Kota Solas dibangun di atas tebing batu yang kukuh. Di pusat kota itu berdiri sebuah menara megah yang disebut Menara Keresidenan. Menara itu tidak memiliki pintu gerbang yang terbuat dari besi atau tembok tebal. Pintu masuknya adalah sebuah pelataran terbuka yang luas di mana sang Raja yang murah hati selalu berdiri menyambut setiap warga kota.
Warga kota Solas hidup dalam kedamaian dan sukacita yang konstan. Rahasia kebahagiaan mereka sederhana: Sang Raja telah memberikan kepada setiap warga sebuah jubah putih yang indah dan kalung bermeterai kerajaan. Selama mereka memandang Sang Raja dan tinggal di pelataran menara itu, hati mereka dipenuhi oleh damai sejahtera yang melampaui segala akal. Mereka tidak perlu membayar sewa, tidak perlu membuktikan kelayakan mereka, dan tidak perlu takut akan hari esok. Mereka bersukacita murni karena mereka dikasihi oleh Raja mereka.
Namun di luar perbatasan kota, di dalam hutan kegelapan yang berkabut, tinggallah seorang musuh kuno bernama Apolion. Apolion membenci sukacita warga Kota Solas. Ia tahu ia tidak dapat menghancurkan Menara Keresidenan dengan kekuatan militer karena fondasi menara itu terlalu kuat. Maka Apolion merancang sebuah strategi yang jauh lebih licik. Ia tidak akan menyerang mereka dengan pedang tetapi merampas sukacita mereka dengan sebuah ilusi.
Untuk menjalankan misinya, Apolion mengirim tiga kaki tangannya menyamar ke dalam kota. Mereka tidak berwajah seram; sebaliknya, berpakaian rapi, berbicara dengan nada sangat religius, dan membawa gulungan-gulungan hukum yang tebal. Di dalam teks Filipi, mereka gambaran dari para pekerja jahat dan "anjing-anjing" rohani yang siap menggigit kemurnian iman.
Salah satu warga kota yang paling setia bernama Silas, seorang pelayan di pelataran menara. Setiap hari ia bernyanyi, membagikan roti kepada orang miskin, dan menyapa sesama warga dengan senyuman. Sukacitanya begitu menular.
Suatu sore ketika Silas sedang berjalan di sudut kota, ia dicegat oleh tiga orang asing tersebut. Pemimpin mereka, seorang pria tua berwajah pucat dengan janggut panjang bernama Kores, tersenyum ramah kepada Silas.
"Selamat sore, Silas yang rajin," sapa Kores dengan suara lembut berwibawa. "Kami memerhatikan pelayananmu di menara. Sangat mengagumkan. Tapi... apakah kau benar-benar merasa aman hanya dengan berdiri di pelataran luar?"
Silas mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu? Sang Raja menjamin keamanan kami. Jubah dan meterai ini adalah tanda bahwa kami adalah milik-Nya. Kami bersukacita di dalam Dia."
Kores tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan kertas kering. "Ah, Silas yang polos. Jubah itu diberikan secara gratis, bukan? Sesuatu yang gratis tidak memiliki nilai yang tinggi. Apakah kau tidak tahu bahwa di bagian atas menara ini ada sebuah ruangan kaca yang disebut Ruang Kesempurnaan? Hanya orang-orang yang berhasil menaati seribu aturan dalam gulungan ini yang boleh naik ke sana. Jika kau hanya di pelataran, kau hanyalah warga kelas dua. Kau harus menyunat keinginan dagingmu secara fisik, mengukir tanda kepatuhan di kulitmu, dan menghitung berapa banyak langkahmu setiap hari untuk membuktikan kepada Raja bahwa kau layak."
Dua rekan Kores mengangguk setuju. Mereka menunjukkan kulit mereka yang penuh dengan guratan tanda ketaatan religius dan lembaran-lembaran sertifikat pencapaian mereka.
Malam itu, kata-kata Kores mulai meracuni pikiran Silas. Iblis telah berhasil menaruh benih keraguan. Silas mulai memandang jubah putihnya dan berpikir, "Apakah ini saja benar-benar cukup? Mungkin aku harus melakukan sesuatu yang lebih. Aku harus membuktikan bahwa aku lebih baik dari warga yang lain."
Perlahan-lahan, fokus Silas bergeser. Matanya tidak lagi memandang wajah Sang Raja yang penuh kasih melainkan mulai memandang gulungan hukum yang diberikan oleh Kores.
Keesokan harinya, Silas mulai melatih diri dengan keras. Ia membuat aturan-aturan baru untuk dirinya sendiri: bangun pukul tiga pagi, tidak boleh tersenyum sebelum menyelesaikan seratus bait hafalan hukum, mulai menghitung berapa banyak roti yang ia bagikan, dan mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika melihat jemaat lain sedang bersukacita dengan santai di pelataran, hati Silas dipenuhi kejengkelan. "Mereka tidak tahu apa-apa tentang kesucian," bisik dagingnya dengan sombong.
Inilah awal dari kemegahan daging. Silas merasa dirinya sedang mendaki menuju tingkat spiritual yang lebih elit. Anehnya, seiring berjalannya waktu, sukacita yang dulu meluap-luap di hatinya mulai mengering. Senyumnya hilang digantikan oleh gurat wajah yang tegang dan penuh tekanan. Ia menjadi sangat sensitif. Ketika pelayanannya dikritik sedikit saja, ia akan mengamuk dan merasa tidak dihargai. Ketika ia melihat orang lain dipuji oleh Raja, hatinya digerogoti oleh rasa iri yang amat sangat.
Silas telah jatuh ke dalam perangkap Apolion. Ia sedang mencoba membangun "kebenaran sendiri" melalui kekuatan dagingnya.
Suatu hari badai besar melanda Kota Solas. Angin kencang bertiup dan hujan es mengguyur. Warga kota yang berada di pelataran segera berlari mendekat ke arah Raja dan di bawah naungan jubah Raja, mereka tetap aman dan dapat bernyanyi dengan sukacita di tengah badai.
Namun Silas yang saat itu sedang berada di tangga menara mencoba menyelesaikan ritual langkahnya yang ke-900 tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Gulungan hukumnya basah kuyup dan robek. Sertifikat-sertifikat kebanggaannya terbang ditiup angin. Tubuhnya gemetar karena kedinginan. Ketika ia melihat guratan-guratan di kulitnya, tanda itu tidak memberikannya kehangatan ataupun keselamatan. Ia menyadari bahwa semua aturan yang ia lakukan tidak mampu menahannya dari hantaman badai.
Dalam keputusasaan, Silas menangis. Ia merasa gagal. Ia merasa tidak layak lagi menghadap Raja karena gulungan hukumnya telah hancur. Dagingnya telah mengecewakannya. Saat itulah bisikan Iblis kembali terdengar di telinganya, "Kau sudah gagal, Silas. Kau tidak sesuci dulu lagi. Raja akan membuangmu."
Di tengah badai yang berkecamuk, sebuah tangan hangat dan kuat tiba-tiba memegang pundak Silas. Dia menoleh dengan gemetar. Itu adalah Sang Raja sendiri. Wajah-Nya tidak memancarkan kemarahan melainkan belas kasihan yang mendalam.
"Silas, anak-Ku," ujar Raja dengan suara menembus gemuruh angin. "Mengapa kau meninggalkan pelataran-Ku? Mengapa kau membiarkan dirimu diikat oleh rantai aturan yang dibuat oleh musuh-Ku?"
"Raja..." ratap Silas sambil bersujud di kaki-Nya. "Aku ingin menjadi sempurna. Aku ingin naik ke Ruang Kesempurnaan dengan usahaku sendiri. Aku ingin membawa sesuatu yang dapat kubanggakan di hadapan-Mu. Tapi sekarang semuanya hancur. Aku hanyalah seonggok daging yang gagal."
Raja tersenyum lembut lalu mengangkat Silas berdiri. Ia menyelimuti tubuh Silas yang menggigil dengan jubah baru yang bersih.
"Dengarkan Aku, Silas," kata Raja dengan tegas. "Ruang Kesempurnaan itu tidak pernah dapat dicapai dengan menaiki tangga usahamu sendiri. Akulah yang telah turun dari menara ini melewati badai yang paling mengerikan untuk menjemputmu. Segala guratan aturan di kulitmu itu adalah kepalsuan yang merusak dirimu. Sunat yang sejati bukan pada dagingmu melainkan pada hatimu ketika kau menyerahkan seluruh hidupmu dan memercayai apa yang telah Aku lakukan untukmu."
Raja melanjutkan, "Kembalilah bersukacita di dalam-Ku. Tapi ingat, waspadalah! Waspadalah terhadap suara-suara yang mengatakan bahwa karya-Ku tidak cukup. Waspadalah terhadap kesombongan yang membuatmu merasa lebih benar dari saudaramu hanya karena ketaatan lahiriahmu. Ketika kau mulai mengandalkan hal-hal lahiriah itu, kau sedang berjalan menjauh dari sukacita sejati."
Air mata Silas mengalir namun kali ini bukan air mata keputusasaan melainkan air mata kebebasan dan rasa syukur yang luar biasa. Ia menyadari betapa bodohnya ia selama ini, mengira dapat membeli kasih karunia Raja dengan performa dagingnya yang rapuh.
Sejak hari itu Silas kembali ke pelataran menara. Ia kembali melayani dengan giat bahkan lebih giat dari sebelumnya. Namun motivasinya telah berubah total. Ia tidak lagi melayani untuk mendapatkan pengakuan atau keselamatan melainkan karena ia telah mendapatkan keselamatan itu secara gratis dari Rajanya.
Ketika Kores dan teman-temannya kembali datang membawa gulungan hukum baru untuk merayunya, Silas tidak lagi mendengarkan mereka. Ia memandang mereka dengan tegas dan berkata, "Kalian adalah pekerja yang jahat. Aku tidak akan lagi menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Kebanggaanku, sukakitaku, dan benteng keselamatanku yang kukuh hanyalah Sang Raja, dan itu sudah lebih dari cukup."
Silas menjalani sisa hidupnya dengan hati merdeka. Di awal setiap pagi, sebelum badai atau kesibukan kota dimulai, ia akan berdiri di pelataran memandang wajah Rajanya dan berbisik di dalam hati: "Hari ini, aku akan bersukacita penuh di dalam-Mu dan aku akan selalu waspada menjaga hatiku agar tetap bermegah hanya di dalam karya-Mu."
Pesan Moral
Cerita ini mengingatkan kita bahwa iblis sering kali tidak menjatuhkan orang Kristen melalui dosa-dosa moral yang kasar tetapi melalui kesombongan rohani yang halus (legalisme). Ketika kita mulai merasa aman dan berharga karena pelayanan kita, durasi doa kita, atau pencapaian pelayanan kita, kita sedang tertipu oleh "kemegahan daging".
Ingat peringatan Rasul Paulus: Tetaplah bersukacita di dalam Tuhan – karena identitas kita sudah selesai di dalam Kristus – dan tetaplah waspada terhadap segala bentuk penipuan yang mencoba menggeser posisi Yesus sebagai satu-satunya dasar keselamatan hidup kita.
Apakah ada bagian dari karakter Silas dalam cerita ini yang terasa dekat dengan pengalaman hidup atau kerohanian Anda akhir-akhir ini?
*******