Ketika aku diberi kesempatan untuk berbincang santai dengan beberapa orang tua murid Sekolah Minggu di awal tahun, tema ini begitu bergema di hati dan setiap kali memikirkan kata-kata ini (hati bapa) hatiku tergetar.
Teringat ketika masih kecil merayakan hari ulang tahun ke-8, aku berada di pangkuan ayah. Dia menciumku dan mengucapkan selamat hari ulang tahun kemudian memberi hadiah sebuah buku tulis tebal kepadaku. Hadiah itu sangat sederhana tetapi sangat membahagiakan karena kami bukan dari keluarga berada juga bukan berlatar belakang pendidikan Barat, ciuman ayah saat itu benar-benar tidak pernah kulupakan.
Aku anak ketiga dari lima bersaudara dan anak perempuan yang kedua. Kakak tertua, laki-laki, seorang pemberani yang suka bereksperimen walau kadang melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya. Kakak perempuanku bertanggung jawab membantu orang tua mencari nafkah, suka melindungi dan berkurban demi kepentingan adik-adiknya. Kemudian aku, anak paling rapuh, penakut dan selalu memerlukan seseorang untuk melindungiku sementara adikku mempunyai kemauan dan pendirian yang kuat. Sejak kecil ia telah menunjukkan kemandirian, kedewasaan, berjiwa pemimpin dan pemberani. Kemandiriannya membawanya menjadi seorang pemimpin yayasan yang membela hak-hak orang miskin. Adik bungsu, laki-laki berhati lembut dan cerdas; semua keluarga mengasihinya.
Seluruh keluarga mengatakan aku anak kesayangan ayah dan memang aku merasakannya. Sering ayah membelaku jika aku menerima pembagian yang tidak adil karena ketidakmampuanku untuk menuntut apa yang kuinginkan. Kedekatanku dengan ayah membuatku mengerti ketika Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk menyebut “Bapa kami yang di Surga” sebagai awal panggilan kepada Tuhan saat berdoa. Kehadiran bapa begitu berarti sebab dia mengasihi, membela dan melindungiku. Oleh karena itu setiap kali aku menyebut panggilan “Bapa” kepada Tuhan, kita menyebut nama seorang yang mengasihi, memelihara, membela saat kita lemah dan melindungi saat kita dalam bahaya. Juga karena Dia mahahadir, setiap kali kita memanggil-Nya Dia pasti hadir bagi kita.
Apa Arti Seorang Bapa Bagi Keluarga
Tulisan di atas adalah pengalaman pribadi yang merasakan cinta kasih dan perlindungan seorang ayah dan beruntung aku memiliki ayah yang baik karena banyak anak tidak dapat merasakannya.
Ketika seorang penginjil melukiskan kasih Allah bagaikan kasih Bapa kepada anak-anaknya, seorang wanita menyeletuk, ”Jika Allah orang Kristen seperti Bapa, aku tidak ingin menjadi Kristen.” Ternyata dia melihat ayahnya yang tidak bertanggung jawab, bertemperamen keras, bersikap kasar terhadap ibunya dan kata-katanya sering melukakan hati. Hati wanita tersebut penuh kepahitan apalagi si ayah pernah melecehkannya.
Bagi Anda yang mengalami hal sama yakni pernah merasakan kekecewaan kepada ayah/ bapa biologis di dunia ini, kita menelusuri lebih lanjut bagaimana Bapa Surgawi sangat mengasihi Anda dan Anda membutuhkan kehadiran-Nya.
Arti Seorang Bapa Dalam Rumah Tangga
- Bapa adalah seorang dari mana kita berasal.
Kita tahu Allah adalah Pencipta manusia walau secara lahiriah Ia tidak “melahirkan” kita tetapi kita berasal dari-Nya. Yesus sendiri mengajarkan bahwa Allah adalah Bapa kita dan menurut silsilah Yesus, Ia adalah keturunan Adam, anak Allah (Luk. 3:36).
Setiap dari kita berasal dari benih bapa jasmani yang bersatu dengan sel telur ibu dan “disemai” dalam kandungan ibu untuk kemudian dilahirkan setelah cukup siap hidup di dunia. Namun secara rohani, kita semua berasal dari Allah yang adalah Bapa kita.
- Keberadaan bapa mutlak diperlukan dalam rumah tangga.
Kita melihat tumbuhan yang muncul dari tanah akan mati jika dikeluarkan dari tanah; juga ikan hidup dan mencari makan di air akan mati jika dikeluarkan dari air. Demikian pula kita yang berasal dari Allah akan “mati” jika kita terpisah dari-Nya. Ketika kita berbuat dosa dan harus terpisah dari Allah kita juga berada dalam suasana “kematian” di dunia yang penuh dengan kejahatan ini. Karena dosa, kita semua menuju pada kebinasaan.
Dari pengalaman anak-anak yang kehilangan figur ayah/bapa dalam hidupnya oleh karena perceraian atau kematian, mereka mengalami penurunan konsep diri, kehilangan identitas dan rasa aman serta perasaan ditinggalkan. Tak jarang mereka membenci diri sendiri, kurang percaya diri, cenderung minder, mengalami gangguan emosi, perkembangan perilaku buruk, kesulitan dalam hubungan sosial.
Di media sosial kita mendengar kesaksian seorang bekas LGBT yang sangat mengharukan. Dia mengisahkan pengalaman kekerasan seksual yang dilakukan oleh laki-laki dewasa ketika ia masih kecil. Trauma itu kemudian membentuk kepribadiannya menjadi seorang LGBT. Dengan nada sedih ia mengatakan, “jika saja aku memiliki sosok ayah ketika mengalami peristiwa mengerikan itu, aku tidak akan menjadi seperti ini…..” Untungnya dia seorang Kristen. Ia bergumul dengan sangat berat karena tahu Tuhan tidak menyukai perilakunya dan memohon untuk dapat dilepaskan dari masalahnya dan akhirnya dia berhasil. Kini ia menjadi laki-laki normal dan mempunyai seorang istri yang cantik dan bijaksana.
- Dampak kehadiran bapa yang baik dan yang jahat.
Kehadiran seorang ayah di dalam rumah dapat menimbulkan dampak yang baik atau tidak baik. Contoh: Adolf Hitler, anak dari ayah yang memberi dampak tidak baik. Adolf, seorang diktator Jerman yang kejam, menyebabkan tewasnya jutaan orang Yahudi di Kamp Konsentrasi. Adolf adalah anak Alois Hitler dari istrinya yang ketiga, Klara. Kehidupan rumah tangga Alois sangatlah buruk diwarnai dengan kekerasan dan perselingkuhan. Si ayah bersifat sangat kasar terhadap istrinya dan hampir tidak bicara sepatah kata pun kepadanya. Dia juga memperlakukan anak-anaknya penuh dengan kata-kata penghinaan dan memukuli mereka dengan tongkat bila marah. Si ayah tipe suami yang otoriter, sombong dan dominan; berwatak keras, suka memerintah, mudah tersinggung dan pemarah. Ia selalu menuntut kepatuhan tanpa syarat dari anak-anaknya dan bila harapannya tidak terpenuhi, ia memukuli mereka dengan tongkat. Binatang peliharaannya pun dihajar untuk melampiaskan kemarahan hingga terkencing-kencing. Adolf sangat membenci ayahnya dan selalu menolak kehendak si ayah untuk masa depannya. Kemungkinan besar suasana rumah tangga mereka diwarnai kebencian, kemarahan serta kekerasan dan ini membentuk pribadi Adolf Hitler menjadi penguasa yang kejam.
Lain halnya dengan Johan (nama samaran), anak pendeta, yang bertanggung jawab dan mengasihi keluarganya. Ketika Firman Tuhan tentang Bapa Surgawi disampaikan, ia selalu mengingat kembali tindakan dan perlakuan ayahnya dan dengan mudah dapat menangkap Firman yang disampaikan kemudian ujarnya, ”Kok seperti papa ya Tuhan itu!”
- Arti sebutan “Bapa kami yang di Surga”.
Seorang bapa/ayah yang mendambakan kehadiran anak di rumahnya pasti menunggu-nunggu kata pertama yang diucapkan sang bayi yaitu “papa” atau “mama”. Panggilan “papa” pasti akan membuat hati seorang laki-laki tergetar dan terpicu akan statusnya sebagai bapa bagi anaknya dan kepala/pemimpin bagi rumah tangganya. Perasaan itu membuatnya rela bekerja keras membanting tulang untuk bertanggung jawab sebagai pemelihara keluarga, pengayom dan pelindung saat keluarganya menghadapi bahaya, pembimbing bagi anak-anaknya ke jalan yang benar juga memberi support saat mereka lemah. Semua itu dilakukannya dengan kerelaan penuh bila perlu berkurban diri demi kasihnya kepada makhluk-makhuk kecil, milik dan darah dagingnya.
Kini kita mengerti mengapa Yesus mengajar kita menyebut Allah dengan sebutan “Bapa”. Saat kita menyapa Dia dalam doa, Ia ingin kita merasakan kedekatan hubungan kita dengan-Nya sebagai Bapa yang memiliki hidup kita dan mengasihi kita juga ketergantungan kita kepada Pribadi-Nya, kepada pemeliharaan, perlindungan dan kasih-Nya.
(bersambung)