• KESATUAN DI TENGAH PERBEDAAN
  • 1 Korintus 1:10-17
  • Lemah Putro
  • 2026-02-08
  • Pdt. Edi Sugianto
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
kesatuan-di-tengah-perbedaan

Shalom,

Sebagai warga Indonesia, kita memilik semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu jua” sebab penduduk Indonesia dari Sabang sampai Merauke terdiri dari beragam budaya, bahasa, suku, ras, warna kulit, rambut, logat dst. Apa pun latar belakangnya, kita semua menjadi satu bangsa, satu bahasa dan satu tumpah darah Indonesia.

Sebenarnya prinsip esensi dari semboyan ini sudah lama ada di dalam Alkitab seperti nasihat kepada jemaat Tuhan di Korintus juga kepada kita sekarang. Pertanyaan: sudahkah kita bersatu di tengah-tengah perbedaan dan keragaman yang ada? Bukankah kesatuan umat Allah merupakan rencana, kehendak, dan tujuan Allah atas kehidupan kita? Itu sebabnya Yesus menjelang akhir hidup-Nya sebelum disalib berdoa kepada Allah Bapa supaya orang-orang yang percaya kepada-Nya menjadi satu sama seperti Dia dan Bapa adalah satu sehingga dunia percaya bahwa Bapa yang mengutus-Nya (Yoh. 17:21).  

Perlu diketahui jemaat Korintus mempunyai banyak permasalahan dan pergumulan berkaitan dengan kehidupan nikah, penyembahan berhala, ketidaktertiban dalam ibadah, percabulan, ajaran sesat dll. yang menimbulkan perpecahan di dalamnya. Itu sebabnya Rasul Paulus menasihati mereka melalui surat Korintus. 

Nasihat apa yang perlu diperhatikan agar jemaat Korintus (juga kita) hidup dalam kesatuan di tengah perbedaan? Agar hidup bersatu di dalam Kristus (1 Kor. 1 – 4) dan keragaman serta perbedaan karunia-karunia bukan membuat mereka pecah tetapi saling melengkapi (1 Kor. 12 – 14). Sesungguhnya hidup di dalam kesatuan akan menyelesaikan semua permasalahan bahkan sependapat/seia sekata di dalam setiap perbedaan berdampak tidak menimbulkan perpecahan. 

Topik kesatuan dan sehati sepikir tidak hanya ditujukan kepada jemaat Korintus pada waktu itu tetapi kepada semua orang percaya di mana pun berada, termasuk kita, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus (1 Kor. 1:2). Jelas, kesatuan jemaat terkait dengan Injil Kristus tidak hanya berlalu di masa lampau tetapi juga masa sekarang dan masa yang akan datang. Itu sebabnya Yesus datang ke dunia untuk menyatukan orang-orang percaya serta mengembalikan relasi mereka dengan Allah, dengan sesama juga dengan alam sekitar.

Tentu Rasul Paulus tidak asal menasihati dengan sembarangan tetapi berlandaskan kasih sebab dia menganggap jemaat Korintus adalah saudara-saudara di dalam Tuhan. Ilusrasi: kita akan peduli dengan sesama saudara dalam keluarga dan menasihati bahkan menegur bila mereka berbuat kesalahan. Semua ini dilakukan karena kasih kita kepada mereka.  

Kenyataannya jemaat Korintus dalam kondisi: dipanggil menjadi orang kudus, memiliki kekayaan karunia Tuhan, menerima janji dan jaminan keselamatan kekal serta memiliki Allah yang setia. Demikian pula dengan kondisi kita yang berstatus sama seperti jemaat Korintus. Namun sayang, status yang melekat dalam diri jemaat Korintus tidak selaras atau dibarengi dengan perilaku yang semestinya. Buktinya, banyak masalah dan perpecahan terjadi di dalam jemaat Korintus.  

Introspeksi: apakah kita yang bergereja di bawah naungan GKGA dengan aneka ragam latar belakang yang berbeda satu sama lain hidup dalam kesatuan dan seia sekata? 

Frasa “seia sekata” bukan berarti tidak ada perbedaan pendapat tetapi semua perbedaan pendapat perlu dikomunikasikan, dibahas dan didiskusikan bersama untuk menghasilkan keputusan yang seia sekata. Demikian pula dalam rumah tangga, studi, pekerjaan dan berjemaah, perlu adanya komunikasi dan diskusi, jangan hanya berasumsi dan beropini yang malah merusak hubungan. Perlu saling terbuka dan saling menerima supaya ada kesatuan di tengah jemaat orang-orang percaya. Jangan biarkan perbedaan pendapat dan keadaan membuat kita terpecah, terbagi-bagi dan ada jarak satu sama lain!  

Perbedaan yang ada di antara sesama tubuh Kristus seharusnya bukan menjadi alasan untuk pecah atau berpisah tetapi keragaman ini justru menjadi kekayaan yang menyatukan demi kemuliaan Tuhan. Bukankah dalam satu tubuh ada banyak anggota dengan fungsi beda-beda tetapi semuanya saling melengkapi dan saling mengisi? 

Apa penyebab perpecahan dan perselisihan di dalam jemaat Korintus? 

Adanya pengelompokan atau penggolongan berdasarkan tokoh atau figur yang diidolakan – golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas, golongan Kristus. Bukankah hal sama juga terjadi dalam hidup kekristenan? Di dalam sejarah kekristenan ada golongan Calvinis, kelompok Lutheran, golongan Armenian, dan lainnya yang menyebabkan adanya ribuan denominasi atau aliran saat ini? Walau secara positif pelayanan makin berkembang dan makin luas jangkauannya untuk memuridkan semua bangsa seperti yang dikehendaki Tuhan, Ia tetap tidak menghendaki adanya perpecahan antargereja. Berbeda pandangan yang bersifat sekunder tidak menjadi masalah asalkan tetap satu di dalam hal-hal utama kekristenan.

Aplikasi: sebagai jemaat, kita harus menghormati pemimpin rohani (hamba Tuhan) yang menyampaikan Firman karena mereka diurapi oleh-Nya tetapi kita tidak boleh mendewakan mereka lebih daripada Tuhan sebab dengan mengidolakan satu orang akibatnya merendahkan yang lain. Hanya Tuhan satu-satunya yang terutama dalam hidup kita dan Ia tidak dapat tergantikan oleh siapa pun. Praktik mengultuskan seseorang menyebabkan terjadinya grup-grupan dan ini salah satu ciri dari jemaat yang belum dewasa seperti kondisi bayi dan anak kecil yang suka merengek serta memilih makanan sesuai selera (1 Kor. 3:1-9). 

Ternyata perselisihan dan perpecahan sebagai tanda ketidakdewasaan rohani timbul karena iri hati. Waspada, kelompok-kelompok cell yang terbentuk dari aneka ragam latar belakang bertujuan untuk makin tumbuh dewasa rohani buka malah pecah, berselisih, iri hati, saling menghakimi dan saling menjelekkan. Jadi, yang menjadi masalah bukan karena adanya kelompok-kelompok sebab jemaat mula-mula juga hidup berkelompok – beribadah bersama di Bait Allah juga di rumah-rumah mereka – tetapi merasa paling benar, paling rohani dan paling murni kemudian merendahkan orang lain. 

Bagaimana kita dapat bersatu dan seia sekata walau ada perbedaan besar dalam hidup berkelompok? Diperlukan kerendahan hati untuk mampu menghadapi perbedaan. Dengan sikap rendah hati, kita terbuka dapat menerima kelebihan orang lain serta mengakui kelemahan diri sendiri. Ingat, setiap pelayan Tuhan memberitakan pesan Firman Tuhan yang sama walau gaya bicara dan gesturnya beda; untuk itu kita tidak boleh berfokus pada orangnya tetapi yang utama ialah Kristus yang diberitakan demi pertumbuhan rohani kita. Memang perbedaan yang ada merupakan realitas yang tidak dapat dihindari sebab perbedaan tersebut adalah karunia Tuhan dan kita diciptakan secara unik untuk saling melengkapi demi kesatuan dan penyatuan. Justru semua perbedaan tersebut perlu diharmonisasikan demi kepentingan bersama. 

Selanjutnya Paulus menasihati agar jemaat tetap bersatu di dalam Kristus sekalipun ada perbedaan sebab Kristus Yesus itu satu tidak terbagi-bagi (ay. 13-17). Hanya Kristus tersalib yang menyelamatkan manusia berdosa. Juga hanya di dalam Nama Yesus semua orang percaya dibaptis. Artinya, kesatuan harus berpusat kepada Kristus semata. Memang masing-masing hamba Tuhan ada karunianya sendiri-sendiri antara lain: menginjil, membaptis, menggembalakan, mengajar, menasihati dll. untuk mendewasakan jemaat. Juga imam-imam dan jemaat memiliki karunia pada posisinya masing-masing di dalam pembentukan tubuh Kristus. 

Paulus tidak menuntut keseragaman tetapi kesatuan hati dan pikiran. Tentu boleh berbeda tetapi jangan berpecah dan kesatuan tidak terjadi dengan sendirinya. Tuhan sudah mempersatukan kita tetapi kita perlu merawat, menjaga dan memperjuangkan kesatuan ini. 

Selain itu, Paulus menasihati jemaat Korintus (juga kita) untuk hidup menurut teladan Kristus (1 Kor. 4:7) agar dapat hidup bersatu. Seperti nasihat Paulus kepada jemaat Filipi agara mereka sehati-sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan dengan tidak mencari kepentingan sendiri tetapi rendah hati dan menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri (Flp. 2:1-11). Untuk memiliki kesatuan di tengah perbedaan, kita perlu memiliki pikiran dan perasaan yang sama seperti Kristus yakni tidak mencari kepentingan diri sendiri dan rendah hati. Buktinya Yesus mengosongkan diri-Nya, menjadi sama dengana manusia (tidak berdosa) dan rela menderita bahkan mati disalib untuk keselamatan orang lain. Semuanya itu didasarkan pada kasih-Nya kepada kita semua.

Apakah kita sudah hidup dalam kesatuan di tengah perbedaan? Marilah kita tidak mengidolakan manusia siapa pun hebatnya tetapi mengutamakan Tuhan semata; berani menerima kelebihan orang lain dan kekurangan diri sendiri; memahami perbedaan karunia-karunia yang ada untuk melengkapi dan saling mengisi; perlu adanya komunikasi dan diskusi untuk mengatasi perbedaan pendapat; rendah hati dan meneladan karakter Yesus yang rela berkurban demi kepentingan keselamatan orang lain. Dengan demikian Nama Tuhan saja yang dipermuliakan. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: