Shalom,
Siapa mau mati bersama Yesus? Ada? Atau kita takut mati? Jujur, kita begitu bersemangat saat ibadah di dalam gereja tetapi begitu keluar dari gereja menghadapi masalah maka semangat “mati bersama Yesus” hilang.
Rasul Paulus menulis dalam suratnya kepada jemaat korintus, “Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu--kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci,” (1 Kor. 15:1-3)
Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus lama yang mulai “berontak” tidak percaya adanya kebangkitan setelah kematian. Tulisan Rasul Paulus merupakan jeritan hatinya untuk mendobrak jemaat Korintus yang sudah mulai bimbang karena menerima doktrin-doktrin lain. Padahal Rasul Paulus mengaku telah menerima terlebih dahulu berita yang sangat penting yakni berita Kristus telah mati karena dosa-dosa manusia sesuai dengan Kitab Suci – Firman Allah yang memberi kita pengampunan, penyucian dan kehidupan. Bahkan dia juga telah menerima berita Yesus yang mati dikuburkan dan dibangkitkan pada hari yang ketiga sesuai dengan Kitab Suci (ay. 5).
Amat disayangkan banyak orang Kristen pindah gereja karena mereka mendapatkan doktrin salah yang fokus pada berkat kemakmuran dan berita yang menyenangkan telinga. Mereka mendapatkan berita yang membuat imannya goyah. Jangan kita membanding-bandingkan apalagi menyanjung sosok pengkhotbah tetapi yang terpenting ialah Firman kebenaran itu sendiri!
Bagaimana Paulus mengetahui “Yesus mati sesuai Kitab Suci” yang telah terjadi lama sekali?
Ternyata dia mengalami kematian Yesus di dalam tubuhnya seperti diakuinya, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari diri kami…..Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (2 Kor. 4:7,10).
Memang ada perbedaan orang yang membawa kematian Yesus di dalam tubuhnya seperti dialami oleh Rasul Paulus. Perhatikan, kalau kita tidak membawa kematian Yesus, kita juga tidak akan mengalami kebangkitan di dalam Yesus. Akibatnya, kekristenan kita hanyanya “Kristen KTP”.
Kalau begitu “kematian” apa yang harus kita rasakan dan alami setiap hari? Ingat, mati bersama Yesus adalah suatu anugrah dari-Nya. Paulus yang sebelumnya adalah seorang penganiaya dan pembunuh para pengikut Yesus oleh sebab kebenciannya tetapi setelah Yesus datang kepadanya dalam terang yang luar biasa (Kis. 9:3-5), hidupnya berubah total dan tiap hari mengalami kematian Yesus dalam hidupnya.
Tahukah empat Injil menulis kisah kematian Yesus? Apa yang terjadi?
- Matius 27:50-54 → pengakuan kepala pasukan (non-Yahudi) yang menjaga Yesus dan melihat gempa bumi serta kuburan-kuburan terbuka dan orang-orang kudus bangkit dari kematian, “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.”
Posisi Anak Allah menunjukkan suatu kedudukan tertinggi karena Allah itu esa.
- Markus 15:39 → pengakuan kepala pasukan yang melihat kematian-Nya, "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!"
- Lukas 23:44-48 → ketika kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan tabir terbelah dua kemudian Yesus menyerahkan nyawa-Nya, kepala pasukan memuliakan Allah dan berkata, “Sungguh, orang ini adalah orang benar!”
- Yohanes 19:32-34 → prajurit tidak mematahkan kaki Yesus sebab Ia telah mati tetapi menikam lambung-Nya dengan tombak maka mengalirlah keluar darah dan air.
Apa maksud “kaki/tulang tidak dipatahkan”? Ketika bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan Mesir, mereka diwajibkan makan anak domba jantan tidak bercela berumur setahun, dagingnya harus dimakan malam itu dan tulangnya tidak boleh dipatahkan (Kel. 12:46). Mereka harus merayakan ketetapan Paskah tanpa meninggalkan sebagian makanan sampai pagi dan satu tulang pun tidak boleh dipatahkan (Bil. 9:12). Tuhan melepaskan orang benar dari kesesakan dan melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah (Mzm. 34:20-21).
Masih ingat perkataan Adam ketika dia dipertemukan dengan Hawa? “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku…” (Kej. 2:23) Artinya, suami tidak boleh patah “tulangnya” (= istrinya); dengan kata lain istri dimiliki seumur hidup tidak boleh patah/putus di tengah jalan.
Apa makna Paskah, tulang Yesus tidak dipatahkan? Efesus 6:30 menuliskan, “for we are members of His body, of His flesh and of His bones” (KJV) Artinya, relasi Yesus sebagai Mempelai Pria Surga dan kita, jemaat-Nya, tidak boleh patah/putus. Dimulai dari pernikahan kita di dunia ini harus dipertahankan tetap utuh tidak boleh ada perceraian untuk mengarah pada pernikahan kekal bersama Mempelai Pria Surgawi itulah Tuhan Yesus.
Rasul Matius adalah orang Lewi, seorang pemungut cukai. Penulis Markus bukan rasul melainkan anak rohani dari Petrus. Lukas, penulis Injil Lukas, adalah seorang dokter bukan rasul tetapi mencari fakta nyata mengenai Yesus dalam penulisannya. Melihat seluruh rentetan kejadian, semua rasul lari ketakutan kecuali Yohanes yang ikut menyaksikan peristiwa ini (Yoh. 19:35).
Yesus mempunyai banyak julukan, antara lain: Gembala yang baik (Yoh. 10:11), Orang benar, orang yang tidak bersalah seperti dikatakan oleh Pilatus hingga tiga kali (Yoh. 18:38b; 19:4,6), Anak Allah. Manusia sempurna tanpa kesalahan yang suka mengampuni mereka yang melakukan kesalahan dan kejahatan.
Menjelang akhir hidup-Nya, Yesus berkata, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk. 23:46) Hubungan Bapa-Anak yang merelakan Yesus menanggung dosa seluruh dunia.
Introspeksi: sadarkah kita adalah manusia berdosa yang perlu pengampunan dari-Nya? Jangan merasa benar sendiri kemudian gampang mengejek dan merendahkan orang lain! Kita memerlukan Yesus yang rela mati demi keselamatan kita. Jangan pula menolak Yesus sebagai Anak Allah seperti dilakukan oleh ahli Taurat bersama imam-imam kepala dan tua-tua yang mengolok-olok Yesus dan menyuruh-Nya turun dari salib untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri. Yesus, Anak Allah dan Orang benar, harus mati disalib demi dosa kita semua.
Jujur, bukankah kita cenderung berbuat tidak baik seperti pengakuan Rasul Paulus, “Sebab aku tahu bahwa di dalam aku sebagai manusia tidak ada sesuatu yang baik....Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” (Rm. 7:14-19) Itu sebabnya kita membutuhkan Yesus dan melalui kematian-Nya, darah-Nya berkuasa menyucikan segala dosa kita.
Rasul Yohanes mendengar, melihat dan meraba tentang Firman hidup untuk ditulis bagi kita supaya kita beroleh persekutuan dengan Bapa dan Anak-Nya, Yesus Kristus, supaya sukacita kita menjadi sempurna (1 Yoh. 1:1-7).
Sungguh merupakan sukacita besar bila kita mati bersama Yesus dalam anugerah-Nya! Kita bersekutu dengan Dia dalam kematian-Nya – persekutuan dengan Firman Tuhan dan Roh Kudus dalam terang – juga persekutuan dengan sesama dan darah-Nya menyucikan kita dari pada segala dosa. Persekutuan dengan kematian Yesus meneguhkan relasi kita dengan-Nya untuk satu kali kelak bersanding dengan Yesus Kristus, Mempelai Pria Surgawi kita. Amin.