
Suatu saat Ibu Gembala mengutarakan kerinduannya untuk membuka kebaktian wanula (Wanita lanjut Usia) di gereja dan meminta saya untuk menjadi penanggung jawabnya. Beliau menjelaskan bahwa kebaktian itu diperuntukkan bagi mereka berumur di atas 60 tahun yang sudah tidak mampu mengikuti ibadah umum berdurasi lama. Untuk itu kebaktian wanula direncanakan hanya berdurasi 1 jam dan dilakukan dua minggu kali. Beliau juga menegaskan bahwa Bapak Gembala sudah memberikan izin dengan pesan sekali dibuka harus tetap diadakan.
Ketika mendengar pernyataan itu, terus terang saya merasa enggan menerima tugas tersebut. Saat itu saya telah memegang banyak pelayanan di gereja dan hampir setiap hari harus keluar rumah sedangkan saya memiliki tiga anak masih kecil yang memerlukan perhatian saya.
Rasanya kalau boleh saya ingin menolaknya karena saya kurang menyukai pelayanan tersebut – bergaul dengan orang-orang tua yang kurang menarik. Sejak SMA saya mulai melayani anak-anak Sekolah Minggu yang lucu-lucu kemudian tahun-tahun berikutnya melayani Kaum Muda yang muda nan ceria. Saya merasa begitu berbahagia berada di tengah-tengah mereka.
Tampaknya Ibu Gembala merasakan keengganan saya lalu menambahkan, “Kalau kamu sibuk, tidak usah datang di setiap kebaktian, kalau membawakan Firman saja datang. Kamu bisa minta pengasuh lain untuk menggantikan kamu, pokoknya tante minta kamu yang pegang kebaktian itu.” Sebagai seorang bawahan, saya tidak mempunyai kata lain kecuali mengiyakannya. Untuk pelayanan baru itu, Ibu Gembala menunjuk beberapa ibu untuk membantu pelayanan saya sedangkan untuk tempatnya, seorang ibu penatua menyediakan rumahnya.
Kebaktian pertama wanula dimulai dengan hanya ± 10 wanita tua dari anggota gereja dan beberapa ibu tua yang berdiam di sekitar rumah tersebut. Saya masih terus bertanya-tanya dalam hati, “mengapa bukan adik saya yang diminta, mengapa saya?” Saya tahu adik saya sangat menyukai orang-orang tua dan sering mengajak mereka pergi jalan-jalan sedangkan saya lebih menyukai anak-anak kecil dan anak-anak muda, Suatu pertanyaan yang tidak mendapatkan jawaban hingga suatu saat Dia berbicara secara pribadi kepada saya.
Usia Penentuan
Beberapa minggu lamanya saya masih merasakan beratnya tugas tersebut hingga suatu malam Tuhan berbicara dalam hati, “Vida, kamu begitu bodoh!” Saya tersedak. Kata-kata itu terasa begitu menohok jiwa saya. Mengapa saya dikatakan “bodoh”? Suara kecil dalam hati berkata pula, “Tidak tahukah kamu bahwa pelayanan lansia adalah pelayanan yang sangat penting dalam hidup seseorang? Usia lanjut adalah usia penentuan! Walau seseorang sangat bersungguh-sungguh di dalam Tuhan, jika saat terakhir dia berbalik dan meninggalkan Tuhan, dia akan kehilangan keselamatan. Sebaliknya, seorang yang masa mudanya sangat rusak tetapi jika kau berhasil membimbingnya kepada-Ku menjelang akhir hidupnya, kau seolah-olah ‘menendangnya’ masuk Kerajaan Surga. Tugasmu adalah mempersiapkan mereka untuk menghadap Aku dalam keadaan siap!” Istilah ‘menendangnya’ terdengar lucu tetapi saya teringat pada pertandingan sepak bola di mana jika seorang pemain menggiring bola dan berhasil menendangnya ke dalam goal yang diharapkan, tendangan itu akan disertai gemuruh suara sorak sorai para penonton yang kegirangan. Itulah suasana paling memuncak dan menggemparkan dalam pertandingan sepak bola apalagi kalau goal itu sangat menentukan karena hanya berbeda satu angka. Seperti itu pulalah saya bayangkan jika seorang bertobat, di Surga akan terdengar sorak sorai penuh sukacita dari para malaikat yang menyambutnya.
Seketika itu mata saya terbuka! “ Wow! Ternyata aku diberi kesempatan melayani suatu pelayanan yang penting!” Pandangan saya pada lansia saat itu berubah seketika! Saya kemudian berlutut di hadapan-Nya dan mohon ampun untuk kebodohan saya! Mereka ternyata begitu berharga di mata-Nya dan untuk mereka pun Yesus telah mati. Sejak saat itu saya bersemangat melayani mereka. Hari-hari saya melayani mereka adalah hari-hari yang saya nanti-nantikan dan saya jatuh cinta serta mengasihi mereka.
Adakah lansia di sekitar Anda? Ayah, ibu, tante, oma, opa, atau seorang asing yang butuh pertolongan? Apakah Anda juga merasakan perasaan yang saya rasakan? Mengapa Anda harus melayani lansia di sekitar Anda?
Karena itu adalah perintah Tuhan
“Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu ….”, (Ul. 5:16); itu adalah suatu perintah yang penting, …… supaya kamu bahagia dan panjang umurmu di bumi” (Ef. 6:2)
“Hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 19:19). Penghargaan kepada orang tua termasuk juga orang-orang tua yang lain,“Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu, Akulah TUHAN.” (Im. 19:32)
Karena Tuhan sangat mengasihi mereka
Kita tentu ingat ayat dalam Yesaya 46:4, “…… sampai masa tuamu, Aku tetap Dia, dan sampai masa putih rambutmu aku menggendong kamu…. Aku tetap melakukannya dan mau menanggung kamu terus, aku mau memikul kamu dan menyelamatkanmu….”
Kata “menggendong ” ditujukan kepada mereka yang sudah terlalu lemah untuk berjalan sendiri lagi. Dan kata “menanggung”, Tuhan mau membiayai semua pengeluaran untuk pemeliharaan mereka, Kata “memikul”, tanggung jawab atas mereka ada di bahu-Nya. Kata “mau menyelamatkan”, mereka sedang dalam keadaan tidak baik/bahaya dan perlu diselamatkan.
Kata-kata dalam ayat tersebut terdengar begitu indah – kasih, tanggung jawab dan penyelamatan dilakukan Tuhan sejak kita masih berada dalam kandungan dan dikeluarkan dari rahim ibu hingga kita tua. Ini contoh seorang ibu yang dengan kasih “menggendong”, menjaga dan memelihara bayinya dalam kandungan juga contoh bagi kita yang masih kuat untuk “menggendong” orang tua yang lemah pada saat usia lanjut.
Allah telah memberi teladan bagi kita untuk mengasihi orang tua di sekitar kita, maukah kita memperlakukan orang tua dan para lansia di sekitar kita seperti yang Ia teladankan? Menggendong, mencukupi kebutuhan, memikul dan membawa mereka kepada Yesus Juru Selamat?
Tabungan di masa tua
Pernahkan kita memikirkan bahwa mengasihi orang tua/lansia berarti menabung untuk masa tua kita? Galatia 6:7 mengatakan, “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Jika kita memperlakukan orang tua dengan baik, kita pun akan diperlakukan dengan baik saat kita tua kelak.
Mengasihi lansia memang tidak mudah. sering kali penuh pergumulan. Selain penampilannya kurang menarik, banyak orang tua yang dahulu dominan masih tetap maunya sendiri, yang biasa mengatur anak-anaknya sering masih ingin terus menguasai anak-anaknya walau sudah menikah, belum lagi kalau sudah pikun terus menanyakan hal yang sama, ini cukup menjengkelkan. Orang tua yang sudah tidak berdaya, tidak mampu lagi mengurus diri sendiri juga menjadi beban. Memang diperlukan pengurbanan tenaga, perasaan, hati, uang untuk melayani orang tua dalam kondisi semacam ini namun bila kita mampu melakukannya, sangatlah indah dan berharga di hadapan Tuhan.
Kepada mereka yang mengasihi orang tua yang lemah tak berdaya, Tuhan berjanji: “siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, dia memuliakan Allah (Ams. 14:31) dan memiutangi TUHAN yang akan membalas perbuatannya itu (Ams. 19:17). Mungkin kita merasa tidak menerimanya di dunia ini tetapi kita sudah mengumpulkan tabungan di Surga.
Hadiah terbesar
Orang lansia mungkin tidak lagi memerlukan uang, makanan enak, pakaian indah, atau darmawisata ke tempat jauh karena terlalu lemah untuk melakukannya. Mereka hanya memerlukan sedikit waktu dari kita untuk menemani dan memerhatikan mereka melewati waktu-waktunya yang penuh kesendirian, kesepian dan ketidakberdayaan. Terlebih lagi bila kita dapat mempersiapkan mereka menghadap Dia untuk beroleh keselamatan. Ini merupakan hadiah terbesar karena mereka akan mendapatkan kebahagiaan kekal di Surga selamanya.
Sebuah kesempatan
Tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk memiliki orang tua dalam hidupnya. Banyak dari kita sudah tidak memilikinya karena mereka telah dipanggil Tuhan. Jika kita masih memilikinya, kita mempunyai kesempatan untuk menerima berkat-berkat indah yang dijanjikan Tuhan. Mereka adalah “sumber berkat”. Waktu dan kesempatan yang ada mungkin tidak banyak sebelum orang tua dipanggil menghadap Tuhan. Kita pun tidak tahu sampai kapan kita hidup di dunia ini. Karena itu selama masih ada kesempatan dan kemampuan, marilah kita menggunakan kesempatan itu untuk mengasihi lansia di sekitar kita dan mempersiapkan mereka untuk bertemu dengan Tuhan; kita tidak akan menyesal. Amin.
*******