• HIDUP DAN MATI DALAM PANDANGAN INJIL
  • Pengkhotbah 9:1-12
  • Eko Wahyudiono
hidup-dan-mati-dalam-pandangan-injil

Topik pembicaraan hidup dan mati adalah pokok pembahasan yang tidak enak untuk didengar dan serasa risih untuk disampaikan karena sepertinya tabu dan menakutkan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Kita akan merenungan perihal hidup dan mati dari Kitab pengkhotbah dan melihatnya dari sudut pandang injil. Siapa yang dimaksud pengkhotbah ini? Dia seorang raja yang terpandang, terkaya, terhormat, terhebat, beristri banyak tak terhitung gundik dan selir, menikmati kesenangan duniawi apa pun yang diinginkan sebagian besar manusia di dunia. Dia menikmati apa pun yang manusia inginkan dalam sepanjang sejarah manusia. Dia mempunyai semua apa yang manusia ambisikan dalam hidup – harta, takhta, kekayaan dll. Namun di usia senja, dia sampai pada suatu titik kesadaran yang tinggi dan dalam kemudian menyimpulkan bahwa apa yang diperbuat manusia dalam hidup adalah kesia-siaan di atas kesia-siaan. Nasib semua orang sama. 

Mengapa pengkhotbah berpendapat nasib semua orang sama, dalam hal apa?

  • Kematian adalah kepastian secara universal.

Kematian adalah realita yang dihadapi manusia hanya mereka tidak tahu kapan waktunya karena semua ada di tangan Allah (Pkh. 9:1-3, 11-12).

Pengkhotbah memandang hidup ini secara realistis: kehidupan di bawah matahari itu sementara, rapuh, dan sering kali serasa tidak adil, orang benar kadang mengalami kemalangan seperti halnya orang fasik dst. 

Bagaimana dari sudut pandang Injil ? Injil tidak menyangkal realitas yang digambarkan pengkhotbah karena memang begitu faktanya tetapi Injil memberikan terang dan pengharapan. Pengharapan seperti apa? Pengkhotbah melihat bahwa kematian adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dikuasai dan dikendalikan oleh manusia baik orang benar maupun orang fasik. Namun Injil menegaskan bahwa Allah berdaulat memberi makna kekal bagi orang yang semasa hidupnya hidup dalam Kristus seperti Yesus mengatakan kepada Marta, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati.” (Yoh. 11:25) Ini menegaskan bahwa Yesus adalah sumber kehidupan abadi dan kebangkitan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya bahkan setelah kematian fisik.  

Hidup di dunia memang sementara, nasib orang percaya dan yang tidak percaya sama-sama mati tetapi dalam Tuhan kematian bukan akhir dari semuanya.

Karena kematian pasti datang, apa yang harus kita lakukan? 

  • Pergunakan kesempatan selama masih hidup dengan sebaik-baiknya (ay. 7-10). Pengkhotbah menekankan pentingnya hari ini, hari kemarin adalah kenangan masa lalu dan sudah lewat, tidak ada satu pun dapat kita perbaiki lagi; besok, lusa, tahun depan bukan milik kita. Milik kita yang dapat dinikmati adalah hari ini, sekarang. Apa yang harus dilakukan? Menikmati hidup dengan tetap berbuat baik – “biarlah selalu putih pakaianmu” (ay. 8). Pakaian putih bukan hanya simbol pakaian pesta, menikmati hidup dengan sukacita namun pakaian putih menunjuk sikap dan perilaku hidup dalam kebenaran (putih bersih). 

Injil juga memberikan pandangan sama yakni, “pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat.” (Ef. 5:16) Oleh sebab itu selama hidup manusia dipanggil untuk menjalaninya dalam pertobatan dan hidup benar karena ketika manusia meninggalkan dunia ini tidak lagi ada kesempatan untuk memperbaiki apa pun yang sudah dan belum dikerjakan.

  • Menjalani hidup dengan berjaga-jaga dan siap siaga (ay. 11-12).

Manusia tidak tahu kepastiannya kapan maut menjemput tetapi kematian itu pasti datang kapan saja, di mana saja dan di usia berapa saja. Siap atau tidak siap, maut pasti datang; itu sebabnya kita harus berjaga-jaga dan siaga.

Bagaimana pandangan Injil mengenai hidup berjaga-jaga? Matius 24:42 mengingatkan, “Berjaga-jagalah sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.”

Kesadaran bahwa Tuhan akan datang memanggil kita secara pribadi melalui kematian atau Ia datang dalam kemuliaan-Nya memanggil kita bersama-sama dengan umat lain menjadi dorongan kuat untuk kita berjaga-jaga dan siaga serta beriman, hidup seturut dengan kehendak Tuhan.

Pengkhotbah dengan tulisannya di Perjanjian Lama disandingkan dengan kitab-kitab Injil dalam Perjanjian Baru memberikan penjelasan yang sama bahwa: hidup itu singkat, tidak pasti, dan yang pasti datang adalah kematian sewaktu-waktu serta tidak terduga. Namun dalam pandangan Injil meskipun hidup ini singkat dan banyak penderitaan serta nasib orang baik maupun orang jahat tampak sama tetapi apa pun yang diperbuat dalam kesementaraan hidup ini konsekuensinya bernilai kekal. 

Injil mengatakan barangsiapa percaya kepada Tuhan Yesus Kristus memiliki nilai kehidupan kekal; sebaliknya yang tidak percaya Injil akan binasa kekal. Justru dengan Injil, kesadaran akan kehidupan yang tidak pasti akan membawa pengharapan karena Tuhanlah kepastian juga memiliki tanggung-jawab dalam menjalani hidup benar dan bermakna.

Selama kita menjalani hidup di dunia ini yang sarat dengan ketidakadilan bahkan nasib orang fasik tampak lebih baik daripada orang benar juga kita belum melihat hasil semua tindakan orang percaya yang hidup benar, nanti ada hari di mana Tuhan akan membuat suatu perbedaan antara mereka yang sungguh-sungguh beribadah, percaya, hidup benar meskipun serasa memakai kain kabung dengan mereka yang berlaku fasik (Mal. 3:13-14,18). Secara esensi ayat-ayat ini hendak memberitahu kita meskipun dunia berlaku tidak adil dan memperlakukan orang benar seperti orang fasik bahkan ada kalanya nasib orang benar lebih buruk daripada orang fasik, Allah tidak pernah melupakan kesetiaan umat-Nya yang berlaku benar dan beribadah kepada-Nya. Ia akan menyatakan kebenaran-Nya pada waktu dan saat yang tepat.

Fakta yang tidak terlihat oleh kita ialah Allah memerhatikan dan mencatat orang yang takut dan hormat kepada-Nya untuk menjadi milik kesayangan-Nya (ay. 16).

Singkat kata: hidup di dunia adalah kesia-siaan di atas kesia-siaan tetapi bagi mereka yang takut akan Tuhan, berlaku benar dan setia beribadah dalam kesementaraan hidup ini tidak akan sia-sia di hadapan-Nya.