• Allah Datang Ketika Hidup Terasa Biasa
  • Kisah Allah dan Kita
  • 2026-09-03
  • Pdm. David Wellyanto

Kemerdekaan dimulai saat kita menyambut kehadiran-Nya. Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?" (Kej. 18:14)

Bulan Agustus selalu membawa kita pada suasana syukur atas anugerah kemerdekaan bangsa Indonesia. Bendera Merah Putih berkibar di berbagai tempat, perlombaan digelar, dan kita kembali mengenang perjuangan para pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa.

Namun di tengah sukacita itu ada sebuah pertanyaan yang layak kita renungkan: apakah setiap orang yang hidup di negara merdeka benar-benar hidup dalam kemerdekaan? Banyak orang telah bebas secara politik tetapi masih dijajah bahkan diperbudak oleh ketakutan, kekhawatiran, rasa bersalah, kepahitan, atau keraguan kepada Allah. Alkitab menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan hanya berbicara tentang keadaan sebuah bangsa melainkan tentang hati manusia yang hidup dalam persekutuan dengan Allah.

Lalu seperti apakah gambaran orang yang benar-benar hidup dalam kemerdekaan itu? Jawabannya dapat kita temukan melalui kehidupan Abraham. Kejadian 18:1-15 memperlihatkan bahwa orang yang hidup dekat dengan Allah akan mengalami kebebasan untuk percaya, melayani, dan berharap kepada-Nya.

Ada kalanya kita berpikir bahwa Allah hanya bekerja melalui peristiwa-peristiwa besar: mukjizat yang menggemparkan, doa yang langsung dijawab, atau pengalaman rohani yang luar biasa. Namun ada sesuatu yang berbeda dengan Abraham. Allah justru datang ketika dia sedang menjalani hari yang biasa. Saat itu Abraham duduk di depan kemahnya di hari yang sangat panas. Tidak ada ibadah besar, tidak ada mezbah yang sedang dibangun, tidak ada peperangan yang sedang dihadapi. Yang ada hanyalah seorang pria tua yang sedang beristirahat. Di situlah kisah yang indah ini dimulai. Allah berkenan datang menghampiri Abraham. Dari perjumpaan sederhana itu, kita belajar bahwa Allah masih terus berkarya di tengah kehidupan sehari-hari umat-Nya.

Allah Datang Lebih Dulu

Kejadian 18 diawali dengan kalimat sederhana, "TUHAN menampakkan diri kepada Abraham."

Perjumpaan itu bukan karena Abraham mencari Allah. Justru Allah yang mengambil inisiatif untuk datang. Inilah pola yang terus terlihat di sepanjang Alkitab. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Allah selalu menjadi Pribadi yang lebih dahulu mencari manusia. Di Taman Eden, Allah memanggil, "Di manakah engkau?" Kepada Musa, Allah menyatakan diri melalui semak yang menyala. Kepada para murid, Tuhan Yesuslah yang memanggil mereka untuk mengikut-Nya. 

Puncak dari inisiatif Allah terlihat ketika Ia mengutus Anak-Nya ke dalam dunia. Allah bukan hanya memanggil manusia dari kejauhan tetapi datang sendiri dalam pribadi Yesus Kristus (Yoh. 1:14). Sejak semula, hati Allah memang selalu rindu mendekati manusia.

Perjumpaan Abraham dengan Tuhan bukanlah sebuah peristiwa yang berdiri sendiri. Sejak awal Alkitab, Allah selalu rindu hadir di tengah umat-Nya. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah tidak membiarkan hubungan itu terputus. Ia terus mengambil inisiatif untuk mendekati manusia, memulihkan persekutuan yang telah rusak, dan mengundang mereka kembali hidup bersama-Nya.

Kerinduan itu terus terlihat sepanjang sejarah penyelamatan. Allah berdiam di Kemah Suci (Tabernakel) di tengah bangsa Israel kemudian menyatakan diri secara sempurna melalui Yesus Kristus, Sang Imanuel "Allah beserta kita" (Mat. 1:23; Yoh. 1:14). Kini, melalui Roh Kudus, Allah juga berdiam di dalam hati setiap orang yang percaya kepada-Nya (1Kor. 3:16). Kejadian 18 menjadi salah satu gambaran indah bahwa Allah adalah Pribadi yang selalu ingin tinggal di tengah kehidupan umat-Nya.

Kasih Allah selalu mendahului respons manusia

Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan kita. Sering kali kita baru menyadari bahwa ternyata Allah sudah bekerja jauh sebelum kita berdoa. Ia membuka jalan, mempertemukan kita dengan orang-orang tertentu, memberi pertolongan yang tidak kita sadari, bahkan menjaga kita dari bahaya yang tidak pernah kita ketahui.

Allah tidak hanya hadir di gereja pada jam dan hari ibadah. Ia juga hadir di ruang kerja, di meja makan, di ruang kelas, di rumah sakit, bahkan di ruang tamu rumah kita.

Mungkin hari-hari kita terasa biasa. Rutinitas terus berulang. Namun Kejadian 18 mengingatkan bahwa Allah sering datang justru pada saat-saat yang tampaknya paling biasa.

Menyambut Allah Melalui Keramahtamahan

Begitu melihat tiga orang tamu datang, Abraham segera berlari menyambut mereka. Ia membungkuk hormat, menyediakan air untuk membasuh kaki mereka, mempersiapkan roti, memilih anak lembu yang terbaik, bahkan berdiri melayani mereka selama mereka makan. Yang menarik, Abraham belum sepenuhnya mengetahui siapa tamu-tamu itu. Ia hanya melihat mereka sebagai orang yang membutuhkan sambutan.

Sikap Abraham mengajarkan bahwa iman tidak hanya terlihat ketika seseorang berdoa atau beribadah. Iman juga tampak melalui perhatian kepada orang lain.

Keramahtamahan dalam Alkitab bukan sebatas sopan santun. Keramahtamahan adalah wujud kasih yang ada buktinya. Rumah menjadi tempat orang lain mengalami kebaikan Allah melalui kehidupan kita. Mungkin kita tidak memiliki rumah yang besar namun secangkir teh hangat, telinga yang mau mendengar, atau waktu beberapa menit untuk menguatkan seseorang sering menjadi cara Allah menyatakan kasih-Nya.

Di zaman yang semakin individualistis, sikap seperti ini menjadi semakin langka. Kita mudah sibuk dengan urusan sendiri, lebih mengenal orang di media sosial daripada tetangga di sekitar rumah. Padahal Tuhan sering memakai tindakan-tindakan sederhana untuk menyatakan kasih-Nya. Sebuah senyuman, kunjungan kepada orang sakit, memberi tumpangan, mendengarkan keluh kesah seseorang, atau menyediakan makanan bagi mereka yang membutuhkan bisa menjadi cara Allah menjamah kehidupan seseorang.

Orang yang hidup dalam kasih karunia Allah adalah orang yang merdeka dari sikap egois. Ia tidak lagi egosentris atau menjadikan dirinya pusat kehidupan tetapi rela membuka rumah, waktu, tenaga, bahkan hartanya bagi orang lain. Kemerdekaan rohani selalu melahirkan kasih yang dibuktikan. Tidak semua orang dipanggil berkhotbah di mimbar. Namun setiap orang percaya dipanggil menghadirkan kasih Allah melalui kehidupan sehari-hari.

Ketika Janji Allah Terasa Mustahil

Di tengah percakapan itu, Tuhan kembali menyampaikan janji yang pernah diberikan-Nya: setahun lagi Sara akan mempunyai seorang anak. Bagi manusia, janji itu terdengar mustahil. Abraham hampir berusia seratus tahun. Sara sudah lanjut usia dan lama mandul. Secara biologis, semua kemungkinan telah tertutup. Tidak heran bila Sara tertawa dalam hati.

Terkadang bukan karena kita tidak percaya kepada Allah, tetapi karena terlalu lama hidup bersama kenyataan yang mengecewakan. Bertahun-tahun menunggu membuat hati perlahan kehilangan harapan. Sara pernah mengalami pergumulan itu. Karena itu Allah tidak hanya ingin mengubah keadaan Sara, tetapi juga memulihkan imannya.

Tawa Sara bukanlah tawa sukacita melainkan tawa yang keluar dari keraguan. Pengalaman hidup yang panjang membuatnya lebih mudah memercayai kenyataan daripada janji Allah.

Bukankah kita pun sering seperti Sara? Kita berdoa bertahun-tahun tanpa melihat perubahan. Kita berharap tetapi keadaan justru semakin sulit. Kita mulai menghitung segala sesuatu berdasarkan kemampuan manusia. Tanpa sadar kita berkata dalam hati, "Sepertinya sudah terlambat."

Keraguan sering menjadi bentuk "penjara" yang tidak terlihat. Banyak orang hidup dalam belenggu pengalaman masa lalu sehingga sulit memercayai bahwa Allah masih sanggup bekerja. Padahal Allah ingin memerdekakan umat-Nya dari rasa mustahil itu melalui janji-Nya yang setia.

Allah tidak pernah dibatasi oleh kalender manusia

Bagi Allah, tidak ada istilah "terlalu tua", "terlalu lambat", atau "terlalu sulit". Ketika manusia melihat akhir, Allah justru sedang memulai sesuatu yang baru. Janji Allah tidak bergantung pada kekuatan kita tetapi pada kesetiaan-Nya sendiri. Oleh karena itu iman bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Iman adalah memilih memercayai bahwa kuasa Allah lebih besar daripada kenyataan yang sedang kita hadapi.

Tidak Ada yang Terlalu Sukar bagi Tuhan

Puncak dari bagian ini terdapat pada pertanyaan Allah kepada Abraham, "Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?"

Pertanyaan itu bukan hanya ditujukan kepada Abraham dan Sara. Pertanyaan itu juga ditujukan kepada setiap pembaca Alkitab. Setiap orang memiliki "kemustahilan" masing-masing. Ada keluarga yang sudah lama mendoakan pemulihan hubungan. Ada orang tua yang terus mendoakan anaknya kembali kepada Tuhan. Ada yang bergumul dengan penyakit, pekerjaan, pelayanan, atau masa depan yang tampak suram. Allah tidak menjanjikan bahwa semua persoalan selesai seketika. Namun Allah mengingatkan bahwa kuasa-Nya tidak pernah dibatasi oleh keadaan.

Kadang-kadang Allah mengubah keadaan. Kadang-kadang Allah mengubah hati kita. Kadang-kadang Allah memberi jalan yang tidak pernah kita bayangkan.

Bagi manusia, jalan buntu berarti akhir. Namun bagi Allah, jalan buntu dipakai menjadi sarana untuk menyatakan kuasa-Nya. Yang pasti, tidak ada situasi yang berada di luar kendali-Nya. Oleh karena itu iman Kristen belum cukup jika hanya berpikir positif. Iman adalah percaya kepada Pribadi yang sanggup melakukan apa yang tidak mampu dilakukan manusia.

Membuka Kemah bagi Kehadiran Allah

Kisah ini berakhir dengan Sara yang sempat menyangkal bahwa ia tertawa namun Allah mengetahui isi hatinya.

Hal ini menghibur sekaligus menegur kita. Allah mengenal seluruh isi hati kita termasuk keraguan, ketakutan, dan pertanyaan yang tidak pernah kita ucapkan kepada siapa pun. Namun Ia tidak meninggalkan Sara karena kelemahannya. Sebaliknya, Ia tetap menggenapi janji-Nya.

Betapa besar kasih Allah itu. Ia tidak memilih orang-orang yang imannya selalu sempurna. Ia membentuk orang-orang biasa menjadi pribadi yang semakin percaya kepada-Nya.

Kejadian 18 mengajak kita membuka "kemah kehidupan" bagi Allah setiap hari. Bukan hanya saat semuanya berjalan baik tetapi juga ketika kita sedang bingung atau merasa masa depan tampak mustahil.

Mungkin hari ini Allah tidak datang dalam wujud tiga tamu seperti kepada Abraham. Namun Ia tetap hadir melalui Firman-Nya, Roh Kudus yang menyertai kita, dan berbagai peristiwa yang sering kita anggap biasa.

Pertanyaannya adalah, apakah kita memiliki hati yang peka untuk menyambut kehadiran-Nya? Sebab ketika Allah singgah dalam kehidupan seseorang, janji-Nya akan menghidupkan harapan, kehadiran-Nya menguatkan iman, dan kasih-Nya mengubah kehidupan untuk selama-lamanya.

Ketika bangsa Indonesia merayakan kemerdekaannya, kita bersyukur atas kebebasan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan. Namun sebagai orang percaya, kita juga diajak mensyukuri kemerdekaan yang Tuhan berikan setiap hari.

Kemerdekaan bukan sebatas bebas menentukan pilihan hidup. Kemerdekaan yang Tuhan anugerahkan adalah kebebasan dari belenggu dosa, ketakutan, dan keraguan, sehingga kita dapat hidup dalam persekutuan yang akrab dengan-Nya. Itulah kemerdekaan yang dialami Abraham. Ia membuka kemahnya bagi Allah, memercayai janji-Nya sekalipun tampak mustahil, dan melayani dengan sukacita. Orang yang hidup bersama Allah tidak lagi diperhamba oleh keadaan sebab pengharapannya bertumpu pada Pribadi yang berkata, "Adakah sesuatu apa pun yang mustahil bagi TUHAN?"

Kiranya pada bulan kemerdekaan ini kita tidak hanya mengibarkan Merah Putih sebagai ungkapan syukur atas anugerah kemerdekaan bangsa tetapi juga membuka "kemah hati" bagi Tuhan yang rindu tinggal bersama umat-Nya. Sebab ketika Allah mendapat tempat di dalam hati kita, kita menemukan kemerdekaan yang tidak dapat diberikan oleh dunia yaitu kemerdekaan untuk tetap percaya ketika sedang dalam pergumulan, mengasihi ketika dunia semakin mementingkan diri sendiri, dan berharap karena Tuhan selalu setia pada janji-Nya. Itulah kemerdekaan di dalam Tuhan.

*******