lajang dst. – bukan syarat untuk memperoleh panggilan keselamatan Allah sehingga mereka tidak perlu minder ataupun sombong.
Rasul Paulus menulis “tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah” hingga tiga kali (ay. 17,20,24) menunjukkan pentingnya untuk diperhatikan bahwa panggilan Allah tidak ditentukan oleh perubahan status lahiriah kita. Contoh: Zakheus, pemungut cukai yang dianggap sampah dan dibenci oleh masyarakat karena pemeras dan tamak akan uang dipanggil Yesus untuk beroleh keselamatan (Luk. 19:1-10). Di mata dunia saat ini, orang seperti Zakheus tidak masuk hitungan untuk direkut menjadi karyawan perusahaan manapun, tetapi dia berharga di mata Yesus yang datang mencari orang yang terhilang. Yesus adalah Tuhan yang berkuasa mengubah manusia yang bejat sekalipun.
Aplikasi: Tuhan tidak pernah memilih manusia berdasarkan status lahiriah dan status sosial apapun. Beda dengan manusia yang mempunyai keterbatasan sehingga harus menentukan berbagai kriteria dalam memilih seorang karyawan, karena manusia tidak berkuasa merubah karakter orang lain. Apa pun jabatan/kedudukan dan kondisi ekonomi kita, kita tidak perlu sombong atau minder karena kita diselamatkan oleh karunia Allah bukan karena prestasi dan kehebatan kita.
Setelah diselamatkan, apa yang harus kita lakukan?
- Ketaatan (ay. 19).
Status lahiriah bukan yang utama tetapi ketaatan kepada Allah yang terutama. Kita harus menaati hukum-hukum Allah. Bagaimana dengan sunat, apakah termasuk hukum/perintah Allah? Sunat adalah tanda perjanjian keanggotaan keturunan Abraham secara fisik (Kej. 17:10-12) bukan syarat menjadi umat Tuhan di dalam Kristus.
Perhatikan, ketaatan bukanlah syarat untuk diselamatkan tetapi respons dari orang yang dipanggil Allah. Ini sangat krusial dan mendasar yang membedakan kekristenan dengan agama-agama lain di mana ketaatan menjadi syarat untuk beroleh keselamatan.
Status dan keadaan fisik kita tidak harus berubah tetapi ketaatan harus nyata timbul dari hati yang dibarui karena sudah diselamatkan. Ingat, karunia Allah menyelamatkan kita tanpa syarat dan dasar dari ketaatan adalah kasih (Yoh. 14:15).
Kita tidak perlu mengejar kasih karena Tuhan sudah memberikannya dengan mengurbankan diri-Nya tergantung di atas kayu salib. Kasih itulah yang mendorong kita untuk taat pada segala perintah-Nya. Contoh: Dalam perumpamaan tentang dua orang anak, Yesus menyindir imam-imam kepala dan tua-tua orang Yahudi yang berstatus tinggi dan terhormat tetapi tidak taat sementara pemungut cukai dan pelacur-pelacur (berstatus rendah nan hina) mendahului mereka masuk ke dalam Kerajaan Allah sebab mereka percaya dan melakukan kehendak Bapa (Mat. 21:28-31).
Pembelajaran: status jabatan tinggi, pengetahuan banyak atau menjadi orang Kristen puluhan tahun tidak otomatis menjamin seseorang taat. Hanya mereka yang menyadari sepenuhnya bahwa mereka diselamatkan oleh karena kasih karunia Tuhan maka mereka akan merespons dengan ketaatan pada perintah Firman-Nya.
Jujur, tidak mudah untuk taat kepada Firman. Bila Firman meminta kita untuk mengampuni dan mengasihi musuh serta mendoakan mereka yang menganiaya kita, bersediakah kita melakukannya? Ketaatan akan gagal kalau kita mengandalkan kekuatan sendiri.
- Kepemilikan (ay. 22).
Seorang hamba atau doulos (budak) tidak mempunyai kebebasan tetapi di bawah kekuasaan tuannya. Namun hamba yang dipanggil Tuhan adalah orang bebas/merdeka dari perbudakan dosa untuk menjadi milik Kristus. Siapa pun yang menerima Kristus, dia dibebaskan/dimerdekakan dari perbudakan dosa menjadi orang merdeka (Yoh. 8:34-36). Selanjutnya, dia dipanggil Kristus menjadi hamba-Nya sebab telah dibeli dan harganya lunas dibayar (1 Kor. 7:22-23). Kita adalah hamba-Nya, artinya kebebasan kita tidak semaunya sendiri sebab kita adalah milik Yesus Kristus. Analogi: seorang budak dapat diperjualbelikan. Ketika seorang tuan menyukainya, tuan ini membelinya dengan sebuah harga yang lunas dibayar. Kristus sudah membeli/menebus hidup kita dan harganya lunas dibayar dengan kematian-Nya disalib. Keselamatan dari-Nya cukup menjadikan kita hamba Kristus. Oleh sebab itu kita patut memuliakan Allah dengan tubuh kita (1 Kor. 6:20).
Pemilik hidup kita ialah Kristus maka kita harus setia dan tunduk kepada-Nya yang menjadi Tuan kita. Jangan menjadi hamba manusia hingga mengorbankan kebenaran demi menyenangkan manusia atau menempatkan kepentingan pribadi di atas kehendak Tuhan! Misal: beranikah kita sebagai bawahan menolak permintaan atasan untuk memanipulasi pajak dengan risiko dipecat? Menjamu rekan bisnis penting di night club hingga mabuk agar kontrak kerjanya tidak diputus?
Kalau kita menyadari bahwa kita adalah milik Kristus dan sudah dibayar lunas (1 Ptr. 1:18-19), kita akan mampu memberikan kesetiaan tertinggi kepada Pemilik hidup kita. Kita tidak lagi mengambil keputusan menurut kepentingan diri sendiri. Sesungguhnya Tuhan tidak menuntut kita membayar kembali penebusan yang dilakukan-Nya karena Ia tahu kita tidak akan mampu membayarnya. Ia hanya minta kita menanggapi penebusan itu dengan kesetiaan pada panggilan Allah (1 Kor. 7:24). Ingat, kita selalu hidup di hadapan Allah dan tidak dapat bersembunyi dari-Nya.
Marilah kita setia dalam panggilan Allah sebab oleh karunia-Nya (bukan kelayakan kita) kita dipanggil menghasilkan ketaatan sebagai respons atas keselamatan dari-Nya. Pemilik hidup kita ialah Kristus yang telah menebus kita dengan darah-Nya yang tak ternilai harganya hingga satu kali kelak kita menjadi mempelai-Nya dan tinggal bersama-Nya selamanya di dalam Kerajaan-Nya. Amin.