• Perjumpaan Dengan Yesus Secara Pribadi
  • the founder of ladies' study/ Perempuan indonesia belajar
  • 2026-09-04
  • Ursulla Maarani

Bertahun-tahun dari kecil saya melihat kondisi orang-orang dewasa yang gampang marah dan bertikai, membuat saya ketakutan lalu bersembunyi di bawah meja. Juga melihat orang meninggal dengan upacara berbeda-beda, saya yang belum bersekolah waktu itu tidak mengerti apa yang terjadi dan bertanya-tanya penyebabnya maka mulailah saya tumbuh secara otodidak ingin mengetahui mengapa ada perempuan galak, ada laki-laki yang ketakutan tetapi berbuat kejahatan ke belakang juga apa itu kematian dengan membaca banyak buku. Puji Tuhan, ada seorang pemudi yang tidak saya kenal menjemput dan membawa saya ke Sekolah Minggu dan mulailah saya mengenal Yesus karena keluarga saya menganut Tauisme yang taat. Sungguh Sekolah Minggu sangatlah penting dan saya sangat respect terhadap guru-guru yang melayani Sekolah Minggu. Pembelajaran di Sekolah Minggu menjadi dasar saya bisa kuat sampai hari ini. 

Karena bersekolah di sekolah Katolik, saya mengikut agama Katolik dan dibaptis sebagai orang Katolik tetapi belum mengenal Tuhan secara pribadi. Saya terus mencari Tuhan meskipun mengalami pertentangan dengan nilai-nilai di dalam keluarga. Saya termasuk anak yang rebellious dan melalui pembacaan buku-buku yang dibelikan oleh kakak, saya menemukan nilai-nilai yang cocok dengan Sekolah Minggu. Contoh: kita harus membalas kejahatan dengan kebaikan, menghormati orang lain, tidak boleh mementingkan ego sendiri, perempuan harus menghormati suami, menghargai diri sendiri (self-love) dll. Memang ibu saya religious secara vertikal tetapi belum menerapkannya secara horizontal. 

Karena memenangkan finalis 20 besar duta wisata Indonesia tahun 1983 melalui karangan tulisan “Bagaimana Mempromosikan Indonesia”, saya mendapatkan hadiah tiket ke Singapura. Saya kemudian memutuskan tidak mau balik ke Indonesia tetapi sekolah sambil bekerja di Singapura. Di sana saya bekerja di suatu perusahaan yang menangani: finance, leasing dan asuransi untuk market Indonesia. Saya mencari klien Indonesia premium kelas 1 untuk mau bergabung di perusahaan ini. Dari sinilah awal terbesar saya bertemu dengan Ibu Titik Soeharto sebagai klien penting hingga bertemu dengan alm. Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. Pada tahun 1988 saya ditarik kembali ke Indonesia untuk memimpin sebuah bank. Saya merasa tidak mampu dan tidak layak menduduki posisi tinggi tersebut tetapi Pak Soemitro menjelaskan bahwa top management adalah public relation, ambassadornya owner yang memiliki hospitality, skills, personality dan mindset yang sudah menjadi bawaan dari seorang pemimpin. Beliau mengatakan saya memiliki jiwa leadership, hospitality dan etika untuk memimpin lima wakil yang ahli di bidangnya masing-masing. Pelajaran yang saya peroleh dari orang-orang kelas atas ialah mereka justru simple and humble. Mereka yang sudah mapan itu kaya di mental bukan di uang karena ada orang beruang banyak tetapi mentalnya miskin.

Saya terus mencari Tuhan dan sempat menjadi buddhis dengan mendalami ketuhanan yang diajar oleh Dalai Lama karena orang-orang buddhis dapat menerima saya dengan segala “kegilaan” dan kekurangan saya. Saya tidak main-main mempelajari agama Buddha (1996-2007) dan menghabiskan buku-buku Dalai lama dan sejarah Gautama. Namun akhirnya saya mengalami sesuatu panggilan dari Yesus sendiri waktu saya lagi down. Saya lagi memejamkan mata dan “melihat” penampakan Yesus berjalan di depan saya. Saya takut dan merasa tidak layak mendekat karena saya sudah meninggalkan Dia. Tanpa sadar saya memegang ujung jubah Yesus yang kotor kekuning-kuningan seperti terkena kotoran kuda. Setelah itu Yesus lenyap tetapi saya mengalami damai sejahtera dan semangat hidup. Segera saya mencari gereja dan yang buka hari itu (bukan hari minggu) gereja Katolik. Herannya khotbahnya mengenai kisah perempuan perdarahan 12 tahun. Saya menangis di gereja itu karena kisah itu sangat mengena sebab saya belum pernah mendengar sebelumnya. Saya kurang memahami kisah-kisah di Alkitab karena saya tidak mempunyai Bible waktu itu. Saya bingung memilih agama Katolik yang pernah saya tinggalkan atau agama Kristen. Kemudian saya minta tanda kalau anak saya yang di Australia menelepon hingga tiga kali saya akan memilih menjadi orang Kristen. Ternyata anak saya menelepon tiga kali maka saya memutuskan seumur hidup akan mengikut Yesus (2008). Saya langsung all out belajar teologi. 

Tahun 2018 saya diundang ke India oleh sahabat saya, ambasador dari Amerika untuk India dan tinggal di Kalkuta. Saya diajak pesta kenegaraan yang supermewah tetapi juga melihat kemiskinan parah di sana. Di hari terakhir saya pergi ke tempatnya Mother Teresa. Ada makamnya Mother Teresa memakai granit putih dan tiga gedung tempat menampung anak-anak yang dibuang, orang-orang cacat dan perempuan-perempuan yang dibuang. Hati saya hancur tidak kuat melihat penderitaan mereka. Saya keluar dari ruangan itu dan menangis di lapangan, marah kepada Tuhan mengapa mengirim saya ke “neraka” ini. Tiba-tiba saya dipeluk oleh Mother Joshi, pengganti Mother Teresa, dibawa ke kantornya dan didoakan. Beliau sempat mengatakan, “I can see that the Lord Jesus is going to use you, be ready!”  Ini nubuat kedua kalinya, yang pertama (2008) saya terima dari Ruth Julia ketika masuk Kristen. 

Sungguh Tuhan memiliki cara-Nya sendiri dalam memanggil orang-orang yang ditentukan dan dipilih-Nya dari semula untuk menjadi anak-anak-Nya yang tidak dapat diprediksi oleh manusia siapa pun walau manusia telah mempersiapkan dan mengatur jalan hidupnya sebaik mungkin! Tuhan berdaulat penuh atas kehidupan setiap orang. 

(bersambung)