• PELAYAN KRISTUS YANG MENJADI TELADAN
  • Lemah Putro
  • 2026-06-21
  • Pdm. Agus Muljono
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
pelayan-kristus-yang-menjadi-teladan

Shalom,

Kita sekarang hidup di zaman serba canggih dan dapat mengakses Firman Tuhan dengan membuka HP lalu menonton ribuan video kutipan rohani kapan saja. Namun dengan banyaknya informasi rohani tersebut, apakah hidup kita otomatis lebih rohani? Juga dengan sibuknya pelayanan dari hari Senin sampai Minggu, apakah hidup kita sudah rohani? Jujur, di tengah kesibukan itu, kita malah sering merasakan kegersangan jiwa dan perlahan-lahan kehilangan esensi yang paling mahal itulah hadirat Tuhan.

Faktanya kita tidak kekurangan orang pintar yang berbicara tentang Kristus tetapi kita mencari orang berkarakter Kristus yang nyata kelihatan dalam keseharian hidupnya. Bukankah banyak orang mengejar pengaruh dan ingin mempunyai banyak followers tetapi mirisnya hanya sedikit yang menjadi teladan? Banyak yang ingin dipakai Tuhan di atas panggung tetapi sedikit yang bersedia dibentuk/diproses di belakang layar oleh-Nya. Mereka enggan diproses  di “padang pasir” di mana mereka dilatih dan dipersiapkan oleh Tuhan tanpa adanya sorotan dan tepuk tangan untuk pengakuan dari manusia.

Di tengah situasi ini Rasul Paulus menulis pernyataan yang berani dan cukup radikal, “Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!” (1 Kor. 4:16) 

Pertanyaan: beranikah kita menyatakan “lihat dan contohlah hidupku sehari-hari” di depan keluarga, teman sekerja atau pelayanan kita? Sebaliknya, kita akan mengatakan, “Aku masih manusia yang banyak salah, lihat Tuhan saja.” Tentu kita harus melihat Tuhan Yesus tetapi bagi mereka yang belum/tidak melihat dan mengenal-Nya akan dapat melihat Dia melalui hidup kita karena kita adalah surat Kristus dan dibaca oleh orang-orang sekitar kita (2 Kor. 3:2-3).

Mengapa Rasul Paulus berani mengutarakan pernyataan itu? Karena perubahan hidupnya tidak instan tetapi telah diproses oleh salib, dibasuh oleh Firman, dipimpin oleh Roh Kudus dan dihidupi dengan relasi intim dengan Allah. Perhatikan, Tuhan tidak mencari pelayan yang pandai berteori tentang Kristus tetapi mereka yang hidupnya menampilkan Kristus.

Untuk memahami bagaimana struktur pertumbuhan rohani bekerja, kita akan melihat melalui dua lensa teologis: Tabernakel dan Kabar Mempelai.

Tabernakel: gambaran tentang proses perjalanan rohani kita melalui Pelataran, Tempat Kudus, dan Tempat Mahakudus. 

Kabar Mempelai: gambaran tentang tujuan terakhir yaitu Yesus sebagai Mempelai Pria Surga yang rindu menjemput kita, gereja-Nya, sebagai Mempelai perempuan yang dewasa, kudus, dan siap sedia.

Apa proses tahapan yang harus dilalui pelayan Tuhan untuk menjadi teladan yang memancarkan kemuliaan dan melahirkan generasi rohani yang serupa dengan Kristus?

  • Pelayan Kristus harus mati terhadap daging (ay. 14) → Pelataran

Perjalanan rohani menuju keteladanan tidak pernah dimulai dari “panggung khotbah” melainkan dari pelataran Tabernakel. Begitu masuk Pintu Gerbang, perabot pertama yang ditemui ialah Mezbah Kurban Bakaran. 

Di Mezbah Kurban Bakaran hewan kurban disembelih, ditaruh dan dibakar habis menggambarkan kematian total kedagingan (ego, kesombongan, sifat-sifat daging lainnya – Gal. 5:19-21). Mezbah ini juga menggambarkan salib Kristus di mana Ia mati untuk menebus dosa kita. 

Kenyataannya, banyak pelayan Tuhan ingin dipakai secara luar biasa tetapi begitu egonya disinggung sedikit mereka langsung mogok pelayanan. Ironis, kita menginginkan mahkota tetapi menolak salib padahal hukum Kerajaan Allah tidak pernah berubah yakni tidak mungkin ada kemuliaan rohani tanpa penyerahan diri dan kematian daging terlebih dahulu.

Kemudian Bejana Pembasuhan di mana para imam harus mencuci kaki tangan sebelum melayani. Air menggambarkan penyucian hidup oleh Firman Tuhan. Tuhan tidak hanya mencari orang yang berkarunia/bertalenta dan berpotensi tetapi juga mereka yang hidupnya bersih dari perbuatan dosa dan jalan duniawi. Karakter dan motivasi pelayanan kita harus dibasuh dan disorot terus oleh kebenaran Firman Tuhan. 

Saat itu jemaat Korintus sedang mengalami masalah besar. Walau mereka sangat sukses memiliki karunia, pengetahuan, pelayanan, dan manifestasi Roh, di dalamnya penuh dengan iri hati dan perselisihan. Ini terjadi karena jemaat Korintus mencoba melompat langsung ke pelayanan rohani tanpa melewati Mezbah Kurban Bakaran. Mereka mau karunia tetapi menolak pembentukan karakter. Karunia adalah pemberian instan tetapi karakter adalah proses panjang bersama Tuhan. Itu sebabnya Rasul Paulus menegur mereka karena dia sendiri telah mati terhadap daging. Hanya pelayan yang egonya mati dapat menegur orang lain dengan kasih seperti seorang bapa yang tidak membela harga dirinya sendiri. 

Jemaat Korintus sering dipandang sebagai gambar nyata dari gereja yang sedang diproses dalam persiapan menjadi mempelai perempuan Kristus yang tidak naik ke pelaminan mengenakan gaun penuh lumpur dosa dan bau kedagingan. Gereja Tuhan dipersiapkan bukan untuk menjadi populer di mata dunia melainkan disucikan dengan memakai keadaan sekitar untuk mengikis ego agar tampil kudus dan serupa dengan Dia.

Perjalanan rohani kita tidak boleh berhenti di Pelataran untuk mengalami pertobatan dan penyucian hidup. Apa yang harus dilewati selanjutnya?

  • Mengalami proses pendewasaan rohani (ay. 15) → Tempat Kudus

Rasul Paulus membandingkan antara pendidik dan bapa yang mana jumlah pendidik dapat ribuan tetapi bapa hanya satu. Pendidik (bhs. Yun. paidagogos = instructors, tutors) menjalankan tugas demi kewajiban dan upah. Mereka mempunyai otoritas untuk mendisiplinkan tetapi tidak mempunyai ikatan batin, kasih dan rahim rohani untuk melahirkan anak didiknya. Berbeda dengan seorang bapa yang berkaitan dengan kehidupan karena tidak hanya mentransfer teori tetapi juga mendampingi anak saat jatuh, memberi teladan nyata dan membentuk karakter anak sampai dewasa.  

Gereja Tuhan hari ini surplus pengajar yang pandai berbicara tentang Tuhan Yesus Kristus di mimbar tetapi defisit/kekurangan bapak rohani yang memiliki kedewasaan rohani untuk membimbing, “memeluk” jemaat yang datang memikul beban berat. 

Di dalam Tempat Kudus terjadi pertumbuhan privat dari bayi rohani menjadi bapa yang dewasa rohani melalui tiga elemen, yakni:

  • Kandil Emas menggambarkan urapan dan kepenuhan Roh Kudus. Tanpa pimpinan Roh Kudus, pelayanan kita hanyalah pertunjukan ego yang melelahkan dan aktivitas kita kosong di mata Tuhan. Pelayan teladan akan menjaga agar hidup intim dengan Roh Kudus. 
  • Meja Roti Sajian melambangkan Firman Tuhan hidup yang menjadi makanan rohani keseharian kita. 

Bapa rohani akan memberikan roti sajian yang segar yaitu kebenaran teologis yang murni dan doktrin yang sehat – Firman yang mengenyangkan jiwa dan menumbuhkan perkembangan karakter bukan janji-janji Firman tentang kemakmuran dll. yang enak bagi daging. Untuk beroleh roti Firman yang segar, sang pelayan harus duduk berjam-jam di hadapan Tuhan untuk menerima wahyu yang segar setiap hari. 

  • Mezbah Pembakaran Ukupan menggambarkan kehidupan doa (penyembahan dan doa syafaat) yang konsisten bagaikan ukupan dibakar pagi dan petang menyebarkan aroma wangi. 

Kekuatan teladan sejati tidak dibangun di atas panggung melainkan di kamar doa saat dia berlutut menghadap Tuhan di ruang tersembunyi. Jika tidak mempunyai kehidupan doa pribadi dengan-Nya, penampilan rohani di depan umum hanyalah kepalsuan. 

Kandil Emas yang menyala, Meja Roti Sajian yang penuh dan asap dupa dari Mezbah Pembakaran Ukupan yang membumbung ke atas merepresentasikan gereja lokal yang sedang mempersiapkan gaun pengantinnya. Pelayan yang memiliki hati Bapa tidak akan mengexploitasi jemaat untuk memperkaya diri melainkan mendandani jemaat dengan perhiasan berkarakter Ilahi agar layak bersanding dengan Mempelai Pria di pesta kawin Anak Domba.

Tuhan Yesus, Mempelai Surgawi, tidak akan pernah menjemput mempelainya yang masih bermental mudah marah kalau posisinya digeser, gampang tersinggung atau mudah diombang-ambingkan oleh suatu masalah. Melalui Tempat Kudus, Tuhan mendewasakan gereja-Nya menjadi kukuh berakar kuat di dalam Firman Tuhan, tekun dipimpin oleh Roh Kudus dan dibentuk di dalam doa sehingga berkarakter Kristus dalam hidupnya. Kedewasaan ini akan mencapai puncaknya ketika kita melangkah di balik tirai menuju Tempat Mahakudus. Apa yang terjadi di tempat ini?

  • Hidup dalam hadirat Tuhan (ay. 16) → Tempat Mahakudus 

Di Tempat Mahakudus ada Tabut Perjanjian yang ditutup oleh Tutup Perdamaian dengan dua kerub emas yang sayap-sayapnya menudungi Tutup Pendamaian. Di sinilah Allah berhadirat penuh kemuliaan (shekina glory). 

Rasul Paulus telah melewati Tirai untuk masuk ke dalam Tempat Mahakudus dan menghabiskan hidupnya berada di sini. Dia tidak lagi memiliki tempat tersembunyi yang munafik – apa yang dikhotbahkan di mimbar sama dengan apa yang dilakukannya di bawah mimbar. 

Keteladanan sejati tidak pernah lahir dari jabatan struktural gereja atau pencitraan agar dikagumi manusia  melainkan lahir dari hadirat Tuhan. Keteladanan adalah efek samping dari keintiman kita dengan Allah. Semakin intim kita bergaul dengan-Nya di tempat tersembunyi, semakin kita akan menyerupai Kristus. 

Di dalam Tabut Perjanjian tersimpan tiga benda yang menunjukkan karakter seorang pelayan teladan, yaitu:

    • Buli-buli emas berisi Manna (roti dari Surga ) mengingatkan kita tentang ketergantungan total pada penyediaan dari Surga dan kepatuhan penuh pada Firman yang keluar dari mulut Allah. Pelayan yang dewasa rohani tidak lagi mengandalkan kepintaran atau kekuatan sendiri melainkan bersandar penuh pada anugerah Tuhan tiap hari.
    • Tongkat Harun berbunga melambangkan otoritas rohani yang tidak lahir dari gelar atau posisi tetapi karena kedekatan dan keintiman kita dengan Allah. 
    • Dua loh batu melambangkan Firman Allah yang tidak lagi tertulis di atas kertas tetapi terukir dan mendarah daging di dalam hati mengendalikan setiap keputusan hidup kita. 

Ketika tiga elemen ini berada di tempatnya di dalam Tabut Perjanjian maka di atas Tutup Pendamaian turunlah Shekinah Glory—awan kemuliaan Allah yang supranatural, bermanifestasi dalam cahaya yang begitu terang benderang.

Seorang pelayan yang berdiam di Tempat Mahakudus akan memancarkan wajah bersinar seperti Musa ketika turun dari Gunung Sinai. Jemaat tidak hanya mendengarkan suaranya tetapi merasakan hadirat Allah terpancar melalui karakter hidupnya. Teladan hidupnya adalah manifestasi dari kemuliaan Allah yang berdiam dalam dirinya.

Tujuan tertinggi Allah bagi hidup kita bukanlah sekadar menjadikan kita aktivis gereja yang sibuk tetapi membuat kita serupa dengan Kristus dan menjadi mempelai perempuan sepadan dengan-Nya yang memiliki kasih, kerendahan hati, kesetiaan dan kekudusan.  

  • Konsisten dalam jalan-jalan Kristus (ay. 17). 

Paulus mengutus Timotius ke Korintus untuk mengingatkan mereka akan jalan-jalan (gaya hidup) yang diikutinya dalam Kristus. Dengan kata lain, Injil Kristus tidak hanya untuk didengar tetapi menjadi jalan hidup kita. 

Keteladanan menuntut konsistensi total antara apa yang keluar dari mulut dengan apa yang dilakukan oleh tangan dan kaki kita alias hidup berintegritas di mana pun. Contoh: Timotius menyaksikan keseharian hidup Rasul Paulus yang berkarakterkan Kristus yakni tetap jujur dan mengasihi orang yang menjatuhkannya. 

Di akhir zaman ini dunia makin dipenuhi dengan kompromi, penyesatan moral dan krisis integritas tetapi Mempelai Kristus sejati tidak akan mudah terseret arus. Langkah kakinya tetap konsisten dan seluruh jalur hidupnya diselaraskan dengan langkah kaki Mempelai Surga. Ciri pelayan teladan ialah dia menghasilkan buah yaitu generasi baru yang takut akan Tuhan seperti Rasul Paulus melahirkan Timotius dalam dimensi kabar Mempelai. 

Aplikasi: tugas kita di akhir zaman adalah bertindak sebagai bapa rohani yang melahirkan dan mempersiapkan generasi baru yang tidak mudah terseret oleh arus dunia serta siap menyambut kedatangan Sang Mempelai Pria Surga dengan sorak-sorai kemenangan. 

Marilah kita, pelayan Kristus, mempersiapkan diri menjadi teladan dengan mematikan kedagingan, rela diproses untuk pendewasaan rohani, hidup dalam hadirat Allah serta konsisten dalam jalan-Nya maka jiwa-jiwa yang terhilang akan mengenal Tuhan melalui kesaksian hidup kita dan Nama Tuhan dipermuliakan. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: