Tanda seseorang adiksi atau kecanduan pornografi ialah dia tenggelam dalam pemikiran terus-menerus (terobsesi) mengenai aktivitas seksual dan makin lama makin meningkat berdampak negatif di dalam kehidupannya.
Orang yang mengalami kecanduan pornografi melakukannya berlebihan dan terus-menerus sehingga biasanya muncul rasa bersalah, malu, menyembunyikan aktivitasnya, lalu menjadi tertutup. Dia menjadi sulit berkonsentrasi dan karena kebutuhannya makin lama makin meningkat maka relasi sosialnya makin berkurang dan akhirnya sikap serta emosinya berubah. Tanda-tanda ini tidak langsung muncul bersamaan tetapi progresif.
Tahapan kecanduan pornografi menurut Dr. Patrick Carnes dalam bukunya “Out of the Shadow” ialah:
1. Preoccupation: pikiran dan suasana hati terus dipenuhi oleh masalah seks lalu mencari stimulasi seksual menjadi obsesif.
2. Ritualisasi: secara rutin mengarahkan diri ke perilaku seksual seperti masturbasi dll. karena keinginan untuk memuaskan diri begitu kuat.
3. Compulsive sexual behavior: kebutuhan perilaku seksualnya tidak dapat dikontrol alias kecanduan.
4. Despair: muncul perasaan bersalah dll. berpengaruh pada kesehatan mental dan hubungan sosial. Ada perasaan bersalah, malu, cemas, depresi merasa bersalah, tidak berharga, pikiran terdistorsi tentang sesualitas, menutup diri, kerusakan di otak. Kerena kebutuhannya makin tinggi dan kepingin terus nambah berpengaruh pada kesehatan mental dan hubungan sosial yang mana dia akan menghindari interaksi nyata dan merasa canggung apalagi membangun relasi romantis – melihat lawan jenis tidak lagi sebagai pribadi utuh tetapi objek seksual. Lama-kelamaan tidak memiliki empati sehingga sulit mengontrol diri yang dapat melakukan perilaku menyimpang (parafilitas).
Bagi Tuhan selalu ada jalan keluar dan pemulihan bila kita bergantung kepada-Nya. Memang pemulihan membutuh waktu, komitmen, dan dukungan. Langkah-langkah memulihkan kecanduan pornografi:
- Perlu mengakui dan menyadari masalahnya. Kalau pelaku tidak sadar dan tidak mengakui bahwa dia kecanduan, pasti sulit sekali untuk dipulihkan karena merasa tidak ada masalah.
- Berani terbuka kepada orang tua, guru, konselor, mentor rohani.
- Menjauh dari pemicu dengan membatasi akses ke perangkat/gadget.
- Melakukan terapi dengan konselor profesional.
- Mencari aktivitas pengganti yang positif misal: olahraga, menyalurkan hobi melukis, main musik dll.
- Pemulihan secara spiritual misal: berdoa, minta dukungan rekan-rekan di gereja, join pada komunitas rohani yang menolongnya melawan godaan dan kecanduan pornografi.
- Dibutuhkan kesediaan untuk mau berubah dan bila perlu mengganti komunitas yang mendukungnya berubah.
Jangan meremehkan masalah kecanduan pornografi (misal: masturbasi) dengan alasan kalau sudah dewasa tidak apa-apa padahal akan makin sulit kembali normal. Gereja juga perlu membangun komunikasi terbuka, berempati kepada pelaku, memberikan edukasi seksual yang sehat berdasarkan iman dan nilai moral yang berlaku.
- Hindari sikap menghukum dan mempermalukan.
Bagaimana sekolah dan gereja menciptakan lingkungan mendukung remaja kecanduan pornografi yang dalam pergumulan bukan sekadar memberikan seminar bahayanya pornografi? Para pendidik dan hamba Tuhan perlu sadar terlebih dahulu bagaimana memperlakukan anak remaja dengan beda konsep dan doktrin tetapi memberikan kebenaran dengan bijak serta memberikan kebijakan dalam kebenaran. Diperlukan komunikasi terbuka, empati dan edukasi yang baik tanpa menghakimi.
Studi kasus: seorang remaja ketahuan kecanduan pornografi dan ketika ditelusuri dia kecanduan sejak kecil. Di usia remaja, tanda-tandanya makin meledak, dia menjadi pelaku tindakan kekerasan seksual kepada orang lain seperti:mengintip anak remaja lain, menyentuh diam-diam, merekam tanpa izin dll. bagaimana menangani kasus seperti ini?
Jawaban: Ini merupakan kasus yang menyedihkan dan perlu penanganan serius melibatkan multidisiplin sebab ada kelalaian yang diabaikan dari kecil di mana si anak mempunyai kecanduan dan orang tua tidak hadir saat itu. Dia sudah terjebak dalam pornografi dan menutup diri namun sayang penanganannya agak terlambat tetapi tetap harus dilakukan safety first dengan segera menghentikan perilaku berisiko itu. Harus diutamakan keselamatan lingkungan dan korban lebih dahulu kalau sudah ada tindakan kekerasan seksual. Kemudian perlu pendekatan rehabilitatif dalam upaya pemulihan juga edukasi, bimbingan dan konseling. Namun kalau si pelaku kekerasan seksual sudah dewasa, harus ada pendekatan hukum karena dia ibarat produk yang sudah terbentuk dan membahayakan orang lain. Si pelaku tetap perlu terapi intens untuk mengetahui apa penyebabnya: mungkin trauma masa kecil di mana dia mengalami pelecehan seksual, atau dia mempunyai impulsive disorder sehingga tidak mampu mengontrol impuls/dorongan yang kuat. Singkatnya, terapi perlu dilakukan meliputi: pendekatan edukasi, klinis, rehabilitatif, hukum, psikologis bahkan pendekatan rohani. Sekolah membuat kurikulum tentang pendidikan seksual yang sehat, pembentukan karakter, literasi digital, etika, membangun sistem konseling yang aman dan tepercaya, mengadakan seminar dan pelatihan tentang pengawasan digital karena banyak orang tua ketinggalan zaman. Gereja melakukan pembimbingan dan membuka kesempatan agar si pelaku bertobat dan mengalami pengampunan sebab gereja didesain untuk menolong orang berdosa.
Perlu dikelatahui, sebelum menjadi pelaku kekerasan seksual biasanya dia adalah korban lebih dahulu sebelumnya. Kita perlu memahami asal mula pelaku melakukan tindakan kekerasan untuk proses pemulihan secara menyeluruh yang dikerjakan dengan kerja sama banyak institusi.
Harus diakui diperlukan waktu, kesabaran dan hati penuh kasih dalam menangani proses pemulihan tetapi bersama Tuhan dan penanganan yang benar masalah ini dapat diselesaikan dan ada jalan keluarnya. Bagi mereka yang mengalami kecanduan pornografi dan seksualitas, kecanduan bukanlah identitas kalian sebab Tuhan tidak pernah memberikan karakter semacam ini. Ini adalah luka yang dapat disembuhkan. Tuhan melihat hati yang mau berubah; jadi jangan mudah menyerah walau jatuh bangun menjalani proses pemulihan sebab kalian tidak sendirian untuk mengalami hidup baru. Tuhan kita setia dan adil, Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan bila kita mau mngakui dosa kita (1 Yoh. 1:9).