• Mawas Diri Sebagai Orang Kristen
  • 1 Korintus 6:9-11a
  • Lemah Putro
  • 2026-08-16
  • Pdt. Setio Dharma
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
mawas diri sebagai orang Kristen

Shalom,

Perlu diketahui Korintus termasuk kota metropolis, pusat perdagangan dan simpang lalu lintas laut internasional. Memang kota ini megah tetapi juga penuh pestapora seks dan penyembahan berhala di sana. Bahkan ada kuil Aphrodite (dewi cinta) yang berdiri megah di atas bukit Acrocorinth di mana ada ± 1.000 pendeta perempuan berstatuskan pelacur bakti. Hubungan seks dilakukan bersamaan dengan penyembahan berhala di kuil tersebut. 

Bagaimana dengan kondisi jemaat Korintus? Ternyata mereka juga terpapar dengan budaya amoral masyarakat setempat. Terjadi pembiaran terhadap percabulan (1 Kor. 5:1) sehingga Rasul Paulus menegur keras supaya terjadi pemulihan bahkan dilakukan ekskomunikasi/pengucilan dengan tujuan mereka bertobat. Teguran dimulai dengan bertemu empat mata – didampingi dengan saksi – dengan jemaat; kalau tidak kunjung bertobat, dilakukan ekskomunikasi/pengucilan dengan tujuan orang itu kembali (Mat. 18:15-17).

Sebagai orang Kristen, kita harus mawas diri terhadap apa? PDP yakni:

  •  Pengajaran yang salah. 

Frasa “atau tidak tahukah kamu..?” diulang enam kali (ay. 2, 3, 9, 15, 16, 19) merupakan teguran Paulus terhadap jemaat Korintus agar mereka ingat bahwa ini bukan masalah baru – mereka tahu persoalannya tetapi tidak melakukannya. Buktinya? Beberapa orang di antara mereka memang demikian dahulunya.

Masalah apa yang bukan baru bagi jemaat Korintus? Mereka membawa perselisihan kepada orang yang tidak benar (bhs. Yun. adikos = unjust, unrighteous  = tidak adil, tidak benar). Jadi, orang yang tidak adil = orang yang tidak benar (ay. 1). 

Apa yang menjadi sorotan dari Rasul Paulus? Jemaat memperlakukan dosa sebagai life style/gaya hidup bukan sekadar dosa zina seperti yang dilakukan oleh Raja Daud. Memang keselamatan adalah kasih karunia/pemberian Allah oleh iman bukan hasil usaha kita (Ef. 2:8) tetapi harus ada perubahan hidup sebagai hasil dari buah pertobatan (Mat. 3:8). 

Sungguh kita harus mawas diri terhadap pengajaran supaya tidak terus menerus membiarkan diri disesatkan karena adanya pengajaran Gnostik yang memisahkan roh dan tubuh (fisik). Ajaran ini mengatakan roh itu baik nan suci sementara tubuh ini fana, jahat dan berdosa. Tubuh boleh “jibar-jibur” dalam percabulan karena percaya roh tidak ada hubungannya dengan tubuh. Singkatnya, tubuh yang fana dan berdosa pasti mati tetapi roh yang baik masuk Surga. Namun Rasul Paulus menolak ajaran yang menyesatkan ini. Dengan tegas dia mengatakan, “Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan melainkan untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuh.” (ay. 13b) 

Perhatikan, penyesatan tidak terjadi secara instan tetapi bertahap melalui proses. Misal: orang yang rajin pelayanan di dalam gereja tidak mungkin dalam sekejap menjadi penganut gereja setan. Juga koruptor kelas kakap diawali dengan mencuri kecil-kecilan lebih dahulu. Penyesatan terjadi melalui penyusupan pelan-pelan di medsos (YouTube, IG, film dll.).  

Aplikasi: hendaknya kita mawas diri untuk tidak bersentuhan dengan ajaran-ajaran yang tampak bagus nan menarik tetapi tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Jangan terjerumus ke dalam pengajaran sesat (bukan hal baru) yang berakhir dengan kebinasaan!

  •  Dosa (ay. 9-10).

Dosa apa saja yang menjadi pola hidup orang Korintus yang tidak mengenal Allah juga beberapa jemaat dahulu melakukannya? 

Dosa seksual: orang cabul, penyembah berhala, pezina, laki-laki yang ditiduri serta laki-laki yang melakukannya

Dosa harta benda: pencuri, orang kikir/tamak dan penipu (yang merampas hak orang)

Dosa perkataan dan sikap hidup: pemabuk dan pemfitnah. 

Pertanyaan: apakah orang Kristen yang pernah berbuat 10 macam dosa ini pasti akan masuk neraka? Tidak asalkan dia bertobat! Masalahnya, Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus yang sudah mendapatkan anugerah tetapi tetap melakukan dosa yang sama tanpa penyesalan atau pertobatan atau perubahan. Ini membuktikan bahwa mereka belum lahir baru walau sudah dibaptis. Mereka sebenarnya tidak pernah mengalami pembenaran dari Yesus Kristus dan tidak pernah mengalami pengampunan. Ingat, kita selamat oleh iman dan darah Yesus tetapi keselamatan menuntut perubahan hidup. Jangan mengikuti pengajaran sesat yang percaya bahwa yang penting hanyalah roh sementara tubuh (bungkus luarnya) tidak. Kalau ajarannya sudah sesat/salah, hidupnya juga sesat/salah. Jangan percabulan dibungkus dengan pemikiran sebagai kebebasan berekspresi! Tamak/kikir dibungkus dengan rajin bekerja padahal sebenarnya tidak pernah puas akan harta! Belajarlah hidup mencukupkan diri dalam segala keadaan (Flp. 4:11), cukup untuk sandang, papan dan pangan! Orang yang kikir nan tamak tidak selalu berkaitan langsung dengan orang kaya atau orang  miskin. Ada orang kaya yang selalu merasa tidak puas dengan harta bendanya namun ada pula orang sederhana yang dapat menikmati kondisi apa adanya karena dia sudah selesai dengan dirinya.   

Tahukah dari 10 macam dosa yang disebutkan ada 2 yang “dilegalkan” yakni kikir/tamak dan pemfitnah? Kenyataannya, orang kikir, tamak dan pemfitnah ada banyak di gereja dan dianggap legal tidak bermasalah. Pemfitnah bisa baik-baik di depan kita tetapi perkataannya yang dimuat di medsos menusuk di belakang kita. Waspada, lidah adalah api yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka (Yak. 3:6). Sesungguhnya, dosa apa pun, besar kecil bentuknya, tetap menghalangi seseorang untuk mendapatkan bagian dalam Kerajaan Allah. Kasih karunia Allah bukan “SIM” yang mengizinkan kita untuk terus-menerus berbuat dosa (Rm. 6:1-2). 

Aplikasi: hendaknya kita mawas diri terhadap dosa. Periksa apa ada dosa tersembunyi untuk diakui di hadapan Tuhan dan mohon ampun kepada-Nya. Jangan sibuk memplototi dosa orang lain untuk kemudian digembar-gemborkan di publik! Jangan pula suka membanding-bandingkan dosa diri sendiri dengan dosa orang lain! 

  •  Persekutuan. Apa yang harus kita awasi dalam persekutuan? Ketika terjadi perselisihan intern di antara jemaat      (orang Kristen), dua pihak kemudian saling menggugat dan membawa perkara ini ke pengadilan (hakim) dunia. Tindakan seperti ini membuktikan mereka gagal untuk mawas diri karena mencoreng kesaksian gereja/pengikut Kristus sebab dunia akan menilai masalah gereja tidak dapat diselesaikan sendiri lalu meminta bantuan kepada orang non-Kristen yang tidak percaya Yesus. Mereka akan berpikir Yesus memang bukan Tuhan yang berkuasa memberikan solusi. Bukankah ini berarti Kristus dihujat oleh pengikut-Nya sendiri? Apalagi jika pengadilan dunia tidak melakukan proses pengadilan seperti dianjurkan oleh Yesus (Mat. 18:15-17), ini sama dengan kita sedang mengabaikan martabat seorang ahli waris kerajaan Allah karena kita sama-sama penerima anugerah Tuhan. 

Jadi, kalau ada perselisihan antar jemaat, jangan cepat-cepat mencari pengadilan dunia. Kita selesaikan seperti nasihat Rasul Paulus, yakni: rela menderita ketidakadilan dan kerugian (ay. 7) demi menjaga kesatuan Tubuh Kristus (ay. 8-10) karena kita bersaudara (bhs. Yun. adelphos = born of the same parents = dilahirkan dari rahim yang sama).

Siapa yang tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Kita yang menyakiti saudara sendiri di pengadilan sebenarnya melakukan ketidakadilan di mata Allah. Contoh: pendeta (besar sekalipun) menggugat sesama pendeta berurusan dengan masalah gereja lalu dibawa ke pengadilan, dia tidak lebih baik daripada orang cabul, orang kikir dst. Ingat, pengadilan tidak berhenti di ruang fisik tetapi menyebar ke medsos di era serba digital saat ini. Bukankah orang dunia memakai moto “no viral, no justice”? Bukankah ini sama dengan mempermalukan saudara seiman ke ranah publik? 

Introspeksi: sudahkah sikap dan tindakan kita mempermuliakan Tuhan? Bukankah waktu kita bertengkar dengan adik untuk masih sepele, ayah/ibu menyuruh kita mengalah karena adik masih kecil dan belum mengerti duduk perkaranya. Beranjak dewasa dalam pergaulan, kita sering mendengar “sing waras ngalah” untuk tidak memperuncing perselisihan. Sebenarnya Alkitab telah mengingatkan agar orang yang rohani memimpin mereka yang melakukan pelanggaran ke jalan yang benar dengan roh lemah lembut (Gal. 6:1). Jadi, walau rugi demi kesatuan tubuh Kristus, kita sudah menang karena melakukan Firman Tuhan. Tuhan mencatat  siapa yang salah/benar di hadapan-Nya. 

Sangatlah wajar saat berkomunikasi maupun bersosialisasi dalam persekutuan timbul perselisihan dan konflik. Namun perlu diperhatikan agar kita mawas diri terhadap Pengajaran sesat yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, Dosa kecil maupun besar yang sama nilainya di hadapan Tuhan dan Persekutuan sehat dengan rela dirugikan (kehilangan reputasi, uang, jabatan, status) demi kesatuan tubuh Kristus sebab kita adalah saudara dan keluarga besar Allah. Dengan demikian Nama Tuhan tetap dipermuliakan. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: