Shalom,
Kita tentu merindukan adanya kesatuan di tengah perbedaan dan ini menjadi tantangan sendiri untuk menjadi satu juga sehati sepikir di dalam hidup berjemaah dengan realita aneka ragam latar belakang yang ada.
Ternyata Tuhan juga menghendaki kita hidup dalam kesatuan seperti tertulis di Alkitab. Kesatuan apa yang dirindukan Tuhan terhadap jemaat yang dikasihi-Nya?
- Tuhan tidak ingin adanya perpecahan dalam jemaat.
“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” (1 Kor. 1:10)
Kata “tetapi” menyatakan kondisi yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Perlu diketahui jemaat Korintus telah dipanggil, dipilih, dikuduskan di dalam Yesus Kristus, tekun dalam persekutuan, menerima segala macam karunia dll. tetapi kondisi ideal tersebut ternyata tidak sesuai dengan realitanya. Itu sebabnya Rasul Paulus menulis surat berisikan nasihat dan teguran yang ditujukan kepada jemaat di Korintus karena banyaknya masalah bahkan perpecahan di dalamnya.
Rasul Paulus mengulang frasa “saudara-saudaraku” hingga dua kali kepada jemaat Korintus (ay. 10-11) karena menganggap mereka sama-sama anggota keluarga Allah yang menerima penebusan dari Tuhan, dipanggil dan dipilih dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib seperti dialami oleh Paulus (ay.1-2). Di dalam semangat bersaudara inilah Paulus memberikan nasihat sebab dia tidak mau melihat sesama saudara terus menerus berperilaku salah.
Introspeksi: sudahkah kita memperlakukan anggota jemaat sebagai saudara kita? Atau yang terjadi malah sikut menyikut, baku hantam dan menyakiti satu sama lain karena iri hati? Tidak ada salahnya kita menasihati dan menegur sesama saudara untuk menyatakan apa yang benar supaya mereka berjalan dalam kebenaran namun kita melakukannya dengan kasih. Juga jangan salah paham kemudian langsung marah bila kita ditegur atas kesalahan dan kekeliruan yang kita lakukan. Hendaknya kita menenangkan hati terlebih dahulu untuk melihat apakah teguran itu memang benar. Jika benar, kita justru harus berterima kasih walau jujur sulit untuk mengakuinya.
Paulus tidak jemu-jemu menasihati dan mengingatkan bahayanya perpecahan. Waspada, persatuan dalam persekutuan rentan runtuh gara-gara perkataan dan isu yang ditebarkan. Yesus sendiri berdoa supaya orang-orang percaya menjadi satu sama seperti Ia dan Bapa satu adanya (Yoh. 17:20-21).
Disebutkan pula nasihat yang diberikan berdasarkan otoritas Nama Tuhan Yesus Kristus (a y. 10). Nasihat ini tidak berlaku hanya kepada jemaat Korintus tetapi juga bagi semua orang percaya di mana pun berada termasuk kita. Nasihat untuk seia sekata, erat bersatu, sehati sepikir harus dikerjakan dengan kesadaran penuh karena perpecahan sangatlah merugikan sedangkan kesatuan mendatangkan berkat yang tercurah dari Tuhan.
Bila mulai timbul keretakan, upayakan memperbaikinya dengan memeriksa apakah perkataan maupun perbuatan kita menjadi penyebab timbulnya perpecahan. Istilah “erat bersatu” dalam sehari-hari ibarat memperbaiki jala yang koyak sehingga diperlukan ketelitian dan kecermatan untuk menyatukan bagian yang koyak. Istilah “erat bersatu” juga berarti usaha menyambung tulang yang patah agar tersambung dan tegak kembali. Ketika tulang tersambung dan ditegakkan, badan dapat berdiri tegak. Jadi “erat bersatu” berbicara mengenai usaha yang dilakukan dengan kesadaran demi keutuhan berjemaat agar kukuh, tidak goyah.
“Seia sekata” bukan berarti meniadakan perbedaan pendapat yang wajar terjadi tetapi pendapat yang berbeda tidak mengarah pada perpecahan. Perbedaan pendapat menjadi salah bila berujung pada keinginan memecah belah.
- Tidak mengultuskan seseorang (ay. 11-16).
Ternyata ada golongan-golongan di antara jemaat oleh karena masing-masing mengidolakan tokoh yang dikaguminya seperti: Paulus, Apolos, Kefas bahkan Kristus. Mereka mengultuskan figur seseorang lalu merendahkan yang lain.
Golongan Paulus mengutamakan kasih karunia dan kemungkinan menggunakan kebebasan untuk bertindak sekehendak hati. Golongan Apolos mengidolakan kemahiran soal-soal Kitab Suci. Apolos memang adalah seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci.(Kis. 18:24). Golongan Kefas menganggap hukum Yahudi lebih utama karena Kefas, orang Yahudi, merupakan rasul senior. Golongan Kristus menganggap paling sempurna. Justru adanya penggolongan-penggolongan seperti itu menimbulkan pertikaian padahal Paulus, Apolos, Kefas tidak mengajarkan hal semacam itu dan Tuhan tidak menghendakinya.
Kalau begitu apa penyebab utama terjadinya pengelompokan-pengelompokan tersebut? Karena rohani mereka masih kanak-kanak (1 Kor. 3:3-7) sehingga tidak dapat melihat pelbagai perbedaan karunia hamba-hamba Tuhan yang mendorong, membina dan menuntun mereka kepada pengenalan akan Tuhan. Pemakaian hamba-hamba Tuhan dengan pelbagai karunia bertujuan untuk kepentingan bersama (1 Kor. 12:7) bukan untuk menjatuhkan satu sama lain. Bahkan Paulus memberi pertanyaan kontras apakah Kristus terbagi-bagi (ay. 13) untuk menyadarkan jemaat agar tidak mengidolakan figur tertentu kecuali Yesus Kristus. Pengenalan mereka berhenti kepada pembicara memukau yang dipakai Tuhan sebagai alat-Nya padahal Allahlah yang memberi pertumbuhan (1 Kor. 3:5-7). Tuhan mau kita dewasa rohani, bukan berhenti kepada hamba Tuhan itu, tetapi kita menyadari Tuhan memakai para hamba Tuhan, untuk membimbing kita bertemu dengan Tuhan, bertumbuh menjadi dewasa rohani. Semua orang dipanggil masuk ke dalam persekutuan dengan Kristus yang tidak terbagi-bagi. Walau berlatar belakang beda-beda, semua disatukan dalam kesatuan tubuh Kristus yang mulia. Jadi konsep mengidolakan seseorang lebih daripada Tuhan adalah konsep yang melanggar kesatuan Tubuh Kristus.
Paulus juga menyinggung soal baptisan bukan bermaksud untuk merendahkan arti baptisan air tetapi mengingatkan jemaat untuk tidak membanggakan siapa yang membaptis yang dapat menimbulkan perpecahan. Yang penting ketika masuk dalam baptisan, kita menguburkan hidup lama dan bangkit memakai kehidupan baru. Kita memproklamasikan kepada dunia bahwa kita adalah orang yang sudah diselamatkan.
Aplikasi: hendaknya kita tidak menghabiskan energi dengan mengunggulkan pribadi seseorang lalu menjelek-jelekkan yang lain. Sebaliknya, marilah kita bersatu dengan saling mendoakan siapa pun hamba Tuhan yang dipakai untuk melayani sesuai kapasitas yang Tuhan karuniakan demi pertumbuhan rohani kita.
- Meninggikan Kristus yang menyatukan kita oleh kematian-Nya (ay. 17).
“Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.”
Paulus menyadarkan jemaat tentang pentingnya Kristus di dalam pelayanan dan bagaimana Injil diberitakan agar banyak orang mengalami kuasa salib Tuhan. Jemaat juga diingatkan bahwa keberadaan mereka bukan karya manusia tetapi karya salib Kristus walau Paulus yang merintis tetapi bukan dia yang membangun. Demikian pula dengan kita, orang kafir, yang sebelumnya tanpa Kristus, tanpa pengharapan, tanpa Allah sekarang dipersatukan menjadi warga/jemaat Allah oleh sebab peran dari salib Yesus (Ef. 2:11-16). Kita dipilih menjadi imamat rajani dan bangsa yang kudus untuk memberitakan perbuatan-perbuatan Allah yang besar (1 Ptr. 2:9-10).
Kini kita mengerti bagaimana hidup dalam kesatuan di tengah perbedaan, yakni: memperlakukan anggota jemaat sebagai saudara seiman, tidak mengidolakan pribadi seseorang melebihi Tuhan serta meninggikan Kristus di atas segalanya karena kita dari aneka ragam latar belakang dipersatukan oleh pengurbanan-Nya di salib. Marilah kita menggunakan mulut dan perbuatan untuk menjadi berkat (bukan malah memecah belah) sebab kehidupan seperti ini yang dirindukan Tuhan agar Nama-Nya dipermuliakan. Amin.