Bullying adalah tindakan menyakiti, merendahkan, atau menindas orang lain yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang baik secara fisik, verbal, maupun psikologis. Tindakan ini dapat terjadi di berbagai tempat seperti di sekolah, tempat kerja, dunia maya dan dapat berdampak buruk secara permanen bagi korban seperti: tekanan, kecemasan, trauma, depresi, bahkan sampai mengakhiri hidup.
Yesus sudah memperingatkan bahwa hal-hal yang mengecewakan pasti akan datang tetapi “Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa..." (Mat. 11:6, 13:21, 13:57, 15:12, 24:10).
Siapa yang biasanya menjadi korban bullying? Orang yang terlalu sensitif dan mudah tersinggung adalah sasaran empuk menjadi korban bullying sebab orang semacam ini termasuk orang yang sangat lemah. Mereka bagaikan tumbuhan putri malu yang sangat sensitif dan ditemukan di pinggir-pinggir jalan. Putri malu ini daunnya akan menutup dan tangkai daunnya terkulai bila tersentuh sedikit saja. Beberapa orang sangat rentan dan sensitif sehingga setiap kali seseorang menyentuh aspek apa pun dalam kehidupannya, mereka akan merasa terluka, sedih, dan putus asa. Bahkan, sentuhan dapat membuat mereka merasa kehilangan semangat hidup dan layu seperti tumbuhan putri malu.
Tidak ada orang suka ditertawakan, dihina, diejek, dipermalukan, difitnah atau diperlakukan dalam segala bentuk perbuatan negatif lainnya. Namun jika kita tidak bersedia mengalami beberapa kehinaan yang Kristus alami, kita tidak layak bagi-Nya. Ini berarti bahwa sebagai pengikut Kristus, kita harus siap menghadapi berbagai bullying, ejekan, hinaan bahkan penolakan dari dunia ini. Kristus sendiri telah mengalami semua itu dan Ia meminta kita untuk mengikuti jejak-Nya (1 Ptr. 2:21-2; Mrk. 8:34). Jika kita memiliki prinsip ini, kita akan mendapatkan kekuatan yang memampukan kita mengatasi berbagai tindakan bullying yang mungkin terjadi. Sebaliknya, jika kita tidak memiliki prinsip ini, kita akan menjadi korban perbuatan negatif orang lain – kita merasa tidak dihargai, tidak berguna dan akhirnya kita menjadi stres dan depresi.
Di sisi lain, banyak juga orang yang hidup dalam ketakutan akan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya (Yoh. 12:42-43). Mereka lebih memilih untuk menyenangkan orang lain daripada menyenangkan Allah dan membiarkan opini orang lain menentukan tindakan dan keputusan mereka. Kita harus menyikapi opini orang lain dengan bijak untuk menjaga kesehatan mental dan emosi kita. Jangan terlalu memikirkan apa yang orang lain katakan tentang kita. Ingat bahwa opini orang lain adalah subjektif dan tidak selalu benar. Jangan biarkan opini orang lain membuat kita merasa sedih atau marah sebab kita tidak dapat menyenangkan semua orang. Jika ada kritik yang konstruktif, kita dapat belajar darinya dan memperbaiki diri. Jangan berusaha membalas berbagai tindakan bullying dengan kata-kata kasar atau negatif. Ini hanya akan memperburuk situasi baik untuk diri sendiri maupun hubungan dengan orang lain. Belajar tetap tenang dan tidak membiarkan emosi menguasai kita; sebaliknya, kita harus menguasai diri – menguasai pikiran, perasaan hati, perkataan juga tindakan kita. Oleh sebab itu kita butuh kekuatan dari kuasa Roh Kudus untuk memampukan kita menguasai diri (Gal. 5:23; Fil. 4:7).
Sebagai pengikut Kristus, kita harus memiliki keberanian untuk berdiri teguh pada kebenaran dan melakukan apa yang benar di mata Allah walau untuk itu kita ditolak atau diejek oleh orang lain (KPR. 4:19). Kita harus ingat bahwa Allah adalah satu-satunya yang dapat memuaskan hati kita dan memberikan kita rasa aman serta percaya diri yang sejati. Jika kita mencari pujian dan pengakuan dari orang lain, kita akan selalu hidup dalam ketakutan dan kegelisahan. Namun jika kita mencari pujian dan pengakuan dari Allah, kita akan memiliki damai sejahtera dan kebahagiaan yang tidak dapat diganggu oleh apa pun.
Hendaknya kita memiliki rasa takut yang lebih besar akan apa yang Allah pikirkan tentang kita daripada apa yang dipikirkan manusia sehingga kita dapat hidup dengan integritas dan kebenaran tidak terpengaruh oleh opini dan kritik manusia. Ketika kita memiliki rasa takut akan Allah, kita akan lebih fokus melakukan kehendak-Nya dan menyenangkan-Nya daripada mencari pujian dan pengakuan dari manusia. Dengan demikian, kita dapat hidup dengan damai sejahtera dan kepercayaan diri sejati karena kita tahu bahwa kita telah melakukan yang terbaik untuk Allah bukan untuk manusia (Gal. 1:10). Hal ini bukan berarti kita mengabaikan tanggung jawab kita untuk berbuat baik dan mengasihi sesama tetapi yang terpenting ialah motivasi kita dalam melakukan hal yang baik dan benar.
Bayangkan tentang kekuatan Tuhan kita, Yesus Kristus, yang menolak untuk menyembunyikan wajah-Nya ketika dihina dan diludahi (Mat. 26:67). Meskipun mempunyai kuasa untuk membalas pembenci-pembenci-Nya, Ia tidak melakukannya (Mat. 26:53). Ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukanlah tentang membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi tentang mengampuni dan menunjukkan kasih. Yesus Kristus telah menunjukkan contoh yang sempurna bagaimana menghadapi bullying dan kekerasan dengan kasih dan pengampunan. Ketika di-bully, kita tidak perlu membalas dengan kekerasan atau kata-kata yang kasar. Ini tidak berarti bahwa kita harus membiarkan diri di-bully tetapi kita dapat memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Dengan demikian, kita dapat menunjukkan kekuatan sejati dan kasih Tuhan kepada mereka yang telah menyakiti kita.
Dalam Wahyu 21:8 ada "orang-orang penakut" atau “orang-orang pengecut” yaitu orang-orang yang takut akan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka, dalam hal ini karena mereka disamakan dengan Kristus. Mereka memilih menolak Kristus karena takut penilaian, takut ejekan dan takut penolakan orang lain (bnd. Mat. 10:37-39: 13:20-21: 24:10-12). Oleh sebab itu kita membutuhkan kekuatan moral untuk memilih Allah dan kebenaran-Nya lebih daripada opini orang lain, keluarga dan teman-teman. Jadi, masalah yang sebenarnya adalah: persetujuan siapakah yang kita cari — Allah atau manusia?
Kita akan diuji, cepat atau lambat sesuatu yang tidak adil akan ada di hadapan kita. Bullying mungkin akan datang dari sesama anggota gereja, atau dari mereka yang kita hormati dan kagumi atau dari netizen yang tidak kita kenal. Apakah kita akan kecewa dan berhenti mengikut Tuhan? Akankah kita mengizinkan hati kita dikuasai oleh berbagai perbuatan negatif dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab? Akankah kita menjadi pahit hati dan berhenti untuk maju dengan segenap hati karena kita lebih suka memelihara rasa kecewa kita?
Marilah kita meminta kekuatan dan kasih karunia Tuhan mengatasi segala bentuk bullying karena jika kita mudah kecewa dan tersinggung, kita tidak kuat. Jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus (2 Tim. 2:1). Dan kita yang kuat jangan mem-bully orang yang lemah; sebaliknya, kita mendukung mereka maju dalam kebenaran (Rm. 14:1; 15:1).