• Hidup yang Dikendalikan Oleh Kristus
  • 1 Korintus 6:12-14
  • Lemah Putro
  • 2026-08-30
  • Pdm. Mario Gani
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
hidup-yang-dikendalikan-oleh Kristus

Kalau pergi ke beberapa negara di dunia ini, kita akan menjumpai self-driving taxi, yaitu taksi yang berjalan sendiri tanpa perlu driver. Walau tampak tidak ada pengemudinya, taksi ini tetap dikendalikan oleh sistem yang tidak kasatmata. Demikian pula dengan kehidupan kita, anak-anak Tuhan. Sepertinya kita mengendalikan hidup kita sendiri tetapi sesungguhnya Kristus Yesus yang tidak tampak kasatmata mengendalikan semua tingkah laku dan perbuatan kita. 

Apa saja yang Tuhan kendalikan atas hidup kita? 

  • Kebebasan kita (ay. 12).

“Segala sesuatu halal bagiku tetapi bukan semuanya berguna...”

Kata “halal” artinya: diperbolehkan, sah, diizinkan, bebas untuk dilakukan dan ini menjadi slogan yang dipakai oleh orang-orang Korintus. Perlu diketahui mereka berlatar belakang dari pelbagai agama termasuk agama Yahudi yang sarat dengan peraturan dan larangan ketat supaya hidup suci dan selamat dengan syarat harus melakukan berbagai perbuatan yang sangat mengekang. Dengan menerima Tuhan Yesus, mereka beranggapan bebas tidak perlu lagi mengikuti peraturan dan larangan tersebut (Gal. 5:1-4). Konsep mereka dahulu tentang sunat keliru karena mereka melakukannya dengan tujuan mencapai keselamatan. Namun setelah menerima Kristus, keselamatan sepenuhnya adalah kasih karunia Kristus. Kristus telah memerdekakan dari segala peraturan hukum Taurat tersebut.

Bagaimanapun juga kebebasan di dalam Kristus bukan berarti bebas semaunya sendiri tanpa batas sehingga bebas korupsi, menipu, selingkuh dst. Kebebasan di dalam Kristus adalah kebebasan yang terkendali, bertanggung jawab dan bersyarat. Kita membiarkan Kristus mengendalikan kebebasan kita.

Apa indikator kebebasan yang dikendalikan oleh Kristus? 

-    Kebebasan yang berguna.

Tidak ada seorang pun dapat melarang kita mempunyai HP asal kita membayar lunas. Masalahnya bukan boleh/tidak boleh memakai HP tetapi apakah berguna/tidak untuk berbagai keperluan kita? Dari satu HP yang sama, kita dapat membaca Alkitab atau memakainya untuk belajar, bekerja atau untuk pelayanan. Namun dapat pula kita habiskan berjam-jam tanpa tujuan jelas untuk melihat TikTok, Instagram, YouTube, dll. berakibat kita mengabaikan tanggung jawab kepada Tuhan dan keluarga. Tentu tidak dilarang untuk refreshing mencari hiburan (berlibur, hiking, menyalurkan hobi dll.) setelah sehari-hari stres karena kerja keras tetapi apakah semuanya itu masih dalam koridor berguna atau tidak? 

-   Kebebasan tidak diperhamba. 

Awalnya kita mengendalikan sesuatu yang kita lakukan tetapi lama kelamaan justru kita yang dikendalikan karena tanpa sadar kita kecanduan dan terikat olehnya. Contoh: anak-anak kita yang bermain game akan marah kalau disuruh berhenti bahkan kalau HPnya disita, mereka gelisah tidak tahu mau melakukan kegiatan apa karena mereka sudah terbiasa hidup dalam dunia gadget. 

Sungguh kebiasaan yang memperhamba dapat mengganggu waktu tidur, belajar, kerja dan perhatian kita kepada keluarga. Awalnya hanya coba-coba tetapi kalau sudah diperhamba amat berbahaya sekali. Contoh: merokok, belanja berlebihan untuk flexing pada akhirnya harus pinjol.

Introspeksi: mampukah kita menjaga kebebasan yang diberikan oleh Tuhan? Ingat, kebebasan sejati bukan kemampuan melakukan apa saja yang kita inginkan tetapi juga kemampuan untuk mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang mulai menguasai dan memperhamba kita. Inilah kebebasan yang benar-benar dikendalikan oleh Tuhan.

-  Kebebasan yang membangun (1 Kor. 10:23). 

Kembali bicara tentang penggunaan HP, komentar apa saja yang kita tulis dan upload di medsos (Instagram, TikTok, dll.)? Memang ada hal-hal yang dilarang oleh pemerintah dan dijamin oleh undang-undang seperti hate speech. Namun sering kali kita kebablasan mengekspresikan apa yang ada di benak kita tanpa memikirkan apakah komentar tersebut membangun dan menguatkan iman orang lain? Atau malah mempermalukan, menghancurkan reputasi, memecah keluarga, menimbulkan pertengkaran dll. 

Di sinilah Kristus mengendalikan kebebasan kita agar kita tidak melakukan sesuatu semaunya sendiri.

Introspeksi: apakah kebebasan kita dalam berbicara, berpakaian, berperilaku hanya untuk menyenangkan diri sendiri tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain – membangun atau malah menjadi sandungan bagi orang lain? Ingat, kita bukan tuan atas kebebasan kita tetapi Kristus adalah Pemilik hidup kita dan Tuan atas hidup kita. 

  • Tubuh kita (ay. 13).

“Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan melainkan untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuh.”

Makanan merupakan kebutuhan alamiah bagi perut yang bersifat sementara/fana (dibinasakan Allah). Ketika seseorang meninggal, dia tidak lagi membutuhkan makanan. Celakanya, orang Korintus menyamakan perut dengan tubuh yang bersifat sementara dan akan mati sehingga beranggapan melakukan percabulan karena kebutuhan seks tidaklah bermasalah karena nantinya juga akan berakhir dengan kematian. Analogi ini salah total. Itu sebabnya Paulus mengingatkan bahwa tubuh itu untuk Tuhan bukan untuk percabulan sebab tubuh kita adalah milik-Nya. Ia peduli terhadap tubuh, jiwa dan roh kita karena Ia menebus hidup kita secara utuh. Ia telah membeli kita dan harganya telah lunas dibayar; oleh sebab itu kita harus memuliakan Allah dengan tubuh dan roh kita (1 Kor. 6:20).

Jelas sekarang tubuh ini bukan properti kita melainkan kepunyaan Allah. Kalau begitu bagaimana kita harus memperlakukan tubuh kita? Jangan merawat tubuh untuk memuaskan keinginannya (Rm. 13:14) tetapi membiarkan tubuh ini dikendalikan oleh Tuhan menjadi alat untuk kemuliaan-Nya. Tentu kita boleh menikmati makanan, istirahat, olahraga, seks dalam nikah, rekreasi, dsb. tetapi tetap tempatkan semua itu di bawah kendali Kristus. Ilustrasi: ketika meminjam HP milik teman, apakah kita akan memperlakukan HP tersebut semena-mena bahkan membantingnya karena bukan kepunyaan kita? Tentu tidak! Kita akan memperlakukannya dengan sangat hati-hati karena itu bukan milik kita. Demikian juga tubuh kita!

Aplikasi: hendaknya kita tidak gampang dikendalikan oleh hawa nafsu, pornografi, perselingkuhan, seks di luar nikah, dll. sebab tubuh ini bukan sekadar urusan sementara tetapi berkaitan dengan kekekalan. Karena tubuh kita milik Kristus, anggota tubuh – mata, mulut, telinga, pikiran, tangan dan kaki kita harus di bawah kendali Kristus untuk melakukan apa yang Ia kehendaki. 

  • Masa depan kita (ay. 14). 

“Allah yang membangkitkan Tuhan akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya.”  Bagaimana kita akan dibangkitkan? Sebagaimana Yesus dibangkitkan, demikian juga kita akan dibangkitkan. Bukan hanya kebangkitan roh tetapi juga tubuh kita sama seperti Yesus memiliki tubuh kebangkitan yang dapat diraba dan dipegang (Yoh. 20:19-20, 26-27). 

Kebangkitan Kristus menjadi tonggak dan pusat iman kita (1 Kor. 15:14,17-18). Kalau kebangkitan tubuh Kristus tidak jelas maka percuma kita menjadi pengikut-Nya. Salib Kristus dan kebangkitan-Nya menyatakan bahwa kematian tidak mampu mengalahkan Yesus dan karya penebusan-Nya benar-benar nyata. Secara logika, tidak ada seorang pun yang bisa bangkit, apalagi untuk selama-lamanya. Memang Lazarus bangkit tetapi akhirnya mati juga. Tetapi Alkitab, sejarah, bahkan ilmu kedokteran membuktikan Yesus benar-benar mati dan benar-benar bangkit untuk selamanya. Ia adalah yang sulung dari antara orang-orang yang telah meninggal (1 Kor. 15:20) dan kita yang menjadi milik-Nya juga akan dibangkitkan pada waktu kedatangan-Nya. 

Rindukah hidup kita dikendalikan oleh Kristus? Percayakah Ia berkuasa mengendalikan kebebasan kita (agar berguna, tidak diperhamba, membangun), tubuh kita yang menjadi milik-Nya karena sudah dibeli dan lunas dibayar oleh-Nya, juga menjamin masa depan kita yang akan dibangkitkan pada saat kedatangan-Nya. Untuk itu kita harus bertanggung jawab atas hidup kita dengan tidak hidup sembrono tetapi membiarkan Tuhan memegang kendali atas semuanya. Kita melakukan bagian yang dapat kita kerjakan dan menyerahkan kepada Tuhan apa yang menjadi bagian-Nya untuk dikerjakan oleh-Nya. Percayalah masa depan kita aman bahagia di dalam kekekalan bersama-Nya selamanya. Amin. 

  • Video Youtube Ibadah: