
Perjalanan hidupku untuk mendedikasikan diri sebagai seorang hamba Tuhan merupakan proses yang tidak mudah dan penuh dengan pembentukan iman. Pada awalnya, tidak pernah terlintas dalam pikiran maupun hatiku untuk menjadi seorang pelayan Tuhan. Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), aku telah memiliki rencana yang jelas untuk melanjutkan pendidikan ke salah satu universitas di Kota Medan mengambil jurusan teknik. Seluruh persiapan telah kulakukan dan aku yakin jalan tersebut merupakan masa depan yang akan kujalani.
Namun di tengah rencana tersebut, gembala sidangku (saat ini telah berpulang kepada Tuhan) memberikan tawaran kepadaku untuk melanjutkan pendidikan di STT Tabernakel Indonesia guna dipersiapkan menjadi seorang hamba Tuhan. Pada saat itu aku merasa asing dengan panggilan tersebut. Bahkan secara langsung aku menyampaikan bahwa aku tidak memiliki ketertarikan untuk menjadi hamba Tuhan karena aku telah memiliki cita-cita dan rencana hidup sendiri.
Namun setelah percakapan tersebut, tawaran untuk menjadi hamba Tuhan terus teringat dalam pikiranku. Aku mulai merasakan pergumulan batin dan kehilangan damai sejahtera. Setiap kali memikirkan rencana untuk melanjutkan studi di universitas, hatiku tidak merasakan sukacita maupun ketenangan. Sebaliknya, ketika memikirkan STT Tabernakel Indonesia, terdapat dorongan yang kuat di dalam hatiku.
Pergumulan tersebut berlangsung hingga sekitar satu minggu sebelum aku mengambil keputusan. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan pergumulan pribadi, aku akhirnya memberanikan diri untuk menyampaikan kepada keluarga bahwa aku memutuskan melanjutkan pendidikan di STT Tabernakel Indonesia dan bersedia menjadi seorang hamba Tuhan.
Keputusan tersebut menimbulkan keterkejutan di tengah keluargaku. Orang tuaku berulang kali memastikan apakah aku benar-benar siap menjalani kehidupan sebagai seorang hamba Tuhan. Dengan penuh keyakinan aku menegaskan bahwa aku siap menjalani proses tersebut.
Namun setelah keputusan itu diambil, orang tuaku menyampaikan sebuah pernyataan yang sangat mengejutkan bagiku. Mereka mengatakan bahwa apabila aku sungguh-sungguh siap menjadi hamba Tuhan, maka selama empat tahun masa pendidikan aku tidak diperbolehkan pulang rumah dan mereka juga tidak akan mengirimkan biaya untuk kebutuhan hidupku.
Secara manusiawi, aku merasa sangat terkejut dan sempat berpikir bahwa orang tuaku tidak lagi peduli kepadaku. Akan tetapi karena aku telah mengambil keputusan di hadapan Tuhan dan keluarga, aku memilih untuk tetap bertahan dan menjalani konsekuensi dari keputusan tersebut.
Selama menempuh pendidikan di STT Tabernakel Indonesia, aku mengalami banyak proses pembentukan karakter dan iman. Berbagai tantangan, kesulitan, serta pergumulan hidup harus kuhadapi. Pernah ada suatu masa aku tidak memiliki uang bahkan hanya untuk membeli sabun mandi. Selama kurang lebih satu minggu aku mandi tanpa menggunakan sabun. Pada masa itu aku merasa sangat lemah dan sempat ingin meminta pertolongan kepada keluarga. Namun aku teringat akan komitmen yang telah kusampaikan sebelumnya.
Dalam keterbatasan tersebut, aku belajar untuk makin bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Aku berdoa dan berkata, “Tuhan, apabila Engkau yang memanggil aku menjadi hamba-Mu, Engkau pula yang akan bertanggung jawab atas hidupku.”
Puji Tuhan, Tuhan tidak pernah meninggalkanku. Ia senantiasa memelihara, menguatkan, serta mencukupkan setiap kebutuhanku selama menjalani proses pendidikan. Melalui pertolongan Tuhan, aku akhirnya dapat menyelesaikan pendidikan di STT Tabernakel Indonesia selama empat tahun dengan baik (2019).
Selama masa pendidikan tersebut, orang tuaku benar-benar tidak pernah mengirimkan biaya sedikit pun dan aku juga tidak pernah pulang. Melalui seluruh proses itu aku belajar bahwa panggilan Tuhan tidak selalu mudah untuk dijalani tetapi setiap rencana Tuhan selalu indah pada waktunya dan jauh lebih baik daripada yang pernah aku rencanakan sendiri. Melalui pengalaman ini, aku makin percaya bahwa ketika Tuhan memanggil seseorang, Ia juga akan memelihara, menguatkan, dan menyertai setiap proses kehidupan orang tersebut hingga tercapai tujuan yang telah Tuhan tetapkan.
Orang tua bukannya marah atau bagaimana tetapi memang sudah perjanjian sebelum aku berangkat dari Nias – Surabaya untuk melanjutkan studi. Dan selama perkuliahan komunikasi dengan keluarga dua kali sebulan karena peraturan di kampus siswa/i menggunakan HP dua kali dalam 1 bulan.
Setelah lulus orang tua sangat senang dan ketika aku balik ke Nias untuk bertemu keluarga, mereka menangis dan terharu karena mereka tahu proses yang aku lalui tidaklah mudah. Mereka kemudian mengadakan ibadah ucapan syukur besar-besaran mengundang seluruh tetangga untuk ikut dalam sukacita yang dialami oleh keluarga kami.
Setelah menjadi Hamba Tuhan, secara pribadi aku sangat senang meskipun menghadapi banyak tantangan tetapi ini bukan menjadi alasan bagiku untuk mundur. Justru hal itu membuatku untuk tetap maju dan berserah sebab bersama Tuhan semua tantangan pasti dapat aku lalui.
*******