
Hampir dipastikan kita, orang tua, pernah merasakan capek mengasuh anak tetapi tetap harus kuat di depan mereka. Seiring tumbuh kembangnya anak kita, pola pengasuhannya tentu berbeda tidak dapat serta merta memakai teori yang sama. Parenting termasuk seni dalam mengasuh anak-anak.
Sering kali orang tua menyalahkan anak dengan alasan lemot, tidak responsif, tidak melakukan apa yang diminta dll. tetapi sebenarnya yang bermasalah bukan si anak namun problem di konektivitas yang tidak bagus alias terputus-putus oleh sebab orang tua (terlalu) sibuk dengan pekerjaan, kegiatan sosial, masalah dengan pasangan hidup. Akibatnya, anak yang terus mencari dan ingin tersambung dengan papa-mama terus terpental dan terputus karena konektivitas tidak kuat. Orang tua tidak dituntut menjadi orang tua sempurna tetapi harus mempunyai waktu untuk hadir dan terkoneksi dengan anak.
Kita tidak perlu menjadi orang tua yang sempurna karena memang tidak ada orang tua yang sempurna namun menikmati seni mengasuh anak dengan senantiasa memancarkan kasih sayang.
Orang tua bagaikan mempunyai rekening bank emosi di mana dalam satu hari dapat terjadi beberapa transaksi debit/pemasukan, kredit/pengeluaran. Anak juga memiliki rekening emosi. Rekening emosi mereka akan bertambah (pemasukan) saat kita memeluk, mendengarkan omongan mereka, minta maaf apabila salah, menyediakan waktu bermain dll. Sebaliknya, apabila kita membentak, mengabaikan, tidak menepati janji, marah-marah, ini sama dengan menarik (mengeluarkan) emosi dari rekening bank mereka. Pertanyaan: kalau pada transaksi harian ada debit/saving, kredit/withdraw, bagaimana saldo akhir? Kalau saldo akhir adalah positif maka emosi anak kita akan positif pula. Namun apabila rekening bank emosinya minus karena kepotong “admin”, “pajak” dan hal-hal lain, anak kita akan suka marah, tantrum dan tidak dapat mengendalikan emosi. Bagaimana dengan rekening bank emosi kita? Apakah habis terkuras di pekerjaan sehingga pulang ke rumah saldo akhir sudah menipis?
Bagaimana cara meningkatkan rekening bank emosi kita? Dengan mendisiplinkan anak seperti:
· Di usia 3-6 tahun → banyak menggunakan hadiah dan hukuman.
· Di usia 8-10 tahun → dengan model/teladan dan aturan.
· Di usia 10-12 tahun → banyak menggunakan dialog dan transaksi antarpribadi, ada perjumpaan demi perjumpaan.
Namun apa pun bentuk disiplin yang kita terapkan, disiplin tanpa koneksi (hubungan baik antara orang tua-anak) akan menghasilkan pemberontakan.
Pengasuhan dengan pendisiplinan
- Apakah pendisiplinan yang kita lakukan membangun kedekatan dengan anak? Atau justru membangun tembok?
- Apakah menghargai keberadaan anak? Atau malah membunuh karakter anak?
- Apakah efektif tidak hanya untuk jangka pendek tetapi juga untuk jangka panjang?
- Apakah kita memerhatikan perasaan, pikiran, juga kemampuan anak? Sering reaksi kemarahan kita berlebihan dalam mendisiplin anak yang melakukan kesalahan normal pertama kali karena ketidaktahuan dan ketidaksengajaan mereka padahal kita belum mengajarkannya.
- Apakah pendisiplinan kita membangun/mengembangkan karakter dan perilaku positif?
- Apakah mengajarkan tentang pelajaran kehidupan?
Orang tua, anak, dan gadget
Sering terjadi karena kelelahan, orang tua meminjam ketenangan dan menyerahkan gadget ‘mengasuh” anak-anaknya. Namun gadget adalah pinjaman ketenangan dengan bunga yang tinggi. Memang sepertinya kita meminjam ketenangan dengan gadget dan dapat beristirahat dengan tenang. Anak-anak kita juga tidak rewel atau tantrum dan tidak mengganggu, kita bisa “Me time” tetapi “bunganya” sangat tinggi yang sering tidak kita sadari. Kita baru sadar harus membayar “bunga” tinggi saat mereka kecanduan dan tidak dapat lepas dari gadget. Bagaimanapun juga orang tua jangan putus asa. Sebagai pendidik, kita lebih menarik daripada gadget asalkan kita mau berusaha tidak mudah menyerah. Kita bersedia menjadi pengganti daripada gadget. Kalau anak kita suka menonton film di gadget, jadilah aktor/aktris favorit mereka; kalau mereka suka bermain di gadgetnya, jadilah teman bermain bagi mereka. Dampingi mereka supaya kita tidak kehilangan konektivitas dengan mereka.
Anak mengeja cinta = WAKTU
Ada masa yang mungkin membuat kita menyerah karena capek sampai kapan harus mendidik dan mengajar anak-anak. Sesungguhnya waktunya tidak panjang, hanya sementara – ada sejumlah waktu yang mereka dambakan dan perlukan dari kita, yakni:
Usia 0 -11 tahun → fase di dalam rumah.
Usia 0 – 6 tahun → sering disebut golden age dan ibu memiliki pengaruh besar di 6 tahun pertama ini. Di masa-masa ini anak belajar tentang intelektual dan emosi – trust terhadap seseorang, mandiri, keraguan, malu, rajin, inferior – dengan kedekatan pada ibu. Kalau anak tidak dapat mengontrol emosinya, dapat dipastikan dia tidak memiliki kedekatan dengan ibu.
Usia 6 – 11 tahun → pengaruh ayah dan ada kedekatan dengan ayah. Di masa ini kompetensi dasar – logika, kontrol diri, pengambilan keputusan – didapat dari latihan dengan ayah. Anak belajar tentang identitas, seksualitas, kesatuan tubuh-jiwa-roh, kompetensi, decision making dari ayah.
Usia 12 - 18 tahun → fase pengaruh dan kedekatan dengan kelompok. Kedekatan dengan kelompok akan memengaruhi bagaimana kemampuan sosial anak.
Anak membutuhkan kehadiran orang tua bukan hanya di sampingnya tetapi juga mendampingi kehidupannya. Bagaimana orang tua hadir saat tidak mempunyai waktu? Orang tua tidak mungkin mempunyai kualitas waktu dengan anak-anak kalau mereka tidak menyediakan waktu cukup untuk membangun konektivitas dan kehadiran. Ada orang tua yang hadir (fisik) tetapi tidak hadir secara psikologis karena mereka juga dapat pula mengalami gangguan kesehatan mental, misal: sulit konsentrasi, sulit tidur dll. yang memerlukan terapi.
Healthy emotion
Komponen emosi terdiri dari:
- Kesadaran diri.
Apakah kita sadar emosi apa yang sedang kita alami? Marah, kecewa, sedih, senang dst.?
- Regulasi diri.
Seorang yang sehat secara emosi akan dapat regulasi diri kapan harus mengungkapkan atau mengalihkan emosinya.
- Motivasi.
Dapat memotivasi diri untuk mencapai sesuatu.
Dengan kesadaran diri, regulasi diri dan motivasi, seseorang dapat berempati – merasakan apa yang orang lain rasakan juga memiliki keterampilan sosial. Demikian pula dengan orang tua dan anak.
Mari kita mengaudit emosi kita. Kapan kita marah kepada anak kita? Seberapa besar kemarahan kita? Sangat keras, meledak-ledak? Berlebihan? Apa respons anak kita? Ketakutan? Apakah saldo akhir dari rekening emosi anak kita minus?
Kita perlu self-compassion. Kita perlu mengingatkan diri sendiri bahwa kita bukan orang tua yang gagal tetapi terus mencoba walau mengalami masalah dan tantangan. Kita tidak boleh cepat putus asa dan berhenti karena anak adalah titipan dari Tuhan. Anak yang spesial dititipkan Tuhan kepada orang tua yang spesial. Mereka adalah yang terbaik dan dipercayakan Tuhan bagi kita.
Kalau capek, istirahat karena ini manusiawi dan normal – mentraktir diri sendiri ke kafe, mendengarkan musik, minta tolong suami mengambil alih tugas sejenak karena suami-istri mempunyai tanggung jawab dan peran sama. Kalau reaksi suami/istri atau anak berlebihan hingga menimbulkan keributan, hati-hati terhadap gejala kesehatan mental yang sedang terganggu.
Mental self check up
Apakah kita mengeksploitasi kelemahan emosi anak dengan menekan, menakut-nakuti bahkan mengancam? Menuntut sesuatu yang tidak masuk akal, misal: menuntut anak untuk berprestasi? Mengendalikan mereka dengan ketat penuh ancaman? Tidak mendengarkan omongan mereka dengan antusias penuh minat? Tidak menghormati privasi mereka (fisik maupun emosi) menyebabkan mereka tumbuh dengan perasaan tidak dipercaya? Tidak memerhatikan perasaan dan kebutuhan mereka? Fokus pada kesalahan yang berkelanjutan tanpa penyelesaian? Kita sering mengkritik, merendahkan, membanding-bandingkan dan cenderung menekan serta mengancam orang lain karena kita pernah mengalami tekanan dan terluka. Kalau ini terjadi, kita perlu membereskan diri lebih dahulu. Perhatikan, respons dan akibat yang timbul akan berbeda pada setiap anak pada usia yang berbeda.
Orang tua beranggapan telah memberikan yang terbaik bagi anak tetapi sayang lebih kepada pemahaman yang dimilikinya tanpa mengomunikasikan kepada anak apa yang mereka inginkan. Sering memberikan yang terbaik membuat orang tua stres. Sebenarnya semua itu tidak tergantung pada apa yang mereka lakukan tetapi tergantung pada Tuhan yang memberikan, mereka cuma melakukannya saja. Bagaikan kehidupan pemuridan, orang tua menjadi teladan bagi anak dan juga belajar dari anak. Sama-sama berproses bagaikan dua pribadi yang terhubung satu dengan yang lain dan dapat berkomunikasi dengan baik.
Kalau orang tua merasa capek, tidak berdaya, percayalah bahwa tanggung jawab yang dilakukannya merupakan tugas dari Tuhan yang memercayakan anak-anak kepada kita. If you are tired, take a rest! Don’t give up or quit!
******