• PELAYANAN KREATIF DI ERA AI GENERATIF
  • Ang Wie Hay, M.Sc., M.Div.

Kita perlu mengenal medan pelayanan generasi zaman now (generasi strawberry) yang berkarakteristik: generasi screen, generasi smartphone, generasi google, generasi AI, generasi paperless, generasi copy paste, generasi multitasking, generasi Tiktok, IG, FB, generasi media sosial, generasi online game, generasi pragmatis, generasi instan dll.

Oleh sebab itu metode pelayanan menghadapi generasi zaman now harus diganti karena adanya perubahan alat dalam melayani, yakni: kertas → digital; papan tulis → multi big screen; komik → layar konten (animasi); konsultasi ke senior/hamba Tuhan → konsultasi ke AI; layar tembok putih → layer animasi.

Perlu diketahui perkembangan teknologi sangatlah cepat tidak terkejar, bergerak eksponensial setelah ditemukannya superkomputer, robotik, cloud, AI. Oleh sebab itu mereka yang hidup di era linier (serba manual) akan terkena disruption kalau tidak mau mengikuti perkembangan teknologi. Contoh: toko dan perusahaan konvensional akan tutup kalau tidak mau masuk ke online. Jadi, hamba Tuhan yang tidak mau menggunakan Whatsapp, IG, Tiktok akan ditinggal jemaat yang banyak pindah ke Youtube, TikTok, IG. Bukankah jumlah jemaat di ibadah onsite banyak berkurang? Medan pelayanan sehari-hari sekarang lebih banyak di online.

 Apa itu mesin kecerdasan buatan yang disebut AI? Mesin (benda mati) yang dapat berpikir dan berinteraksi/berkomunikasi dengan manusia menggunakan berbagai bahasa. Contoh: kita dapat meminta Alkitab digital untuk merangkum Kitab Daniel pasal 1 dalam 1.000 kata dan dalam hitungan 2-3 menit sudah jadi.

Apa perintah Yesus kepada para murid-Nya sebelum Ia terangkat ke Surga? “Dan Injil kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Mat. 24:14) juga “…..pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…..” (Mat. 28:19-20)

Bagaimana Injil dapat mencapai seluruh dunia? Butuh teknologi dan sekarang internet dapat menembus ke seluruh pelosok dunia tanpa perlu menggunakan visa. Namun perintah ini diberikan kepada manusia bukan kepada robot bukan pula kepada AI. Oleh sebab itu orang Kristen harus hidup di segala zaman – mulai zaman batu, zaman api, zaman besi, zaman industri, zaman modern, zaman digital, zaman metaverse sampai akhir zaman. Kalau tidak dapat hidup di semua zaman, Injil akan macet. Jadi, orang Kristen harus hadir secara kontekstual dan relevan. Artinya, jangan menjadi orang Kristen di zaman ini tetapi pola pikirnya masih di zaman onta. Namun kenyataannya, masih banyak hamba Tuhan menjangkau next generation memakai pola pikir kuno nan kolot, mereka akan kadaluarsa, ketinggalan zaman. Gereja bergerak mantap ke seluruh dunia dengan bantuan teknologi dan pelayanan multimedia sehingga hadirlah smart Bible. Kita harus membaca tanda-tanda zaman dan hidup di masa depan juga cara melayani harus diubah. Jika dahulu pelayanan dilaksanakan jarak dekat (face to face), setelah masuk ke new normal, kita mempunyai dua medan pelayanan: face to face dan screen to screen.

Tuhan ingin manusia mengerti rencana-Nya dan tidak memakai robot tetapi orang-orang (nabi, murid-murid-Nya, rasul, pengkhotbah, penginjil, guru sekolah Minggu dst.) di semua zaman untuk memberitakan Injil. Tuhan juga memakai alat/ media, misal: dua loh batu, tongkat dll. Karena Tuhan memakai media, kita juga diizinkan memakai media (Akitab daun papirus, Akitab digital, smartbible, medsos dst.) untuk melayani. Bagaimana dengan generatif AI – (alat) robot yang mengeneratif otomatis ketika diberi suatu tema lalu berkhotbah sesuai tema yang diberikan? Ini tidak boleh sebab tidak ada sentuhan manusia, sentuhan Roh Kudus dan Tuhan dihilangkan.

Perhatikan, pelayanan harus berubah sebab dunia ini akan sibuk dengan AI. Buktinya, suami/ istri lebih sibuk memegang handphone ketimbang memegang tangan pasangannya. Orang mengira teknologi akan mengefektifkan efisiensi cara kerja tetapi kenyataannya semakin canggih teknologi berkembang, semakin sibuk kita bekerja. Ironisnya, dengan keterbukaan informasi yang berkembang cepat dan tantangan zaman yang makin hebat justru spiritual intelligence (kecerdasan rohani) tidak berkembang, imannya tidak makin dewasa.

Tahun 2014, Elon Musk pernah ngetweet bahwa AI dapat lebih berbahaya daripada nuklir. Waktu itu banyak orang menganggapnya candaan tetapi belakangan peringatan Elon Musk mulai terbukti. Geoffrey Hinton, godfathernya AI, mundur dari Google karena merasa ada yang tidak beres dengan AI dan memperingatkan bahayanya AI (Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan) yang meniru cara kerja otak manusia. Contoh: di dunia otomotif, taksi di Cina AI menggantikan supir dan berjalan sendiri; di dunia seni, AI menggeser peran musisi, desainer, dan editor dengan membuatkan musik lebih cepat, animasi lebih keren, mengedit foto dan video lebih gampang. ChatGPT dapat menjawab semua pertanyaan dst. dalam waktu singkat sementara manusia harus berpikir keras untuk meresponsnya.

Tristan Harris dan Ezra Skin merilis video terbarunya berjudul “The AI Dilemma”, menunjukkan banyak data yang membuat kita ngeri. Salah satunya menyebutkan bahwa setengah peneliti AI percaya bahwa ada kemungkinan 10% atau lebih manusia dapat punah gara-gara tidak dapat mengontrol AI karena kemampuan AI terus meningkat dua kali setiap berapa bulan. Yang mengerikan ada prediksi bahwa di tahun 2045 AI akan sampai di titik singularitas – menyentuh titik di mana AI akan setara dengan kemampuan semua otak manusia yang disatukan. Itu membuat sebagian orang khawatir AI suatu saat memiliki kesadaran seperti manusia dan menyerang manusia seperti dikatakan Elon Musk yang ngetweet Deus Ex Machina (bhs. Latin yang berarti Tuhan yang keluar dari mesin) – film tentang robot cantik yang memiliki kecerdasan buatan dan pada akhirnya membunuh penciptanya sendiri. Bukankah banyak generasi zaman now menyembah mesin-mesin yang mengandalkan teknologi?

Akan ada the future of religion di mana: seseorang lebih memercayai solusi inovasi teknologi; memberikan jawaban secara instan dan real time; bermanfaat segera; secepatnya menjadi penghibur; tanpa ritual; tanpa perlu kesetiaan; tidak harus di satu tempat tertentu; tanpa kewajiban dan penderitaan (apalagi memikul salib). Inilah tantangan zaman sekarang dan kita harus mengerti medan pelayanan. Ini strategi kuasa gelap yang tidak perlu mengirim misionaris ke seluruh dunia, tinggal klik “remote” maka seluruh dunia akan rusak. Itu sebabnya hamba Tuhan harus pergi untuk memuridkan karena menginjil tidak dapat seluruhnya dilakukan screen to screen (online to online). Apakah gereja boleh online? Bukankah konsep gereja itu keluarga? Dapatkah keluarga menggunakan online? Keluarga harus face to face dan teknologi hanya alat bantu yang tidak boleh menggantikan onsite. Sungguh mengerikan permainan Iblis! Ada peperangan rohani di era digital dan Iblis berusaha merebut generasi zaman now cepat sekali. Buktinya, banyak persekutuan pemuda/i mulai sepi karena makin banyaknya hiburan online.

Apa itu screen disciplehip?

Digital input sangat memengaruhi spiritual input. Digital input yang masuk dari handphone memengaruhi pikiran dan hati. Apalagi jika generasi now yang bergantung pada screen dimuridkan oleh dunia melalui screen. Dampaknya besar sekali karena teknologi akan memengaruhi kepala, hati, dan pererakan tangan. Akibatnya dunia makin cepat rusak gara-gara canggihnya  teknologi.  Sungguh,  kita  cepat-cepatan dengan setan yang menggunakan senjata, game online, pornografi online lebih canggih.

Apakah pemuridan zaman now masih relevan dan kontekstual pada next generation?

  • Guru-guru Sekolah Minggu, pelayanan pemuda remaja yang berada di ujung tombak harus banyak berkreativitas. Jika tidak ingin tergusur, gereja harus masuk pelayanan digital sebagai senjata. Generasi Alpha tidak suka melihat tembok putih tetapi screen yang berganti-ganti berisikan video, animasi dan gambar-gambar yang menarik. Pengkhotbah jangan membuat powerpoint hanya berupa tulisan tetapi harus dideskripsikan karena generasi zaman now suka melihat gambar yang bergerak. Kalaupun berupa tulisan, pakailah quote pendek yang mudah diingat. Waspada, jika gereja tidak menggunakan media sosial dan multimedia sebagai pelayanan, dunia akan terus menggunakan media sosial untuk menolak Yesus.
  • Masuk pada gereja layar lebar karena sekarang generasi layar lebar.
    Anak-anak sekarang bermain digital, tidak lagi membawa buku tebal-tebal.
  • Gereja dituntut dapat bertransform menjadi inovatif, kreatif, digital, personal, feedback dan responsif. Semakin lama kita menunda masuk pelayanan digital, semakin banyak kesempatan akan hilang dalam menjalin hubungan dengan orang-orang yang hidupnya tergantung pada teknologi.
  • Gunakan media sosial untuk pengabaran dan pengajaran Injil. Bentuk tim pelayan media sosial yang bergerak di bidang video, rangkuman khotbah, pujian, renungan dll.
  • Gunakan pelayanan multimedia untuk marketing/memasarkan gereja melalui digital publication. TikTok, Facebook, Instagram.
  • Gunakan teknologi secanggih-canggihnya dan andalkan Roh Kudus sepenuhnya.
    Tentu kita boleh menggunakan AI untuk persiapan khotbah tetapi jangan langsung copy-paste karena pengkhotbah bukan sekadar menyampaikan informasi dari AI lalu ditransfer ke jemaat. Kalau hanya menyampaikan informasi dari AI, jemaat tidak membutuhkan pengkotbah, pendeta dan penginjil termasuk guru (Sekolah Minggu). Pelayan Tuhan berperan mentransfer kuasa Allah dan kuasa Roh kudus melalui mimbar sehingga khotbah yang disampaikan itu menghidupkan, memulihkan, menyembuhkan, menguatkan dan memperbarui hidup orang.

Meskipun bahan dan struktur khobah bagus menggunakan AI, tanpa kuasa tangan Tuhan yang menggerakkan, ini bagaikan pidato dan tidak akan mentransformasi hidup seseorang. Itu sebabnya sebelum tanya ke AI, kita harus dengar-dengaran kepada Tuhan dan bertanya apa yang Ia mau katakan ke jemaat. Telinga rohani kita harus peka mendengar apa yang Tuhan ingin kita menyampaikan pesan-Nya. Setelah mengerti poin-poin kotbah baru bertanya ke AI untuk melengkapi isi khotbah. Jika kita tidak menggunakan teknologi untuk melayani Tuhan, orang di luar gereja akan menghancurkan jemaat dengan teknologi sehebat-hebatnya. Jadi gunakan teknologi sehebat-hebatnya asal kita masih tetap menyembah dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati.

Apa upaya kita agar kreatif?

Ilustrasi: kita berdiri di taman bunga yang beraneka warna: ungu, orange, putih, merah dll. kemudian kita memetik bunga warna kesukaan dan dirangkai di vas bunga sebagai hasil kreativitas kita. Kita “memetik” pelbagai ragam informasi untuk dirangkai dimasukkan ke dalam satu rangkaian (vas) informasi hasil belajar, menggali dan mendalami informasi yang bervariasi. Yang penting, kita harus berdiri di taman informasi (internet, sosial media dll.) untuk melihat aneka ragam informasi hingga dapat menciptakan kreativitas dan siap disajikan.

Kalau ingin maju dalam pelayanan, kita harus berinovasi dan kreatif juga mampu memberikan solusi terhadap masalah. Untuk itu kita harus masuk dalam medan pelayanan menemukan jemaat dengan pelbagai persoalan dari generasi ke generasi untuk memberikan solusi.