• CITRA DIRI DAN BUAH ROH
  • Toetik Kusbardiati

Seorang ahli sosiologi bernama Erving Goffman mengamati pola-pola interaksi masyarakat hingga menelurkan sebuah teori, salah satunya disebut dramaturgi. Disebut dramaturgi karena Goffman melihat kehidupan seperti sebuah pertunjukan (drama) yang dibentuk oleh lingkungan dan penonton, dibangun untuk memberikan “kesan“ sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh aktor. Dramaturgi menjelaskan bagaimana masyarakat memaksa orang untuk menghadirkan citra diri tertentu. Citra diri (peran) ini pun bermacam-macam sesuai lokus (tempat) sehingga peran menjadi rumit juga membuat kita kurang jujur, tidak konsisten bahkan mungkin tidak terhormat. Layaknya sebuah pertunjukan, ada panggung depan dan ada panggung belakang. Panggung depan (front) bertindak sebagai wahana standarisasi yang memungkinkan orang lain memahami individu berdasarkan sifat-sifat karakter yang diproyeksikan yang memiliki makna normatif. Sebagai "representasi kolektif," front menetapkan "latar," "penampilan," dan "cara" yang tepat untuk peran sosial yang diasumsikan oleh aktor.

Secara sederhana, pemikiran Goffman ini banyak kali “diplesetkan“ menjadi standar penilaian terhadap seseorang yang memiliki karakter berlawanan, sebutan kasarnya adalah muna (fik) sehingga muncul sebutan “jangan menilai buku dari sampulnya”. Sebutan ini tidak lain diberikan kepada orang-orang yang menampilkan diri sebatas citra diri terkait penilaian orang lain, misal: supaya dianggap baik, rendah hati, sabar, penuh kasih, kaya, dan nilai-nilai lain yang menunjukkan kebaikan normatif sesuai harapan dan standar masyarakat. Namun dibalik “sampul buku” (panggung belakang) ini sesungguhnya penuh rasa iri, marah, tidak suka, kecewa, kekurangan, dan akhirnya berkoalisi dengan teman “senasib” yang sama tidak suka dengan si A, B dan sebagainya lalu menjadikan seseorang sebagai musuh bersama. Kalau dipikirkan memang manusiawi jika orang memiliki panggung depan dan panggung belakang atau citra diri dan karakter aslinya. Strategi, citra diri, topeng apa pun namanya yang digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain adalah normal. Bayangkan jika saya berhadapan dengan presiden lalu saya menampilkan diri saya sebagai orang dengan budaya Surabaya yang ceplas ceplos, tentu presiden akan heran. Tentu saya harus mengikuti tata aturan istana presiden. Karena memang ada tata krama interaksi yang harus diperhatikan. Dalam hal ini saya akan menjadi individu dengan menampilkan citra diri yang baik sesuai standar norma istana. Berlawanan dengan panggung belakang saya yang ceplas ceplos model Surabaya. Artinya, panggung depan tidak selalu salah karena kita sedang berhadapan dengan lingkungan luar yang disebut norma, aturan, nilai yang berbeda dari satu tempat ke tempat lain, dari situasi satu ke situasi yang lain, yang mana kita harus beradaptasi dalam berinteraksi.

Bagaimana norma kita di hadapan Tuhan (di gereja dan di mana saja lingkungan kita berada)? Saya setuju bahwa kita tidak memiliki panggung depan dan panggung belakang saat ada pertemuan dengan Tuhan. Mengapa? Karena kita tidak dapat menutupi diri kita di hadapan Tuhan. Karena jelas-jelas Tuhan menyertai kita dengan Roh-Nya dan seharusnya ada buah Roh yang membangun karakter Ilahi kita yang menjadi norma dan nilai kita sehingga baik panggung depan mau pun belakang tidak perlu berganti peran, tidak perlu bertopeng dan membangun citra diri demi dilihat baik. Mengapa? Karena secara terbuka kita sudah menampakkan buah roh yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Jika direnungkan maka buah Roh bekerja secara linier berujung pada penguasaan diri. Jadi apakah kita perlu topeng untuk membangun citra diri jika buah Roh sudah menjadi karakter kita?