Istilah mezbah keluarga atau altar keluarga sering kali menjadi asing bagi orang percaya di tengah ritme hidup yang semakin cepat dan serba digitalisasi. Sebagian orang Kristen menganggap praktik ini ketat, tidak praktis, atau sekadar tradisi yang tidak relevan dengan kehidupan kontemporer. Bukankah iman dapat dipraktikkan secara pribadi? Bukankah cukup untuk berdoa sendiri dan mengunjungi tempat ibadah setiap minggu?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak berasal dari niat jahat; sebaliknya, berasal dari realitas keluarga kristen modern, yang masing-masing memiliki intensitas kesibukan sendiri. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar sekarang muncul di balik semua aktivitas itu. Jika iman kita tidak dihidupkan secara sengaja di dalam rumah kita, lalu dari manakah iman itu akan berkembang dengan baik?
Sejak awal, Alkitab menempatkan keluarga sebagai tulang pembantu iman yang paling penting. Ulangan 6:6-7 dengan jelas menyatakan bahwa Firman Tuhan harus diajarkan kepada anak-anak berulang kali, baik ketika mereka tinggal di rumah, sedang dalam perjalanan, berbaring, dan bangun. Artinya, iman harus ada di luar tempat ibadah formal. Itu harus ada dalam kehidupan sehari-hari. Mezbah keluarga adalah tentang kesadaran akan kehadiran Allah dalam kehidupan rumah tangga, bukan metode tertentu.
Masalahnya ialah iman akan perlahan berubah ketika mezbah keluarga diabaikan. Anak-anak mungkin tetap pergi ke gereja, ke Sekolah Minggu, bahkan berpartisipasi dalam pelayanan tetapi iman mereka sering bersifat informasional daripada relasional. Tuhan dianggap sebagai ide bukan manusia nyata. Ini akan menjadi kegiatan yang dilakukan setiap minggu bukan setiap hari. Keluarga kehilangan bahasa rohani bersama – bahasa yang menyatukan kita sebagai keluarga/keluarga Kristen.
Mazmur 78:5-7 menyebutkan bahwa Allah membuat aturan dan kesaksian agar generasi berikutnya dapat mengetahuinya sehingga mereka dapat percaya kepada-Nya. Di sini, makna mezbah keluarga harus diperbarui. Mezbah keluarga bukanlah ibadah mini yang harus dilakukan dengan cara yang sama seperti ibadah di gereja. Ia tidak menuntut kesempurnaan, waktu yang lama, atau suasana hati yang selalu khusyuk. Mezbah keluarga adalah saat-saat sederhana di mana keluarga bersatu menyadari dan menanggapi kehadiran Allah. Saat makan malam, berbicara tentang iman, membaca satu ayat dan bertanya, "Apa artinya ayat ini?" Ini adalah mezbah keluarga yang hidup.
Iman berasal dari kesederhanaan. Anak-anak belajar bahwa Tuhan hadir dalam percakapan sehari-hari di ruang makan, kamar tidur, dan di gereja. Mereka akan menyadari bahwa iman bukan sekadar diajarkan tetapi dihidupkan. Sudah waktunya kita berhenti mempertanyakan relevansi dan kebutuhan mezbah keluarga. Tidak lagi mengatakan, “Ah, mezbah keluarga itu norak.” Mezbah keluarga tetap relevan hanya bentuknya perlu dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan keadaan.