Shalom,
Apakah kita siap dibangun di atas dasar iman? Sebenarnya kita bukan siap dibangun tetapi sedang membangun bangunan, masalahnya bangunannya tahan uji atau tidak.
Apa kriteria suatu bangunan yang tahan uji menurut 1 Korintus 3:12-15?
- Bangunan dari setiap orang percaya.
Logikanya, ketika membangun sebuah bangunan fisik, kita mengupayakan semaksimal mungkin bangunan yang didirikan tidak akan gampang rusak apalagi rubuh. Sebaliknya, kita akan bersukacita jika bangunan tersebut langgeng dan tahan lama walau ditimpa hujan, angin kencang dan banjir.
Bangunan di sini bukanlah bangunan fisik sebab tidak semua orang mempunyai dana lebih untuk membeli emas, perak, dan batu permata untuk dijadikan bahan bangunan yang kuat. Akibatnya, sebagian orang yang tidak memiliki dana cukup akan mendirikan bangunan dari kayu, rumput kering, jerami yang mudah terbakar habis jika ada kebakaran.
Bangunan di sini berbicara tentang bangunan rohani dengan alasan:
-
- Dasar/fondasi bangunan ialah Yesus Kristus (ay. 11).
- Jemaat adalah bangunan Allah (ay. 9).
- Setiap orang percaya (ay. 10b) yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.
Aplikasi: apa pun posisi dan profesi kita (tidak sebatas pendeta, full timers, imam-imam), masing-masing kita bertanggung jawab membangun rumah rohani kita untuk diuji oleh api pada hari kedatangan Yesus Kristus (ay. 13). Marilah kita beriman, bersandar kepada Tuhan sepenuhnya juga hidup berpaut kepada kebenaran Firman supaya kita lulus dari ujian api.
- Berbahan dasar yang tahan api.
Tidak terbantahkan bahwa bahan dari emas, perak dan batu permata akan lulus dari ujian api sementara bahan dari kayu, rumput kering, jerami akan terbakar ketika dilempar ke dalam api. Herannya, semakin emas dan perak dibakar, semakin mereka menjadi murni; beda dengan kayu, rumput kering, jerami semakin dibakar semakin mereka hangus terbakar semua.
Setiap orang diminta untuk “memerhatikan” bahan-bahan yang tahan api (ay. 10b). Kata “memerhatikan” juga mengandung pengertian mengoreksi diri, tidak menghakimi orang lain yang sedang membangun dengan bahan apa.
Introspeksi: apa motivasi kita selama membangun bangunan rohani kita? Dan bahan apa yang kita persiapkan untuk pembangunan ini? Ingat, pekerjaan pembangunan ini harus dilakukan terus menerus tanpa ditunda-tunda selama kita masih hidup. Sungguh, jangan sembarangan memilih bahan bangunan! Roh Kudus akan menolong, menggerakkan bahkan menginsafkan kita untuk tidak mempertahankan karakter lama yang mudah terbakar api. Kita harus memilih dan memakai bahan bangunan berkarakterkan Ilahi sebab dasar bangunan kita adalah Kristus.
Ada banyak karakter Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab, antara lain:
-
- Mengutamakan kehendak Bapa (Luk. 22:39-42).
Yesus saat dalam kondisi sebagai Manusia (Inkarnasi) mempunyai kehendak tetapi Ia lebih mengutamakan kehendak Bapa. Demikian pula kita, tentu kita juga mempunyai keinginan dan kehendak tetapi belajar dari Yesus hendaknya kita rela mengurbankan kepentingan diri demi kepentingan yang lebih besar. Juga di dalam memimpin suatu perkumpulan yang banyak pendapat dan ide beda-beda, kita harus mengambil keputusan dengan arif dan bijak mendahulukan kepentingan bersama apa pun risikonya.
-
- Taat sampai mati (Flp. 2:5–11).
Ketaatan Yesus sampai mati disalib merupakan bukti ketaatan Yesus pada kehendak Bapa-Nya. Jujur, sangat sulit bagi kita untuk mempraktikkan ketaatan pada kehendak Tuhan. Contoh: mampukah kita mempraktikkan kasih kepada sesama juga kepada musuh seperti yang Tuhan perintahkan? Menegur teman yang bersalah juga merupakan bentuk kasih agar si teman tidak terus-menerus hidup dalam keberdosaan.
-
- Konsisten pada panggilan (Luk. 19:10).
Misi Yesus datang ke dunia ialah mencari/menyelamatkan yang hilang dan Ia konsisten dengan panggilan ini digambarkan seperti gembala yang mencari satu domba yang terhilang. Bagaimana dengan panggilan kita seiring dengan perkembangan zaman? Apakah masih konsisten atau naik turun? Setia dan tekunlah di dalam panggilan Anda apa pun kondisi dan risikonya! Ingat, kita sedang membangun bangunan yang tahan uji.
- Penanda kepastian upah yang diterima kelak.
Upah yang diberikan karena lulus dari ujian bukanlah upah keselamatan sebab baik yang tahan uji maupun yang gagal sudah diselamatkan karena sama-sama mempunyai fondasi Yesus Kristus. Dengan kata lain, keselamatan diperoleh murni atas anugerah Tuhan bukan hasil usaha keras manusia (Ef. 2:8-9). Bedanya, bangunan yang terbakar karena terbangun dari bahan-bahan yang tidak tahan api akan mengalami kerugian tetapi dia tetap selamat.
Yang jelas, setiap orang percaya pasti akan menerima upah (berbeda) sesuai dengan perbuatannya (Why. 22:12). Upah apa yang disediakan Tuhan? Ada banyak upah seperti upah mahkota kehidupan bagi mereka yang tahan uji (Yak. 1:12) dan mahkota kemuliaan (1 Ptr. 5:4).
Aplikasi: hendaknya kita tetap setia menjalankan panggilan dan tugas pelayanan serta bertahan menghadapi situasi paling sulit sekalipun maka sudah tersedia upah mahkota pada saat kedatangan Tuhan.
Kini kita mengerti bangunan Allah yang tahan uji dibangun dari orang-orang percaya berkarakter Ilahi yang tetap setia bertahan dalam api ujian serta menjadi penanda upah yang akan diperoleh kelak ketika Tuhan datang. Amin.