Shalom,
Sesuatu yang tersembunyi biasanya sulit ditemukan dan ada orang yang tidak senang mencarinya karena menganggapnya menghabiskan tenaga dan waktu. Namun ada pula orang yang penasaran kemudian mencarinya hingga berhasil ditemukan. Manusia duniawi lebih condong pada hikmat manusia yang dianggapnya baik sedangkan mereka yang mengenal Allah akan gemar mengikuti hikmat-Nya seperti Rasul Paulus yang hanya mengetahui Yesus Kristus yang tersalib.
Perlu diketahui Firman hidup ini bagaikan bekal yang menuntun kita menuju masa depan. Apakah kita tetap hidup di Perjanjian Lama yang sudah lewat dan kita terus kebingungan dengan masalah-masalah? Firman Allah bersifat kekal yang tidak pernah berubah ini diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa di dunia ini sehingga banyak ayat di Perjanjian Lama yang tersembunyi ribuan tahun lalu diuraikan oleh rasul-rasul di Perjanjian Baru. Misal: Yesaya 53 menubuatkan Ia dihina dan dihindari orang bahkan menderita sengsara untuk menyelamatkan orang berdosa. Nubuat ini digenapi dan dinyatakan 2.000 tahun dengan kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya kita rayakan tiap tahun di hari Paskah. Alkitab juga mengatakan bahwa orang yang disalibkan itu terkutuk (Ul. 21:23) namun kutuk itu sudah dihapus oleh kurban Kristus (Gal. 3:13). Mana yang kita pakai? Perjanjian baru sebagai penggenapan Firman atau masih menggunakan ayat-ayat Perjanjian Lama?
Perhatikan, dewasa rohani tidak diukur dari umur tetapi Roh Kudus dalam hati yang mengukurnya. Suami/istri tidak dapat mengubah pasangan hidupnya; hanya Tuhan, Sang Pencipta, yang mampu mengubah manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya.
Tentu diperlukan pertumbuhan untuk menuju dewasa rohani seperti dialami oleh Rasul Paulus. Kedewasaan rohani diperolehnya melalui hikmat salib Kristus bukan hikmat dari dunia (1 Kor. 2:6). Oleh sebab itu anak-anak, orang tua dan anak muda jangan mencintai dunia dan apa yang ada di dalamnya yaitu keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup (1 Yoh. 2:12-17).
Kepada jemaat Efesus, Rasul Paulus menyatakan bahwa Allah Bapa di dalam Yesus Kristus mengaruniakan segala berkat rohani di dalam Surga (Ef. 1:3). Kalau kita rindu masuk Surga, kita harus memiliki apa yang ada di Surga dan menolak dunia. Sesungguhnya Allah di dalam Yesus Kristus telah memilih kita sebelum dunia dijadikan.
Introspeksi: mana yang kita pilih? Hikmat Allah yang dianggap kebodohan oleh dunia namun dunia akan kehilangan keselamatan? Atau hikmat Allah yang sudah ada dalam kekekalan sebelum dunia ini diciptakan?
Rasul Paulus menegaskan bahwa Injil yang diberitakannya bukan injil manusia sebab dia menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus (Gal. 1:11-12). Allah sudah memilih Paulus sejak dalam kandungan ibunya dan memanggilnya oleh kasih karunia-Nya (ay. 15). Hati-hati, jika ada hamba Tuhan yang mengaku menerima “wahyu” melihat Yesus dll. tetapi konteksnya di luar Firman Allah dan Roh Kudus, maka dia bukan dari Tuhan.
Aplikasi: hendaknya hidup nikah kita dalam kesucian dan anak-anak sejak dini diajar untuk tidak bergaul sembarangan karena pengaruh dunia yang makin rusak. Orang tua harus serius mengajarkan keselamatan di dalam salib Kristus.
Ternyata Tuhan menyediakan hikmat salib Kristus yang tersembunyi bagi orang-orang yang matang/dewasa rohani, dinilai dari tiga hal untuk membuktikan bahwa kita mengasihi-Nya (1 Kor. 2:9), yakni:
- Mata untuk melihat → Kandil Emas
Apa jawab Yesus ketika murid-murid bertanya dosa siapa (orang tua atau diri sendiri) sehingga seseorang buta sejak lahir? Tuhan mengizinkan hal ini terjadi supaya pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia (Yoh. 9:3). Orang ini disuruh membasuh diri dalam kolam Siloam dan celiklah matanya. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabat. Kemudian dia dibawa menghadap orang-orang Farisi yang menuduh Yesus tidak datang dari Allah sebab tidak memelihara hari Sabat. Anak muda ini menceritakan apa yang dialaminya tanpa mengetahui siapa Yesus kecuali mendengar suara-Nya dan melakukan perintah-Nya.
Ironis, orang Farisi yang tahu banyak tentang Taurat malah “buta” sementara anak muda yang buta disembuhkan Yesus sehingga dapat menyaksikan perbuatan ajaib Allah.
Aplikasi: hendaknya kita bersedia dikoreksi oleh Firman walau kita suka membaca Alkitab. Jangan malah marah dan menyalahkan pendeta yang membawakan Firman kebenaran! Juga jangan bertindak seperti Ham ketika melihat ketelanjangan ayahnya malah menceritakannya kepada Sem dan Yafet di luar (Kej. 9:22), artinya jangan gampang mengumbar aib suami/istri dan anak sembarangan ke orang luar.
Saulus pernah buta tiga hari setelah melihat cahaya memancar dari langit mengelilinginya dan mendengar suara yang mempertanyakan mengapa menganiaya Dia (Kis. 9:3-4,8). Saulus adalah orang Farisi yang hebat Tauratnya tetapi tidak mengenal Sang Firman itu sendiri. Pertemuannya dengan Tuhan membuatnya berubah total. Kebutaannya disembuhkan oleh Ananias atas perintah Tuhan dalam penglihatan (ay. 10-12,17). Saulus celik matanya dan penuh Roh Kudus lalu menjadi alat pilihan Tuhan memberitakan Yesus adalah Anak Allah (ay. 20). Saulus yang sekarang dipanggil Paulus melepaskan semua kebanggaannya dan dianggapnya sampah/kotoran untuk memperoleh Kristus (Flp. 3:8). Dia mengenal dan mencintai Yesus saat buta untuk mengalami karya Tuhan dalam dirinya.
- Telinga untuk mendengar → Mezbah Pembakaran Ukupan
Allah mendengar sungutan bangsa Israel yang membuat Musa (terkenal lemah lembut; Bil. 12:3) tidak dapat menahan emosi kemudian marah dan memukul batu karang padahal seharusnya dia cukup memperkatakan saja maka air akan keluar. Tindakan Musa karena emosi ini telah merendahkan kekudusan Allah di tengah-tengah orang Israel. Akibatnya, dia tidak boleh masuk negeri Kanaan (Ul. 32:49-52).
Introspeksi: seberapa jauh kita dapat menahan diri untuk tidak mudah terbakar emosi karena terpengaruh omongan orang banyak?
- Hati → Meja Roti Sajian (Mzm. 119:11)
Firman Tuhan mengingatkan agar kita menjaga hati dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan (Ams. 4:23) sebab hati akan menghasilkan kehidupan yang baik yaitu tinggal di Yerusalem baru atau kehidupan sengsara masuk lautan api karena namanya tidak tercantum dalam buku kehidupan (Why. 20:15).
Selain menjaga hati, kita juga harus mengandalkan Tuhan dan menaruh pengharapan kepada-Nya sebab hati lebih licik daripada segala sesuatu dan hanya Tuhan yang sanggup menyelidiki hati serta membalas setimpal dengan perbuatannya (Yer. 17:7-10).
Jujur, kita sering mengharapkan pujian atas hasil kerja kita. Kalau tidak dipuji, kita tidak mau lagi melayani. Bukankah ini menunujukkan kesombongan hati kita? Sejak manusia pertama menolak perintah Firman Allah, hati makin lama makin rusak. Hati menjadi sumber dari segala kejahatan (Mat. 15:19). Itu sebabnya Yesus datang ke dunia untuk mati bagi manusia berdosa.
Maukah kita menerima hikmat Allah yang tersembunyi itulah salib Kristus? Untuk itu mata rohani kita harus dicelikkan untuk dapat menyaksikan karya Allah yang ajaib, telinga yang peka akan Firman untuk tidak gampang terbakar emosi dan hati yang dijaga untuk tetap mengandalkan Tuhan agar hidup kita berakhir bahagia bersama Tuhan kita di Yerusalem baru selamanya. Amin.