Bagaimana yang dimaksud feeling over logic atau perasaan mendahului logika? Fakta saat ini, generasi Z sangat mengutamakan perasaan hati dan melakukan apa yang menyenangkan hatinya. Dengan kata lain, emosi dan perasaan lebih penting daripada yang lainnya. Mereka berani mengekspresikan perasaannya di ruang publik tanpa rasa malu. Itu sebabnya gerakan LGBT makin berkembang pesat bahkan ada beberapa negara melindungi kebebasan mereka dan siapa yang menentang gerakan ini dapat berurusan dengan hukum. Ini terjadi akibat dari perasaan/ feeling dijadikan lebih penting daripada logika/ cara berpikir/alasan. Bukankah sekarang marak isu soal mental health karena orang hidup menuruti mood?
Kita perlu belajar betapa pentingnya memahami, mengendalikan, mengelola dan menguasai perasaan kita karena banyak kesalahan terjadi akibat mendahulukan perasaan daripada alasan/logika yang benar.
Bersukacita (kata kerja aktif) adalah suatu perintah bukan sekadar perasaan (Flp. 4:4-9). Namun sulit bagi kita untuk merasakan sukacita sebab kita mudah sekali dikuasai oleh emosi negatif yang membuat kita moody bahkan depresi padahal damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita di dalam Kristus Yesus.
Tiga hal yang menggerakkan manusia :
- Emosi (bhs. Ibr. pathos = feeling = perasaan).
Berkaitan dengan hati. Perasaan dan emosi adalah bukti kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Allah juga berperasaan. Allah bisa marah, Yesus juga pernah sedih dan menangis juga takut dst.
- Logika (bhs. Ibr. logos = logic = reason = alasan).
Berkaitan dengan otak atau cara berpikir rasional. Manusia dalam mencapai sesuatu selalu perlu alasan, atau logika dibaliknya.
- Ethos, kata dasar dari etika = karakter, perilaku. Hasil yang keluar melalui tindakan kita, baik emosi ataupun logika yang menguasai Logos (alasan) kita melakukan sesuatu harus lebih besar daripada pathos maupun ethos. Dengan kata lain, emosi dan etika harus terjangkarkan pada logos. Masalahnya, emosi, logika dan etika kita sudah dicemari oleh dosa. Akibatnya, emosi tidak lagi netral tetapi lebih besar daripada logos menyebabkan terjadinya kesalahan ketika memutuskan sesuatu. Memang kita dapat menutupi perasaan (misal: tertawa padahal hati merana; Ams. 14:13) tetapi kita tidak dapat membohongi perasaan pada diri sendiri. Ketika perasaan menguasai sering kali kita tidak dapat menggunakan logika/alasan yang benar sehingga kesalahan terjadi. Ini terjadi karena natur dosa telah melekat pada kehidupan kita. Contoh: anak kecil berbohong, mencuri, bersikap kurang ajar terhadap orang tua tanpa perlu diajari karena citra Allah dalam diri manusia telah rusak.
Sebenarnya hati nurani berfungsi sebagai kompas bagi manusia. Buktinya, orang yang tidak mengenal Yesus dapat berbuat baik bahkan penjahat pun sadar kalau tindakannya salah. Karena Tuhan telah menaruh emosi/feeling sebagai kompas moral di setiap hati manusia. Namun kejatuhan manusia dalam dosa maka semuanya menjadi serba terbalik. Dunia mengatakan “follow your heart” sementara Firman Allah menegaskan bahwa hati manusia itu licik lebih dari apa pun (Yer. 17:9). Motivasi-motivasi dunia mendorong kita melakukan sesuatu yang dianggap baik asal tidak merugikan orang lain. Padahal standar Allah adalah kebenaran, bukan kebaikan.
Pancaindra adalah reseptor segala perasaan. Banyak yang salah mengambil keputusan karena lebih mendahulukan emosinya daripada logika/ reason. Contoh: Hawa jatuh ke dalam dosa karena lebih mengunakan penglihatannya sehingga buah terlarang itu menarik hatinya. Sementara Esau kehilangan hak sulung gara-gara penciumannya menghirup masakan kacang merah buatan Yakub, adiknya. Juga Simson kehilangan kekuatannya karena pendengaran dan sentuhan dari Delila.
Manusia telah jatuh dalam dosa dan dosa sudah menjadi natur kita. Keterpisahan dari Allah membuat logika kita terbentuk oleh filosofi dunia, sains, perkataan orang, bahkan juga dari pengalaman. Menganggap pengalaman sebagai kebenaran adalah berbahaya karena pengalaman setiap orang itu berbeda-beda. Alkitab mengingatkan untuk berhati-hati agar tidak tertawan oleh filsafat kosong/palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia. Jika dasar logika kita salah, hasilnya akan salah.
Jadi logika atau logos apa yang benar? Yohanes 1:1 berkata, pada mulanya adalah Firman (logos), Firman (logos) itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia (Yesus) dan diam di antara kita. Kita dapat mendengarkan suara Tuhan setiap saat melalui pemberitaan Firman-Nya. Inilah LOGOS yang sejati : Firman Allah.
Iblis sering kali menipu kita memakai emosi/ perasaan, memanipulasi melalui perasaan bersalah yang menutup penglihatan kita atas kebenaran Firman serta meragukan perbuatan-perbuatan Tuhan dalam kehidupan kita. Parahnya, Iblis gencar menyasar kehidupan generasi Z yang digital native, membuatnya mudah drop mental healthnya karena mereka lebih mendahulukan emosi ketimbang logika.
Logos yang sejati yaitu Firman Tuhan melalui Roh Kudus memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran dan mampu mengendalikan/mengelola perasaan kita. Oleh sebab itu jangan hidup menuruti pancaindra atau keinginan daging dengan segala keinginannya. Sebaliknya, hiduplah dalam Roh kebenaran yang menghasilkan buah Roh (Gal 5:19-22).
Jadi, bila kita memiliki logos yang benar, kondisi apa pun tidak akan memengaruhi perasaan/ emosi kita seperti Daniel yang diancam akan dilempar ke dalam gua singa apabila dia tidak menyembah raja. Sebagai manusia, Daniel pasti memiliki perasaan takut tetapi dia lebih mementingkan relasinya dengan Allah dengan tetap berdoa. Alhasil, walau dilempar ke gua singa, Daniel tetap hidup sebab Allah membelanya. Demikian pula Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang tetap hidup walau dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala karena tidak mau menyembah patung emas.
Ada satu emosi yang paling kuat: perasaan cinta. Sering emosi ini menjadi liar dan membuat kita sering melakukan kesalahan. Tidak jarang seorang anak Tuhan mengambil keputusan meninggalkan Tuhan karena memilih pacar yang tidak seiman hanya karena perasaan “cinta”. Sangat berbahaya jika emosi tidak dijangkarkan pada logos yang benar. Cinta manusia sering hanya cinta Eros bersifat sementara karena ketertarikan sesaat. Sedangkan cinta menurut Logos yang sejati adalah cinta Agape, cinta yang berkurban dan tidak terikat waktu. Bukankah kasih Yesus dibuktikan dengan pengurbanan diri-Nya mati disalib? Janganlah gara-gara perasaan “cinta” pada seseorang, kita meninggalkan Tuhan, sumber kasih sejati! Jangan mempertahankan emosi/perasaan sesaat saja kemudian mengorbankan kebenaran yang kekal.
Perasaan bersalah juga merupakan salah satu perasaan terkuat. Ada rasa bersalah yang benar dan yang menjerumuskan. Rasa bersalah yang benar sesuai Logos yang sejati menghasilkan pertobatan dan membawa pada keselamatan (2 Kor. 7:10) sementara rasa bersalah dari dunia malah membuat hidup terpuruk.
Pertanyaan bagi kita: Siapakah yang kita jadikan logos dalam hidup kita? Logos kita sendiri atau Logos yang sejati yaitu Firman Kristus. Kesalahan menjangkarkan logos kita akan sangat memengaruhi hidup kita. Logos manusia akan menyesatkan dan membuat Pathos kita yang sudah dalam natur dosa ini menjadi liar yang akan keluar dalam Ethos kita. Namun Logos yang sejati akan membawa kebenaran dalam hidup kita, Pathos yang serupa Kristus menghasilkan Ethos yang memuliakan Nama-Nya.