Sebuah Kisah untuk Menggerakkan Hati Misi
Malam sudah larut ketika Daniel menutup pintu gereja kecil itu. Lampu-lampu jalan menyala redup tetapi pikirannya terasa lebih terang dari sebelumnya. Kebaktian doa malam ini berbeda – pendeta baru saja membacakan Matius 9:36, “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka...” Kata-kata itu seperti menembus isi hatinya.
Daniel, seorang pemuda Kristen biasa, tidak pernah membayangkan dirinya sebagai seorang “misionaris”. Ia merasa terlalu muda, terlalu sederhana, dan terlalu banyak kekurangan tetapi rasa gelisah itu tetap tinggal bahkan setelah ia sampai di rumah. Mengapa hati ini seperti dipanggil? Mengapa ayat itu terasa sangat personal? pikirnya.
Keesokan paginya, sambil memandang ke luar jendela rumah, Daniel melihat seorang ibu tua yang setiap hari duduk sendirian di bangku depan minimarket. Wajahnya tampak lelah. Daniel sering melewatinya tetapi entah mengapa hari itu ia memerhatikannya lebih lama. Seolah Roh Kudus berbisik, “Kamu lihat dia? Aku melihatnya setiap hari.” Daniel menelan ludah. “Tapi… apa yang harus aku lakukan, Tuhan?” gumamnya.
Pertemuan pertama
Sore itu Daniel memberanikan diri menghampiri ibu tua itu. “Selamat sore, Bu. Apa kabar?” Wanita itu menoleh pelan seolah heran ada orang yang peduli. “Sore. Saya… ya begitulah, Nak.”
Percakapan mereka sederhana. Sekadar menanyakan nama, tempat tinggal, dan apakah dia butuh bantuan. Namun di akhir percakapan ada satu kalimat dari ibu itu yang membuat hati Daniel bergetar. “Sudah lama tidak ada yang bertanya kabar saya, Nak. Terima kasih. Rasanya seperti… saya masih ada artinya.”
Malam itu Daniel menangis dalam doanya. Bukan karena sedih tetapi karena ia menyadari satu hal:
Selama ini ia berdoa supaya Tuhan mengirim pekerja misi… padahal Tuhan sedang mencoba mengutus dia.
Rasul Paulus pernah berkata, “Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia yang belum pernah mereka dengar? Dan bagaimana mereka mendengar tentang Dia tanpa ada yang memberitakan-Nya?” (Rm. 10: 14). Ayat ini yang sebelumnya hanya ia dengar dalam khotbah kini berubah menjadi panggilan yang hidup.
Sebuah Kejadian Kecil yang Mengubah Arah
Beberapa minggu kemudian di gereja diadakan pelatihan kecil tentang “misi pribadi dan penginjilan praktis”. Daniel awalnya ragu untuk ikut tetapi setelah pergumulan panjang ia memutuskan mendaftar. Ternyata pelatihan itu membuka matanya. Instruktur berkata, “Misi bukan selalu tentang pergi jauh. Misi dimulai ketika hati kita melihat apa yang dilihat Yesus. Misi dimulai dari belas kasihan.” Kalimat itu seperti memukul dada Daniel lembut. Ia teringat ibu tua yang ia temui. Ia teringat anak-anak kampung sebelah yang sering bermain tanpa pengawasan. Ia teringat teman kerjanya yang tampak kuat tetapi diam-diam tertekan. Misi ternyata ada di mana-mana. Misi dimulai dari hati yang mau melihat. Pelatihan itu membuat Daniel semakin yakin akan satu hal: Tuhan sedang mempersiapkan langkah baru dalam hidupnya.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Tidak lama setelah itu gereja membuka program kunjungan ke panti jompo untuk menghibur dan melayani di sana. Daniel spontan mendaftar meskipun dalam hati ia masih takut tidak mampu.
Hari pelayanan itu tiba. Ketika mereka memuji Tuhan bersama para lansia, Daniel melihat mata mereka berkaca-kaca. Ada sukacita yang berbeda seperti rasa hangat yang ia sendiri tidak dapat jelaskan. Ia mendekati seorang kakek yang duduk di kursi roda. “Apa yang bisa saya doakan, Kek?”
Kakek itu tersenyum. “Nak…sudah lama saya tidak didoakan. Kalau boleh… doakan supaya saya tidak merasa sendirian lagi.”
Daniel memegang tangannya dan berdoa. Ketika membuka mata, ia melihat air mata mengalir di pipi kakek itu. Namun lebih mengejutkan lagi, ia merasakan sesuatu mengalir dalam hatinya sendiri – sukacita mendalam yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Di perjalanan pulang, ia mengingat Matius 25:40, “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku.” Tiba-tiba ia mengerti. Inilah misi itu. Bukan hanya program besar, tetapi hati yang terbuka.
Pergumulan Tanpa Disadari
Namun perjalanan pelayanan tidak selalu mulus. Suatu hari, Daniel merasa lelah secara rohani. Ia mulai meragukan dirinya. “Tuhan, apa benar Engkau mau pakai aku? Aku bukan siapa-siapa.” Dalam pergumulannya, ia membuka Alkitab secara acak dan matanya jatuh pada Yeremia 1:6–7: “Ah, Tuhan Allah!” Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku masih muda.” Tetapi Tuhan menjawab: “Janganlah katakan: Aku masih muda...” Daniel terdiam seakan-akan Tuhan sedang menjawab tepat pada titik keraguannya. Ia menangis lagi tetapi kali ini karena merasa dipeluk Tuhan.
Panggilan yang Menyala
Beberapa bulan kemudian gereja merencanakan perjalanan misi singkat ke sebuah desa terpencil. Daniel mendengar pengumuman itu dan tanpa ia sadari, hatinya berdebar. Ia tahu Tuhan sedang memanggilnya melangkah lebih jauh. Malam sebelum mendaftar, ia berdoa lama. “Tuhan… aku tidak tahu apa yang menungguku tetapi jika ini dari-Mu, pakailah aku.”
Hari penginjilan di desa pun tiba. Anak-anak berlarian dengan tawa. Orang-orang sederhana duduk mendengarkan Firman Tuhan. Daniel diberi tugas membagikan kesaksian. Tangan dan suaranya sempat gemetar tetapi begitu mulai berbicara, ia merasakan Roh Kudus memampukannya. Setelah ia selesai, seorang pemuda desa mendekatinya. “Bang…cerita abang tadi membuatku berpikir. Aku selalu merasa tidak ada harapan…tapi kalau Tuhan bisa pakai abang, mungkin… Dia bisa pakai aku juga?”
Daniel hampir menangis. Saat itu ia tahu: misi bukan hanya tentang pergi – tetapi tentang mengalirkan hidup yang sudah disentuh Tuhan sehingga orang lain juga merasakan sentuhan itu.
Dari Hati yang Dikobarkan Menjadi Hidup yang Bergerak
Setelah perjalanan itu, Daniel kembali ke kota dengan hati yang menyala. Ia sadar bahwa hidupnya bukan miliknya lagi. Ia ingin setiap langkahnya berarti bagi Kerajaan Allah. Ia mulai membangun kelompok doa kecil bersama teman-temannya. Ia kembali mengunjungi ibu tua di depan minimarket. Ia terus melayani di panti jompo, membantu pelayanan anak-anak jalanan dan menolong rekan kerjanya yang sedang berduka.
Daniel menemukan makna baru dalam hidupnya. Ia belajar bahwa misi Kristus bukan sekadar tugas – tetapi gaya hidup. Hidup yang didorong oleh kasih. Hidup yang memandang manusia sebagaimana Yesus memandang mereka. Hidup yang mengatakan, “Ini aku Tuhan, utuslah aku.”
Pesan untuk Kita Semua
Kisah Daniel mungkin sederhana, tetapi mengajarkan satu kebenaran besar: Misi dimulai dari hati yang tergerak oleh belas kasihan. Misi dimulai dari kesediaan untuk melihat. Misi dimulai dari langkah kecil namun jika dipersembahkan kepada Tuhan, dapat dipakai secara luar biasa.
Yesus berkata dalam Yohanes 20:21, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Artinya, tidak ada anak Tuhan yang dipanggil untuk hidup tanpa misi. Setiap dari kita adalah utusan. Setiap dari kita adalah pembawa terang. Setiap dari kita mempunyai bagian untuk menjangkau – dengan kata-kata, kasih, waktu, senyuman, doa, kesaksian, perhatian, atau pelayanan sederhana. Kita tidak harus menjadi pendeta, tidak harus pergi ke negara jauh, tidak harus memiliki kemampuan luar biasa. Yang Tuhan minta hanya hati yang berkata, “Tuhan, pakai hidupku. Aku rela.”
Penutup: Langkahmu Berarti
Kisah Daniel adalah undangan bagi kita semua. Di sekitar kita ada banyak “ibu tua depan minimarket,” banyak “kakek di panti jompo,” banyak orang yang menunggu disentuh kasih Tuhan. Mungkin mereka teman kerja kita. Mungkin mereka tetangga kita. Mungkin mereka keluarga kita sendiri. Tuhan sedang mencari orang yang bersedia. Bukan yang paling kuat, bukan yang paling pandai, tetapi yang paling rela.Hari ini, saat membaca kisah ini, biarkan Roh Kudus juga berbicara dalam hatimu, “Anak-Ku, maukah kamu Aku pakai untuk menjangkau jiwa-jiwa yang Kukasihi?” Jika jawabanmu “ya,” maka langkahmu yang kecil pun akan menjadi bagian dari rencana besar Allah untuk menyelamatkan dunia.