Baru-baru ini di medsos kerap populer istilah FOMO atau fear of missing out. FOMO adalah sebuah fenomena digital yang memiliki karakteristik “Takut tertinggal”. Fenomena ini sering dijumpai pada remaja-remaja di sosial media yang memiliki rasa khawatir mendalam saat tidak mengikuti tren tertentu. Misal: ada satu orang membeli boneka, tiba-tiba yang FOMO ingin ikut membeli. Ada satu tempat yang viral, tiba-tiba si FOMO juga ingin segera ke sana. Ada satu makanan yang enak, si FOMO tidak mau ketinggalan ingin makanan tersebut.
Secara psikologis, FOMO berakar pada kebutuhan sosial untuk ‘relate’ atau terkoneksi dengan orang lain. Namun saat ini FOMO tidak berhenti pada fenomena sosial saja tetapi juga terkoneksi pada pilihan karier – apa yang kita beli, pekerjaan ‘ideal’ yang sedang kita bangun, investasi yang paling sempurna, dan ‘karakteristik ideal’ pasangan kita. FOMO berakar di semua hal dan sering kali dikaitkan secara negatif karena membuat kita menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengejar trend yang fana.
Namun, apakah anak-anak TUHAN boleh FOMO? Boleh, namun harus berhati-hati.
Mengenal FOMO yang “suci”
“Segala sesuatu menjemukan sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.” – Pengkhotbah 1:8
Ribuan tahun sebelum sosial media, Alkitab sudah menulis bahwa ada kecenderungan untuk menginginkan sesuatu, lebih dan lebih lagi sehingga FOMO menjadi suatu hal yang naluriah dan tidak dapat dihilangkan. Alih-alih berusaha untuk tidak “FOMO”, bagaimana jikalau kita mengarahkan “FOMO” pada hal yang lebih spiritual dan sesuai dengan rencana Tuhan?
Coba kita lihat lagi perumpamaan yang disebutkan Yesus tentang seseorang yang menemukan harta terpendam (Mat. 13:44-46). Disebutkan bahwa ada rasa sukacita besar karena telah menemukan kerajaan Allah, membuat seseorang menjual seluruh miliknya. Mengapa? Karena ia menemukan sukacita besar ketika melayani Tuhan.
Pertanyaan: Bagaimana jika FOMO kita berfokus pada status kita dalam Kerajaan Allah? Jika orang lain memiliki sukacita yang besar saat mengenal Kerajaan Allah, mengapa kita juga tidak berusaha untuk memiliki perasaan tersebut? Sama seperti Rasul Paulus mengatakan, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah supaya aku memperoleh Kristus,” (Flp. 3:8)
Dalam pengalaman Rasul Paulus, ia mengalami FOMO yang ‘suci’. Sebuah kesadaran jika kita tidak mendapatkan Kristus ataupun pengenalan akan Kristus, ini membuat segalanya tidak berarti.
FOMO yang mendekatkan kita kepada Tuhan
Mengalihkan FOMO yang ‘merusak’ dengan tren-tren duniawi menjadi suatu FOMO yang mendekatkan kita kepada TUHAN memerlukan usaha aktif untuk memahaminya. Inilah cara-cara supaya kita menjadi FOMO tentang Kristus.
- Fokuskan FOMO keintiman kepada Tuhan.
Jika kita melihat rekan-rekan beribadah dan sangat menghayatinya, tanyakan, “Kenapa aku tidak bisa menghayati juga ya?” Jika ada yang menangis dan memuji Tuhan dengan sangat luar biasa, tanyakan, “Kenapa aku tidak memiliki sukacita sebesar dia ya?” Tidak dalam konteks membandingkan, tidak pula dalam konteks berusaha menjatuhkan diri ataupun mengabaikan pengalaman pribadi namun rasa FOMO ini diarahkan ketika kita kehilangan waktu yang ‘intim’ dengan Tuhan.
Raja Daud mengekspresikan rasa sukacita karena berada di bait Allah, “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.” (Mzm. 27:4) Ketika Raja Daud berlomba-lomba berada di hadirat TUHAN, mengapa kita tidak FOMO terhadap itu?
- FOMO terhadap kesempatan melayani.
Daripada tenggelam dalam pencapaian orang lain juga FOMO karena kita tidak memiliki pencapaian yang sama, bagaimana jika kita mengarahkan FOMO tersebut untuk mengejar kedewasaan spiritual kita?
Kita melihat rekan-rekan yang melayani di beberapa tempat sementara kita belum melayani, mengapa kita tidak FOMO terhadap hal tersebut? Sukacita melayani TUHAN dan melayani sesama hanya didapatkan jika kita mengalaminya sendiri. Ibrani 12:1 menekankan bahwa kita sedang “berlomba” dan Tuhan meminta kita untuk bertekun. Jika kita berlomba, kita akan berlari sekuat tenaga. Bagaimana perasaan kita ketika melihat orang di depan berlari lebih cepat daripada kita? Akankah kita berjalan lebih pelan? Atau justru lari? Ibrani 12:1 menegaskan bahwa sepatutnya kita “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita”.
Pada akhirnya, kita akan mengalami FOMO karena itu adalah bagian naluriah dari manusia. Namun apa yang perlu kita takutkan? Apakah kita takut tertinggal dari tren-tren fana yang ada di sosial media atau karena kita takut tertinggal dalam hadirat Tuhan? Akankah kita cemas mengejar apa pun yang dilakukan orang lain atau kita mengejar apa yang sudah Tuhan tetapkan dalam hidup kita?
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” – Markus 8:36-37
Hidup ini memiliki dua pilihan: memilih atau dipilih.
Jika memilih: pilihlah yang baik.
Jika dipilih: jadilah yang terbaik.