Berkat Rohani Datangnya Dari Atas

Pdt. Paulus Budiono, Minggu, Lemah Putro, 28 Januari, 2018

Shalom,

Bagaimana reaksi seseorang ketika menerima sepucuk surat? Pasti timbul aneka ragam respons yang terlihat langsung dari mimik wajahnya – ada yang serius membaca surat dari pimpinan, ada yang tersenyum bahagia sambil menciumi surat dari kekasihnya, ada yang cemberut sambil mengomel karena ditagih utang dst. Berkaitan dengan surat berharga seperti surat nikah dan surat cinta, masihkah kita menyimpannya dengan baik meskipun sudah puluhan tahun tergeletak di laci lemari? Masihkah kita suka mem-bacanya untuk bernostalgia hingga kertasnya menjadi kumal? Bagaimana perasaan kita terhadap Surat Efesus yang telah kita baca dan dengar puluhan kali? Masih senangkah atau kita sudah merasa bosan dan jenuh kemudian malas ke gereja?

Perlu diketahui kita (dari tanah liat) dibentuk oleh Tukang Periuk (Yer. 18:4) dengan tujuan dan fungsi yang pasti. Misal: botol aqua dibentuk dan diisi air (bukan bensin) untuk diminum. Bejana/botol ini tidak akan protes kapan selesai dibuat tetapi akan berterima kasih kalau botol ini sudah jadi dan diisi air untuk dikonsumsi orang-orang yang membutuhkannya. Sudahkan bejana hidup kita yang dibentuk oleh Sang Penjunan menjadi berkat bagi suami, istri, anak dan orang-orang di sekitar kita? Atau kita sibuk memprotes bejana hidup orang lain padahal kita bukan pembuatnya? Sesungguhnya kita tidak berhak mengoreksi kelemahan/kekurangan bejana hidup orang lain karena kita semua masih dalam taraf dibentuk oleh Tuhan dan Ia tahu persis sampai di mana proses pembentukannya sehingga masih ditemui kekurangan yang tidak cocok dengan keinginan kita. Kita harus menyerahkan kepada Sang Penjunan melalui Firman Allah yang membentuk bejana kehidupan kita untuk siap ‘dipakai’ menjadi berkat bagi sesama.

 

 

Kita mempelajari lebih jauh bagaimana Firman Allah khususnya Surat Efesus membentuk hidup kita agar serupa dengan khalik kita. Efesus 4:20-24 menuliskan, “Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama yang menemui kebinasaannya oleh nafsu-nya yang menyesatkan supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikir-anmu dan mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”

Sesungguhnya Firman Tuhan tidak akan pernah dapat selesai diuraikan sampai kapan pun sebab Firman itu kekal tetapi mampu menolong kita yang hidup di dunia sementara ini bahkan sampai hidup di Yerusalem baru. Apa tulis Rasul Paulus dalam suratnya di Efesus 1:3? “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengarunia-kan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.”

Terlihat Rasul Paulus melontarkan kata-kata pujian kepada Allah Bapa Tuhan kita. Pada umumnya kata-kata pujian diucapkan pada acara peresmian suatu perusahaan atau wisuda atau acara keagamaan untuk mengekspresikan suatu keberhasilan yang diraih oleh suatu lembaga maupun perorangan dalam lembaga tersebut. Namun pujian Rasul Paulus kepada Allah yang esa bukan karena keberhasilan tetapi karena berkat rohani dari Surga yang dikaruniakan kepada jemaat Efesus (juga kita).

Lebih heran lagi, Surat Efesus berisi pujian kepada Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus ditulis Rasul Paulus saat dia berada di dalam penjara oleh sebab pemberitaan Injil Kristus tersalib. Dia tidak menulis surat memin-ta pembelaan atau belas kasihan dari jemaat Efesus tetapi apa permohon-annya? Efesus 6:19-20 menuliskan, “juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya sebagaimana seharusnya aku berbicara.”

Dalam kondisi ‘terbelenggu’ di penjara, Rasul Paulus tidak mengeluh atas ketidaknyamanan kondisi penjara tetapi dia mengharapkan kebebasan untuk tetap berani memberitakan Injil dalam kebenaran.

Introspeksi: beranikah kita memberitakan Injil yang mengagungkan Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus tanpa motivasi kepentingan diri sendiri? Dan masihkah kita dapat mengucap syukur kepada-Nya saat kita berada dalam tekanan dan ancaman penjara demi Injil? Ingat, Roh Kudus menjamin kita yang percaya akan Injil keselamatan untuk menjadi milik Allah (Ef. 1:13-14).

Tahukah Anda bahwa berkat di Surga itu bersifat langgeng dan kekal? Tentu kita tidak salah menerima berkat jasmani dari Tuhan dalam bentuk kekaya-an, kesehatan, kekuatan, panjang umur dll. namun semua itu bersifat sementara, ada batasnya dan tidak stabil. Jauh berbeda dengan berkat rohani dari Surga. Itu sebabnya jangan kita mengejar bahkan menuntut berkat jasmani yang sering kali malah merusak hidup kita. Pilihan ada di tangan kita, ingin berkat Surgawi atau berkat jasmani? Abraham, Ishak dan Yakub lebih memilih berkat Surgawi dari Allah yang kekal ketimbang kekayaan duniawi yang berlimpah (Ibr. 11:9-10).

Mengapa Rasul Paulus rela dianiaya bahkan dipenjara demi Injil Kristus? Karena dia tahu pasti berkat rohanilah yang terutama dari semua ber-kat. Itu sebabnya dia dapat menyembah, mengucap syukur dan bersukacita dalam segala kondisi bahkan saat didera dan dipenjara di ruang paling tengah serta dibelenggu kakinya dalam pasungan kuat, dia masih dapat menyanyi memuji Allah berakibat terjadi pertobatan dan keselamatan bagi kepala penjara beserta seluruh keluarganya (Kis. 16:25-34).

Bagaimana dengan kita yang tidak hidup di bawah tekanan maupun ancaman dari pemerintah/kelompok terhadap kebebasan beribadah? Seharusnya kita lebih banyak bersyukur karena kita dipilih sebelum dunia dijadikan untuk menjadi anak-anak Allah (Ef. 1:3-6) dan bekerja menurut kehendak-Nya agar kita boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya (Ef. 1:11-12). Roh Kudus menjadi jaminan sampai kita beroleh penebusan seluruhnya itulah milik Allah untuk memuji kemuliaan-Nya (ay. 14).

Aplikasi: kita patut memuji Tuhan karena berkat keberhasilan jasmani yang kita peroleh tetapi Tuhan ingin kita melihat berkat-berkat Surgawi supaya kita dapat memuji Dia. Untuk itu tingkatkan kesaksian kita bukan melulu tentang berkat kesehatan, kebebasan, kepandaian, kedudukan dll. yang pasti akan lenyap tetapi bersaksilah akan berkat kekal yaitu kita dijadikan anak-anak Allah. Demi berkat kekal ini Paulus bertahan dalam penderitaan. Yang patut diperhatikan, semua pujian syukur kita kepada Allah harus selalu dikaitkan dengan Yesus, Putra Tunggal-Nya, sebab Yohanes 1:12 menegas-kan, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya (= Yesus, Red.) diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah yaitu mereka yang percaya dalam Nama-Nya.”

Waspada dengan New Age Movement yang menggiring manusia masuk dalam gerakan ini! Gereja Tuhan sudah harus terbentuk solid dan bersikap seperti istri yang tunduk kepada Yesus, Mempelai Pria Surga. Jangan dunia mengubah pola pikir kita tetapi terimalah Yesus yang berkuasa mengubah kehidupan lama kita. Jangan pula mengikut Tuhan karena ingin berkat jasmani tetapi tetap mempertahankan cara hidup lama. Ingat, darah dan daging, termasuk semua harta duniawi, tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Kor. 15:50).

Kita harus mengalami keubahan hidup yang menyadarkan kita supaya Tuhan dipuji karena semua pemberian yang baik dan setiap anugerah sempurna datangnya dari atas serta tidak pernah berubah. Atas kehendak-Nya sendiri Ia menjadikan kita anak sulung di antara semua ciptaan-Nya (Yak. 1:16-18).

Allah yang tidak berubah memberikan berkat kekal (karunia, hikmat, dll.) kepada kita dan berkat terbesar ialah keselamatan untuk kemudian kita diangkat menjadi anak sulung dari semua ciptaan-Nya. Untuk beroleh berkat rohani tersebut kita harus menang melawan pencobaan yang berusaha menjatuhkan iman kita (Yak. 1:2-3). Harus diakui kita perlu dan butuh uang tetapi jangan uang menguasai kita seperti dilakukan oleh orang yang tidak mengenal Allah namun carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepada kita (Mat. 6:32-33). Dan jangan pernah menganggap pencobaan datangnya dari Allah sebab Ia tidak mencobai siapa pun tetapi tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri (Yak. 1:13-14).

Apa yang kita harapkan sekarang? Masihkah kita mengejar berkat-berkat jasmani yang bersifat sementara dan akan lenyap suatu saat? Bertindaklah lebih bijak, kejarlah berkat-berkat rohani bersifat kekal yang berasal dari Surga. Bila kita memperolehnya, tidak ada kata-kata lain kecuali pujian dan ucapan syukur kita kepada-Nya dan kemuliaan-Nya makin dinyatakan. Amin.