• Signifikansi Belajar Perjanjian Lama
  • 2026-11-05
  • Evendy Tobing

Pendahuluan 

Perjanjian Lama (PL) kerap kali menghadapi berbagai tantangan dan prasangka di kalangan pembaca modern. Tidak sedikit orang menganggap bagian ini sudah usang, terlalu sulit untuk dipahami, atau bahkan terasa terlalu keras bila dibandingkan dengan pesan Perjanjian Baru. Namun, pandangan semacam ini sangat keliru. PL sejatinya merupakan bagian yang sangat integral dan tidak terpisahkan dari keseluruhan penyataan Allah dalam iman Kristen. Tanpa pemahaman yang memadai dan mendalam mengenai PL, pemahaman kita terhadap Perjanjian Baru (PB) akan kehilangan konteks historis, teologis, maupun soteriologis yang sangat krusial. Para teolog Alkitab sepakat menegaskan bahwa kesatuan kanonik menuntut seluruh kitab untuk diperlakukan sebagai Firman Allah yang hidup. Mengabaikan PL tidak hanya akan mereduksi pemahaman kita tentang keagungan Allah dalam sejarah, tetapi juga merusak struktur teologis yang menopang ajaran PB. Oleh karena itu tulisan ini akan menguraikan secara komprehensif mengenai signifikansi mempelajari PL, hambatan hermeneutis, bahaya pengabaian, tren minat pembaca, serta kedudukan kanonik dan relevansi praktisnya bagi gereja masa kini.

Mengapa Mempelajari Perjanjian Lama

Terdapat beberapa alasan mendasar mengapa mendalami PL sangat krusial bagi kehidupan rohani dan teologis umat Kristen. Hal ini sejalan dengan ungkapan Agustinus dari Hippo yang sangat terkenal: "Novum Testamentum in vetere Testamento latet, in Novo Testamento patet" (Perjanjian Baru tersembunyi di dalam Perjanjian Lama; Perjanjian Lama dinyatakan di dalam Perjanjian Baru). Ungkapan ini secara indah menunjukkan kesatuan yang tak terpisahkan antara PL dan PB dalam satu garis sejarah keselamatan. Fakta bahwa PL membentuk sekitar 77% dari seluruh isi Alkitab menunjukkan bahwa mayoritas wahyu tertulis Allah terdapat di dalamnya. Mengabaikan PL sama dengan mengabaikan sebagian besar firman yang diilhamkan Allah. Alasan-alasan mendasar tersebut meliputi:

  • Dasar Historis dan Teologis: PL mencatat kisah penciptaan, kejatuhan manusia ke dalam dosa, serta narasi panggilan Allah atas bangsa Israel. Seluruh narasi ini membangun fondasi pemahaman tentang karakter Allah dan rencana keselamatan-Nya bagi dunia. 
  • Latar Belakang Perjanjian Baru: Konsep-konsep teologis inti dalam PB seperti Mesias, penebusan, pengampunan dosa, dan Kerajaan Allah berakar kuat pada PL. Tanpa PL, PB akan kehilangan konteks bahasa dan latar belakang budayanya. 
  • Sumber Teladan dan Pembelajaran Moral: Rasul Paulus dalam 2 Timotius 3:16 menyatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk mengajar dan mendidik dalam kebenaran yang pada masa itu merujuk pada Kitab Suci PL. Kisah para tokoh iman memberikan pelajaran praktis tentang kesetiaan kepada Allah.

Hambatan dalam Mempelajari Perjanjian Lama 

Meskipun urgensinya sangat jelas, banyak pembaca Alkitab tetap mengalami kendala serius ketika mencoba mendalami PL. Problem utama yang sering dihadapi ialah adanya jurang pemisah yang sangat lebar – disebut Gotthold Lessing sebagai "jurang yang ngeri" – antara dunia Alkitab kuno dan dunia modern saat ini. Jurang historis, kultural, dan linguistik ini membuat upaya menjembatani makna asli teks kuno ke dalam konteks kehidupan modern menjadi tantangan eksegetis yang berat. Beberapa hambatan utama tersebut meliputi:

  • Jarak Budaya dan Historis: PL ditulis ribuan tahun lalu dalam konteks budaya Timur Dekat Kuno yang sangat berbeda dengan pola pikir masyarakat modern.
  • Keragaman Sastra: PL terdiri dari berbagai genre seperti narasi sejarah, hukum Taurat, puisi, nubuat, dan hikmat. Masing-masing genre memerlukan pendekatan hermeneutik yang berbeda agar tidak disalahpahami.
  • Teks yang Dianggap Kontroversial: Bagian-bagian tertentu seperti hukum kurban persembahan yang terperinci atau kisah peperangan dan penghakiman ilahi sering kali menimbulkan kebingungan etis bagi pembaca masa kini.

Di samping hambatan hermeneutis tersebut, John Stott menganalisis adanya faktor teologis dan praktis yang menyebabkan umat masa kini cenderung mengabaikan PL. Faktor-faktor itu antara lain: pengaruh High Criticism yang meragukan otoritas Alkitab, pandangan bahwa PL hanyalah fiksi manusia, ketidakpercayaan terhadap mukjizat, persepsi bahwa PL tidak relevan, serta anggapan bahwa silsilah dan hukum-hukumnya membosankan. Gleason Archer menambahkan bahwa pengabaian ini menciptakan ketidakseimbangan rohani yang serius di mana jemaat kehilangan akses terhadap 39 kitab yang menjadi makanan rohani utama bagi Kristus dan para penulis PB.

Akibat Mengabaikan Perjanjian Lama 

Mengabaikan PL mendatangkan dampak negatif yang sangat serius bagi teologi dan praktik kehidupan gereja. Salah satu bahaya laten terbesar adalah kemunculan "Marcionisme modern", yaitu kecenderungan untuk menolak atau memisahkan PL dari iman Kristen sebagaimana yang pernah diajarkan oleh Marcion pada abad kedua. Pengabaian ini mengikis integritas wahyu Allah dan menciptakan dikotomi palsu antara "Allah PL yang pemarah" dan "Allah PB yang penuh kasih". Dampak nyata dari pengabaian ini meliputi:

  • Bahaya Marcionisme Modern: Ketika gereja mengesampingkan PL, gereja jatuh ke dalam perangkap pemisahan Allah pencipta dengan Allah penebus. Hal ini memicu pemahaman doktrinal yang parsial dan menyimpang mengenai atribut-atribut Allah.
  • Kehilangan Akar Historis Iman: Kekristenan yang terlepas dari PL akan kehilangan jangkar sejarahnya dalam kovenan Allah dengan Abraham, Musa, dan Daud. Tanpa kesadaran sejarah kovenan ini, gereja berisiko memahami iman secara individualistis dan mengabaikan dimensi komunitas kovenan.
  • Pendangkalan Makna Kristologi: Kristologi PB dibangun di atas fondasi tipologi dan nubuatan PL. Tanpa pemahaman tentang sistem kurban, konsep Hamba TUHAN, Mesias di PL, gelar serta karya pengurbanan Kristus di kayu salib akan kehilangan kedalaman makna teologisnya yang sejati.

Analisis Minat Studi Kitab-Kitab Perjanjian Lama 

Studi terhadap kitab-kitab PL menunjukkan variasi tingkat minat dan keterlibatan pembaca berdasarkan kelompok kitabnya. Secara garis besar, PL terbagi ke dalam empat kelompok utama: Taurat (Pentateukh), Kitab Sejarah, Kitab Puisi/Hikmat, dan Kitab Para Nabi. 

Minat pembaca terhadap kelompok-kelompok ini sangat dipengaruhi oleh kejelasan narasi, tingkat kesulitan hermeneutis, serta relevansi praktis yang dirasakan. Berdasarkan data literasi Alkitab, kelompok Taurat dan Sejarah umumnya mencatat tingkat minat yang tinggi karena memuat narasi alur cerita yang jelas seperti kisah penciptaan dan sejarah pembentukan Israel. Sebaliknya, kelompok Kitab Para Nabi sering kali berada pada tingkat minat sedang hingga rendah dikarenakan latar belakang historis-politik yang rumit serta penggunaan bahasa simbolis yang memerlukan pemahaman mendalam. Sementara itu, kelompok Puisi dan Hikmat memiliki tingkat minat yang bervariasi; Mazmur sangat diminati karena kebutuhan rohani pribadi, tetapi kitab seperti Ayub dan Pengkhotbah kerap dihindari karena kerumitan tema penderitaan dan eksistensialisme yang diusungnya.

Kedudukan Perjanjian Lama dalam Keseluruhan Alkitab 

Kedudukan PL di dalam keseluruhan kanon Alkitab sangatlah fundamental dan tidak dapat ditawar. PL adalah bagian yang utuh dari Firman Allah. Alkitab bukanlah kumpulan tulisan yang terlepas satu sama lain melainkan sebuah kesatuan agung (kesatuan kanonik) di mana PL adalah babak awal dari drama penebusan Allah yang berpuncak pada Injil Yesus Kristus. Selain itu hubungan antara PL dan PB dirangkum dalam prinsip Janji dan Penggenapan (Promise and Fulfillment). Seluruh isi PL memuat janji-janji keselamatan, nubuat kedatangan Mesias, dan bayangan-bayangan rohani yang digenapi secara sempurna di dalam diri dan karya Yesus Kristus di PB.

Signifikansi Mempelajari Perjanjian Lama 

Memahami PL memberikan signifikansi yang sangat mendalam bagi kehidupan iman orang percaya yang dapat dilihat dari tiga aspek utama:

  • Aspek Kristologis: Yesus sendiri menyatakan bahwa kitab-kitab Taurat, nabi-nabi, dan kitab mazmur bersaksi tentang diri-Nya (Luk. 24:44). Mempelajari PL secara langsung mempertajam pengenalan kita akan kemuliaan dan karya Kristus.
  • Aspek Teologis: PL memperdalam pemahaman kita tentang karakter Allah yang kudus, adil, penuh kasih setia, sabar, serta memegang janji-janji-Nya sepanjang sejarah manusia.

Aspek Eksistensial dan Rohani: Kitab-kitab seperti Mazmur dan para nabi memberikan cerminan yang sangat jujur mengenai pergumulan manusia, penderitaan, pertobatan, dan bagaimana tetap beriman di tengah krisis sosial dan politik yang melingkupi kehidupan.

Kesimpulan 

Perjanjian Lama bukanlah sekadar lampiran sejarah masa lalu yang usang melainkan bagian esensial dan fondasi yang kukuh dari penyataan Allah. Meskipun terdapat berbagai hambatan berupa jarak budaya, perbedaan genre sastra, dan teks yang kompleks, mempelajari PL memberikan pemahaman utuh mengenai rencana keselamatan Allah, memperkuat fondasi teologis Perjanjian Baru, serta memperkaya kehidupan rohani orang percaya melalui pengenalan yang benar akan Allah dan penggenapan-Nya di dalam Yesus Kristus.

*******