Shalom,
Kita pasti sangat bergembira dan bersorak sorai ketika mengalami kemenangan; sebaliknya, kita menjadi sedih, loyo dan malu saat menghadapi kekalahan. Namun bagaimana reaksi kita ketika menghadapi ketidakadilan yang dapat menyebabkan kekalahan?
Rasul Paulus menegur orang Korintus (yang dilahirkannya oleh Injil Kristus) tentang bagaimana mungkin mereka bangga memenangkan perkara dengan mempermalukan saudara sendiri (jemaat dalam gereja) yang dikalahkan. Bagaimana cara mengalahkannya? Pergi mencari keadilan kepada orang-orang yang tidak benar/percaya (ay. 1).
Rasul Paulus ingin jemaat Korintus bertobat bukan sekadar menjadi orang Kristen tetapi berpindah dari hidup dalam kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib sehingga terjadi keubahan hidup. Namun ternyata mereka masih mempraktikkan pola duniawi dalam memperkarakan saudara seiman kepada pengacara yang tidak percaya Tuhan. Dengan kata lain, model duniawi tidak boleh dipakai untuk menyelesaikan masalah.
Kesaksian Pembicara: Beliau dan istri menggembalakan gereja di Papua dan saat itu gereja sedang direnovasi. Beliau berdua lagi KKR di Surabaya ketika tiba-tiba mendapat berita kalau seorang pendeta jatuh menginjak plafon teras depan gereja yang belum kering dan meninggal dunia. Sebagai gembala sidang, Beliau bertanggung jawab atas kematian si korban lalu menghadap pengadilan dan dibentak-bentak oleh jaksa. Betapa kagetnya Beliau mengalami suasana diadili dan berakhir dengan keputusan tidak boleh keluar Sorong selama satu tahun lebih.
Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus yang melakukan ketidakadilan dan merugikan saudara-saudara sendiri (ay. 8-9).
Memang kita harus siap menghadapi banyak tantangan dan tuntutan yang tidak adil. Harus diakui pula kita menghadapi sesama saudara yang beda pandangan menyebabkan terjadinya perselisihan dan percekcokan. Bagaimana menyelesaikan masalah ini? Selesaikan secara internal bukan langsung mencari pengacara luar untuk menyalahkan dan menuntut satu pihak; belum lagi kita dituduh, digosipkan dll. oleh orang luar yang mendengar masalah kita. Ingat, sebesar apa pun masalahnya, kita adalah saudara dalam satu tubuh Kristus. Jangan fokus pada siapa yang menang atau kalah apalagi kemenangan diperoleh dari ketidakadilan karena menggunakan uang. Waspada, orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (ay. 9). Siapa saja yang tidak boleh masuk Kerajaan Allah? Pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu (ay. 10). Mereka masih dapat masuk gereja di dunia ini tetapi ditolak dalam Kerajaan Allah. Untuk apa kita menjadi orang Kristen tetapi hidupnya masih seperti orang kafir?
Kita adalah anggota tubuh milik Tuhan dan Ia adalah Kepala gereja. Oleh sebab itu kita harus menjauhkan diri dari percabulan karena berdosa terhadap diri sendiri (ay. 18) sebab tubuh kita telah dibeli dan lunas dibayar (ay. 20) oleh darah Kristus dan menjadi tempat Roh Kudus berdiam. Untuk itu kita harus memuliakan Allah dengan tubuh kita.
Introspeksi: bersediakah kita menerima ketidakadilan? Perhatikan, Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa di mana anggota-anggota tubuh yang berbeda harus saling memerhatikan agar tidak terjadi perpecahan (1 Kor. 12:12, 24-25). Oleh karena itu jika satu anggota menderita (karena kekeliruan atau penderitaan yang tidak adil), semua anggota turut menderita (ay. 26). Terbukti jemaat Korintus belum bertobat sepenuhnya padahal kita semua adalah tubuh Kristus dan kita masing-masing adalah anggota-Nya (ay. 27). Buktinya, mereka tidak mau menderita ketidakadilan atau kerugian (kelemahan, kesusahan, sakit) dari anggota tubuh yang lemah untuk ditanggung bersama.
Yesus, Kepala gereja, menjadi teladan sempurna yang mana Ia menderita ketidakadilan padahal tidak melakukan kesalahan sedikit pun saat diperiksa oleh Pilatus dan Herodes (Luk. 23:14-15, 22). Yesus yang benar rela menyerahkan diri-Nya untuk menanggung semua dosa anggota tubuh-Nya itulah manusia. Kita sekarang memperingati penderitaan kematian-Nya dengan makan roti dan minum anggur Perjamuan Tuhan (1 Kor. 11:26).
Aplikasi: hendaknya kita tidak merendahkan/menghina Perjamuan Tuhan setiap kali mengonsumsinya. Ingat pengurbanan darah-Nya diperuntukkan bagi semua manusia berdosa dari latar belakang beda (budaya, bahasa, status sosial, pendidkan beda). Ia juga meminta Bapa memberikan Roh Kudus untuk menyertai kita selamanya (Yoh. 14:16). Marilah kita berdoa bagi bangsa kita Indonesia yang meneriakkan kemarahan kepada pemerintah karena ketidakadilan yang terjadi menyebabkan makin jauhnya kesenjangan sosial akibat korupsi yang ugal-ugalan. Kita, orang Kristen, tidak perlu ikut demo menghujat pemerintah. Tirulah tindakan Yesus yang tidak memberontak saat menghadapi ketidakadilan tetapi menyerahkan semua kepada Bapa Surgawi.
Kenyataannya, hidup manusia tidak ada yang sempurna, setiap dari kita mempunyai kekurangan dan kelemahan namun tidak untuk dijadikan alasan perselisihan dan percekcokan yang serius. Sebaliknya, marilah kita sebagai anggota tubuh Kristus saling tolong menolong bahkan memberikan perhatian khusus kepada anggota jemaat yang paling lemah dan yang paling membutuhkan karena inilah yang dikehendaki dan diperkenan oleh Pemilik anggota tubuh itulah Yesus Kristus, Kepala gereja yang Am. Amin.