Shalom,
Beberapa minggu terakhir, melalui pembahasan 1 Korintus pasal 5, Firman Tuhan membawa kita merenungkan kekudusan hidup sebagai jemaat-Nya. Mungkin ada di antara kita merasa teguran Firman Tuhan cukup keras dan menyentuh area kehidupan yang tidak nyaman. Namun, marilah kita melihatnya dari sudut pandang hati Tuhan. Semua teguran itu bukanlah tanda bahwa Tuhan menjauh dari gereja-Nya melainkan bukti kasih-Nya. Kristus sedang mempersiapkan gereja-Nya menjadi mempelai yang kudus, mulia, dan tidak bercacat sebagaimana dinyatakan dalam Efesus 5:26-27. Oleh karena itu setiap teguran, koreksi, dan panggilan untuk bertobat hendaknya kita terima sebagai kasih karunia Allah yang sedang membentuk kita agar semakin serupa dengan kehendak-Nya.
Dalam pembahasan sebelumnya kita belajar bahwa gereja tidak boleh menutup mata terhadap dosa. Paulus mengajarkan bahwa jemaat memiliki tanggung jawab untuk "menghakimi" perkara-perkara yang terjadi di dalam gereja bukan dengan tujuan menghukum atau mempermalukan melainkan supaya orang yang jatuh ke dalam dosa dapat dipulihkan. Penghakiman yang benar selalu bertujuan membawa orang kembali kepada Tuhan.
Ketika memasuki pasal 6, muncul pertanyaan yang mungkin juga ada di hati kita: Bukankah Tuhan Yesus berkata, "Jangan kamu menghakimi", tetapi Paulus justru meminta jemaat menghakimi perkara di dalam gereja?
Alkitab menggunakan kata "menghakimi" dalam beberapa pengertian yang berbeda.
- Pertama, kita tidak boleh menghakimi hati dan motivasi seseorang karena hanya Tuhan yang mengetahui isi hati manusia (1 Kor. 4:5).
- Kedua, gereja justru harus berani bertindak terhadap dosa yang sedang terjadi dan dilakukan terus-menerus tanpa pertobatan sebagaimana diajarkan dalam 1 Korintus 5.
- Ketiga, yang menjadi pembahasan dalam 1 Korintus 6 adalah menghakimi perkara, yaitu bagaimana orang percaya menyelesaikan konflik dan perselisihan dengan hikmat Allah.
Karena itu, pasal 6 bukanlah pembahasan yang terpisah dari pasal 5. Jika pada pasal sebelumnya Paulus mengajarkan bahwa gereja harus berani bertindak terhadap dosa demi pemulihan, pada pasal ini ia mengajarkan bahwa setiap tindakan itu harus dilakukan dengan hikmat Allah. Sebab tanpa hikmat, tindakan yang seharusnya membawa pemulihan justru dapat berubah menjadi pertengkaran yang mempermalukan nama Kristus.
Sesungguhnya, persoalan terbesar jemaat Korintus bukanlah adanya konflik. Konflik dapat terjadi di keluarga, di tempat kerja, maupun di gereja, karena gereja terdiri dari orang-orang yang sedang dibentuk oleh Tuhan bukan orang-orang yang sudah sempurna. Yang menjadi perhatian Paulus adalah cara mereka menyelesaikan konflik. Apakah mereka memilih cara dunia, ataukah mereka memilih hikmat Allah?
Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan hikmat. Dalam Alkitab, hikmat bukan sekadar kepandaian menyelesaikan masalah atau kemampuan mengambil keputusan yang cerdas. Hikmat adalah kemampuan melihat suatu persoalan dari sudut pandang Allah, lalu mengambil keputusan yang memuliakan-Nya. Oleh karena itu, orang yang cerdas belum tentu berhikmat, tetapi orang yang berhikmat akan memakai kecerdasannya untuk memuliakan Tuhan.
Bagaimana menyelesaikan perkara dengan hikmat?
- Hikmat Allah selalu mendahulukan kesaksian Kristus
Untuk memahami teguran Paulus, kita perlu mengetahui keadaan kota Korintus. Korintus adalah kota besar yang terkenal dengan budaya hukumnya. Perselisihan sering dibawa ke pengadilan umum. Bahkan, bagi sebagian orang, menggugat orang lain menjadi cara untuk mempertahankan harga diri atau menunjukkan status sosial. Tidak jarang, yang memiliki kekuasaan atau kemampuan finansial lebih besar akan lebih mudah memenangkan perkara
Sayangnya, pola pikir seperti ini ikut memengaruhi jemaat di Korintus. Ketika terjadi perselisihan di antara sesama orang percaya, mereka tidak berusaha menyelesaikannya sebagai keluarga Allah. Sebaliknya, mereka membawa perkara itu ke pengadilan umum di hadapan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Akibatnya, bukan hanya kedua pihak yang dipermalukan, tetapi nama gereja dan nama Kristus juga ikut tercemar.
Paulus tidak sedang mengatakan bahwa semua persoalan hukum tidak boleh dibawa kepada pemerintah. Yang ia tegur adalah sikap jemaat yang lebih memilih cara dunia daripada mencari penyelesaian yang mencerminkan kasih Kristus.
Hal ini juga menjadi peringatan bagi kita pada zaman sekarang. Mungkin kita tidak langsung membawa perkara ke pengadilan, tetapi sering kali kita memilih jalan lain yang sama-sama merusak kesaksian gereja. Perselisihan dibagikan di media sosial, ditulis dalam status, atau diceritakan kepada banyak orang sebelum berusaha berbicara langsung dengan pihak yang bersangkutan. Dalam waktu singkat, persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan secara bijaksana berubah menjadi konsumsi banyak orang.
Sebagai orang percaya, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah cara saya menyelesaikan masalah memuliakan Kristus atau justru mempermalukan Nama-Nya?
Aplikasi: Kita tidak hanya bertanggung jawab atas keputusan yang kita ambil, tetapi juga atas cara kita mengambil keputusan tersebut. Jangan sampai kita berhasil memenangkan perkara tetapi kehilangan kesaksian Kristus. Hikmat Allah selalu mengutamakan kemuliaan Tuhan.
- Hikmat Allah mencari jalan damai
Setelah menegur jemaat karena membawa perkara kepada orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, Paulus kemudian mengajukan tiga pertanyaan yang cukup tajam, yakni:
-
- Tidakkah kamu tahu bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia?
- Tidakkah kamu tahu bahwa kamu akan menghakimi malaikat-malaikat?
- Tidak adakah orang yang bijaksana di antara kamu?
Paulus memakai cara berpikir logis untuk mengingatkan bahwa status jemaat Korintus bukanlah sembarangan; mereka umat Allah dan orang-orang kudus. Mereka nanti dipercaya akan melakukan perkara besar (memerintah bersama Kristus menghakimi dunia), masakan sekarang tidak sanggup menyelesaikan perkara kecil yaitu memperdamaikan dua saudara yang beperkara?
Ironis, gereja Korintus terkenal hebat karena banyak karunia, pembicara dan jemaat pandai berbicara dan senang membicarakan hikmat tetapi tidak mampu memperdamaikan dua saudara yang bertengkar. Ternyata ukuran hikmat menurut Tuhan sangat berbeda dengan ukuran dunia. Menurut orang dunia, orang bijaksana adalah mereka yang banyak pengetahuan tetapi Alkitab mengatakan salah satu ciri utama orang berhikmat ialah pembawa damai (Yak. 3:17). Contoh: Yitro, mertua Musa, mengoreksi cara Musa mengelola masalah bukan tentang banyaknya masalah. Musa disuruh memilih orang yang cakap dan takut akan Tuhan untuk menyelesaikan perkara-perkara kecil sementara dia menyelesaikan masalah-masalah besar (Kel. 18:21-22).
Tuhan tidak pernah menjanjikan umat-Nya bebas dari masalah tetapi Ia menghendaki agar konflik diselesaikan oleh orang-orang berhikmat. Harus ada pemimpin-pemimpin rohani yang dewasa rohani yang mampu menjadi pendamai bagi jemaat yang beperkara.
Introspeksi: apa yang akan kita lakukan ketika dua orang dalam jemaat yang sedang bertengkar datang kepada kita? Apakah kita akan langsung membela satu pihak atau berusaha memahami kedua belah pihak? Hikmat Allah mempertimbangkan bagaimana kedua saudara ini dapat dipulihkan bukan untuk dipermalukan atau pelampiasan sentimen pribadi.
Hikmat Allah mengutamakan pemulihan, mencari damai, menjaga martabat supaya Kristus dimuliakan. Sebaliknya, hikmat dunia mencari kemenangan (ingin membalas ketika disakiti/dirugikan), mencari pembela bila perlu membuka aibnya lawan demi kepentingan sendiri.
Jadi, ukuran kedewasaan rohani bukan seberapa banyak pengetahuan kita tentang Firman Tuhan tetapi seberapa mampu kita membawa orang lain kepada perdamaian bukan malah berakhir dengan pertengkaran/permusuhan. Hikmat Allah (dari atas) melahirkan pendamai-pendamai bukan memproduksi kubu-kubu untuk pembenaran diri sendiri.
- Hikmat Allah menyelesaikan perkara dengan cara Tuhan
Paulus tidak melarang penggunaan hukum negara kalau memang diperlukan, sebab pemerintah adalah alat yang dipakai Allah untuk menegakkan keadilan (Rm. 13:1-4). Namun, ketika persoalan terjadi di antara sesama anggota tubuh Kristus, langkah pertama yang harus ditempuh adalah mencari penyelesaian sebagai keluarga Allah.
Yesus memberikan langkah-langkah yang jelas dalam Matius 18:15-17.
-
- Pertama, selesaikan persoalan secara pribadi melalui percakapan yang jujur dan penuh kasih.
- Kedua, jika belum berhasil, libatkan satu atau dua orang yang dewasa rohani untuk membantu mencari jalan damai.
- Ketiga, bila tetap tidak ada penyelesaian, gereja mengambil peran dengan tujuan memulihkan bukan mempermalukan.
Mengapa Tuhan menetapkan langkah-langkah ini? Karena Ia mengenal hati manusia. Semakin banyak orang mengetahui suatu konflik, semakin sulit pihak-pihak yang berselisih untuk merendahkan hati. Gengsi dan keinginan membela diri sering kali membuat persoalan semakin rumit.
Oleh karena itu marilah kita menjadi keluarga Allah yang saling mengobati yang terluka, mengangkat yang jatuh, menarik yang mulai menjauh, serta memulihkan mereka yang retak dan hancur. Gereja dipanggil menjadi tempat pemulihan bukan tempat memperbesar konflik.
Teladan terbesar dalam menyelesaikan perkara adalah Tuhan Yesus sendiri. Di kayu salib Ia memiliki kuasa untuk membalas, tetapi Ia memilih jalan pendamaian. Di sana kita melihat keadilan Allah ditegakkan sekaligus kasih Allah dinyatakan. Oleh karena itu setiap kali menghadapi konflik, marilah kita bertanya: Apakah langkah yang saya ambil mencerminkan hati Kristus?
Kiranya kita menjadi gereja yang tidak hanya memahami Firman Tuhan, tetapi juga mempraktikkannya. Marilah kita membuang segala kepahitan, kemarahan, pertikaian, dan fitnah. Sebaliknya, hendaklah kita saling mengasihi, saling mengampuni, dan saling membangun, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita (Ef. 4:31-32). Dengan demikian Nama Tuhan dimuliakan dan gereja menjadi kesaksian yang hidup bagi dunia. Amin.