Postmodernisme
Postmodernisme adalah suatu gerakan filsafat dan budaya yang muncul pada pertengahan abad ke-20. Postmodernisme adalah pemikiran yang berkembang pada era informasi di mana terjadi perkembangan teknologi digital dan media sosial yang mengubah cara orang memandang dunia. Dunia telah menjadi sebuah desa kecil di mana semua orang saling terhubung oleh teknologi komunikasi secara virtual dan real time. Postmodernisme telah memberikan pengaruh yang signifikan pada gaya hidup, terutama dalam bidang seni, sastra, dan budaya populer saat ini.
Postmodernisme (dapat diartikan post atau pascamodern) sendiri adalah pemikiran yang berkembang dengan latar belakang ketidakpuasan terhadap pemikiran modern yang dianggap telah gagal membawa kehidupan umat manusia kepada keadaan yang lebih baik. Pokok-pokok pemikiran modern antara lain adalah rasionalisme, kemajuan, ilmu pengetahuan, individualisme dan universalisme. Modernisme memang membawa kemajuan tetapi efek negatifnya disoroti berupa penindasan terhadap kaum marginal, penjajahan, konsumerisme yang merajalela, kapitalisme, individualisme, materialisme, serta eksploitasi alam secara berlebihan yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup.
Postmodernisme mendorong pengakuan terhadap keberagamaan (pluralisme) baik dalam nilai-nilai dan keyakinan, meyakini bahwa tidak ada nilai-nilai atau kepercayaan yang absolut, tidak ada satu nilai atau kepercayaan yang mengatasi yang lain (sebagai metanarasi), tetapi sesuai dengan situasi kondisi dan pengalaman hidup yang menghasilkan multinarasi yang dihidupi oleh komunitas masing-masing sebagai pernyataan eksistensialnya.
Postmodernisme telah membawa pengaruh yang signifikan pada filsafat terutama dalam bidang epistemologi (pengetahuan) dan ontologi (keberadaan). Postmodernisme menolak gagasan tetang kebenaran yang absolut dan universal serta menekankan pada relativisme dan subjektivisme. Bagi postmodernisme, kebenaran itu bersifat relatif, tidak dilihat dalam korespondesinya dengan realitas karena realitas sendiri hanyalah hasil konstruksi sosial dan budaya. Kebenaran postmodern tidak juga harus konsisten dengan pengetahuan sebelumnya karena kebenaran itu dipahami dalam suatu komunitas yang unik dengan situasi lingkungan, budaya serta pengalaman yang berbeda. Dengan kata lain, postmodernisme ingin menyatakan bahwa manusia sebenarnya hidup dalam suatu ketidakpastian.
Dalam dunia teologi, postmodernisme mendorong pluralisme tafsir keagamaan. Postmodernisme membaca Kitab Suci sesuai dengan konteks masa kini sebab bagi mereka maksud penulis Kitab Suci sudah mati di masa lalu bersama penulisnya dan tidak ada tafsir tunggal yang mengatasi penafsiran yang lain sehingga memberikan ruang bagi keragaman tafsir dalam memahami teks-teks suci.
Postmoderisme dan Kekristenan
Dengan gambaran garis besar pemikiran seperti di atas maka jelaslah postmodernisme memiliki kritik terhadap iman Kristiani, khususnya kepada keyakinan Injili sebab iman Kristen mengakui adanya objektivitas dan keabsolutan dari kebenaran serta otoritas absolut dari Pencipta yang menyatakan kebenaran-Nya di dalam Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan kebenaran dan hidup.
Namun menurut Stanley J. Grenz ada hal-hal yang patut diterima sebagai kritik posmodernisme terhadap kekristenan sehingga menuntut kita untuk menerjemahkan Injil dalam dunia postmodern secara postindividualistik, postrasionalistik, postdualistik dan postnoetisentrik.
Postindividualistik artinya bahwa postmodernisme mengkritik individualisme otonom radikal yang mewarnai pola pikir orang modern supaya lebih membuka diri kepada lingkungannya. Setiap orang memahami dirinya dalam keberadaannya di suatu komunitas individu itu berada.
Ciri dari modernisme adalah mengagungkan rasio sedangkan postmodernisme memberi ruang bagi insting dan emosi (postrasionalistik). Dalam hal ini kekristenan di era postmodern tentu bukan berarti harus menjadi irasional tetapi membuka diri bagi pengalaman hidup. Inti iman Kristen adalah perjumpaan pribadi dengan Allah dalam Kristus Yesus yang membentuk hidup kita. Fokus kekristenan bukan lagi pada sisi rasionalistik tetapi memberi ruang bagi dimensi intelektual yang dinamis dalam pengalaman manusia dan dalam usaha memaknai kehidupan.
Injil postdualistik dalam arti pemberitaan Injil pada masa postmodern melihat secara holistik segala sesuatu bukan sebagai suatu dikotomi antara yang rohani dan yang jasmani. Hal-hal yang rohani tidak harus dipandang secara terpisah atau saling mengatasi. Ketika membaca Injil (misal: Matius 10:28) jiwa dan tubuh tidak dipandang terpisah tetapi sebagai suatu kesatuan sampai pada kekekalan.
Injil Postneotisentrik dalam arti kekristenan tidak sekadar berbicara mengenai pengetahuan saja, Injil harus diikuti dengan transformasi karakter dan pembaruan seluruh hidup orang percaya. Komitmen kekristenan tidak hanya kepada pengajaran yang benar (ortodoksi) tetapi komitmen kepada Kristus yang berakar dalam hati yang berbuah-buah dalam totalitas hidup sebagai orang Kristen.
Metamodernisme
Dalam perkembangan terbaru, postmodernisme juga mengalami kritik. Menurut Comsky, para pemikir postmodern telah menggunakan banyak kata yang sepele bahkan salah tetapi terbalut dalam jargon-jargon rumit yang tidak jarang hanya omong kosong belaka. Comsky menuduh mereka mencampuradukkan kontradiksi dengan kebenaran yang dibungkus dengan bahasa yang indah. Beberapa kritik Comsky terhadap postmodernisme adalah pada relativisme yang berlebihan, ketidakjelasan konsep, dan kritik postmodernisme terhadap ilmu pengetahuan padahal ilmu pengetahuan penting dalam memahami dunia realitas. Juga penolakan postmodernisme terhadap metanarasi justru membahayakan bagi tercapainya perubahan sosial yang substansial. Tidak hanya soal epistemologi (pengetahuan) dan ontologi (keberadaan) dari postmodern, Peterson juga mengritik para praktisi postmodernisme yang tidak beretika.
Memang zaman terus berganti mulai dari pemikiran tradisional yang dikritik oleh modernisme hingga kini kita berada pada zaman postmodernisme. Namun pemikiran ini ternyata tidak juga memuaskan; ada hal-hal baik yang harus dipertahankan dalam modernisme sehingga memunculkan metamodernisme sebagai rekonsiliasi antara modernisme dan postmodernisme. Metamodernisme dikenal dengan ciri holisme, koneksionisme dan asimilasinya. Metamodernisme adalah gerakan budaya dan filosofi yang muncul pada awal abad 21 sebagai respons dan penyimpangan dari postmodernsime. Menurut Puspitasari (Yogyakarta: Anak Hebat, 2024), metamodernisme mewakili pergeseran kepekaan yang berupaya melampaui ironi, skeptisisme, dan relativisme postmodernisme tetapi tetap mengakui kritiknya terhadap modernisme.
Penutup
Penghargaan terhadap pemikiran-pemikiran baru seharusnya diimbangi dengan penghargaan terhadap pemikiran-pemikiran masa lalu. Terlebih lagi terhadap pemikiran yang sampai sekarang masih eksis bertahan seperti pemikiran Injili. Setiap pemikiran dan keyakinan seharusnya tidak takut pada kritik. Perkembangan pemikiran dari berbagai zaman memberi konteks terhadap kebenaran Injil sehingga kita melihat kekayaan Injil. Injil telah menunjukkan eksistensinya melewati berbagai perubahan zaman. Pendirian Paulus sendiri sebagai seorang yang telah melalui berbagai pergumulan intelektual dan iman serta pergumulan batin mengatakan bahwa ia tidak malu kepada berita Injil karena Injil itu bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Iman di sini haruslah kita maknai sebagai suatu kepastian iman dengan implikasi keselamatan yang kekal di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.