• Menjaga Hati Tetap Murni di Hadapan Tuhan
  • RUMAH ALLAH DAN KITA
  • 2026-09-04
  • Sonny Garing

Pendahuluan

Bejana pembasuhan merupakan salah satu perabot dalam sistem peribadatan di Tabernakel yang diperintahkan Tuhan untuk dibuat. Di pasal 38 terlihat dimulainya pembuatan perabot ini juga disebutkan bahan utama pembuatannya. Memang Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat bejana dan alasnya yang terbuat dari tembaga tetapi tidak secara detail dalam bentuk apa tembaga tersebut (Kel. 30:17-21). Tuhan juga menyebutkan alasan keberadaan Bejana Pembasuhan tersebut yakni Harun dan anak-anaknya harus membasuh tangan dan kaki mereka dengan air yang ada di dalam Bejana Pembasuhan sebelum masuk ke dalam Kemah Pertemuan atau ke mezbah untuk menyelenggarakan kebaktian serta membakar kurban api-apian bagi Tuhan agar mereka tidak mati. Aturannya jelas: jika tidak membasuh tangan dan kaki sebelum melakukan ritual pelayanan, hukumannya adalah kematian. Jelas Tuhan memandang kekudusan dalam pelayanan sangatlah serius dan tidak boleh dianggap ringan. Keberadaan Bejana pembasuhan secara fisik pada waktu itu menyatakan betapa pentingnya Harun dan anak-anaknya memerhatikan kekudusan hidup dimulai dari yang fisik. 

Bejana Pembasuhan dianggap unik sebab perabot ini satu-satunya yang disebutkan menampung air yang dari dalamnya Harun dan anak-anaknya membasuh tangan dan kaki mereka. Juga bahan utamanya disebutkan terbuat dari cermin-cermin tembaga para perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan. 

Perlu diketahui Kemah Pertemuan dibuat Musa (Kel. 38:8) setelah peristiwa penyembahan anak lembu emas (Kel. 33:7). Sementara istilah “cermin-cermin” (Bhs. Ibr. בְּמַרְאֹת֙ (be-mar’ot) mempunyai akar kata רָאָה (ra’ah) yang berarti melihat. Jelas, fungsi dari cermin adalah untuk melihat rupa, wajah atau penampilan fisik; dalam hal ini penampilan dari para perempuan yang melayani di pintu Kemah Pertemuan. Cermin di sini lebih tepat dikatakan sebagai cermin pantul yang tidak terbuat dari kaca tetapi dari logam yang dipoles sedemikian rupa sehingga dapat memantulkan (merefleksikan) wajah atau penampilan dari si pemilik cermin tersebut. 

Perunggu adalah logam yang biasa digunakan untuk tujuan ini dan sudah umum dipakai di Mesir. Di sana, cermin berupa lempengan perunggu bulat atau oval dilengkapi dengan gagang. Yesaya 3:23 menyebutkan bahwa cermin merupakan salah satu dari sederetan perlengkapan perhiasan para  perempuan di Sion. Pada intinya, cermin-cermin ini adalah barang pribadi dari para perempuan yang cukup berharga dan penting sebab dengan alat tersebut mereka dapat merias diri untuk menjaga penampilan fisik supaya dipandang indah di hadapan orang lain. Dari cermin tersebut mereka dapat melihat segala noda atau kotoran yang menempel di wajah untuk segera dibersihkan. Dengan demikian melalui cermin, mereka dapat menilai apakah penampilan mereka sudah baik atau tidak. 

Bukan tanpa maksud Alkitab mencatat Bejana Pembasuhan dan alasnya yang terbuat dari cermin-cermin tembaga untuk para perempuan yang melayani di pintu Kemah Pertemuan. Jika kita mengaitkan fungsi dari Bejana Pembasuhan dalam kegiatan ritual peribadatan Tabernakel dengan fungsi cermin-cermin tersebut, terbukti Tuhan menghendaki adanya kekudusan hidup khususnya kemurnian hati dalam melayani Dia. 

Transformasi dari Fokus kepada Diri Sendiri Menjadi Fokus kepada Tuhan

Hati para perempuan yang memiliki cermin-cermin ini terdorong mengasihi Tuhan lalu mereka ikut ambil bagian memberikan persembahan guna pembuatan perabot Tabernakel, khususnya pembuatan perabot Bejana Pembasuhan. Alat yang sebelumnya sangat penting untuk melihat dan memeriksa apa ada noda dan kotoran di wajah, untuk bersolek dan berdandan sekarang mereka persembahkan kepada Tuhan melalui Musa. Tidak disebutkan dalam Alkitab bagaimana cara mengolah cermin-cermin tembaga untuk menghasilkan perabot Bejana Pembasuhan namun yang pasti semua cermin tersebut tidak ada yang tertinggal untuk pembasuhan tangan dan kaki Harun serta anak-anaknya supaya mereka tidak mati. 

Istilah “membasuh” רָחַץ (rachats) dapat diartikan mandi atau membersihkan diri. Pembersihan bagian tubuh dalam hal ini tangan dan kaki dari Harun dan anak-anaknya menjadi simbol yang kuat bahwa Tuhan menghendaki pelayanan dijalankan dengan kekudusan. Tanpa kekudusan maka pelayanan ada dalam tanda pehukuman (ancaman mati). 

Cermin yang sebelumnya dipakai untuk fokus pada diri sendiri kini berubah menjadi wadah penampung air untuk pembasuhan tangan dan kaki Harun serta anak-anaknya, para imam, untuk melayani Tuhan. Yakobus 4:8 menyebutkan, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! Dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!” 

Pembasuhan “tangan” dapat diartikan sebagai pentahiran perbuatan yang berdosa. Ada begitu banyak perbuatan manusia yang dapat dikategorikan dengan perbuatan dosa. Yohanes 13:10 menuliskan,  “…Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya karena ia sudah bersih seluruhnya…” Maksudnya, oleh kasih karunia Allah, kita telah diselamatkan melalui iman kepada  Tuhan Yesus. Dan dalam menjalani “perjalanan rohani” ini kita masih dapat melakukan pelanggaran dan kekeliruan untuk dibawa ke hadapan Tuhan supaya dibasuh dengan air Firman Tuhan dari hari ke hari. 

Lebih lanjut tidak hanya tangan yang harus ditahirkan tetapi hati juga harus terus-menerus disucikan (dimurnikan) oleh Tuhan. Aplikasi masa kini berkaitan dengan pembasuhan tangan dan kaki dengan air dari Bejana Pembasuhan ialah Tuhan menghendaki semua orang yang melayani-Nya untuk terus menerus memerhatikan kekudusan hidup sekaligus memerhatikan kemurnian hati di hadapan-Nya. 

Istilah “mendua hati” (double-minded) dalam bahasa Yunani: δίψυχος (dipsuchos) dapat diartikan sebagai kondisi hati yang terbagi, bercabang, bimbang bahkan ragu-ragu. Ungkapan ini muncul dua kali dalam Surat Yakobus untuk memperingatkan orang-orang percaya agar tidak berbolak-balik antara pengabdian kepada Allah dan kesetiaan pada keinginan-keinginan yang saling bersaing. Singkatnya, Tuhan mau menahirkan dan memurnikan hati kita untuk dapat fokus kepada-Nya bukan membagi perhatian lebih besar pada diri sendiri. Bukankah dalam pelayanan sering tanpa disadari seseorang dapat menjadi tidak murni lagi sebab apa yang menguasai hatinya bukan lagi bagaimana Tuhan dimuliakan tetapi bagaimana egonya dipuaskan? Misal: jika orang lupa berterima kasih atas pelayanan yang dilakukannya, dia langsung tersinggung dan menggerutu. 

Air menjadi sarana untuk membersihkan dan membasuh segala noda kotoran yang ada pada tangan dan kaki; terlebih lagi Firman Tuhan berkuasa membersihkan dan menguduskan hidup orang percaya dari noda dosa (Yoh. 15:3; Mzm. 119:9; Ef. 5:26). Dapat dikatakan bahwa antitipe dari pembasuhan tangan dan kaki yang dilakukan melalui air dari Bejana Pembasuhan adalah penyucian yang dilakukan Firman Tuhan kepada umat-Nya hari-hari ini. Seperti telah dilakukan Harun dan anak-anaknya sebelum melakukan tugas pelayanan; sekarang kita, para pelayan Tuhan, senantiasa datang kepada Tuhan melalui pembacaan Firman dan praktik Firman Tuhan. Dengan demikian Firman Tuhan menyucikan dan memurnikan hati pikiran kita untuk tidak mendua tetapi fokus kepada Tuhan juga fokus menyenangkan hati-Nya. Kita tidak lagi membiarkan hati kita terkontaminasi dengan kecenderungan memuaskan ego manusia yang berdosa. 

Aplikasi Masa Kini

Marilah kita berkomitmen untuk mendedikasikan hidup ini melayani Tuhan dan senantiasa mengingat:

  • Pelayanan kepada Tuhan haruslah ditandai dengan kekudusan dan kemurnian hati sebab Tuhan berkenan akan pelayanan semacam ini.
  • Firman Tuhan yang dibaca, direnungkan dan dipraktikkan setiap hari akan menguduskan dan memurnikan hati kita.
  • Kemurnian hati dalam melayani Tuhan ditandai dengan kepekaan untuk menolak dengan tegas segala sesuatu yang mencoba menempatkan ego (fokus diri sendiri) yang bertakhta di hati. Kemurnian hati dalam melayani Tuhan merupakan kesadaran bahwa hanya Dia sajalah yang boleh bertakhta dalam hati kita, bukan yang lain. 

*******