• DI TEPI SUMUR
  • Vida Simon

Hari panas terik. Saat itu kira-kira pukul 12 tengah hari.

Yesus duduk di tepi sumur Yakub di Sikhar dengan tubuh letih, lapar dan dahaga. Tampaknya Ia sedang menunggu seseorang ….. menunggu siapa?

Di Yudea, Yesus baru saja membaptis banyak orang (lebih banyak daripada Yohanes Pembaptis) walau yang membaptis ialah murid-murid-Nya. Hal itu menimbulkan pergunjingan dan untuk menghindari perselisihan dengan orang Farisi mengenai baptisan Ia memutuskan untuk kembali ke Galilea.

Di antara Yudea (Selatan) dan Galilea (Utara), terletak daerah Samaria. Orang Yahudi tidak menyukai jalur ini dan lebih memilih jalan lain walau harus memutar lebih jauh karena mereka tidak menyukai orang Samaria. Orang Yahudi memandang rendah Samaria karena menganggap mereka bukan Yahudi asli tetapi hasil kawin campur dengan bangsa lain (penduduk setempat) yang menyembah berhala. Lagipula mereka mempunyai pandangan berbeda. Orang Yahudi menganggap Yerusalem adalah tempat yang benar untuk menyembah Allah sedangkan orang Samaria mengatakan tempat penyembahan yang benar berada di gunung Gerizim. Kedua bangsa ini saling membenci.

Yesus, orang Yahudi, tidak mengatakan kepada siapa pun mengapa Ia memilih melewati Samaria. Setelah peristiwa ini, Yohanes mengerti dan menulis, “Ia pun meninggalkan Yudea dan kembali ke Galilea. Namun (but) Ia harus melintasi daerah Samaria.” (Yoh. 4:3-4) Kata “Namun” menunjukkan jalur itu tidak lazim dilakukan orang Yahudi dan kata “harus” menunjukkan Yesus mempunyai misi untuk dilakukan di Samaria; oleh karena itu Ia harus melewatinya.

Di situlah Yesus menunggu di tepi sumur Yakub. Ia menunggu seorang perempuan Samaria yang akan datang untuk mengambil air. Ia tahu perempuan ini bukan orang baik tetapi dapat dipakai menjadi alat-Nya untuk melakukan misi-Nya ke dunia yakni membawa kembali domba-domba Israel yang tersesat kepada Bapa dan Samaria termasuk di dalamnya. Dan benar perempuan Samaria ini datang di siang hari.

Sebenarnya tidak lazim orang datang ke sumur untuk mengambil air di siang bolong karena panas yang menyengat. Mereka biasanya datang di pagi hari atau sore hari. Sepertinya perempuan ini menghindar bertemu dengan orang mungkin karena malu. Orang-orang Samaria mengenal perempuan yang berlatar belakang kurang baik ini. Dia telah menikah lima kali dan yang sekarang ada dengannya bukanlah suaminya. Banyak orang mempergunjingkan dia dan menghindar darinya. Namun Yesus bermaksud menemuinya dan Ia menunggu di tepi sumur itu.

Pertemuan di tepi sumur memang menarik. Ternyata ada beberapa pertemuan di tepi sumur yang membuahkan nikah tokoh-tokoh Alkitab antara lain:

  1. Eliezer mencari istri untuk Ishak dan menemukan Rebeka di tepi sumur. Di dekat sumur itu Eliezer berdoa: “TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya aku berhasil hari ini…. Sekarang aku berdiri di dekat mata air,….. kiranya terjadi begini: anak gadis yang kusapa dengan kata-kata untuk minta minum kemudian memberiku minum beserta dengan unta-untaku…. maka dialah yang Kautentukan menjad istri tuanku Ishak…” Terjadi tepat seperti yang dia minta, Ribkah memberi Eliezer minum beserta unta-untanya (Kej. 24:13-21).
  2. Yakub bertemu Rahel, istri kesayangannya, juga di tepi sumur. Rahel membawa kawanan domba ayahnya untuk digembalakan. Ketika Yakub melihatnya, ia menggulingkan batu penutup sumur dan memberi minum kambing domba Rahel (Kej. 29-9-10). Di kemudian hari Rahel dinikahinya melalui perjuangan berat.
  3. Pertemuan Musa dan Zipora juga terjadi di tepi sumur. Zipora bersama enam saudara Perempuannya pergi ke sumur untuk memberi minum ternak mereka namun dihalang-halangi oleh kelompok gembala-gembala lain. Musa datang menolong mereka dan memberi minum kawanan domba mereka.

Kisah kasih mereka semua diawali dengan perjumpaan di tepi sumur. Sumur digali untuk mendapatkan mata air dari dalam tanah untuk kebutuhan air dalam keseharian hidup. Di sana orang menimba air untuk memuaskan dahaga, membersihkan diri juga mengambil air untuk orang lain.

Yesus berada di tepi sumur untuk menemui perempuan Samaria untuk menyelamatkan dan mencintainya. Seorang hamba Tuhan mengulas perikop ini dengan judul “The Bridegroom at the Well” (Mempelai Pria di tepi Sumur). Sumur merupakan tempat memberi dan diberi air.

Yesus membuka percakapan-Nya, “Berilah Aku minum.” Tentu perempuan ini terkejut. Yesus, orang Yahudi, mau berbicara dengannya, orang Samaria. Perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria menembus batas sosial, rasial dan moral. Namun misi Yesus untuk memberikan keselamatan bukan hanya untuk sebagian orang tetapi untuk semua orang.

“Aku telah tertemu Mesias…Aku telah bertemu Dia….Mereka harus tahu itu….. mereka harus tahu itu!’ gumamnya di sepanjang perjalanan. Dia tidak lagi malu akan masa lalunya dan tidak peduli apa kata orang tentang dirinya. Dia harus memberitahukan perjumpaannya dengan sang Mesias. Dengan terengah-engah dan tubuh gemetar dia berkata, “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah aku perbuat….. mungkinkah Dia itu Mesias?” Perempuan itu telah diubahkan! Masa

Perempuan ini kemudian memberi Yesus minum dari air sumur di bejana yang dibawanya. Yesus kemudian menawarkan dia “air hidup” yang membuatnya tidak haus lagi untuk selama-lamanya (ay. 10). Yesus juga menjelaskan bahwa air hidup itu tidak seperti air yang baru diberikan kepada-Nya yang hanya memberi kepuasan sementara. Karena menginginkan air itu, dia meminta kepada Yesus, “Tuan, berikanlah aku air itu supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”

Perempuan ini berhadapan dengan Yesus yang dapat memberinya air hidup itulah kebahagiaan sejati dan keselamatan jiwa yang dibutuhkannya. Suatu kebahagiaan yang tidak seperti ditawarkan dunia dan hanya Yesus yang dapat memberinya.

Yesus membimbing proses penyelamatan melalui pengakuan perempuan ini tentang kegagalan hidupnya – pencarian kepuasan bukan kepada Tuhan tetapi kepada hal-hal duniawi bersifat sementara. Matanya terbuka, hatinya berdebar lebih keras lagi ketika Yesus mengatakan, “Engkau sudah mempunyai lima suami dan yang sekarang ada padamu bukanlah suamimu.” Kata hatinya, “Ia mengetahui semua yang kulakukan, tentu Ia seorang nabi.”

Percakapan mereka tambah mendalam lagi. Ketika perempuan ini berasumsi Yesus adalah seorang nabi, Yesus menjelaskan bahwa penyembahan yang benar tidak tergantung pada tempat atau waktu tetapi pada siapa yang disembah dan cara penyembahan yang benar ialah disertai roh dan kebenaran.

Perempuan ini kemudian merespons pernyataan Yesus tentang “siapa yang disembah” dengan menyebutkan, “Aku tahu bahwa Mesias akan datang yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.”

Semua orang Yahudi mengetahui nubuatan para nabi akan datangnya Mesias – seorang Pemimpin, dari yang Mahatinggi, keturunan Daud yang diurapi, yang akan memulihkan kerajaan Israel – dan semua orang Yahudi sangat menantikan kedatangan-Nya. Tiba-tiba saja Yesus berkata, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.” Seketika itu hati perempuan ini bergemuruh dengan dahsyat. Ada sesuatu yang meledak bagaikan mata air yang memancar keras dari dalam dirinya! Seperti hampir pecah dadanya…..dia tak tahan lagi…dan segera meninggalkan bejananya lalu bergegas menuju orang-orang di kotanya.

“Aku telah tertemu Mesias…Aku telah bertemu Dia….Mereka harus tahu itu….. mereka harus tahu itu!’ gumamnya di sepanjang perjalanan. Dia tidak lagi malu akan masa lalunya dan tidak peduli apa kata orang tentang dirinya. Dia harus memberi-tahukan perjumpaannya dengan sang Mesias. Dengan terengah-engah dan tubuh gemetar dia berkata, “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah aku perbuat….. mungkinkah Dia itu Mesias?” Perempuan itu telah diubahkan! Masa lalunya yang buruk dan memalukan kini menjadi kesaksian yang menakjubkan bagi banyak orang. Kesaksian itu kemudian menarik banyak orang untuk menjumpai Yesus. Yesus telah membuat perempuan Samaria menjadi penginjil pertama bagi orang Samaria dan membuat mereka percaya.

Ketika perempuan itu pergi, murid-murid Yesus menawarkan makanan yang dibelinya untuk Yesus yang tadinya lapar, tetapi Yesus mengatakan, “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal...Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (ay. 32, 34). Ia mau menunjukkan kepada para murid-Nya bahwa merupakan kepuasan besar bagi orang yang menaburkan air hidup kepada mereka yang membutuhkan untuk menyelamatkannya.

Bejana sering dihubungkan dengan kehidupan seseorang, termasuk kita. Tak jarang kita berusaha mengisi kehidupan ini dengan hal-hal jasmani yang kita kira dapat memuaskan dahaga hati dan memberikan kebahagiaan. Namun kita sering pula tertipu dan kecewa. Uang, makanan lezat, pakaian bagus, rumah mewah ternyata tidak dapat mengisi dahaga jiwa kita. Mereka semua hanyalah kesenangan sementara. Perempuan Samaria meyakini kebahagiaan adalah kalau dicintai dan mencintai pria. Berulang kali dia berusaha tetapi gagal. Ia masih berusaha walau bukan dengan suami sendiri. Seperti saat dia memberikan bejana berisi air dengan kepuasan sementara, dia menyerahkan hidupnya yang penuh kegagalan kepada Yesus dan Yesus menggantinya dengan kebahagiaan sejati.

Bejana kosong ditinggalkan tergeletak begitu saja di dekat sumur sepertinya perempuan ini tidak memerlukannya lagi karena air hidup melimpahi hati dan memuaskan jiwanya. Kini dia merasakan bahwa perkenalan dengan Sang Mesias telah mengubah hidupnya. Inilah kepuasan sejati bagaikan mendapatkan mata air yang tiada henti-hentinya memancar dalam dirinya.

Yesus, Sang Mempelai Surga, sedang menunggu kita di “tepi sumur”. Ia menunggu kita menyerahkan hidup kita dengan semua kegagalan kita untuk menggantinya dengan air hidup dan menjadikan kita pancaran air hidup untuk dipancarkan kepada orang lain. Ia ingin memberi kepuasan yang kekal dalam jiwa kita dan kita menjadi pancaran air bagi orang lain. Ini memuaskan dan mengenyangkan hati-Nya.

Yohanes 7:38-39 mengatakan bahwa aliran-aliran air hidup yang diberikan kepada mereka yang percaya kepada Yesus adalah Roh Kudus. Karena itu dambakan Roh Kudus meluapi hati kita.

---

Penuhi skarang Tuhan, Penuhilah hidupku,
Hatiku bagai tanah gersang,
Merindukan jamahan Roh Suci,
Hidupku bagai bejana,
Kubawa ke sungai-Mu Tuhan,
Inginku teguk kesejukan,
Air hidup-Mu Tuhan
Penuhi aku sekarang, penuhi hidupku,
Hanya Engkau yang kurindu,
Jamahlah hidupku Tuhan.

---

Selamat Hari Pentakosta!