
Inter Generation – Inter connection
|
Baby boomer ± 1950 |
Gen X ± 1970 |
Gen Y ± 1985 |
Gen Z ± 2000 |
Gen Alpha ± 2015 |
? | |
| Teknologi |
TV |
Computer |
internet |
ISMART | AI | ? |
| Perspektif |
lokal |
nasional |
global |
global-integrasi | multiverse | ? |
| Komunitas |
personal |
extended personal |
global |
virtual + smart devices | mixed reality | ? |
| Kebudayaan |
lokal |
nasional |
multinasional |
global | multiverse | ? |
| Persaingan |
lokal |
nasional |
multinasional |
global | multiverse | ? |
| Kebenaran |
absolut |
fakta |
personal |
relatif | post truth | ? |
Di zaman gen Alpha, anak lahir langsung berteman dengan AI dan persaingannya internasional dengan orang-orang seluruh dunia. Contoh: anak Pembicara lahir di Singapura di mana negara ini mengundang orang-orang hebat dari seluruh dunia (200 negara) bekerja membangun Singapura. Zaman sekarang persaingannya tidak lagi bersifat multinasional-global tetapi berskala multiverse – manusia dengan AI dan robot-robot pintar.
Kita menghadapi kompetisi global; oleh sebab itu kita harus mempunyai kompetensi/kemampuan dan pengetahuan global seperti kriteria yang dimiliki Daniel di zamannya walau dunia teknologi belum secanggih sekarang. Dalam konteks zaman ini, teknologi sudah canggih tetapi kriteria Daniel masih relevan di mana kita harus menguasai berbagai-bagai hikmat, mempunyai integrasi ilmu pengetahuan, cakap bekerja, berkarakter, menguasai beberapa bahasa dll.
Ancaman atau peluang
Merupakan ancaman bagi mereka yang tidak mau belajar, tidak cepat belajar, tidak mengembangkan diri, hidup tanpa arah dan tujuan. Hidupnya cuma berdoa dan berdoa tanpa ada peningkatan skills.
Namun peluang bagi mereka yang mempunyai kemandirian belajar seumur hidup, semangat mengembangkan talenta, cepat belajar (termasuk kecepatan membaca buku dalam sehari), berkarakter kuat dan menemukan tujuan hidupnya untuk kemuliaan Tuhan Yesus.
Kita butuh menghadirkan “Daniel-Daniel” modern, next generation, yang mencintai Tuhan dengan segenap hati, kekuatan, akal budi dan segenap jiwa. Jangan mencintai uang, mencintai karier bahkan nencintai pelayanan tetapi cintailah Tuhan yang mempunyai pelayanan!
Ketika kita mengerti skills dan talenta serta mencintai Tuhan, timbullah passion/semangat membara dan menggebu-gebu (kekuatan spiritual) mengembangkan dan memultigandakan skills/talenta sebagai persembahan untuk Tuhan. Orang yang mencintai Tuhan dan menemukan skills-nya tidak akan hidup pasrah tetapi bersemangat mengembangkan talenta yang Tuhan berikan kepadanya.
Manusia ciptaan Tuhan mempunyai tujuan dan cita-cita (dream); untuk itu next generation perlu diarahkan untuk menemukan panggilan hidup (vocation) dan mimpinya. Apakah mereka terpanggil untuk mempunyai pengertian tentang ilmu di bidang kedokteran, ekonomi, kerohanian dst.?
Perlu ketajaman rohani bahwa orang yang sudah menemukan panggilan hidup dan cita-citanya akan mengerti kalau skill-nya akan menjadi profesi hidupnya. Misal: kita bercita-cita (dream) menjadi dokter karena kita suka (passion) belajar biologi dan anatomi tubuh (skills). Cita-cita (dream) dikombinasikan dengan talenta (skills) menjadi penghasilan hidup (profesi) untuk dinikmati dengan sukacita bukan karena paksaan.
Apa itu marketplace? Marketplace adalah dunia pelayanan dan dunia pekerjaan. Marketplace adalah tempatnya masalah dunia. Ketika orang yang cinta Tuhan melihat dunia yang rusak dan kacau-balau ini, dia tidak akan tinggal diam tetapi jiwa misinya sebagai pengikut Tuhan akan keluar. Dia terpanggil untuk bermisi masuk ke dalam marketplace supaya menjadi berkat bagi kemuliaan Nama Tuhan. Sebagai ekspresi cintanya kepada Tuhan, dia tidak akan berdiam diri tetapi masuk dunia misi/pelayanan dan terjun ke dalam permasalahan dunia yang begitu kompleks. Contoh: profesi sebagai dokter, ahli komputer, hamba Tuhan dll. menggunakan ilmu dan kemampuannya untuk melayani di marketplace dan ini disebut vocation atau panggilan hidup.
Singkatnya, karakter dari “Daniel modern” sekarang ialah: dia cinta Tuhan (love God), menemukan kemampuan dan talenta (skills) sejak dini, bersemangat (passion) mengembangkan talentanya, mengerti cita-cita/ujuan hidupnya (dream) untuk hidup menikmati profesinya sesuai dengan talenta tanpa paksaan. Kemudian dia tidak tinggal diam tetapi melayani Tuhan (mission) di dalam marketplace sebagai panggilan hidup (vocation).
Apa yang terjadi kalau kehilangan salah satu atau dua dari kriteria Daniel?
- Kalau tidak cinta Tuhan, kemungkinan besar dia mencintai diri sendiri atau cinta uang sehingga hidupnya tidak pernah damai.
- Kalau mencintai Tuhan tetapi tidak mempunyai skills sehingga tidak dapat mengembangkan talenta, dia menjadi orang yang tidak berguna di masyarakat karena tidak mampu menyelesaikan masalah di marketplace.
- Kalau tidak mempunyai skills juga tidak memiliki dream, dia tidak mengerti cita-cita dan panggilan hidup, bagaimana dapat melayani Tuhan dengan baik? Orang yang tidak mempunyai panggilan hidup, hidupnya tidak jelas dan lontang-lantung/pengangguran tidak menjadi berkat di marketplace.
- Kalau menjadi seorang murid Kristus tetapi tidak mengerti medan pelayanan dan situasi dunia serta masyarakat (marketplace) walau skillnya hebat, dia
tidak akan terlibat dalam pelayanan gereja dan masyarakat maka dia tidak menjadi berkat di marketplace.
Jadi posisi murid Kristus harus lengkap memiliki: love God, skills/talenta, passion, dream, marketplace, mission dan vocation.
Sungguh sangatlah berbahagia mendapatkan seseorang berkarakter seperti Daniel dengan kualitas:
- Breadth of knowledge: berpengetahuan banyak dan berwawasan luas – mengerti dan “nyambung” kalau diajak bicara mengenai banyak topik (politik, teologi, teknologi, pelayanan, peristiwa dunia yang lagi viral dst.).
- Depth of expertise: mempunyai pengertian akan ilmu artinya dia seorang expert/ahli yang memiliki kedalaman/spesialisasi ilmu tertentu sebab tidak mungkin orang menguasai semua displin ilmu.
- Height of Christian wisdom: mencintai Tuhan. Daniel mempunyai hikmat Tuhan 10 kali lipat daripada semua orang yang berilmu – mempunyai wawasan teologi luas.
Jujur, tidak mudah mencari orang yang menguasai tiga kutub di atas ini – berpengetahuan global (dengan membaca banyak koran/berita), berwawasan luas, expert/spesialis di bidang tertentu (dengan membaca jurnal-jurnal ilmiah yang berkualitas), teologinya kuat (saat teduh, berelasi intim dengan Tuhan untuk mengerti hikmat-Nya).
Formula of outcomes
SKILLS + KNOWLEDGE + TALENTX
X
EFFORT + ACTIVITY + CHALLENGE
=
DESIRED RESULT & OUTCOMES
Bagi next generation, Anda harus menemukan skills, mengembangkan knowledge, mencari talentanya di bidang apa lalu dengan effort/usaha besar dimultiplikasi melalui banyak aktivitas kemudian mencari kesempatan bertanding (challenge) untuk mempunyai pengalaman bertempur (kalah-menang urusan belakang) menghasilkan (outcome) orang hebat.
Pembinaan/pelatihan semacam ini membutuhkan ± 10.000 jam terbang. Misal: seorang anak bermain biola, latihan 1.000 jam kurang “jadi” tetapi kalau dia memiliki talenta maka dalam kurun waktu 3.000 (tidak perlu 10.000) jam sudah “jadi”. Semakin dini menemukan skill dan talentanya, semakin baik supaya dapat dikembangkan makin cepat dan waktu untuk mengembangkannya makin banyak. Kemudian ikut bertanding, melayani untuk menambah pengalaman.
Perlu diketahui, karena ilmu pengetahuan berkembang pesat secara eksponensial, jangan pikiran Anda berkembang cuma secara linear (menjadi lebih baik, berpikir step by step, rutinitas, monoton) karena Anda akan menjadi orang yang tidak relevan. Sebaliknya, berpikirlah secara eksponensial – eksploratif, simultan, inovatif dan kreatif – maka Anda akan tampil tidak hanya sebagai orang yang terbaik tetapi yang berbeda.
Home church dan home discipleship
Di dalam konsep iman Kristen, ada home church dan home discipleship di mana ayah sebagai imam keluarga bertanggung jawab memuridkan anak-anaknya. Ayah mempunyai gereja dan jemaatnya ialah anak beserta istrinya. Pembinaan dimulai dari rumah dan orang tua menjadi “misionaris” bagi keluarga. Orang tua harus mengondisikan keluarga sebagai home church dengan mengadakan family altar, doa bersama, saat teduh bersama sementara home discipleship memuridkan anak supaya mencintai Tuhan, mempunyai skills, mengerti panggilan hidupnya dan mau melayani Tuhan di masyarakat. Aktivitas home church dan home discipleship membutuhkan waktu dan kontinuitas.
Ayah sebagai imam keluarga harus memotivasi anak supaya mencintai Tuhan dan melayani-Nya. Juga menekankan tidak melulu mencari uang tetapi skills dan ilmunya digunakan sebagai profesi untuk memperoleh uang juga untuk melayani Tuhan.
Orang tua tidak harus menuntut anak untuk mengejar sertifikat S2 dan S3 tetapi mengarahkan anak untuk mengembangkan diri sesuai talenta serta kemampuannya supaya tidak ketinggalan zaman. Anak akan melakukan kegiatan ini dengan sukacita, tidak stres karena tidak dipaksa. Pengembangan (upgrade) diri yang dilakukan secara kontinu akan membuahkan hasil pada akhirnya. Dia tidak akan menjadi pengangguran walau tidak memiliki ijazah S2 atau S3 sebab di dalam dunia praktisi dan profesionalitas, yang penting bukan setumpuk ijazah yang dikumpulkan tetapi skills apa yang dikuasai untuk mampu terjun ke marketplace.
Jelas, tuntutan zaman makin tinggi bagi next generation untuk dapat survive; oleh sebab itu mereka harus rajin mengikuti perkembangan knowlege yang aplikatif di marketplace sebab realitanya dunia ini adalah dunia yang berkompetisi dan ini sangat melelahkan. Kalau kalah dalam kompetisi, kemungkinan karena mereka tidak mempersiapkan diri dengan baik – terlalu rajin berdoa tetapi malas meng-upgrade diri. Dan untuk memenangkan kompetisi global, selain butuh waktu dan persiapan juga harus rajin “menikmati” perlombaan/persaingan untuk menemukan panggilan hidup sebab Tuhan memanggil mereka untuk melakukan pekerjaan baik sesuai dengan skills dan talentanya. Karena melakukan sesuai dengan skillsnya, masuk dalam dunia kompetisi pun dijalani dengan senang hati. Misal: kalau menemukan panggilan hidupnya sebagai hamba Tuhan, dia tidak akan stres menjadi pendeta.
Sebenarnya kita tidak berkompetisi dengan orang lain tetapi dengan diri sendiri, sudahkah kita hari ini lebih baik daripada kemarin? Kalau orang lain menang atau kalah itu bukan urusan kita tetapi kita berkompetisi dengan diri sendiri supaya menjadi lebih baik. Kita tidak berkompetisi untuk mengalahkan dunia tetapi mempersembahkan hidup di hadapan Tuhan melalui kemampuan dan talenta kita untuk melayani Dia lebih baik dan memuliakan-Nya.
Dengan skills kita mendapatkan uang dan pekerjaan di marketplace; dengan uang yang diperoleh, kita melayani untuk mencari jiwa (bukan uang). Jangan terbalik, bukan mencari jiwa untuk mendapatkan uang walau kita perlu uang sebagai alat untuk mencari jiwa. Pergunakan skills dan talenta secara multipurpose untuk berprofesi juga untuk melayani Tuhan!
Jadi, hidup berkompetisi itu sebenarnya enak; kalau tidak ada kompetisi, kita akan santai tidak mempunyai tujuan hidup yaang jelas. Namun nikmati kompetisi sesuai dengan panggilan Tuhan!
*******