• KEPUASAN HIDUP DI DALAM TUHAN
  • Edi Sugianto

Seberapa Puas Hidupmu?
Pertanyaan ini tentu pernah menghampiri kita, bukan? Setidaknya baru saja kita membacanya. Namun bagaimana respons kita? Apakah kita puas dengan hidup kita? Berapa persentase tingkat kepuasan yang kita rasakan? Apa saja yang menjadi kepuasan kita? Pertanyaan-pertanyaan tersebut patut kita renungkan.

Sering kali kita tidak puas terhadap apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Mata kita cenderung melihat ‘rumput tetangga lebih hijau’ daripada yang kita miliki. Padahal mereka pun melihat kita dengan cara yang sama. Kecenderungan saling melihat dan membandingkan dalam istilah Jawa “sawang sinawang” membuat kita tidak puas dan tidak dapat bersyukur sebab kita cenderung melihat kelebihan orang lain dari perspektif kekurangan kita.

Sebenarnya, perasaan puas terjadi ketika semua yang dibutuhkan terpenuhi. Namun faktanya sebagian besar manusia hidup di dalam ketidakpuasan dan merasa tidak cukup dengan apa yang dimiliki. Acapkali faktor sosial, psikologis, dan perkembangan lifestyle dapat memengaruhi ketidakpuasan meski kebutuhannya terpenuhi. Ketidakpuasan muncul karena kita belum dapat membedakan mana yang menjadi kebutuhan dan keinginan.

Di sisi lain, keinginan dan ketidakpuasan bukan selalu bersifat negatif sebab hal ini dapat memotivasi kita untuk semakin meningkatkan dan mengembangkan diri. Namun demikian, keinginan dan rasa tidak cukup tersebut harus berkaitan dengan apa yang menjadi kehendak Allah sebab keinginan yang tidak selaras dengan kehendak Allah adalah egosentris. Sebaliknya, Allah menghendaki agar kita hidup puas di dalam Tuhan.

Ketidakpuasan Manusia dan Solusi Allah
Pada dasarnya Allah telah menyediakan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Hal tersebut terlihat sejak hari-hari penciptaan. Allah menciptakan manusia pada hari keenam bukan tanpa alasan sebab semua yang baik telah diciptakan bagi manusia pada hari-hari sebelumnya. Bahkan Allah memberikan napas hidup kepada manusia sehingga mereka memiliki relasi dengan Tuhan yang memuaskan hidupnya (Kej. 1-2).

Namun di tengah keberlimpahan tersebut, manusia masih merasa belum cukup. Bayangkan bagaimana Allah berfirman: “Buah dari semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan dengan bebas, tetapi buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, jangan kaumakan, sebab pada saat engkau memakannya, engkau pasti mati!” (Kej. 2:16-17). Ada berbagai buah yang telah disediakan Allah dan hanya satu buah saja yang dilarang namun manusia masih merasa kurang sehingga mereka memuaskan diri dengan mengambil buah larangan berakibat mereka terjatuh dalam dosa (Kej. 3).

Contoh lain dari tokoh Alkitab yang pernah merasa tidak puas adalah Raja Daud. Allah telah memberikan segala sesuatu kepada Daud, bahkan jika itu dirasa belum cukup, Tuhan akan menambah lebih banyak lagi. Namun Daud menghina Tuhan dengan memuaskan diri melalui perbuatan jahatnya. Nabi Natan menggambarkan Daud seperti seorang kaya yang memiliki banyak kambing domba namun masih merasa kurang dan mengambil satu-satunya domba milik seorang miskin (2 Sam. 12:1-14). Namun demikian, sikap Daud berbeda dengan Adam-Hawa; ketika teguran datang, ia menyadari kesalahannya, merendahkan diri dan memohon pengampunan kepada Tuhan.

Ketidakpuasan membawa manusia berdosa dan berimplikasi pada perasaan tidak puas yang cenderung berbuat dosa. Manusia yang berdosa tidak sanggup memuaskan dirinya dan terjebak dalam lingkaran dosa sebab kepuasan sejati hanya dapat dipenuhi oleh Allah. Hal tersebut terlihat dalam sepanjang sejarah di mana Allah menyediakan berbagai solusi yang puncaknya pada kedatangan-Nya ke dalam dunia. Anak Allah rela merendahkan diri, membatasi diri-Nya dan menjadi sama seperti manusia untuk menyelesaikan masalah mendasar dari ketidakpuasan manusia, yaitu natur dosa.

Ketika masalah utama manusia terselesaikan, masalah-masalah ketidakpuasan lainnya akan diarahkan kepada kehendak Allah. Manusia yang percaya kepada Yesus, hidupnya senantiasa dipenuhi dan dipimpin Roh Kudus untuk meninggalkan keinginan dagingnya. Dengan demikian, orang percaya akan mengalami kepuasan sejati, yaitu kehidupan kekal bersama dengan Tuhan (Yoh. 4:14).

Hidup Puas Di Dalam Tuhan
Kepuasan sejati adalah kehidupan yang seturut dengan kehendak Tuhan. Bagaimana hal ini dapat kita terapkan dalam hidup kita?

  • Memercayai Tuhan sepenuhnya. Percayalah bahwa Allah berkuasa dan berdaulat membentuk dan menempatkan kita dalam keadaan yang amat baik. Tidak ada hal yang terjadi dalam kehidupan kita tanpa kendali Allah. Dia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Rm. 8:28). Masing-masing kita unik sesuai rancangan-Nya. Tidak perlu membandingkan diri dengan yang lain – percayalah kepada Tuhan!
  • Senantiasa bersyukur dengan apa yang ada. Allah mengajar kita untuk mengucap syukur senantiasa (Ef. 5:20) dan mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kita (Ibr. 13:5) sebab apa yang diberikan kepada kita cukup dan Ia tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan cukup bagi kita.
  • Memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan. Kita perlu membedakan apa yang benar-benar menjadi kebutuhan dan apa yang sekadar menjadi keinginan. Jika kebutuhan sudah terpenuhi, sudah waktunya kita berkata cukup. Kalaupun kita menginginkan sesuatu lebih maka pastikan keinginan kita selaras dengan kehendak Allah, yaitu untuk kemuliaan-Nya. Tuhan berkenan akan pencapaian-pencapaian kita dengan penggunaannya yang benar. Namun jangan sampai kita terpikat dan terseret oleh keinginan daging yang membawa kepada dosa (Yak. 1:14-15; 1Tim. 6:10).
  • Memiliki pengharapan kekal. Apa yang ada di dalam dunia ini bersifat fana maka kita perlu memfokuskan diri pada kepuasan kekal di dalam Surga. Allah di dalam Kristus melalui Roh Kudus telah memuaskan hidup kita sehingga apa yang kita miliki di dalam dunia ini kita investasikan bagi harta Surgawi di dalam takut akan Allah (1Tim. 6:18-19). Kita menggunakan waktu yang fana ini untuk hal-hal bersifat kekal sebab kita memiliki pengharapan yang kekal. 

Akhirnya, kepuasan sejati merupakan kehidupan di dalam Tuhan yang telah menyediakan segala sesuatu bagi kita. Kepuasan bukan berbicara seberapa banyak yang kita miliki, tetapi hati yang bersyukur dan takut akan Allah (Pkh. 12:13). Untuk itu biarlah kita merasa cukup atas setiap berkat Tuhan dan senantiasa menginginkan untuk melakukan hal-hal yang lebih bagi kemuliaan Allah.