• KUASA DALAM MELAYANI KRISTUS
  • 1 Korintus 4:18-21
  • Johor
  • 2026-06-28
  • Pdm. Mario Gani
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
kuasa_dalam_melayani_kristus

Shalom,

Kita telah mempelajari bagaimana pelayan Kristus harus berintegritas, teruji, rendah hati dan menjadi teladan di dalam pelayanan. Melayani Kristus tidak hanya dilakukan di dalam gereja tetapi di mana pun kita berada dan kita perbuat dengan segenap hati seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia (Kol. 3:23).

Perlu diketahui dalam melayani Kristus, kita diperlengkapi kuasa untuk melakukan tugas pelayanan. Ilustrasi: seorang direktur perusahaan tidak perlu ngotot mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah seorang pemimpin agar bawahannya menghormatinya sebab dia memang diberi otoritas oleh pemilik untuk memimpin perusahaan. Demikian pula bagi pelayan yang diberikan kuasa/otoritas untuk melayani Tuhan hanya masing-masing berbeda kuasa. 

Kuasa macam apa yang diberikan dalam melayani Kristus?

  • Kuasa yang tidak lahir dari kesombongan (ay. 18-19a).

Ternyata ada jemaat Korintus yang menjadi sombong (puff, blow up = menggelembung). Kata “sombong” ini disebutkan Paulus sebanyak 6 kali, dan menggambarkan beberapa orang Korintus yang memiliki penilaian berlebihan terhadap diri sendiri, merasa diri hebat dan lebih dari yang lain. 

Jemaat Korintus menyangka Paulus tidak akan datang lagi ke Korintus sehingga mereka berani meninggikan diri dan merasa tidak perlu lagi tunduk kepada Paulus sebagai rasul. Paulus mendirikan jemaat ini dan membesarkan mereka selama 1½ tahun kemudian pergi ke daerah lain hingga bertahun-tahun lamanya sehingga beredar rumor Paulus tidak akan datang lagi ke Korintus. Itu sebabnya jemaat Korintus merasa tidak perlu mempertanggungjawabkan apa yang mereka sudah lakukan. Akibatnya mereka menggelembung/ membesarkan diri dan merasa leluasa membangun pengaruh bagi diri sendiri dalam menyebarkan ajaran juga mengukuhkan posisi tinggi di dalam jemaat. Oleh karena itu Paulus mengatakan akan datang segera untuk mengetahui bukan tentang perkataan mereka tetapi kekuatan/kuasa mereka.  

Terbukti di dalam jemaat Korintus, ada kelompok yang memanfaatkan kevakuman dalam kepemimpinan. Karena ketidakhadiran Paulus, ada orang-orang yang memanfaatkan situasi dan menganggap dirinya sudah berhasil (1 Kor. 4:6-8) kemudian membuat kelompok-kelompok dengan mencatut nama tokoh-tokoh yang diidolakan seperti: Apolos, Paulus, dan Kefas padahal pemimpin-pemimpin ini sendiri rendah hati, berintegritas dan tidak mau memecah belah jemaat. 

Paulus mengingatkan mereka yang menyombongkan diri ini bahwa apa yang mereka punyai itu yang mereka terima; jadi apa yang mau dibanggakan? Kemudian Paulus menyindir mereka telah kenyang dan menjadi kaya serta menjadi raja. Dengan kata lain, mereka mempunyai harta kemudian merasa berkuasa dan ingin berpengaruh di dalam jemaat. Sikap ini sangat bertolak belakang dengan sikap Rasul Paulus yang memosisikan diri di tempat paling rendah walau dia seorang rasul. Faktanya, dunia selalu menganggap siapa yang besar, yang kuat dan yang hebat itu yang berkuasa/berotoritas. 

Aplikasi: betapapun tingginya kedudukan kita dalam dunia sekuler maupun pelayanan, kita tidak perlu membesarkan diri, merasa paling berjasa atau paling senior kemudian haus sanjungan. Perhatikan, kesombongan hanya menghasilkan penampilan luar saja dan belum tentu kuasa Tuhan bekerja karena orang yang merasa hebat biasanya tidak lagi bergantung pada Kristus. Kuasa dalam melayani Kristus selalu berjalan seiring dengan kerendahan hati dan ketundukan kepada Tuhan seperti disadari oleh Paulus (ay. 19a). 

Juga pelayanan apa pun yang kita lakukan bukan untuk pembuktian diri bahwa kita pintar dan mampu mengerjakannya. Waspada, semakin kita meninggikan diri, semakin kecil ruang bagi kuasa Kristus untuk bekerja.  

  • Kuasa yang tidak bergantung pada kepandaian berbicara (ay. 19b-20). 

Masyarakat Yunani saat itu sangat mengutamakan kefasihan berbicara. Mereka mengagumi istilah-istilah yang begitu tinggi, berhikmat dan meyakini ucapan para filsuf dan orator hebat yang dinilai berdasarkan kemampuan retorika.

Memang pemimpin-pemimpin rohani yang berkaitan dengan orasi (pembicara, song leader, pimpinan komsel dll.) perlu pandai bicara untuk “membakar” atau “menggerakkan” massa. Namun yang terlebih penting ialah hadirnya kuasa Allah di dalam pelayanan dengan mempersilakan Roh Kudus bekerja mengubah hati orang-orang yang mendengarkan menghasilkan pertobatan dan menumbuhkan iman. 

Perkataan orang-orang yang sombong dan pandai berbicara (berdebat, mengajar, memengaruhi jemaat membentuk golongan-golongan) terbukti tidak menghasilkan kekuatan keubahan hidup. Mereka hanya sebatas menggalang orang-orang yang bersimpati dengan mereka. Itu sebabnya Paulus tidak peduli pada kefasihan mereka sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan tetapi dari kuasa. Dengan kata lain Kerajaan Allah tidak dibangun oleh retorika yang menakjubkan tetapi oleh kuasa Allah sendiri seperti dialami oleh Paulus (1 Kor. 2:4-5).

Jujur kita sangat tertarik dengan pembicara yang begitu fasih karena sangat meyakinkan dan memotivasi entah isinya benar atau tidak atau malah menyesatkan. Kita mudah terkecoh dengan kefasihan berbicara. Oleh sebab itu Paulus mengingatkan agar iman kita tidak bergantung pada hikmat manusia tetapi pada kekuatan Roh.

Aplikasi: bagi pelayan-pelayan Tuhan yang tidak berkhotbah (pemain musik, multimedia, paduan suara dll.), kita tetap mempertajam kemampuan dengan banyak latihan maupun ikut training untuk menjadi semakin baik bagi Tuhan. Namun perlu diperhatikan apakah melalui pelayanan kita Allah sedang bekerja? Apakah orang yang kita layani semakin bertumbuh? Apakah kita membawa damai di tengah-tengah konflik atau malah menjadi provokator? Apakah kita menjadi teladan dan sedang membangun tubuh Kristus? Jangan hanya mengejar penampilan pelayanan tetapi bagaimana kuasa kehadiran Allah bekerja! Ingat kita hanyalah alat bagaikan pisau bedah yang berada di tangan seorang ahli bedah yang piawai maka kita akan sangat bermanfaat/berguna sekalipun sederhana. 

  • Kuasa yang tidak pernah dipisahkan dari kasih (ay. 21). 

Paulus tidak bermaksud mau menghajar dengan cambuk tetapi datang dengan kasih. Istilah “cambuk” atau “kasih” bukanlah sesuatu yang berlawanan tetapi setara. Maksudnya Paulus datang dengan kasih tetapi dalam bentuk berbeda karena bentuk kasih dapat diekspresikan dengan kelembutan maupun pendisiplinan bagi yang keras hati. Contoh: tongkat didikan (Ams. 13:24); Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya (Ibr. 12:6). 

Perlu diketahui kuasa rohani bukanlah pelampiasan emosi. Teguran demi teguran bertujuan untuk mendisiplinkan tetapi bukan lahir dari kebencian. Apakah orang tua akan membiarkan anaknya yang sedang belajar berjalan menuju tempat berbahaya tanpa diberi peringatan? Orang tua harus tegas dan “tega” dalam mendisiplinkan anak demi kebaikan mereka dan ini dilakukan bukan berdasarkan kebencian. 

Aplikasi: sebagai pelayan Tuhan, kita tidak boleh segan menerapkan disiplin karena kita diberi kuasa oleh Tuhan (seperti Rasul Paulus mempunyai otoritas kerasulan). Namun harus dipastikan terlebih dahulu sebelum menerapkan pendisiplinan kita memeriksa diri sendiri apakah kita sedang mempertahankan harga diri atau mengusahakan pemulihan bagi orang itu? Ketegasan kita bukan pelampiasan dari amarah, emosi, kebencian, balas dendam, sentimen pribadi tetapi timbul dari kasih kepada orang tersebut. Alhasil, kalau orang itu berubah, kita siap menerimanya kembali. Biarlah kuasa Tuhan yang dipercayakan kepada kita, kita laksanakan beriringan dengan kasih-Nya dengan tujuan untuk memulihkan bukan menyingkirkan orang itu.

Kuasa di dalam melayani Kristus bukan semata-mata tanda ajaib yang spektakuler tetapi kuasa yang lahir dari kerendahan hati dan mempersilakan Kristus menyatakan kuasa-Nya. Kuasa ini tidak bergantung pada kefasihan berbicara meskipun kita harus fasih dan kualitas pelayanan kita harus ditingkatkan. Dan kuasa Tuhan tidak pernah dipisahkan dari kasih walau terkadang diekspresikan dalam bentuk hajaran untuk mendisplinkan mereka yang keras hati agar terjadi pemulihan hidup. Hendaknya kita mempergunakan kuasa Allah setepat-tepatnya dalam pelayanan; dengan demikian Nama Tuhan dipermuliakan. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: