Shalom,
Yakinkah setiap kita yang percaya kepada Kristus adalah manusia rohani – manusia baru yang dipenuhi oleh Roh Kudus? Masalahnya, status manusia rohani kadang kala tidak dibarengin dengan kehidupan rohani. Rasul Paulus menjumpai jemaat Korintus belum mengalami pertumbuhan rohani padahal mereka sudah percaya kepada Kristus melalui penginjilannya dan disebut orang-orang kudus (1Kor.1:2; 3:1-2). Ternyata dalam kurun waktu 1½ tahun mereka masih belum dewasa rohani walau sudah menerima pengajaran. Mereka masih bayi rohani yang memerlukan susu.
Introspeksi: sudahkah kita mengalami pertumbuhan rohani sejak kita percaya Kristus? Seberapa lama kita percaya Kristus (sejak lahir sudah Kristen, sejak remaja atau sudah dewasa), Tuhan ingin kita bertumbuh dewasa rohani. Ilustrasi: seorang bayi yang baru lahir memerlukan ASI sebagai menu utama tetapi dengan berjalannya waktu dalam proses tumbuh kembang dia belajar mengonsumsi makanan keras tidak melulu susu terus. Demikian pula Tuhan merindukan jemaat-Nya hidup sebagai manusia rohani, yang terus mengalami pertumbuhan rohani –dewasa dalam Kristus – yang hidupnya dipenuhi oleh Roh Kudus (pneumatikos) bukan kedagingan (sarkikos).
Apa dasar yang memampukan kita hidup sebagai manusia rohani?
- Menerima Roh Allah yang dapat menilai secara rohani (1Kor.2:12-15).
Kita menerima Roh Allah ketika kita percaya kepada Yesus (Ef.1:13). Roh Allah dimeteraikan dalam kehidupan kita sampai janji keselamatan kita terima sepenuhnya. Roh Allah memampukan kita menjadi manusia rohani dan senantiasa mengingatkan serta mendorong kita untuk hidup sesuai dengan kebenaran Firman (Yoh.16:8-13; Gal.5:13-17; Ef.5:18).
- Memiliki Pikiran Kristus (1Kor.2:16).
Manusia rohani dipimpin oleh Roh Allah untuk mengerti pikiran Kristus sehingga dia hidup sesuai piikiran Kristus (bnd. Flp.2:5). Pikiran Kristus inilah yang mendorong orang percaya untuk bisa mengerti kehendak Allah.
Bagaimana Prinsip Hidup sebagai Manusia Rohani?
- Manusia rohani adalah manusia dewasa yang dapat membedakan apa yang menjadi kehendak Allah.
Paulus menyebutkan bahwa manusia rohani adalah manusia dewasa yang dapat menerima dan mencerna makanan yang keras (1Kor.3:2). Manusia dewasa rohani terlatih pancaindranya untuk membedakan yang baik dan yang jahat (Ibr.5:13-14). Dia tidak serta merta menelan makanan keras yang diterimanya tetapi mencicipi dan menguyahnya lebih dahulu. Kalau dirasanya tidak baik, dia akan memuntahkannya walau manis. Sebaliknya, walau terasa pahit di mulut, dia akan menelannya kalau itu baik. Artinya dia dapat membedakan manakah yang baik dan tidak baik.
Mengonsumsi “susu” tidaklah salah ketika diminum pada waktu dan orang yang tepat sesuai porsi dan jenisnya. Orang yang dikuasi Roh Kudus dapat membedakan ajaran yang sehat atau yang sesat (1Yoh.4:3-6). Mereka diperlengkapi dengan pelbagai pekerjaan pelayanan untuk mencapai kedewasaan penuh ke arah Kristus sebagai Kepala agar tidak diombang-ambing oleh pengajaran sesat (Ef.4:11-13). Sebagai manusia dewasa rohani, kita harus dapat memilah-milah berita-berita di medsos yang benar atau hoax. Kita harus mengalami pembaruan budi sehingga dapat membedakan mana yang menjadi kehendak Allah, yang berkenan dan yang sempurna (Rm.12:1-2).
Aplikasi: diperlukan proses, tidak instan, untuk mengalami perubahan hidup (metamorfosis) dari “ulat” yang jelek menjijikkan menjadi “kupu-kupu” yang indah. Suara Roh Kudus akan mendorong dan mengingatkan kita untuk peka membedakan mana yang baik dan yang buruk. Untuk itu diperlukan banyak latihan hingga terlihat dari pikiran, perkataan, sikap dan tindakan dalam keseharian hidup.
Sebaliknya, manusia yang tidak rohani ia adalah bayi yang belum dewasa dan berperilaku seperti manusia duniawi, yang tidak dapat membedakan manakah yang baik dan yang jahat.
- Manusia rohani membuang semua perbuatan daging dan menghasilkan buah Roh (Gal.5:19-21) yang terpancar dalam tutur kata, sikap dan tindakan.
Manusia yang dewasa terlihat dari kehidupannya yang memuliakan Allah. Namun manusia duniawi kehidupannya menghasilkan perbuatan daging, yang nyata dari sifatnya yaitu iri hati dan perselisihan juga membentuk kelompok/golongan sendiri-sendiri yang menimbulkan perpecahan. Seperti halnya jemaat Korintus yang ada iri hati dan perselisihan (1Kor.3:1-4;1:10-13).
Apa itu iri hati? Sikap kurang senang melihat kelebihan dan berhasilan orang lain. Senang melihat orang lain susah atau susah melihat orang lain senang. Iri hari (bhs. Yun: zelos = zeal, envy, jealousy) dapat bersifat positif dan negatif tergantung motivasinya. Contoh: Rasul Paulus cemburu kepada jemaat di Korintus dengan cemburu Ilahi (2Kor. 11:2) – ini adalah cemburu yang positif. Sementara cemburu negatif pada akhirnya berujung pada perselisihan dan perpecahan karena mementingkan diri sendiri. Waspada, iri hati cenderung menghasilkan berbagai macam kejahatan (Yak.3:13-18).
Paulus mengingatkan jemaat untuk hidup di dalam kesatuan. Itu sebabnya mereka harus bertumbuh dewasa rohani agar tidak timbul iri hati dan perselisihan.
Introspeksi: masihkah sikap iri hati timbul ketika melihat orang lain lebih berhasil baik dalam dunia sekuler maupun dalam pelayanan? Atau masih suka grup-grupan dengan teman yang selevel? Kita harus memiliki sifat rendah hati seperti Yohanes Pembaptis yang makin kecil sementara Yesus makin besar (Yoh.3:30). Ingat, keberagaman seharusnya memperkaya bukan malah memisahkan kita. Untuk itu diperlukan hidup bersama yang memiliki pikiran dan perasaan seperti Kristus (Flp.2:5). Kalau melihat orang/kelompok lain lebih maju/berhasil, kita tidak iri hati tetapi malah memicu kita untuk lebih meningkatkan diri.
Rasul Paulus menegaskan bahwa Apolos, Paulus, Kefas hanyalah pelayan-pelayan Tuhan yang dipercaya melakukan tugas yang diberikan kepada mereka (1Kor.3:5). Memang mereka harus dihormati tetapi tidak untuk dikultuskan/diidolakan. Tuhanlah yang harus menjadi terutama dan fokus dalam hidup kita bukan hamba-hamba-Nya karena Ia yang menumbuhkan iman kita. Orang yang dewasa rohani tahu mana yang prioritas dan yang tidak penting untuk ditinggalkan. Dia tahu apa yang baik untuk diri sendiri, untuk sesama dan untuk Tuhan karena mengerti kehendak Allah dalam dirinya.
Dalam kondisi sebagai Manusia, Yesus menjalani semua proses pertumbuhan seperti lazimnya dialami manusia dimulai dari janin dalam kandungan, lahir, bertumbuh besar (Luk.2:52) dan masuk dalam pelayanan. Yesus bertambah besar (fisik), bertambah besar hikmat-Nya (psikis), makin dikasih Allah (spiritual) dan manusia (sosial). Demikian pula dengan kita, hendaknya mengalami pertumbuhan yang ideal, tidak hanya fisik saja yang bertumbuh tetapi juga dibarengi dengan makin matang/dewasa pemikiran, kejiwaan dan kerohanian kita seperti telah diteladankan oleh Yesus. Memang ada orang lahir berkebutuhan kusus tetapi Tuhan izinkan hal itu terjadi karena Ia memiliki rencana khusus bagi orang tersebut. Tuhan memiliki rencana dan rancangan indah bagi setiap orang apa pun kondisinya. Rasul Paulus juga menyaksikan bagaimana setelah menjadi dewasa, dia meninggalkan sifat kanak-kanak (1Kor.13:11-12) mencerminkan manusia dewasa rohani sampai akhirnya bertemu dengan Kristus, Mempelai Pria Surga.
Marilah kita yang percaya kepada Kristus bertumbuh menjadi manusia dewasa rohani ke arah Kristus dengan meninggalkan sifat-sifat kanak-kanak rohani yang suka iri hati dan berselisih. Manusia rohani hidup dikuasai Roh Kudus, memiliki pikiran Kristus dan menghasilkan buah Roh itulah hidup bersama penuh kasih, sukacita dan damai sejahtera. Hidup manusia rohani makin hari makin serupa dengan Dia, makin memuliakan Dia, hingga satu kali kelak bersanding dengan Kristus, Kepala dan Mempelai Pria Surgawi, di dalam kekekalan bersama-Nya. Amin.