Shalom,
Oleh kasih karunia Allah, Ia menganugerahkan kepada kita kecakapan dalam membangun suatu bangunan (1 Kor. 3:10). Perlu diketahui, dalam membangun suatu bangunan harus dimulai dengan betul sejak dari awal. Juga dasar/fondasinya harus diperhitungkan dengan melihat struktur tanahnya – tanah lembek, bekas rawa-rawa, rawan gempa, tanah gunung dll. Demikian pula dalam membangun sebuah rumah tangga, dari awal masuk pernikahan sudah harus betul.
Firman Tuhan memberikan suatu perumpamaan tentang dua macam dasar dan menegaskan bahwa setiap orang yang mendengar perkataan-Nya dan melakukannya, ia bagaikan orang bijak yang mendirikan rumah di atas batu agar tidak rubuh ketika dilanda hujan, banjir dan angin keras (Mat. 7:24-27).
Allah menganugerahkan kecakapan dan hikmat kepada kita bagaikan seorang ahli bangunan untuk membangun dengan dasar yang kuat itulah Yesus Kristus. Namun kita harus belajar mengetahui cara yang benar dalam membangun agar tidak gampang rusak. Juga jangan meremehkan anugerah-Nya seperti dilakukan oleh Esau yang tidak menghargai bahkan menolak hak kesulungan berakibat menyesal pun tidak ada gunanya!
Aplikasi: hendaknya kita membangun hidup nikah dan rumah tangga sesuai dengan kehendak Tuhan yaitu jangan menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang yang tidak percaya sebab apa persamaannya antara kebenaran dan kedurhakaan, antara terang dan gelap (2 Kor. 6:14-16)? Jika tetap ngotot melakukannya, kita akan menghadapi pergumulan dan penderitaan lebih berat dalam mengarungi rumah tangga karena tidak berdiri teguh di atas dasar Kristus padahal keselamatan hanya ada di dalam Dia (Kis. 4:12).
Setelah dasarnya dibangun dengan tepat dan benar, apa yang harus dilakukan berikutnya agar bangunan dapat berdiri tegak di atasnya?
- Jangan salah memanfaatkan sehingga memicu datangnya roh jahat dan tujuh roh lainnya yang masuk karena melihat rumah itu kosong, bersih dan rapi (Mat. 12:43-45).
- Mencari lebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan (Mat. 6:33). Ingat, Allah harus menjadi yang terutama sebab Ia adalah Allah yang cemburu adanya (Kel. 20:5). Itu sebabnya Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus dengan cemburu ilahi sebab khawatir pikiran mereka disesatkan dari kesetiaan sejati kepada Kristus (2 Kor. 11:2-4). Jangan terjebak dengan Yesus yang lain, Injil yang lain atau roh yang lain! Bukankah Adam-Hawa jatuh ke dalam dosa oleh sebab tipu daya dari si ular dengan kelicikannya? Beda dengan Salomo yang mendahulukan mendirikan Rumah Tuhan; alhasil, mata dan hati Allah ada di sana selamanya (1 Raja. 9:1-3).
Aplikasi: bila kita mendahulukan rumah Tuhan maka Ia akan hadir dalam kehidupan rumah tangga kita (bnd. Kel. 25:8). Untuk itu kita harus menjaga hati (dan mulut) karena dari situlah terpancar kehidupan (Ams. 4:23).
- Melakukan perintah-perintah-Nya karena Ia akan menunjukkan kasih setia-Nya mereka yang berpegang pada Firman-Nya (Kel. 20:3-17). Untuk itu seorang raja wajib menyalin hukum dan membacanya seumur hidup agar dia tidak tinggi hati (Ul. 17:18-20). Bukti kita mengasihi Tuhan ialah jika kita menuruti segala perintah-Nya (Yoh. 14:15).
- Jangan mendukakan Roh Kudus (Ef. 4:30-31) dan hiduplah berdamai dengan semua orang serta kejarlah kekudusan (Ibr. 12:14-15).
Kita harus berusaha mengejar kekudusan dengan kecepatan/speed bukan berlambat-lambat agar tidak ketinggalan seperti Lot sekeluarga harus cepat keluar dari Sodom agar tidak ikut dimusnahkan (Kej. 19:12-24).
Kalau hati kita dipenuhi dengan Pribadi Tuhan, mata dan hati-Nya akan tinggal dalam kita selama-lamanya maka Firman-Nya ada di dalam mulut dan hati untuk dilakukan (Ul. 30:14-15). Mulut dipakai untuk menyaksikan Firman Tuhan (bukan untuk menipu) supaya kita dapat hidup benar (1 Ptr. 3:10-12).
Dalam mengejar kekudusan diperlukan kesetiaan yang diawali dari perkara kecil karena kita tidak mungkin mengabdi kepada dua tuan – Allah atau Mamon (Luk. 16:10-13).
Hendaknya kita menjadikan Yesus sebagai dasar dalam membangun kehidupan rumah tangga dan rohani kita, kita akan berdiri kukuh bila kita berakar di dalam Dia, dibangun di atas Dia, bertambah teguh dalam iman dan hati melimpah dengan syukur (Kol. 2:6-7). Amin.