Shalom,
Ketika mendengar kata “pesta” (nikah, ulang tahun, pindah rumah dll.), kita membayangkan suasana meriah yang menggembirakan namun apa maksud pesta yang ditandai dengan kemurnian dan kebenaran? Bukankah tidak ada seorang pun benar di hadapan Allah (Rm. 3:10) apalagi murni tanpa cacat cela seperti kondisi manusia pertama saat belum jatuh ke dalam dosa? Kalau tidak ada yang benar dan murni, siapa tamu undangan di pesta ini?
Kita telah mempelajari kondisi jemaat di Korintus, kota metropolitan sekaligus kota pelabuhan yang sangat sibuk di mana dikunjungi oleh banyak orang (non-Yahudi) dari pelbagai negara. Dan Tuhan mengasihi mereka dengan mengutus Rasul Paulus untuk mendirikan jemaat di sana. Paulus memberitakan Injil salib Kristus namun sayang, orang Korintus yang dilimpahi berkat jasmani maupun karunia rohani justru bermasalah banyak karena adanya perselisihan, perpecahan, penyembahan berhala bahkan percabulan tetapi mereka masih bersikap angkuh/sombong.
Bagaimana dengan kita (non-Yahudi) yang beroleh anugerah keselamatan dari Tuhan? Apa nasihat Rasul Paulus dalam tulisannya di 1 Korintus 5:6-8 agar kita dapat berpesta dengan kemurnian dan kebenaran?
- Tidak boleh membiarkan (ragi) dosa tetap bercokol (ay. 6).
Apa itu ragi? Ragi adalah mikroorganisme yang tidak terlihat kasat mata dan berfungsi mengubah makanan/minuman. Contoh: pembuatan roti, donat, tape, tempe terasa lezat karena dicampur ragi. Masalahnya, makanan/minuman yang mengandung ragi ada masa kedaluwarsa. Mengonsumsi makanan/minuman yang kedaluwarsa dapat mengakibatkan sakit ringan-sedang-berat karena keracunan.
Ragi menggambarkan dosa yang tidak boleh dibiarkan terus bercokol karena kerjanya merusak walau “tampak” enak di awal. Contoh: membohongi orang untuk mendapatkan keuntungan pribadi, melakukan korupsi, melakukan percabulan, hidup dengan istri/suami yang tidak sah (ay. 1) yang tampak enak padahal sikap dan tindakan yang merusak tersebut adalah kejahatan yang suatu saat harus dipertanggungjawabkan di depan hukum sebab upah dosa adalah maut.
Mengapa ragi dosa tidak boleh dibiarkan terus bercokol? Karena ragi tidak bersifat diam/pasif tetapi bergerak/berkembang. Demikian pula sifat dosa walau “ditutup” sekalipun, dia tidak tinggal diam atau hilang tetapi terus berkembang merusak diri sendiri juga orang-orang di sekitar kita.
Kemegahan “ragi” dosa apa yang terdapat dalam jemaat Korintus? Melakukan percabulan tetapi sombong (1 Kor. 5:1-2) karena harga diri dan kedudukan tinggi.
Selain kesombongan, ragi dosa apa saja yang tidak boleh terus dibiarkan menetap karena berisiko menjalar? Perbuatan daging seperti: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, perselisihan, iri hati, amarah, dst. di mana pelakunya tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (Gal. 5:19-21). Jadi, untuk menjadi milik Kristus, kita harus menyalibkan daging dan hidup dipimpin oleh Roh (ay. 24-26).
Aplikasi: Tuhan telah menyelamatkan kita dengan pengorbanan diri-Nya mati disalib dan Ia ingin kita hidup dalam Roh Kudus untuk dipimpin dalam seluruh kebenaran. Jika tidak, kita tidak akan dapat masuk dalam pesta kemurnian dan kebenaran melainkan masuk penghakiman di Babel bersama raja-raja di bumi yang telah berbuat cabul dengan perempuan lacur (Why. 18:8-10).
- Bersikap tegas terhadap (ragi) dosa (ay. 7).
Kita mengambil sikap tegas menghadapi ragi dosa, tidak boleh berkompromi karena akan berkembang terus. Ternyata ragi sudah dibicarakan saat orang Israel berseru kepada Allah karena penderitaan mereka diperbudak Mesir selama 430 tahun. Mereka hanya melakukan kewajibannya dari pagi sampai malam bekerja keras tetapi haknya untuk beribadah dirampas. Tuhan mendengarkan seruan mereka kemudian memakai Musa dan Harun untuk membebaskan bangsa Israel yang adalah anak sulung-Nya (Bil. 3:13). Karena keras tengkuknya Firaun, Tuhan menjatuhkan 10 tulah barulah Firaun ketakutan lalu membiarkan bangsa Israel keluar di malam hari. Tuhan memerintahkan setiap rumah tangga orang Israel menyembelih anak domba dan darahnya dibubuhkan pada dua tiang pintu dan ambang atas, makan dagingnya yang dipanggang juga makan roti tidak beragi beserta sayur pahit (Kel. 12:8). Mereka kemudian pergi dengan tergesa-gesa dan tangan Tuhan yang kuat membawa mereka keluar dari perbudakan Mesir. Demikian pula dengan kita, orang berdosa, yang ditebus oleh darah Kristus untuk diselamatkan dari perbudakan dosa. Semua ragi dosa lama telah diselesaikan di atas kayu salib; jangan membuat ragi dosa baru dalam perjalanan hidup ini seperti dilakuan bangsa Israel di padang gurun yang memberontak kepada Tuhan bahkan melakukan penyembahan berhala dll. berakibat tidak semua masuk ke negeri perjanjian.
Aplikasi: hendaknya kita hidup hati-hati setelah dibeli oleh darah Yesus yang mahal untuk tidak mudah berbuat dosa dengan bersedia menerima nasihat dan teguran Firman Tuhan (2 Tim. 4:2). Kita harus bersikap tegas membuang ragi dosa lama (jangan mempertahankannya demi gengsi dan harga diri) juga ragi dosa yang menghadang di depan kita. Bila ditemukan berbuat dosa, kita bersedia ditegur secara pribadi (Mat. 18:15) untuk direstorasi. Jangan menunda-nunda waktu untuk bertobat, segeralah mengambil keputusan tegas untuk membereskan ragi dosa tersebut!
- Berpesta dengan kemurnian dan kebenaran (ay. 8).
Kalau kita sudah membereskan ragi dosa, kita dapat bergabung dalam pesta dengan kemurnian dan kebenaran itulah perkawinan Anak Domba Allah di mana pengantin-Nya (gereja Tuhan) telah siap sedia (Why. 19:6-10).
Introspeksi: siapkah kita ikut berpesta dalam perkawinan Anak Domba Allah? Sudahkah kita berpakaian linan halus berkilauan dan yang putih bersih itulah perbuatan-perbuatan benar dari orang kudus? Tentu perbuatan benar nan kudus dapat kita peroleh bila kita tegas membuang ragi dosa dan kekerasan hati untuk bersedia menerima teguran Firman Tuhan yang mengoreksi kesalahan kita.
Apakah kita rindu berpesta dengan kemurnian dan kebenaran? Kita tidak boleh membiarkan ragi dosa lama tetap bercokol karena berisiko menyebar/berkembang. Kita harus tegas tidak mau berkompromi dengan ragi dosa yang dapat menjerumuskan kita kepada penghakiman dibakar dengan api bersama raja-raja yang berbuat cabul dengan pelacur besar di Babel. Sebaliknya, marilah kita memanfaatkan kemurahan kurban Kristus yang membasuh jubah kita yang kotor sehingga kita siap sedia masuk ke dalam pesta Anak Domba Allah untuk hidup bahagia bersama-Nya selama-lamanya. Amin.