Pernahkah Anda mendengar kisah anak Tuhan dari Belanda bernama Corrie Ten Boom yang menjadi tokoh penginjil yang terkenal di dunia? Wanita muda ini hidup di era Nazi Jerman yang menguasai sebagian besar Eropa termasuk Belanda saat itu. Corrie dan saudaranya juga orang-orang Belanda lainnya dibawa ke kamp konsentrasi. Di dalam kamp itu Corrie bersama perempuan-perempuan lain mengalami penganiayaan, pelecehan bahkan pemerkosaan yang tidak manusiawi. Oleh campur tangan Tuhan, terjadi “kesalahan administrasi” dan Corrie lepas lalu menginjil sementara semua rombongan yang bersamanya di kamp konsentrasi dieksekusi mati. Pada tahun 1945, Nazi Jerman kalah dan perang dunia II selesai. Suatu saat, penjaga kamp konsentrasi yang telah menyiksa orang-orang Belanda sengaja menemui Corrie Ten Boom untuk minta maaf kepadanya. Ajaibnya, Corrie mengulurkan tangan dan mengampuninya. Ketika diwawancarai, Corrie mengatakan bahwa pengampunan itu bukan tentang perasaan tetapi keputusan. Pengampunan bukan sekadar bagaimana kita dapat menerima orang yang telah menyakiti kita tetapi bagaimana kita dapat melepaskan amarah ke tangan Tuhan.
Kalau begitu bagaimana hidup berkemenangan di dalam Kristus? Rasul Paulus mengirim surat kepada jemaat di Roma menjelaskan, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan dia oleh baptisan dalam kematian supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang yang mati. Demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rm. 6:4) Singkatnya, kita memiliki konsep kehidupan baru alias hidup baru.
Kita perlu lebih dahulu mengetahui latar belakang jemaat di Roma. Pada waktu itu kota Roma yang berpenduduk ± satu juta jiwa menjadi pusat peradaban dunia. Di kota ini terjadi pertemuan antara pelbagai budaya dan kepercayaan. Kaisar Nero mengizinkan semua agama ada di Roma asal tidak membuat kekacauan atau gerakan subversif. Konsekuensinya, semua agama dan kepercayaan yang ada di Roma berlomba-lomba mau menunjukkan kepercayaannya masing-masing. Masing-masing memamerkan cara penyembahannya termasuk penganut Kristen yang terjebak pada sinkretisme dan kemunafikan karena mereka tergilas oleh budaya dan keadaan. Mereka mengaku Kristen tetapi masih tetap mempertahankan budaya Taurat yang percaya orang akan diselamatkan kalau berhasil melakukan peraturan Taurat seperti: banyak berbuat baik, berpuasa dll. Rasul Paulus menegaskan harus ada transformasi yang jelas untuk menjadi orang Kristen bukan sekadar perubahan status – sebelumnya beragama pagan yang menyembah berhala kini mengikut Yesus (KTP).
Apa yang dimaksud dengan hidup baru? Kata “baru” dalam bahasa Yunani memiliki arti:
- Neos: sesuatu yang baru dari sisi waktu, maksudnya belum pernah ada sebelumnya dan baru kali ini muncul model seperti itu. Paulus tidak meminta jemaat menjadi pengikut Tuhan kemudian menjadi Kristen keyahudi-yahudian atau kebarat-baratan seperti dilakukan oleh orang Yahudi.
- Kainos: sudah ada sebelumnya tetapi diperbaiki menjadi baru. Kita tetap orang kafir, non-yahudi, menjadi orang Kristen tetapi memiliki kualitas hidup baru berkarakter seperti Kristus. Jangan berpredikat orang Kristen hanya luarnya saja tetapi tidak ada keubahan hidup di dalamnya! Jangan menjadi Kristen agamawi yang sekadar mematuhi peraturan liturgi karena ikut orang tua. Sangat disayangkan kalau sudah beribadah rutin tahunan tetapi belum pernah mempunyai pengalaman pribadi dengan Tuhan yang berdampak perubahan hidup dari dalam diri kita. Tanpa adanya perubahan hidup, kita akan rentan meninggalkan Yesus jika diperhadapkan pada pilihan kedudukan tinggi asal meninggalkan agama Kristen atau menikah dengan orang yang tidak seiman. Oleh sebab itu kita harus berjalan dalam hidup baru dan tidak boleh hanya ikut-ikutan karena kita akan digilas oleh zaman sekarang dengan informasi apa pun yang gencar muncul di medsos (Youtube, Tiktok, Instagram dll.) termasuk berita religius. Tanpa sadar iman orang Kristen yang tidak kuat akan menjadi “abu-abu” karena bergantung pada gereja online.
Perhatikan, kita telah dikuburkan bersama Dia dalam baptisan melalui kematian supaya dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa untuk hidup dalam hidup yang baru (Rm. 6:4). Mengapa hidup baru dihubungkan dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus? Perlu diketahui dosa masuk ke dalam dunia oleh satu orang (Adam) berakibat maut yang menjalar (bagaikan penyakit kanker) ke semua orang sehingga semua orang telah berbuat dosa (ay. 12).
Namun apa yang terjadi? Sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang, semua orang telah menjadi orang berdosa; demikian pula oleh ketaatan satu orang (Yesus), semua orang menjadi orang benar (ay. 19). Itu sebabnya hidup baru dihubungkan dengan kebangkitan Yesus sebab Adam pertama telah gagal di dalam ketaatan mengikuti kehendak Allah membuat keturunannya, termasuk kita, hidup berdosa. Namun terpujilah Tuhan, oleh ketaatan Adam terakhir (Yesus Kristus) maka semua orang menjadi orang benar (ay. 19). Dengan demikian kita memiliki pengharapan untuk hidup baru (benar, suci, berkemenangan) di dalam Tuhan.
Saat berada di dunia, (manusia) Yesus menjadi teladan sempurna dalam konsep hidup baru. Ia tidak terkalahkan oleh dosa dan maut. Ia tidak ikut-ikutan seperti orang-orang pada umumnya waktu itu yang menganut sinkretisme juga tidak diperdayakan oleh keadaan.
Bagaimana kita mampu mengalahkan dosa jika figur/tokoh yang kita tiru standarnya sangat rendah? Standar manusia paling hebat pun masih lebih rendah dibandingkan dengan standar yang dimiliki Yesus. Oleh sebab itu tirulah Dia yang berperangai lemah lembut, rendah hati dan berjiwa suka mengampuni dst. untuk beroleh pembaruan hidup.
Untuk menjadi orang Kristen diperlukan pertimbangan dan perhitungan bukan sekadar main perasaan sebab kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah. Apa yang harus diperbuat untuk beroleh hidup baru yang berkemenangan?
- Jangan menghambakan diri kepada dosa (ay. 6). Tanda orang yang masih diperbudak/ diperhamba dosa ialah di dalam dirinya masih ada sifat kecanduan yang sulit dilepaskan. Misal: kecanduan merokok, main game hingga lupa waktu, narkoba, pornografi dll. Kekristenan harus bebas dari segala ikatan yang membuat kita melayani dosa.
- Jangan dosa berkuasa lagi atas tubuh kita (ay. 12). Jangan kita dikuasai/dikendalikan oleh dosa! Kenyataannya, kita selalu diperhadapkan dengan sebuah pilihan dan dari sini kita baru mengetahui siapa yang mengendalikan diri kita – dosa atau Kristus. Contoh: hari Minggu waktunya beribadah atau menuruti hobi main futsal. Kalau kita anak Tuhan, Roh Kudus pasti berbicara agar kita ibadah lebih dahulu baru main futsal.
- Jangan menyerahkan anggota tubuh kita kepada dosa (ay. 13). Pola parenting tetap harus menerapkan dispilin “do” and “don’t” dalam tumbuh kembang anak sejak dini walau ilmu psikologi menyarankan tidak menggunakan kata “jangan” terhadap anak-anak. Untuk menjadi orang yang hidup baru, kita harus membiasakan telinga mendengar kata “jangan” sebagai batasan agar tidak berbuat dosa seperti peringatan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Ada rambu-rambu yang harus diterapkan dalam mengikut Tuhan dan ini diperlukan komitmen, pendirian dan keteguhan hati.
Yesus menjadi teladan sempurna yang patut kita tiru. Dalam tumbuh kembang-Nya dari anak – remaja – dewasa masuk pelayanan dilalui-Nya tanpa cacat cela. Ia manusia tanpa dosa bahkan Iblis pun takut dan gentar. Ia menyerahkan seluruh anggota tubuh-Nya untuk kebenaran.
Do you want to obtain a true victory? Kemenangan sejati hanya diperoleh di dalam Yesus. Untuk hidup baru yang berkemenangan kita tidak lagi diperbudak oleh dosa, tidak dikuasai/dikendalikan oleh dosa dan tidak menyerahkan anggota tubuh untuk dosa tetapi mencontoh teladan Yesus Kristus yang sempurna. Amin.