• YESUS KRISTUS SATU-SATUNYA DASAR
  • 1 Korintus 3: 10-11
  • Johor
  • 2026-05-03
  • Pdp. Arnold Sutandharu
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
yesus_kristus_satu_satu_nya

Shalom,

Perlu diketahui Rasul Paulus menganalogikan rekan sepelayanan, jemaat Korintus juga kita sebagai ladang Allah dan bangunan Allah karena hubungan Allah dengan jemaat-Nya sangatlah mendalam dan kompleks. Untuk membuat kita paham hubungan itu, Allah menggambarkannya dengan bermacam analogi seperti: Gembala dan kawanan domba, Panglima dan pasukan tentara, Mempelai Pria Surga dan mempelai perempuan, Kepala dan tubuh, dst. Namun di 1 Korintus 3:9 Rasul Paulus menganalogikan jemaat sebagai ladang Allah juga sebagai bangunan Allah.

Berbicara mengenai bangunan Allah, apa yang diperhatikan oleh-Nya mengenai bangunan ini? Ia berbicara mengenai  dasar/fondasi gereja (ay. 10-11). Faktanya, semua bangunan pasti mempunyai fondasi/dasar dan harus kuat serta teguh untuk menanggung beban bangunan di atasnya. Semakin besar bangunannya, semakin kuat fondasi yang diperlukan sebab fondasi ini menentukan stabilitas dan keutuhan bangunan. Demikian pula gereja Am bersifat universal dengan banyaknya orang beda karakter, latar belakang, kepentingan (politik), tujuan, aspirasi dll. kalau dasarnya sangat lemah, mau jadi apa dan dibawa ke mana perkumpulan orang semacam itu? Kita di dalam satu perkumpulan keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anak, masing-masing mempunyai maksud, hobi, aspirasi sendiri-sendiri kadang timbul pertengkaran hebat di dalamnya terlebih lagi gereja Am yang melibatkan begitu banyak orang. 

Dasar/fondasi macam apa yang mampu menanggung beban sedemikian besar? Yesus Kristus. Seperti apa Yesus Kristus yang layak menjadi dasar bangunan bagi gereja-Nya? Kristus Yesus yang diwartakan oleh para rasul dan dinubuatkan oleh para nabi adalah batu penjuru (yang menunjukkan arah letak suatu bangunan) bagi kawan sekerja dan anggota keluarga Allah (Ef. 2:19-20). Yesus yang menjadi dasar kita adalah Allah sendiri dan dalam natur kemanusiaan-Nya mati demi manusia berdosa.  

Perhatikan, tidak ada dasar lain yang dapat digunakan bagi gereja selain Yesus. Sama seperti posisi seorang raja, misal Raja Daud, dia menjadi dasar dari kerajaannya selama dia masih hidup dan berkuasa. Kerajaannya aman dan damai karena bertumpu padanya. Suatu saat bangunan bangsa Israel berdiri atas dua dasar yakni: dasar Absalom dan dasar raja Daud. Apa yang terjadi kemudian? Perpecahan menimbulkan perang saudara sebab ada yang ikut Daud dan ada yang ikut Absalom. Namun atas kehendak Tuhan mereka akhirnya kembali dibawah pimpinan Raja Daud. Menjelang kematian Raja Daud, orang-orang mulai mencari dasar lain lagi, Adonia mengangkat diri menjadi raja dan beberapa tokoh ikut di atas dasarnya sehingga mulailah pecah lagi. Ini merupakan contoh dasar yang dipimpin oleh manusia. 

Namun dasar gereja kita bukanlah orang yang sudah mati atau tidak mengerti apa-apa atau mewariskan dari yang terdahulu tetapi Yesus yang hidup. Jadi kalau ada masalah di gereja, datanglah kepada Yesus yang akan memberikan jawaban dan jalan keluar. Oleh karena itu Rasul Paulus menegaskan tidak ada seorang pun dapat meletakkan dasar lain daripada yang telah diletakkan yaitu Yesus Kristus (ay. 11). 

Gereja (Korintus) boleh kekurangan dan banyak ketidakberesan tetapi selama berada di atas dasar Yesus yang hidup maka masih ada harapan. Berbeda dengan jemaat Galatia yang mulai berpegang pada injil lain, Rasul Paulus langsung menegur keras, “Aku heran bahwa kamu begitu lekas berbalik dari Dia yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu dan mengikuti injil yang lain, yang sebenarnya bukan injil. ....Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga memberitakan kepada kamu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” (Gal. 1:6-8) Sangat jelas kalau gereja keluar dari dasar Yesus Kristus lalu mencari Yesus yang lain atau Injil yang lain maka harapan akan menjadi tipis. 

Dasar Yesus Kristus sudah diletakkan oleh Paulus dan orang lain membangun di atasnya. Artinya, bangunan Allah bukan hasil karya satu orang (one-man-show) tetapi dibangun oleh hamba-hamba Tuhan yang dipakai untuk membangun bangunan Allah. Kita semua membangun jemaat, masalahnya, sudahkah kita menjadi pembangun atau hanya penikmat gereja/bangunan Allah. Memang tidak salah datang beribadah untuk menikmati suasana Surga tetapi jangan berhenti hanya sebagai penikmat tetapi lanjutkan dengan membangun di atasnya karena kita menghargai dasar bangunan, itulah Yesus Kristus.  

Bagaimana kita membangun bangunan Allah di atas dasar yang sudah diletakkan?  

  • Membangun dengan mulut kita (Ef. 4:29).

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun di mana perlu supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia.”

Perkataan baik yang keluar dari mulut kita bersifat membangun; jadi berhentilah melontarkan perkataan kotor yang kadang refleks dilontarkan saat guyonan supaya tampak lebih lucu. Guyonan semacam ini merupakan polusi seperti orang membuang sampah sembarangan. Perkataan kotor itu merusak dan tidak pantas diucapkan seperti: mengumpat, omongan porno, memfitnah, menyindir, mengejek, bersungut-sungut, tidak tahu berterima kasih, komentar yang menyebalkan.

Introspeksi: berapa banyak jemaat “mati rohani” gara-gara menerima perkataan kotor yang kita anggap lucu dan sepele? Sudah melayani dengan susah payah tanpa dibayar malah diomeli! Bukankah banyak anak Tuhan meninggalkan gereja karena kecewa melihat pendeta dan pelayan-pelayan Tuhan omongannya kotor? Berapa banyak anak memutuskan tidak menjadi Kristen karena melihat orang tuanya bermulut kotor? Perkataan mereka mematikan, membunuh dan menghancurkan iman seseorang. Waspada, gereja tidak perlu menunggu dihancurkan dari luar tetapi cukup dihancurkan dari dalam sendiri saat jemaatnya tidak membangun tetapi saling menghancurkan dengan omongan kotor. Oleh sebab itu dalam keadaan apa pun, hendaknya kita berhenti mengucapkan perkataan kotor. Sebaliknya, pakailah perkataan baik untuk membangun. Pikirkan sejenak sebelum berkata-kata, apakah yang keluar adalah perkataan baik yang membangun dan sejalan dengan karakter Allah yaitu  kudus? Apakah omongan kita mengandung kemurahan hati dan keadilan? Kita bertanggung jawab atas perkataan yang keluar dari mulut kita. 

  • Membangun dengan karunia kita (1 Ptr. 4:10).

Setiap orang percaya mendapat karunia Roh Kudus untuk kepentingan bersama (1 Kor. 12:1-11). Karunia Roh Kudus diberikan kepada tiap orang untuk saling melayani (1 Ptr. 4:10).  

Karunia yang diperoleh dari Roh Kudus bukanlah milik kita pribadi tetapi untuk membangun jemaat (1 Kor. 14:12). Tuhan memberikan rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita Injil, gembala, pengajar untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus (Ef. 4:11-12). Jadi karunia bukan untuk show off menunjukkan kehebatan atau ajang untuk aktualisasi diri tetapi pelayanan untuk membangun. 

Introspeksi: apakah kita hanya menyimpan karunia Allah dalam hidup kita dan tidak kita tunjukkan untuk membangun? Sudahkah turut ambil bagian di dalam pelayanan? Atau sering protes melihat ketidakberesan di dalam gereja? Jangan-jangan di situlah karunia kita yang mendorong kita untuk mengatasi ketidakberesan seperti pengalaman Nehemia. Ketika dia diberitahu tentang keadaan di Yerusalem, hatinya berat sekali untuk Yerusalem hingga kesedihannya tidak dapat ditutup-tutupi di depan raja. Karunianya dia ialah memimpin di Yerusalem karena dia terbeban melihat nasibnya Yerusalem. Amat disayangkan bila kita tidak menggunakan karunia yang kita miliki, ini menjadi kerugian bagi Tubuh Kristus di seluruh dunia. 

  • Membangun dengan seluruh hidup kita (1 Ptr. 2:4-5).

“Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani bagi suatu imamat kudus untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.”

Kita membangun rumah Allah dengan hidup kita selain dengan perkataan baik dan karunia yang kita miliki. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan yang rapi tersusun menjadi bait Allah yang kudus dan masing-masing kita turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah di dalam Roh (Ef. 2:21-22). 

Tuhan menantikan seluruh hidup kita untuk menjadi milik-Nya sebab Ia telah membeli tuntas hidup kita sepenuhnya. Bersediakah kita menyerahkan hidup kita sebagai batu yang hidup untuk diproses – dipotong disesuaikan bentuknya, dihaluskan, dibuang yang tidak perlu – untuk pembangunan rumah Allah? Batu yang sudah diproses bersedia diletakkan di mana saja dan kukuh menghadapi cuaca apa pun tetap setia berdiri pada tempatnya. Sejauh mana kita rela menyerahkan hidup kita untuk menjadi batu yang mau dibentuk/diproses terlibat dalam pembangunan bangunan Allah?

Jika kita sudah tahu bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya dasar bangunan rumah Allah, bagaimana sikap kita? Kita harus menghargai-Nya, Sang batu dasar yang mahal tidak terbandingkan. Kita dipanggil untuk dibangun dan membangun di atas-Nya. Kita ikut terlibat dalam pembangunan gereja yang Am dengan perkataan yang baik, karunia Roh yang dimiliki, dan penyerahan total seluruh hidup kita sebagai ibadah yang sejati (Rm. 12:1). Amin.

  • Video Youtube Ibadah: