• HIDUP SEBAGAI MANUSIA ROHANI
  • 1 Korintus 3:1-5
  • Lemah Putro
  • 2026-04-19
  • Pdp. Samuel Sirait
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
hidup-sebagai-manusia-rohani

Shalom,

Tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang dirintisnya beberapa tahun sebelumnya bukan berupa pujian tetapi menunjukkan keprihatinan dan keresahan hati terhadap mereka. Mengapa? Karena mereka yang sudah lama ikut Tuhan, melayani Dia dan mengalami penyertaan-Nya ternyata tidak tumbuh dewasa rohani.

Bagaimana dengan keadaan kita hari ini? Sudahkah kita makin dewasa rohani setelah tahunan beribadah dan melayani Tuhan? Atau masih berada di titik yang sama dalam perjalanan kerohanian kita? Percayalah, Allah tidak pernah berhenti bekerja di dalam memproses hidup kita. 

Kalau begitu apa kriteria hidup seorang manusia rohani?

  • Mengalami pertumbuhan yang nyata (ay. 1-2). 

Untuk hidup sebagai manusia rohani, seseorang harus menunjukkan pertumbuhan yang nyata. Perlu diketahui tidak ada satu orang percaya pun dapat langsung dewasa rohani dalam semalam karena pertumbuhan rohani bukan hanya hasil usaha manusia tetapi juga hasil pekerjaan Tuhan yang terus-menerus dialaminya. Juga bukan hasil dari satu KKR, satu seminar atau satu kebaktian yang mampu membuat orang menjadi dewasa seketika. Semua perjalanan rohani dimulai dari titik nol yakni: belajar berdoa, belajar membaca Alkitab, belajar taat walau ada jatuh-bangun tetap berusaha bangkit kembali. Berlanjut/berprogres ke demensi lebih dalam yaitu masuk dalam baptisan lalu melayani Tuhan dst. yang lebih menguras pikiran dan tenaga dan mungkin menyebabkan kelelahan iman. 

Introspeksi: apakah kita terus bertumbuh? Atau justru berhenti di tempat yang sama? Apakah iman kita makin dipertebal dari waktu ke waktu? 

Masalah tidak adanya pertumbuhan dari mengonsumsi “susu” ke “makanan keras” tidak boleh dianggap sepele; pasti ada ketiwakwajaran melihat waktu dan prosesnya sudah cukup panjang – seharusnya mereka sudah matang/dewasa tetapi faktanya belum/tidak ada perubahan. Ilustrasi: menu bayi yang baru lahir berbeda dari bulan ke tahun sesuai dengan tumbuh kembang si bayi yang menunjukkan perubahan berat badan, tinggi badan, merangkak, berjalan, berbicara dst. Memang semua bayi diawali dengan minum susu tetapi harus berprogres menunya menuju makanan keras. 

Ternyata jemaat Korintus berulang-ulang tidak dapat menerima menu yang disampaikan oleh Paulus karena mereka belum siap menerima Firman Tuhan yang disampaikan. Mungkin saja tanpa disadari pola ini juga terjadi di dalam hidup kita – rohani kita tidak bertumbuh ke tingkat selanjutnya. Memang sebagai orang percaya, kita masih dapat keliru dan jatuh di dalam mengambil keputusan tetapi kegagalan tersebut hanya sesaat tidak berlanjut hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dan dianggap biasa. Misal: ke gereja hanya formalitas saja, memasang “tembok tebal” menolak masuk dalam pelayanan dll. 

Sesungguhnya Tuhan sudah menyediakan makanan rohani yang tepat untuk masing-masing dari kita. Ia tidak akan pernah berhenti berbicara di dalam kehidupan kita juga tentang apa yang harus kita lakukan. Masalahnya ada pada kita, maukah kita mengalami proses pertumbuhan atau tidak? Pertumbuhan rohani tidak tergantung pada seberapa lama kita ikut Tuhan tetapi pada perubahan hidup. Kita mungkin sudah dibaptis, melayani di banyak bidang tetapi sudahkah kita berubah dalam emosi (tidak lagi gampang marah atau tersinggung), tutur kata tidak lagi tajam menyakitkan, perilaku lembut tidak lagi kasar? 

Waktu berjalan terus tidak dapat diputar kembali – dari bayi menanjak dewasa kemudian menikah dan menjadi lansia. Kalau pertumbuhan tidak terjadi, pasti ada penyebabnya. Apa yang harus dilakukan? 

  • Menjaga kesatuan hati (ay. 3-4).

Tampak kasatmata jemaat Korintus terbagi-bagi menjadi golongan Paulus, Apolos, Kefas. Identitas “jemaat Allah” atau “jemaat kudus” (1 Kor. 1:2) mulai memudar. Paulus menanggapi masalah ini dengan serius karena mereka menggunakan cara-cara duniawi yakni adanya iri hati dan perselisihan.

Apa itu iri hati? Tidak suka orang lain diberkati/berhasil, merasa tersaingi melihat orang lain lebih menonjol/menjadi sorotan. Sementara perselisihan bukan hanya beda pendapat tetapi hal kecil dapat menjadi masalah besar menimbulkan konflik yang melukai dan merusak hubungan. Waspada, iri hati merusak dari dalam sedangkan perselisihan menghancurkan dari luar.

Pernahkah kita merasa terganggu melihat orang lain lebih dipakai Tuhan dalam pelayanan? Sulit bersukacita melihat orang lain naik jabatan? Dan tahukah terkadang keputusan kita yang tampak sederhana dapat mengakibatkan kesalahan fatal? Ucapan dan cara kita menyelesaikan perkara saat terdesak mudah dilihat dan dikenali orang sekitar, apakah emosinya meledak-ledak, cepat menyalahkan orang lain?   

Perhatikan, yang berbahaya bukan apa yang Tuhan berikan kepada kita tetapi kita tidak bertumbuh sesuai yang Tuhan inginkan oleh sebab iri hati yang tidak terlihat di wajah tetapi di hati kita. Kita tidak rela melihat orang lain lebih dipakai daripada kita. Semua ini terjadi karena kita tidak mau rendah hati. 

Rasul Paulus mau mencabut akar iri hati dan perselisihan dari tengah-tengah umat Tuhan karena dapat merusak relasi komunitas serta bagian-bagian yang lain. Dia ingin menegaskan bahwa jemaat harus dapat menjaga kesatuan hati sebagai sesuatu yang utama. Kita tidak perlu terancam melihat keberhasilan orang lain kemudian merencanakan sesuatu yang licik nan jahat memakai cara duniawi. Tanda kedewasaan rohani antara lain: dapat ikut bersukacita melihat kesuksesan orang lain, memberikan pujian kepada orang lain yang berhasil dll. Ketika Paulus diidolakan oleh kelompoknya, dia tidak memprovokasi untuk memperkeruh situasi tetapi menegur keras sifat childish mereka. Manusia duniawi ditandai dengan suka membanding-bandingkan, mengagumi seseorang/kelompok tertentu dan meremehkan yang lain oleh sebab iri hati dan perselisihan.  

  • Melayani tanpa membandingkan (ay. 5). 

Paulus membawa kita kepada satu kebenaran yang penting bahwa bukan Apolos atau Paulus sebagai pelayan-pelayan Tuhan yang menjadi sentral/fokus. Paulus tidak ingin manusia disandingkan sejajar dengan Tuhan dan dia mau supaya manusia mengetahui posisinya yaitu sebagai pelayan Tuhan, alat di tangan-Nya.

Introspeksi: apakah kita suka membanding-bandingkan pelayanan di atas mimbar dan dilihat orang lebih tinggi, lebih penting serta lebih bagus ketimbang pelayanan kecil di belakang layar? Atau pelayanan yang besar memanfaatkan pujian dan nama lalu merendahkan yang kecil sehingga memperuncing perpecahan? Atau timbul persaingan antarpelayanan? Itu cara main yang tidak sehat, yakni selama kita masih membandingkan dan belum mengetahui siapa yang paling utama (itulah Tuhan) di dalam hidup kita. Pelayanan bukan tentang siapa yang (paling) terlihat tetapi siapa yang paling setia sekalipun tidak dilihat orang. 

Ketika Kristus menjadi pusat, kita tidak akan sibuk membanding-bandingkan lagi – tidak lagi ada yang diunggulkan atau direndahkan; tidak ada yang lebih baik atau kurang baik – dan bersukacita melihat orang lain dipakai Tuhan. Pada akhirnya bukan tentang siapa yang dipakai Tuhan tetapi siapa yang paling bersedia hidupnya dipakai oleh Tuhan. Masing-masing mempunyai pelayanan berbeda tetapi saling mendukung dan melengkapi menyatakan kesatuan di dalam keberagaman. Ilustrasi: ketika ujung kaki kesakitan terantuk oleh batu-bata, yang berteriak bukan kaki tetapi mulut. Demikian juga Allah memanggil kita untuk melayani supaya kita semua makin maju dan bertumbuh ke arah yang lebih baik. Apa pun bentuk pelayanan kita, kita harus setia dengan apa yang Tuhan percayakan. Namun jangan pula bersikukuh tidak mau turun dari pelayanan bila tiba waktunya proses regenerasi berlangsung. Allah terus memakai banyak orang bergantian.

Mari kita periksa apakah kita benar-benar bertumbuh menjadi manusia rohani atau masih berada di titik yang sama? Biarkan Tuhan mengubah hati dan kita menjaga kesatuan hati dengan menghargai perbedaan dalam pelayanan. Menjadi manusia rohani bukanlah soal posisi tetapi soal pertumbuhan; bukan soal siapa yang dipakai tetapi siapa yang berubah; bukan berapa lamanya kita melayani Tuhan tetapi apakah kita makin serupa dengan-Nya. Jangan terlalu sibuk dengan pelayanan hingga kita tidak memberi ruang bagi Tuhan untuk mengubah hidup kita dan membuang sifat iri hati! Tuhan tidak pernah menolak kita tetapi Ia memberikan jalan supaya kita terus bertumbuh sesuai dengan yang diinginkan-Nya. Amin. 

  • Video Youtube Ibadah: