• KEPAHITAN SEORANG ANAK
  • Charles Wong ST., M.Pd

Mental health berada di ranah jiwa di mana memori, emosi, intuisi, imajinasi ada di dalamnya. Kita perlu mengetahui asal-muasal terjadinya kepahitan pada seorang anak karena sering kali orang menyadarinya ketika dia sudah besar. Benarkah demikian? Sebuah buku berjudul “Kesemuan Memori” menuliskan bahwa memori janin sudah berfungsi sejak dia berumur tiga bulan di dalam kandungan. Contoh kasus tentang aborsi di “Rumah Ruth” (Bandung), ibu kandung didorong untuk minta maaf kepada janin dalam kandungan karena pada saat dia mempunyai ide mau membunuh janinnya, bayi itu sebenarnya tahu di alam bawah sadarnya dan tersimpan di sini. Memang belum ada penelitian lebih lanjut karena cukup sulit menyangkut bayi yang sama sekali tidak dapat mengungkap sesuatu. Namun sebagian besar anak ketika ditanya mengapa hubungan dengan ibunya kurang baik, dia menjawab (tidak selalu) ibunya pernah mau menggugurkan dia. Hal ini terekam dalam otaknya.

Menurut para ahli jiwa, kepahitan dapat disimpulkan sebagai perasaan negatif atau pengalaman buruk yang muncul akibat pengalaman traumatis, kekecewaan dan perlakuan yang tidak adil. Jadi, kepahitan dalam konteks kejiwaan anak terkait dengan pengalaman emosional yang tidak teratasi akan berdampak pada perkembangan psikologi anak itu.

Secara medis, memori manusia yang tersimpan tidak akan pernah hilang; tidak seperti cara kerja komputer. Contoh: seorang anak SD dikirimi gambar/ foto porno oleh temannya. Walau sudah dihapus dari HP, gambar tidak senonoh tersebut tidak hilang dari ingatannya. Demikian pula pengalaman kepahitan traumatis karena peristiwa yang sangat menyakitkan seperti: percobaan aborsi, pelecehan fisik, emosional, seksual, kekerasan.

Bagaimana ranah anak berlanjut sampai dewasa? Ternyata dari konseling para remaja yang hamil (11-14 tahun) di Rumah Rut mengaku mereka mengalami pelecehan seksual selagi berumur 4 tahun, ada yang di kelas 4 SD. Terbukti peristiwa buruk tidak akan terlupakan seiring dengan berjalannya waktu. Sesungguhnya waktu tidak dapat menyembuhkan, semua harus diproses dibantu oleh pendampingan seorang konselor atau orang tua kalau memungkinkan.

Ketika masalah anak yang mengalami pelecehan seksual tidak diselesaikan, saat bertumbuh besar akan ada kelanjutannya. Waspada, dosa seksual pada remaja disebabkan karena keingintahuan, coba-coba berakibat: setelah dewasa ketika pacaran, dia jatuh dalam dosa hubungan badan (walau tidak semua) atau tidak mau pacaran karena trauma. Juga anak yang menjadi korban bullying, suatu hari dia akan mencari kesempatan untuk menjadi pembuli agar merasa lebih berkuasa. Jelas, pengalaman traumatis bersifat negatif dan emosional yang tertanam di memori tidak dapat diselesaikan dengan masalah waktu. Contoh: kasus predator seks, Emon, yang melakukan sodomi terhadap 120 anak di Sukabumi berawal dari korban pelecehan seksual yang tidak terselesaikan masalahnya. Emon butuh konseling yang makan waktu cukup lama. Dan terbukti muncul pelaku berikutnya, salah satu korban Emon, menyodomi anak lain karena masalahnya tidak diselesaikan dengan tuntas.

Trauma demi trauma dan kepahitan demi kepahitan tidak dapat diselesaikan cuma sekadar salaman minta maaf. Contoh: seorang remaja kepahitan dengan si ayah. Ketika ditelusuri waktu konseling ternyata berawal dari kematian ibunya karena sakit. Si ayah sangat terpukul ditinggal istri sehingga mulai tidak stabil dan terjadi KDRT yang menimbulkan trauma bagi si anak. Karena begitu benci kepada ayahnya, ketika diminta untuk mendoakan seluruh keluarga agar beroleh keselamatan dalam Tuhan, si anak tidak mau mendoakan ayahnya.

Kita perlu mengetahui bagaimana memproses hati terluka yang dapat dimulai sejak lahir. Orang tua harus peduli dan tidak menganggap enteng merasa sudah lewat lukanya di masa lalu. Semakin dalam dan parah luka yang dialami, semakin butuh waktu lama untuk memulihkannya. Kepahitan dimulai dari sebuah pengalaman yang menyakitkan. Apa pun yang terjadi, Tuhan adalah Protektor terbaik dan Ia mempercayakan keluarga, institusi sekolah dan gereja untuk bersama-sama melakukan pendampingan bagi anak yang mengalami distrust dan insecure sebagai buah dari kepahitan yang menyebabkan perubahan sikap menjadi orang tertutup, pendiam yang tadinya periang, pasif atau berubah menjadi agresif suka memukul/ menyerang orang karena amarah tidak terkontrol. Perubahan perilaku sebagai upaya defense dan pembenaran diri ini harus disadari terutama oleh orang tua. Kalau komunikasi yang dilakukan orang tua-anak gagal, orang tua dapat merujuk kepada BP di sekolah atau gereja untuk ditangani – sudah bukan waktunya setiap elemen bekerja sendiri-sendiri.

Waspada, kepahitan yang disebabkan oleh perubahan nilai dapat pula akibat dari sosmed (faktor eksternal). Contoh:

  • Seorang remaja (15 tahun) bunuh diri gara-gara ibunya mematikan Wi-Fi karena anak itu terlalu lama main game. Tentu peristiwa ini tidak serta-merta terjadi spontan tetapi anak ini tidak dapat memahami isi hati ibunya yang tidak bermaksud jahat tetapi berusaha menolongnya. Ada misunderstanding dan problem pada komunikasi di antara mereka. Bukankah handphone menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh?
  • Seorang remaja (15 tahun) suka anime asal Jepang dengan ideologinya yang unik. Salah satu komik menanamkan ideologi bahwa “jika kamu mati, masalahmu selesai”. Anak ini membaca komik tersebut dan ketika stres dia memilih bunuh diri. Kematiannya yang tragis pasti menjadi pukulan berat bagi orang tuanya.

Ada multifaktor yang menyebabkan anak (beranjak remaja) mengalami kepahitan di dalam hidupnya tetapi faktor internalisasi sangatlah penting. Tahap tumbuh-kembang anak (1-6 tahun) adalah masa penanaman nilai sebanyak mungkin dari (yang terutama) orang tua, institusi sekolah turut berperan langsung/ tidak langsung serta Sekolah Minggu agar anak menjadi kuat dan mampu menahan serangan. Bila benteng pertahanan telah tertanam dan dibangun dengan baik, serangan internal maupun eksternal tidak menorehkan kepahitan yang terlalu dalam. Misal: dalam parenting, anak perlu didisiplin, menjalin komunikasi dengan baik dengan tujuan anak mengerti akan kesalahannya bila terpaksa dipukul tanpa menimbulkan kepahitan hati. Juga ketika terjadi kejadian (eksternal) yang tidak menyenangkan, anak tidak serta-merta menyalahkan orang lain. Semua ini berkaitan dengan pola asuh (otoriter, demokratis atau permisif) yang ditanam sejak dini. Kalau orang tua terlalu sibuk, ini membuka celah bagi si anak untuk mudah dilukai/ terluka karena pengalaman traumatis seperti: pelecehan seksual, bacaan komik, tontonan video yang menyajikan kekerasan, balas dendam dan penyusupan nilai-nilai yang tidak seharusnya (LGBT) akan memberikan ide di kepala si anak.

Bagaimana cara membantu anak mengenali dan mengekspresikan kepahitan yang dia alami dengan cara yang sehat? Kuncinya ada di orang tua. Orang tua harus menjadi tempat yang aman bagi si anak untuk berani bicara, bukan baru bicara sedikit sudah dibentak, dipukul, dihukum, dicuekin membuat anak tidak mau bicara. Orang tua harus menyediakan waktu dan mau mendengarkan omongan si anak membuat anak terbuka dan aman tidak takut dihukum berat (diusir, dibuang) ketika melakukan kesalahan dan kegagalan. Terjalin komunikasi yang baik di antara mereka.

Ada kisah sukses tentang anak yang berhasil mengatasi kepahitan di dalam hidupnya, yakni:

  • Anak perempuan cantik diperkosa oleh ayah kandungnya waktu kelas 4 SD Kristen. Di pertemuan awal konseling, perempuan ini menatap penulis dengan mata penuh kebencian seperti mau membunuh. Setelah penulis beserta istri memperkenalkan diri baru pertahanannya menurun. Akibat pelecehan seksual ini, setiap kali pacaran dia melakukan hubungan seks. Sayang, cantik parasnya tetapi tidak mampu menghargai diri sendiri. Memang dibutuhkan cukup waktu untuk konseling apalagi bicara mengenai pengampunan kepada ayahnya. Akhirnya setelah pembinaan Alkitabiah selama setahun, perempuan ini memutuskan mengampuni diri sendiri dan mengampuni ayahnya. Ajaib, saat ayahnya sakit, dia yang menjaga. Sekarang dia sudah menikah dan mempunyai dua anak. Benar-benar kemurahan berlaku bagi dia dan keluarganya karena dia mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus.
  • Seorang perempuan, anak dari Hamba Tuhan, dilecehkan oleh salah satu anggota keluarga tanpa sepengetahuan orang tua. Akibatnya, tiap pacaran dia jatuh dalam dosa seks, parahnya pacaran dengan si A dia tidur dengan si B, si C hingga dia berhubungan badan dengan 11 cowok. Sungguh sangat mengerikan!

Saat konseling, perempuan ini dalam kondisi stres, marah, kecewa, kepahitan kepada ayah dan semua pacarnya. Terbukti makin berat kepahitan hati dan makin dalam trauma yang dialami, makin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhannya. Hampir tiap hari dia datang nangis-nangis dengan keluhan sama yang diulang-ulang. Di sini pentingnya kehadiran konselor menjadi pendengar yang baik dan makan waktu dua tahun baru dia dipulihkan. Sekali lagi kuncinya karena dia mengalami perjumpaan dengan Kristus. Sekarang dia sudah menikah dan mempunyai 3 anak.

Trauma yang tidak diselesaikan pasti akan berdampak. Untuk itu harus dicari tahu akar permasalahannya kemudian diproses bersama. Jangan menganggap enteng bahwa peristiwa lampau akan terlupakan seiring berjalannya waktu!

Ingat, pengalaman kepahitan karena trauma di masa kecil, konflik dalam keluarga, tekanan dari lingkungan dll. berdampak signifikan terhadap perkembangan emosional, sosial dan psikologisnya. Jika tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan masalah jangka panjang bagi si anak di dalam menjalin hubungan maupun rasa percaya pada diri sendiri.

Diperlukan peran besar orang tua bergandengan tangan dengan pihak sekolah maupun gereja mengatasi kepahitan hati agar anak dapat membangun kembali kepercayaan diri serta tumbuh menjadi individu yang lebih kuat dan optimis dalam menjalani hidup.