• DITEGUR EMANG ENAK?
  • Mario Gani

Setiap kali seseorang menegur kita, reaksi alami yang muncul hampir selalu seragam: sakit hati, malu, kesal, atau bahkan marah. Tidak ada seorang pun suka ditegur. Bahkan dari masa kecil hingga dewasa, teguran sering dianggap sebagai bentuk penolakan atau serangan terhadap harga diri.

“Nyo, kamu jangan mainan terus!!”

“Nduk, ojok males-males!!” 

Bahkan tidak jarang orang tua menyembunyikan mainan, HP, bahkan sampai menghukum tidak memberikan uang jajan selama 1 minggu, memarahi di depan orang banyak, menyalah-nyalahkan saat kita melakukan kesalahan kecil saja dll. Semuanya itu amat membekas dalam ingatan kita dan tanpa sadar kita menjadi pribadi yang sangat defensif saat mendapatkan teguran yang mungkin sebenarnya tepat. Ada penolakan secara otomatis dari pikiran kita setiap kali telinga kita mendengarkan teguran sekalipun itu teguran bersifat membangun.

Namun pertanyaannya, pernahkah kita memikirkan bagaimana jika ternyata teguran itu bukan sekadar kritik melainkan instrumen kasih Allah untuk membawa kita ke dalam hidup yang lebih baik?

Judul artikel ini — "Ditegur: Emang Enak?" — secara sarkastis mencerminkan reaksi manusiawi kita tetapi Alkitab justru membalik perspektif itu. Teguran bukan hanya penting tetapi juga vital dalam pertumbuhan rohani dan kedewasaan iman.

Teguran dalam pandangan Allah: cermin kasih bukan hukuman

Amsal 3:11-12 mengatakan, "Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi."

Ayat ini menegaskan bahwa teguran adalah bentuk kasih bukan penghakiman. Sama seperti orang tua menegur anaknya agar tidak menyentuh api, Allah menegur kita bukan untuk melukai tetapi untuk melindungi. Namun banyak orang Kristen salah paham. Mereka lebih menyukai kabar baik, pujian, dan afirmasi tanpa mau menghadapi kebenaran yang menyakitkan. Mereka lupa bahwa kasih Allah bukan hanya menghibur tetapi juga mengoreksi.

Penulis Ibrani 12:11 mengatakan: "Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi duka; tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya." Ini menandakan bahwa ketidaknyamanan dari teguran adalah bagian dari proses pemurnian. 

Mengapa kita sulit ditegur 

Manusia cenderung defensif. Ketika Adam ditegur oleh Allah karena makan buah terlarang, dia menyalahkan Hawa dan perempuan ini menyalahkan ular (Kej. 3). Reaksi ini menunjukkan bahwa sejak awal manusia mempunyai kecenderungan menghindari tanggung jawab. Selain itu ada tiga penyebab utama, yakni:

  • Ego dan harga diri: banyak orang merasa bahwa menerima teguran berarti mengakui kelemahan dan itu terasa memalukan.
  • Pengalaman teguran yang salah: bila seseorang pernah ditegur dengan kasar, merendahkan, atau tanpa kasih, dia akan trauma dan menolak segala bentuk koreksi.
  • Budaya anti-kritik: di era digital, kebenaran relatif menjadi tren. Menegur dianggap menghakimi dan tidak menerima teguran dianggap sebagai bentuk kemandirian.

Padahal Amsal 9:8 mengingatkan, "Janganlah mencela si pencemooh supaya engkau tidak dibencinya tetapi tegorlah orang bijak maka engkau akan dikasihinya." Orang yang dewasa secara rohani akan mencintai teguran karena mereka sadar bahwa itu membawa mereka lebih dekat kepada Kristus.

Tiga solusi nyata dan aplikatif untuk membuka diri pada teguran

Agar kita dapat menjadi pribadi yang lebih terbuka terhadap teguran dan tidak selalu defensif, berikut adalah tiga solusi praktis yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:

a) Bangun spiritualitas yang rendah hati

Kerendahan hati adalah kunci utama untuk menerima koreksi. Filipi 2:3 menuliskan, "Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri."

Langkah praktis:

    • Mulailah hari dengan doa memohon hati yang lembut, "Tuhan, bentuklah aku hari ini. Bila aku perlu dikoreksi, tolong aku agar tidak keras hati."
    • Catat koreksi atau masukan yang Anda terima, renungkan dan doakan satu per satu.

b) Bangun relasi yang aman dan penuh kasih

Sering kali teguran terasa menyakitkan karena diberikan dalam konteks relasi yang dingin atau jauh. Namun dalam komunitas Kristen yang sehat, koreksi dilakukan dalam kasih.

Langkah praktis:

    • Jalin hubungan yang tulus dengan saudara seiman, pemimpin rohani, atau mentor.
    • Beri izin kepada orang-orang tertentu untuk berbicara ke dalam hidup Anda — secara sadar katakan: "Kalau ada hal dalam hidup saya yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, tolong kasih tahu, ya."

c) Latih diri membedakan teguran dari penghakiman

Tidak semua kritik adalah teguran Ilahi, sebagian hanyalah opini atau bahkan serangan. Namun sebagai orang percaya, kita perlu melatih kepekaan untuk membedakan mana teguran yang dari Tuhan.

Langkah praktis:

Uji setiap teguran melalui Firman Tuhan apakah itu sesuai dengan prinsip Alkitab atau tidak.

    • Jangan langsung bereaksi. Tarik napas, berdoa, dan beri waktu sebelum merespons.
    • Bila Anda ragu, konsultasikan dengan orang yang Anda percayai secara rohani.

Penutup: rasa sakit yang menyelamatkan

Semakin modern masyarakat kita, semakin orang mengejar kenyamanan hidup termasuk kenyamanan telinga. Telinga yang nyaman adalah telinga yang selalu mendengarkan hal-hal yang enak, tidak pernah disalahkan, tidak pernah ditegur, selalu minta dipuji dan diapresiasi. Sering kali hal ini dianggap sangat baik karena dapat membangun suasana hati yang positif sehingga kesehatan mental kita selalu terjaga.

Teguran memang tidak enak. Namun banyak hal dalam hidup yang tidak enak tetapi penting seperti obat pahit, suntikan, atau operasi. Teguran adalah bentuk kasih yang tegas. Ia menyakitkan sesaat tetapi menyelamatkan untuk selamanya.

Yesus sendiri menegur murid-murid-Nya, bahkan Petrus – batu karang gereja – tidak luput dari teguran keras (Mat. 16:23) tetapi dari semua teguran itu lahirlah pertobatan dan transformasi.

Maukah kita menjadi orang yang dibentuk Tuhan walau melalui jalan yang tidak nyaman? Marilah menjawab dengan rendah hati, "Tuhan, meski ditegur itu tidak enak, aku tahu itu baik. Ajarku untuk tunduk pada kebenaran-Mu."