• SUSU DAN MAKANAN KERAS
  • 1 Korintus 3:1-3
  • Johor
  • 2026-04-12
  • Pdm. David Wellyanto
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
susu_dan_makanan_keras

Shalom,

Dalam kehidupan sehari-hari kita memahami bahwa seorang bayi membutuhkan susu sebagai makanan paling tepat baginya. Namun akan menjadi masalah jika seseorang yang sudah dewasa hanya dapat minum susu dan menolak makanan padat/keras. Ini menunjukkan gejala yang tidak normal. Demikian pula dalam kehidupan rohani. Memang di tahap awal orang percaya membutuhkan susu rohani tetapi Tuhan tidak pernah merancang kita hidup dalam tahap itu selamanya. Tuhan menghendaki pertumbuhan dari bayi menuju dewasa; dari susu menuju makanan keras. Rasul Paulus menghadapi masalah ini di dalam jemaat Korintus. Mereka manusia duniawi yang belum dewasa dalam Kristus sebab masih mengonsumsi susu bukan makanan keras (1 Kor. 3:1-2).  

Secara lahiriah jemaat ini tampak maju memiliki berbagai karunia rohani (1 Kor. 12 – 14). Ironis, di tengah kemajuan aktivitas tersebut, Paulus melihat mereka sebagai bayi rohani (babes in Christ) karena masih terlibat dalam iri hati, perselisihan dan perpecahan (ay. 3). Mereka membentuk kelompok sendiri-sendiri, seperti golongan Paulus, Apolos, Kefas dan Kristus (1 Kor. 1:12). Hal yang demikian oleh Paulus dilihat sebagai tanda ketidakdewasaan rohani. 

Jemaat Korintus menjadi peringatan bagi kita bahwa banyaknya karunia di dalam gereja tidak serta merta membuktikan jemaat itu dewasa. Gebyarnya kegiatan gereja, majunya pelayanan, lamanya menjadi orang Kristen tidak otomatis jemaat itu matang. Sekalipun mereka dibina dan dididik oleh oleh hamba-hamba Tuhan yang hebat, ukuran kedewasaan rohani harus terlihat dari karakter bukan dari pengalaman. 

Di dalam hidup bergereja, pertumbuhan dari “susu” menuju “makanan keras” bukan hanya urusan pribadi tetapi juga terkait dengan tubuh Kristus. Gereja tidak bisa hanya berfungsi sebagai tempat berkumpulnya orang-orang percaya saja, tetapi juga membentuk jemaat menjadi dewasa rohani. Gereja yang sehat tidak hanya penuh aktivitas tetapi harus dibarengi dengan kedewasaan. Gereja yang memiliki  banyak anggota namun masih bayi rohani maka pelayanan di dalamnya mudah dipenuhi dengan perselisihan, persaingan dan roh perpecahan. Sebaliknya, jika jemaat tumbuh menuju kedewasaan, mereka akan kuat bersatu dan efektif dalam pekerjaan Tuhan, menyaksikan kebesaran-Nya. 

Ciri dari jemaat yang dewasa rohani ialah tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan yang menyesatkan (Ef. 4:13-14). 

Mengapa orang percaya masih membutuhkan susu rohani 

Perlu diketahui setiap orang percaya memulai kehidupan rohaninya sebagai bayi rohani yang membutuhkan “susu murni” untuk bertumbuh (1 Ptr. 2:2). Ini menunjukkan tahap awal iman orang yang baru percaya memang membutuhkan pengajaran dasar. Susu rohani merujuk pada dasar-dasar iman kepada Kristus. Tanpa dasar yang kuat maka pertumbuhan tidak akan terjadi. Orang yang baru percaya membutuhkan dasar-dasar iman, perlu memahami keselamatan, pengampunan dosa, kasih Tuhan dan identitas barunya sebagai anak Allah.  

Paulus tidak menyalahkan susunya karena dia juga memberikan “susu” kepada jemaat. Kesalahan terletak pada ketidakmauan jemaat untuk bertumbuh. Pelajaran “susu” dan “makanan keras” yang diajarkan pun bukan jenis pengajaran yang berbeda. Kebenaran yang terkandung di dalamnya juga sama. Namun dalam memahaminya memerlukan penyesuaian menurut tingkat kedewasaan. Misal: pengajaran salib dapat menjadi “susu” bagi bayi maupun “makanan keras” bagi dewasa rohani. Artinya, seseorang dapat mendengar khotbah yang sama tetapi menerimanya dengan tingkat kedalaman berbeda. Contoh: bayi rohani yang mendengarkan pengajaran tentang salib akan menerimanya sebagai berita pengampunan. Sedangkan bagi mereka yang menanjak dewasa rohani, pengajaran  salib menjadi panggilan untuk menyangkal diri dengan melawan dosa; yang lebih dewasa lagi memahami pengajaran ini sebagai panggilan untuk mematikan  kedagingan. Singkatnya, kebenarannya sama tetapi kedalamannya berbeda.

Namun masalah muncul ketika seseorang tetap bertahan pada tahap yang sama setelah bertahun-tahun bergereja. Dia  hanya mau penghiburan tetapi menolak teguran; mau berkat tetapi menolak panggilan untuk menjadi berkat, hanya mau didorong tetapi menolak untuk bertumbuh. Inilah tanda-tanda orang masih hidup dalam tahap “susu”. 

Apa penghambat orang percaya untuk menerima makanan keras 

Penghambat utamanya ialah perbuatan daging seperti: perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, roh pemecah dsb. (Gal. 5:19-21). Paulus tidak menyatakan bahwa jemaat Korintus kurang pengetahuan, kurang pengalaman, kurang karunia tetapi masalah utamanya terletak pada karakter. Selama kedagingan menguasai hati, selalu timbul keinginan untuk meninggikan diri dan membentuk kelompok-kelompok untuk bersaing menjadi yang paling hebat. Akibatnya, mereka tidak akan pernah siap menerima “makanan keras” sebab mengonsumsi “makanan keras” menuntut kerendahan hati, penyangkalan diri dan ketaatan. Itu sebabnya orang yang masih hidup dalam kedagingan menunjukkan sikap-sikap yang menghambat pertumbuhan. 

Seperti apa sifat kedagingan yang menghambat pertumbuhan? Sama seperti sifat anak kecil yakni: reaktif, mudah tersinggung, sulit menerima koreksi, mudah marah jika keinginannya tidak dituruti, mengutamakan egonya sendiri, merasa diri sendiri benar. 

Introspeksi: masihkah kita memelihara iri hati, mudah tersinggung, mau menang sendiri yang memicu perselisihan dan merusak kesatuan tubuh Kristus? Buang dan tinggalkan sifat-sifat kedagingan ini sebab Tuhan menghendaki kita berkarakter manusia rohani! 

Amat disayangkan jemaat Korintus sudah lama menjadi Kristen tetapi masih bertahan sebagai manusia daging yang  tidak berbeda dengan orang dunia. Selama kita menjadikan diri sendiri sebagai pusat perhatian, kita akan tetap hidup dalam tahap “susu” dan menolak kebenaran untuk perubahan hidup menjadi dewasa. 

Kedewasaan rohani akan menghasilkan kesatuan bukan perpecahan karena memosisikan Kristus sebagai pusat tidak lagi pada diri sendiri. Sekalipun perbedaan tetap ada tetapi tidak lagi menjadi perselisihan yang memicu konflik. Sebaliknya, perbedaan menjadi kekayaan bagi jemaat dan gereja. 

Bagaimana pertumbuhan dari susu menuju ke makanan keras 

Penulis Ibrani menegaskan bahwa makanan keras adalah bagi orang dewasa yang terlatih membedakan yang baik dan yang jahat (Ibr. 5:13-14). Kedewasaan tidak datang otomatis secara  instan tetapi memerlukan/menuntut:

  • Waktu untuk latihan rohani.
  • Kedisiplinan dalam latihan rohani.
  • Tidak timbul karena usia tetapi karena latihan. 

Kita harus disiplin mempraktikkan Firman dalam keputusan sehari-hari bukan sekadar menjadi pendengar Firman yang hafal Alkitab di otak tetapi tidak melakukannya. Ilustrasi: untuk menjadi perenang yang andal, seseorang tidak cukup hanya membaca buku-buku teori berenang sekalipun teori itu ditulis oleh pakar-pakar renang. Dia juga tidak cukup hanya mendengarkan ceramah pengalaman dari atlet-atlet perenang walau ini juga perlu. Dia harus menghabiskan waktu untuk disiplin latihan dengan intens. Demikian pula untuk menjadi dewasa rohani, kita harus terlatih melakukan Firman Tuhan, menghidupinya dalam keseharian hidup. 

  • Penyerahan karakter kepada Roh Kudus. 

Pertumbuhan yang benar adalah saat tuntutan pribadi makin mengecil sementara karakter Kristus di dalam kita makin besar. Ini berarti mengizinkan Roh Kudus menggantikan sifat kedagingan kita yang menjadi penghalang kedewasaan rohani. Kasih menggantikan kebencian, kerendahan hati menggantikan kesombongan. Tanpa perubahan karakter, kita hanya menjadi orang Kristen yang “pintar” bukan yang dewasa. Casing kita orang Kristen tetapi isinya manusia dunia. 

  • Hidup dalam kesatuan tubuh Kristus. 

Bayi hanya memikirkan diri sendiri, tidak peduli mamanya sedang repot dan akan menangis sejadi-jadinya kalau butuh susu. Beda dengan orang dewasa yang memikirkan orang lain, misal: seorang ibu tanpa disuruh akan memikirkan kondisi dan keperluan anaknya. 

Kedewasaan rohani dalam kesatuan tubuh Kristus diuji bagaimana jemaat bergereja. Bagaimana kita berinteraksi dengan sesama jemaat? Apa reaksi kita saat disalahpahami? Bagaimana harus bersikap saat bekerja dengan orang yang beda karakter? Perhatikan, orang dewasa rohani tidak ngotot mau menang sendiri saat pelayanan bersama dengan orang-orang yang beda. Sebaliknya, dia akan bekerja untuk membangun kekuatan bagi seluruh kepentingan tubuh Kristus.

Inrospeksi: kita yang berlabel Kristen puluhan tahun bahkan Kristen sejak lahir, masihkah kita bayi rohani yang minum susu? Kita merasa hebat karena memiliki banyak karunia, sibuk dengan pelbagai pelayanan tetapi masih menyimpan iri hati, tutur kata tajam yang memicu perselisihan dan suka grup-grupan yang memecah belah. Bukankah sifat semacam ini bagaikan bayi di mata Tuhan? Sungguh, tragedi terbesar dalam gereja bukan karena gereja kekurangan jemaat melainkan gereja dipenuhi oleh orang dewasa bermentalitas bayi yang mudah tersinggung, haus pujian, sulit memaafkan/mengampuni, pendendam dll. Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk  menjadi pengunjung gereja tetapi Ia ingin kita menjadi prajurit Kristus yang tangguh, kuat memikul salib dan siap mati bagi kedagingan untuk menggunakan hidup ini bagi kemuliaan-Nya.

Marilah kita berhenti mengonsumsi “susu”. Mulailah  berlatih makan “makanan yang keras”. Kita meng-upgrade diri secara rohani menuju kedewasaan. Kita tidak lagi bersikap seperti bayi yang gampang baper, suka insecure, terusik melihat keberhasilan orang lain, sibuk mencari pengakuan dll. Sebagai gantinya, kita siap melayani tanpa pamrih, penuh kasih, ikut senang melihat orang lain berhasil, meningkat dari persaingan menuju kesatuan dan menyadari bahwa kita ini satu tim dalam tubuh Kristus, tidak lagi egosentris tetapi Kristus-sentris hingga kesatuan tubuh Kristus terbentuk dan kita siap menyambut Kristus sebagai Kepala gereja. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: