Kekudusan Berbuahkan Damai Sejahtera

Pdm. Markus Budi Raharjo , Minggu, Johor, 21 Januari 2018

Shalom,

Firman Tuhan telah membekali kita menjalani tahun 2018 dengan mengupas Surat Efesus sebagai salah satu surat Rasul Paulus.

Surat Efesus dalam pengajaran Tabernakel terkait dengan Meja Roti Sajian yang terletak di dalam Tempat Kudus di sisi utara di depan tabir berhadapan dengan Kandil Emas (Kel. 26:35). Di atas Meja Roti Sajian diletakkan dua susun roti, 6 roti bundar sesusun dan di atasnya dibubuhkan kemenyan tulen yang menjadi bagian ingat-ingatan atau kurban api-apian bagi Tuhan (Im. 24:6-7). Roti harus selalu ada di atas meja saat berada di Tempat Kudus maupun saat diangkut berjalan menuju daerah baru (Bil. 4:7).

Yesus – roti kehidupan (Yoh. 6:35) – harus tetap ada di atas meja hati kita di mana pun kita berada (di dalam maupun di luar gereja). Meja Roti Sajian merupakan persekutuan dengan Yesus, Anak Allah, melalui pengajaran Firman-Nya juga persekutuan antarsesama Tubuh Kristus yang sering kita nikmati dalam Perjamuan Tuhan (1 Kor. 10:16b-17). Dengan demikian, kita yang dipenuhi Firman Tuhan harus siap menolong orang-orang di sekitar kita agar mereka dikuatkan dalam iman untuk sanggup menghadapi segala persoalan.

Semakin kudus hati kita, semakin Roti hidup (Firman Allah) dinyatakan dalam hidup kita dan semakin kita dapat bersekutu dengan yang lain sebab antara yang kudus dan yang cemar nanti akan terpisah (Why. 22:11). Tuhan menghendaki kita kudus sebab Ia kudus (Im. 19:2b; 1 Ptr. 1:16). Bukankah Surat Efesus yang ditulis oleh Rasul Paulus dikhususkan kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus disertai janji besar dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus (Ef. 1:1-2)?

Jelas, Surat Efesus tidak ditujukan kepada semua orang tetapi hanya kepada orang-orang kudus (diulang sembilan kali untuk menunjukkan pentingnya kekudusan). Sering seseorang tidak berani menyatakan dirinya kudus namun jemaat di Yerusalem dikatakan oleh Ananias sebagai orang-orang kudus (Kis. 9:13).

Kudus (Hagios: Yunani) mempunyai beberapa arti antara lain: terpisah dari lingkungan yang mengikat, layak/terhormat, memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan, memiliki perbedaan yang jelas dengan yang lain, sebagai sarana untuk dipersembahkan kepada Tuhan, sesuatu yang tidak bercela.

Mengapa kita harus kudus?

  • Kekudusan itu kehendak Allah (1 Tes. 4:3; Im. 19:2).
  • Tanpa kekudusan tak seorang pun dapat memandang Allah (Mat. 5:8).
  • Tempat kudus merupakan sarana Allah berdiam (Kel. 25:8).
  • Kehidupan yang tidak kudus tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (Why. 22:15).
  • Kekudusan merupakan tujuan akhir gereja Tuhan (Ef. 5:27).
  • Kekudusan harus dimiliki orang muda sebagai teladan (1 Tim. 4:12).

Harus diakui tidak ada seorang pun dapat menjadi kudus dengan kemampuan diri sendiri sebab sejak manusia jatuh dalam dosa, dia sudah terpisah dari Allah dan dosa makin bertambah-tambah mencapai puncaknya (Why. 22:11). Dua golongan yaitu: yang jahat/cemar dan yang benar/kudus akan melembaga dan mencapai puncaknya. Yang cemar mengarah kepada perempuan Babel (Why. 17:4-5) untuk masuk dalam penghukuman kekal (Why. 18:21) sedangkan yang kudus akan menjadi Mempelai Perempuan Tuhan yang sempurna (Why. 19:7-8).

Sarana apa yang Tuhan sediakan untuk menguduskan gereja-Nya?

v Firman Tuhan.

“Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah Kukatakan kepada-mu.” (Yoh. 15:3) Firman Tuhan sanggup mengubah sifat dan tabiat manusia yang tidak baik sebab Firman Tuhan adalah pribadi Allah sendiri. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesa-lahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16). Dan seorang muda dapat mempertahankan kelakuannya yang bersih dengan menjaganya sesuai dengan Firman Tuhan (Mzm. 119:9).

v Darah Kristus.

Sebab oleh satu kurban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan (Ibr. 10:14). Di era Perjanjian Lama, mereka yang mau melayani di dalam Kemah Suci harus terlebih dahulu mempersembahkan tiga macam kurban: lembu jantan sebagai kurban penghapus dosa, domba jantan pertama sebagai kurban api-apian/penyerahan dan domba jantan kedua sebagai kurban tahbisan (Kel. 29:14,18,22) namun di Perjanjian Baru ketiga macam kurban tersebut sudah digenapi di dalam kurban Kristus.

v Pengharapan akan kedatangan-Nya.

Langit dan bumi akan hancur dan lenyap; untuk itu kita harus hidup suci dan saleh dalam menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah (2 Ptr. 3:11-12). Seorang yang hidup dalam terang dan selalu dikuduskan akan berjaga jaga dalam menantikan kedatangan Tuhan sehingga kedatangan-Nya bukan sebagai pencuri seperti dialami oleh lima gadis bijaksana (Mat. 25:4).

v Hajaran.

Ayah jasmani mendidik kita dalam waktu pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik tetapi Allah menghajar kita demi kebaikan kita supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:10). Ini merupakan cara Tuhan terakhir bagi anak-anak-Nya jika cara yang manis tidak lagi mempan sebagai bukti Ia mengasihi mereka untuk dapat diakui sebagai anak-Nya.

Apa yang Tuhan Yesus Kristus janjikan kepada kita? Damai sejahtera (Ef. 1:9).

Damai sejahtera mempunyai arti:

“syalom” → selamat, sejahtera rohani dan jasmani, tubuh sehat, rumah tangga bahagia, tenteram, persahabatan.  

“Eirene” → kesatuan, keharmonisan.

Damai sejahtera sangat dibutuhkan oleh manusia tetapi tidak dapat dibeli atau diperoleh dengan pelbagai macam cara sebab bersumber hanya dari Tuhan (Yoh. 14:27). Manusia kehilangan damai sejahtera oleh sebab dosa sehingga terpisah bahkan bermusuhan dengan Allah tetapi melalui pengurbanan Putra tunggal-Nya yang mati disalib manusia diperdamaikan kembali dengan Allah.

Bila kita ingin damai sejahtera, kita harus datang kepada Allah, Sumber sejahtera (Rm. 15:33) dan Raja damai itulah Tuhan Yesus Kristus (Yes. 9:5) serta dipenuhi Roh Kudus sebab damai sejahtera merupakan salah satu buah Roh Kudus (Gal. 5:22). Contoh: saat Paulus di dalam penjara dan terbelenggu, dia dapat menyanyikan puji-pujian kepada Allah karena hatinya penuh dengan damai sejahtera (Kis. 16:25).

Hendaknya kita hidup dalam kekudusan dan bersedia dikuduskan terus menerus melalui sarana yang Tuhan sediakan sehingga kita dapat menyatu dengan Dia dan dengan sesama untuk mengalami janji damai sejahtera bersama Dia selamanya. Amin.