• Melangkah Lebih Dalam Untuk Mengenal Allah
  • RUMAH ALLAH DAN KITA
  • Samuel Sirait

PENDAHULUAN

Dalam seri ini kita melihat dari perspektif lain bahwa ketika belajar tentang pelataran Kemah Suci (Tabernakel) Anda disambut bukan dengan suasana nyaman seperti lobi hotel di mana disuguhi musik yang indah, interior hotel yang baik dan keramahan pegawai yang sedang bertugas. Akan tetapi memasuki pelataran Kemah Suci justru Anda melihat darah, api, kurban dan kekudusan di dalamnya. Pelataran dalam Tabernakel mengajarkan bahwa Allah membuka jalan bagi manusia untuk datang kepada-Nya dengan kesadaran penuh bahwa Allah membuka jalan bagi manusia yang gagal, jatuh, dan berdosa untuk datang kepada-Nya. Namun jalan itu bukan berarti dosa dapat dianggap sepele. Justru di dalam Pelataran, manusia berhadapan dengan darah, kurban, api, dan kekudusan Allah. Bukan berarti bahwa Allah memandang dosa itu sepele; semakin manusia mendekat kepada Allah bukan dosa yang menjadi lebih kecil melainkan kekudusan Allahlah yang semakin terlihat. 

PERTAMA, ALLAH MENGAJAR MANUSIA MELIHAT DIRINYA DI HADAPAN-NYA

Tabernakel adalah tempat orang Israel beribadah kepada Tuhan dengan segala ketentuan yang ada di dalamnya (Im. 1:2-4) di mana kurban dibawa kepada Tuhan dan orang yang mempersembahkan meletakkan tangannya di atas kepala kurban. Anggapan bahwa semakin seseorang dekat dengan Tuhan, emakin ia merasa dirinya hebat,. Ini adalah pandangan yang keliru dan sangat fatal. Kedekatan dengan Allah seharusnya justru menghasilkan kerendahan hati bukan sebaliknya kesombongan rohani. 

Mengapa jalan menuju Allah tidak dimulai dari tempat yang indah menurut ukuran manusia? Mengapa seseorang yang datang mendekat kepada Allah tidak terlebih dahulu disambut oleh kemegahan emas, cahaya kaki dian, atau keindahan roti sajian? Bukankah, dalam ukuran manusia, sesuatu yang indah dan megah lebih mudah menarik perhatian orang untuk datang dan mengenalnya?

Namun Anda akan dibuat tercengang bahwa Anda tidak melihat emas, kaki dian juga roti sajian, tetapi berhadapan dengan kurban, darah, juga api (Im. 1:5–7). Allah ingin sesegera mungkin menyadarkan manusia akan kenyataan tentang dosa. Pelataran dalam Tabernakel adalah tempat di mana kesombongan manusia mulai runtuh. Setiap orang tidak datang dengan tangan kosong ketika ia menghadap Allah di dalam Tabernakel tetapi membawa kurban sesuai dengan ketentuan yang telah Allah tetapkan (Im. 1:2–4). Bukan dengan membawa sesuatu yang dapat ia banggakan sebagai pengganti kurban yang telah Allah tetapkan (Im. 17:11).

Sejak awal, Pelataran mengingatkan manusia bahwa ia tidak dapat mendekat kepada Allah berdasarkan kehebatan, kemampuan, atau apa pun yang dapat dibanggakan dari dirinya sendiri. Manusia membutuhkan pendamaian dan jalan untuk mendekat kepada Allah bukan ditentukan oleh manusia melainkan oleh Allah sendiri.

Tidak satu pun orang yang datang kepada Allah dapat berkata, “Saya sudah cukup baik dan layak.” Akan tetapi sistem yang Allah desain untuk orang Israel menyatakan bahwa “manusia membutuhkan pendamaian”, bukan memberikan kesempatan kepada manusia untuk menunjukkan bahwa dirinya hebat dan sudah kudus. Dengan demikian, Pelataran sejak awal mengubah cara manusia memandang dirinya. Sebelum berbicara tentang seberapa dekat manusia ingin datang kepada Allah, manusia terlebih dahulu harus menyadari siapa dirinya di hadapan Allah yang kudus.

 

KEDUA, ALLAH MENGAJAR MANUSIA MENILAI DIRI DENGAN BENAR

Manusia sering mengukur dirinya secara horizontal, yaitu membandingkan dirinya dengan sesama manusia untuk memastikan bahwa ia lebih baik atau lebih hebat. Allah tidak memaksudkan setiap orang yang masuk ke Pelataran untuk pulang (keluar) dari pelataran dengan memiliki pikiran dan pandangan bahwa “saya menjadi lebih baik dari tetangga dan teman saya”. Pelataran bukan tempat manusia datang untuk menemukan alasan bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain melainkan tempat manusia belajar melihat dirinya di hadapan Allah.

Ketika Anda mendekat kepada Allah di dalam sebuah ibadah (Gereja, komsel, KKR), Allah tidak ingin kita pulang dengan perspektif yang sama. Semakin seseorang mendekat kepada Allah, seharusnya ia tidak semakin sibuk melihat kelemahan orang lain tetapi semakin menyadari siapa dirinya di hadapan Allah. Standar kekudusan kita sebagai orang percaya sejak awal bukanlah manusia lainnya. Sama halnya standar kekudusan orang Israel bukan imam atau orang Israel lainnya tetapi kekudusan Allah.

Selama manusia membandingkan dirinya dengan manusia lain, ia mungkin masih dapat merasa dirinya cukup baik. Selalu akan ada seseorang yang menurut pandangan kita lebih buruk, lebih gagal, atau lebih berdosa daripada diri kita. Namun ketika manusia mulai melihat dirinya di hadapan Allah yang kudus, cara ia memandang dirinya akan berubah. Pertanyaannya bukan lagi, “Apakah saya lebih baik daripada orang lain?” melainkan, “Siapakah saya di hadapan Allah yang kudus?” Bagaimanapun juga kesadaran tentang siapa diri kita di hadapan Allah bukanlah tujuan akhir. Allah tidak membawa manusia masuk ke dalam Pelataran hanya supaya manusia menyadari betapa tidak layaknya dirinya. Allah juga menghendaki manusia terus berjalan untuk semakin mengenal-Nya.

 

KETIGA, ALLAH MEMANGGIL MANUSIA UNTUK TERUS BERTUMBUH

Setelah manusia masuk ke Pelataran dan berhadapan dengan kenyataan tentang dosa serta kekudusan Allah, perjalanan belum berakhir. Pelataran bukan seluruh perjalanan, masih ada Tempat Kudus dan Tempat Mahakudus. Oleh karena itu mengenal Allah bukanlah perjalanan yang berhenti di satu tempat juga tidak berhenti pada apa yang kita pelajari di pelataran. Pengenalan kita kepada Allah dirancang untuk terus bertumbuh makin dalam dan makin luas.

Setelah melewati Mezbah Kurban Bakaran dan Bejana Pembasuhan, di hadapan umat Israel masih terdapat Tempat Kudus. Pelataran bukanlah akhir dari perjalanan sebab Allah tidak hanya ingin manusia menyadari siapa dirinya tetapi juga semakin mengenal siapa Allah. Semakin mengenal Allah seharusnya membawa kita semakin rindu untuk mengenal-Nya. Pengenalan yang benar akan Allah tidak membuat manusia merasa telah mengetahui segala sesuatu tentang Dia tetapi justru menyadarkan manusia betapa besar dan dalamnya Allah yang sedang ia kenal. Semakin mengenal Allah, semakin manusia menyadari bahwa masih banyak hal tentang Allah yang belum sepenuhnya ia pahami.

Allah tidak memanggil Musa hanya melalui satu pengalaman di gunung ketika ia melihat semak belukar yang terbakar (Kel. 3:1–6). Pertemuan ini bukan akhir dari perjalanan pengenalannya akan Allah melainkan awal dari sebuah perjalanan yang panjang (Kel. 3:1–10).

Dari sana Musa terus belajar mengenal Allah bukan hanya melalui satu pengalaman tetapi melalui berbagai peristiwa yang Allah izinkan terjadi dalam hidupnya. Ia belajar mengenal kuasa Allah ketika melihat Laut Teberau terbelah, kekudusan Allah ketika Israel berdiri di hadapan-Nya di Sinai, pemeliharaan Allah ketika bangsa Israel berada di padang gurun, dan kehendak Allah ketika menerima ketetapan-Nya bagi umat Israel. Bahkan dalam perjalanannya bersama Allah, Musa naik ke gunung dan tinggal di sana empat puluh hari dan empat puluh malam (Kel. 24:18).

Dalam rangkaian peristiwa itulah Allah memberikan kepada Musa petunjuk mengenai pembangunan Kemah Suci termasuk bahan-bahan yang harus dipersembahkan dan pola yang harus diikuti dalam pembangunannya (Kel. 25:1–9, 40). Allah bahkan menegaskan bahwa Kemah Suci harus dibuat menurut pola yang telah ditunjukkan-Nya kepada Musa di atas gunung. Dengan demikian pengenalan Musa akan Allah terus bertumbuh bukan hanya melalui pengalaman melihat kuasa Allah tetapi juga dengan menerima kehendak, petunjuk, dan tanggung jawab yang Allah percayakan kepadanya.

Demikian pula dengan kita. Jangan menjadikan satu pengalaman rohani sebagai alasan untuk berhenti mengenal Allah. Pernah mengalami pertolongan Tuhan bukan berarti kita sudah selesai mengenal Dia. Pernah melayani Tuhan bukan berarti kita sudah memahami kehendak-Nya. Pernah mengalami hadirat Tuhan bukan berarti perjalanan pengenalan kita telah selesai. Allah yang kita kenal hari ini adalah Allah yang ingin kita kenal lebih dalam lagi melalui Firman-Nya, ketaatan, pergumulan, dan setiap perjalanan hidup yang Ia izinkan.

 

REFLEKSI 

Pertama, kehidupan rohani tidak selalu dapat diukur dari seberapa lama seseorang melayani, seberapa sering berada di gereja, seberapa banyak mengetahui Alkitab, atau seberapa aktif dalam pelayanan. Semua itu merupakan bagian dari perjalanan iman tetapi tidak membuat seseorang lebih layak di hadapan Allah. Pelataran mengingatkan bahwa manusia tetap membutuhkan anugerah dan pendamaian dari Allah. Semakin mengenal Allah, semakin seseorang menyadari siapa dirinya di hadapan-Nya.

Kedua, kehidupan rohani juga mudah diukur dengan melihat kehidupan orang lain. Selalu ada orang yang menurut pandangan kita lebih buruk, lebih gagal, atau lebih berdosa daripada kita. Perbandingan seperti ini dapat membuat seseorang merasa sudah cukup baik. Padahal ukuran kehidupan di hadapan Allah bukanlah kehidupan orang lain melainkan kekudusan Allah sendiri. Ketika seseorang berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain, ia memiliki kesempatan untuk melihat kehidupannya dengan lebih jujur di hadapan Allah.

Ketiga, jangan merasa sudah cukup mengenal Allah hanya karena kita sudah lama menjadi orang percaya dan terlibat dalam pelayanan. Jangan sampai kita merasa sudah tahu banyak tentang Allah kemudian kehilangan kerinduan untuk terus mencari-Nya. Masihkah kita rindu membaca Alkitab ketika tidak ada yang menyuruh? Masihkah kita mencari Tuhan ketika tidak sedang membutuhkan pertolongan-Nya? Semakin kita mengenal Allah, seharusnya kita semakin rindu untuk melangkah lebih dalam, bukan berhenti di tempat yang membuat kita merasa nyaman dan cukup sebab tujuan akhir dari perjalanan ini bukanlah supaya kita dapat berkata, ‘Saya sudah tahu banyak tentang Allah,’ tetapi supaya hidup kita terus berkata, ‘Tuhan, saya ingin mengenal-Mu lebih dalam lagi.”

 

*******